Kesetiaan Bekaskan Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 January 2015

Anastasya Adila Putri, gadis manis dan santun itu tengah berada antara hati 2 laki-laki, Dista Anggara dan Aldi Tifano.
Walaupun dulu, cinta Dila hanya untuk Dista, tapi kali ini tidak. Aldi hadir di kehidupan Dila secara tiba-tiba. Mungkin sangat sulit bagi Dila menerima ini semua. Tapi bagi Dila ini adalah sebuah anugerah, yang membuat hati Dila tidak selalu sedih seperti dulu.
Dan hari itu Aldi mengatakan perasaannya pada Dila.
“Dila sebenarnya aku menyukai mu, dan maukah kamu jadi pacarku?”
Pada saat yang sama Dila mendengar kabar, bahwa Dista jadian sama adik kelasnya, Adin. Bingung, bimbang, marah, kesal campur aduk jadi satu. Dengan berberat hati ia menerima Aldi.

Hari demi hari Dila menjalani semua dengan gelisah. Bagi Dila, perasaannya ke Aldi adalah dusta. Ia sudah tidak sanggup lagi berbohong pada Aldi. Akhirnya ia memutuskan hubungannya dengan Aldi lewat sms.
“Aldi, maafkan aku jika harus mengatakan ini padamu. Sebenarnya aku masih suka sama Dista. Awalnya aku mengira bersama denganmu bisa melupakan Dista. Tapi ternyata tidak. Maafkan aku Aldi.”
Mungkin hari itu Aldi sangat kecewa, tapi sudah tidak ada pilihan lagi bagi Dila. Ia takut mendustai Aldi.
Waktu itu, Dila tadarus bersama teman-temannya. Di perjalanan Dila mendapat pesan dari Dista.
“gimana hubunganmu sama Aldi, lancar aja kan?” tanya Dista. “Aku udah putus sama dia. gimana juga hubunganmu sama Adin, apakah masih jalan?” Tanya Dila balik. “Hubunganku sama Adin udah hancur Dil, dia tega mengkhianati aku.” Jawab Dista. “Mengkhianati bagaimana?” tanya Dila heran. “Dia selingkuh dengan laki-laki lain Dil.” Jawabnya. “Yang sabar aja ya, tak usah dipikirin lebih. Pasti ini semua ada hikmahnya kok.”
Setelah beberapa saat mereka berangkat tadarus. Ia bingung dengan ini semua. Dia tidak pernah yakin pada perasaannya sendiri. Canggung, hanya itu yang ia pikirkan tentang perkataan Dista. Tidak percaya, apakah itu benar-benar terjadi pada hubungan Dista dengan Adin. Tapi itulah kenyataannya.

Hari semakin dekat dengan UN. Dan waktu itu Dista memaksa Dila untuk berkata jujur tentang perasaannya. Dan Dila pun mengatakan, “Iya, memang benar Dista hati ini ku simpan untukmu. Dan tidak ada cowok lain di hati ini”. Dan Dista hanya bilang beberapa kata saja, “Tapi maaf cintaku bukan untukmu”.
Semua yang Dila korbankan hanya mendapat balasan yang menyakitkan dari Dista. Hanya kata-kata pahit yang terurai dari Dista. Padahal Dista selalu memberi harapan lebih untuk Dila. Tapi apa daya, Dila harus bersabar lagi. Ia yakin bahwa ini belum seberapa. Masih benyak yang akan ia terima di masa mendatang nanti.

Hari itu, tiba waktu perpisahan sekolah dilaksanakan. Suasana mengharukan pun meliputi acara tersebut, semua siswa-siswi itu pun telah diwisuda. Seusai acara, Dista bersama temannya mengemasi perangkat yang digunakan pada acara tadi. Dista naik di atas mobil yang mengangkut peralatan itu. Ketika mobil tersebut melewati Dila yang berdiri di pinggir jalan, ia menatap mata Dista yang merah setelah menangis. Bersegeralah ia mengalihkan pandangan dari Dista.

Sepulang dari gedung, mereka kembali ke sekolah, melanjutkan foto bersama. Hanya canda yang keluar dari mulut Dila, walaupun ia ingin menangis. Canda dan tawa bersama untuk terakhir kalinya mereka rasakan. Dila berharap ia bisa bertemu kembali dengan Dista di kesempatan lain. Yang mungkin bisa lebih indah atau sebaliknya. 4 tahun lamanya Dista harus tinggal di pondok pesantren. Tidak memungkinkan bagi Dila untuk berhubungan dekat lagi dengan Dista.

Dan sudah waktunya Dista berada di pondok pesantren. Bagi Dila ini hal paling berat yang harus ia terima. Berpisah dari seseorang yang ia suka. Tetapi apa daya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ini memang sudah menjadi takdir masing-masing.

Hari, berjalan begitu cepat. Hingga bulan pun berganti begitu cepat pula. Ia menjalani hidup tanpa kehadiran Dista. Hampa, seperti teh tanpa gula, dan pahit yang ia rasa. Berbulan-bulan, ia seperti tidak hidup. Hanya melamun yang ia kerjakan. Hidupnya terpuruk tanpa kehadiran Dista. Tapi ia berpikir, dia tidak boleh seperti ini terus-menerus, Dia harus bangkit.
Dan dia bisa menjalani hidupnya kembali. Aldi yang selama ini membujuknya supaya bangkit. Tetapi posisi Aldi sekarang sudah berbeda. Bukan lagi menjadi orang yang mencintai Dila, Melainkan sekedar sahabat.

Hingga bulan Desember pun datang. Tepatnya pada tanggal 06 Desember 2011, Dista menghubunginya lewat SMS. Ternyata Dista sakit hari itu. Mendengar kabar itu, Dila semakin gak tenang. Beban fikiran yang membuat jiwanya sakit. Dila khawatir dengan keadaan Dista, padahal dirinya sendiri pun juga sedang sakit.

Libur semester pun juga datang menyusul. Liburan kali ini sangat pedih, karena Dila harus menerima kata-kata kasar Dista kembali, “Mulai sekarang, persahabatan kita putus. Sekarang kita “MUSUH” okey!!”.

Berbulan-bulan mereka sudah tidak pernah berhubungan kembali karena bermusuhan. Tapi Dila tak mau bermusuhan. Dan ia menitip surat untuk Dista yang berisi.

“Dista, aku minta maaf kalau waktu itu aku menerima tawaranmu untuk memutuskan hubungan persahabatan kita. Aku tak bermaksud seperti apa yang telah terjadi. Waktu itu aku baru banyak pikiran. Hingga aku tak menyadari apa yang telah aku perbuat. Aku mohon jangan akhiri hubungan persahabatan kita”

Dista sms Dila setelah beberapa hari surat itu diberikan. Tetapi Dista tidak mengaku siapa dirinya. Lalu Dila sms di nomor Dista yang dulu, “Aku kira itu kamu, tapi ternyata tidak”. Sms itu pun terkirim. Padahal Dila mengirim itu hanya iseng-iseng saja. Dan nomor baru yang mengaku sebagai Awan (teman lama Dila) itu pun mengirim balik sms Dila yang dikirim ke nomor lama Dista. Seraya Dila kaget dengan itu, dan langsung bertanya.
“Kamu bisa tau kata-kata itu dari mana? Padahal kan aku kirimnya bukan ke kamu. Jangan-jangan kamu bukan Awan ya?” Tanya Dila.
“Kalau iya memang kenapa?” Jawab Dista.
“Berarti kamu Dista?” tanyanya kembali.
“Iya, terus maksud kamu SMS aku kayak begitu apa?” Tanya Dista cuek.
“Ya gak apa-apa, Cuma iseng aja. Aku kira kan nomormu yang itu sudah tidak aktif lagi” jawab Dila.
“Nomor aku itu selalu aktif.” Ujar Dista.
“Ya udah deh gak usah dibahas lagi, Tentang permintaanku yang waktu itu gimana?” Tanya Dila kembali.
“Gimana ya, kalau kamu mau jadi sahabat ku lagi tapi ada syaratnya.” Tawarnya.
“Syaratnya apa?” Tanya Dila.
“Siapa orang yang kamu suka sekarang?” tanya Dista.
“aku beritahu tapi jangan bilang siapa-siapa ya!” pinta Dila.
“Iya, aku gak bilang siapa-siapa.” Jawab Dista.
“Aku suka sama orang yang bernama Galang, dia temen satu sekolah ku yang sekarang.” Jawab Dila dengan keraguan, padahal Galang itu hanya teman Dila.
Dan mereka mengakhiri percakapannya sampai di situ, pada hari ini. Beberapa hari ini Dila sering berhubungan dengan Dista, walaupun sekedar lewat SMS.

Satu bulan kemudian Dista kembali menghubungi Dila, tapi hal yang sama terulang lagi. Mereka hanya bertengkar dengan permasalahan yang sepele. Dan mereka pun bertengkar lagi.

Berhari-hari mereka tidak smsan lagi. Sampai pada tanggal 21 Agustus 2012, Dista sms untuk minta nomornya Zakia. Dila mengatakan pada Dista hal yang begitu menyakitkan.
“Dis, aku boleh minta sesuatu gak?” tanya Dila.
“Apa?” jawab Dista.
“Please … jangan buat hatiku luka lagi, aku tau kamu punya pacar, tapi aku mohon jangan buat aku cemburu lagi. KU MOHON!”
“Memangnya kamu masih suka sama aku?” tanya Dista.
“Aku gak tau.” Jawabnya.
Sampai akhirnya Dista kembali ke pondok pesantren.

Satu bulan kemudian, Dila masuk Rumah Sakit karena penyakit mag-nya. Selepas rapat osis tiba-tiba Dila pingsan. Badannya terkujur kaku dan dingin. Semua khawatir dan langsung membawa Dila ke Rumah Sakit. Tiga hari sudah ia dirawat di Rumah Sakit.
Semakin lama Dila sadar bahwa tidak mungkin ia harus menutup semuanya karena Dista yang tidak pernah memberikan harapan untuknya.

Tanggal 31 Desember 2012 (malam tahun baru 2013), Dila sadar dan tidak akan menutup hatinya. Kata-kata yang dikirimkan Dista itu menyadarkan Dila kalau cintanya pada Dista itu berlebihan. Akhirnya dia membuka hatinya kepada seseorang. Kali ini cinta Dila juga bertepuk sebelah tangan. Yaitu Aldi, karena Aldi sudah menyukai Ani (sahabat Dila). Dila menyembunyikan perasaannya rapat-rapat.

Hari berlalu begitu cepat hingga pada tanggal 23 februari 2013 datang. Rapat osis dilaksanakan hari itu. Dila, Aldi dan Ani mengikuti rapat itu. Sejalannya rapat, Aldi dan Ani hanya pandang-memandang, Dila hanya diam dan berkata dalam hati,
“Jika ia memang bukan untukku, aku rela jika ia pergi. Tapi tujukan dia pada cinta Mu ya Rabb. Jangan tujukan dia pada jalan yang sesat.”
Aldi sangat mendukung jika Dila bisa bersama Dista. Tapi bahkan Aldi tidak pernah menyadari bahwa Ia yang disukai Dila bukan Dista. Dan hari itu juga Aldi menceritakan semua isi hatinya. Semua yang diceritakannya tentang Ani. Perih, rasa itu yang ada di benak Dila.
Betapa hancur hati Dila saat mengetahui sahabatnya sendiri juga menyukai seseorang yang disukainya. Setelah membaca sms Aldi. Yang berisi tentang ungkapan perasaan yang menyakitkan bagi Dila.
Dan mereka berdua yang selalu membuat hati Dila panas membara. Aldi dan Ani merapikan tikar dan saling pandang-memandang di depan Dila yang juga merapikan tikar seusai ada acara di aula. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Dila lari ke kamar mandi dengan menangis. Setelah itu ia menghapus air matanya dengan air dan segera kembali ke aula.

Sakit dan sakit yang harus dia rasakan, tetapi ia tidak putus asa. Menurutnya semua ini adalah ujian dari Allah untuknya. Tegar yang harus ia lakukan sekarang. Dia harus mengalah dan selalu mengalah, karena Ani adalah sahabat dekatnya. Ani tak menyadari bahwa Dila juga menyukai Aldi. Dila hanya diam dan tidak mengungkapkan perasaannya sedikitpun.

Hari yang meletihkan. Hari ini dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang menguras energi. Dan juga membuat hati Dila semakin hancur. Kali ini mungkin tidak sesakit yang kemarin. Tetapi juga cukup menyakitkan. Dila hanya bisa menyimpan ini dalam lubuk hatinya. Dan seraya berkata dalam hati.
“Sekarang Ani suka lagi sama Aldi, apa yang harus aku perbuat sekarang. Aldi pun juga sebaliknya, mungkin memang ini yang terbaik bagiku. Aku harus tersenyum di saat orang yang aku sayangi menyayangi orang lain.”
Dila berfikir dirinya amat bodoh. Karena menolak semuanya demi Dista. Hanya sesal yang ia rasa. Semua yang telah ia lakukan dulu berujung hanya sia-sia tak berguna. Ia merasa dirinya telah melukai Aldi sangat dalam. Hingga Aldi sekejap dapat melupakannya begitu saja. Meninggalkan dan melupakan semua kenangan yang telah mereka jalani dahulu. Tapi Dila hanya bisa pasrah, ia tak tau harus bagaimana.

Lomba OSN tingkat kabupaten akan segera dilaksanakan. Dila mewakili mapel Matematika, Aldi mewakili mapel Biologi. Sedangkan Bella mewakili mapel Fisika, dan Riski mewakili mapel IPS.
Adanya lomba ini, akan memberi kesempatan kalau Dila pasti bertemu dengan Aldi. Dan semakin mereka bertemu terus-menerus, hati Dila semakin gak karuhan.

Ketika Dila dan Bella mengembalikan Jurnal, Dila hampir menabrak Aldi di pintu lorong sekolah. Kebiasaan Dila selalu muncul, yaitu syok dan salting. Dila hanya bisa menggandeng tangan Bella erat-erat waktu itu. Di fikiran Dila hanya satu yaitu, “Dia milik Ani, aku tidak berhak memilikinya”.
Dia hanya bisa merenung. Batin Dila tersiksa dengan semua ini. Tapi Dila harus tetap bertahan, demi hidupnya di masa mendatang. Ia tau bahwa hidupnya masih panjang. Masih banyak mimpi-mimpi yang masih belum ia raih. SEMANGAT, selalu ada dalam kamus hidup Dila. Walau hingga pada akhirnya hanyalah penyesalan yang ia dapatkan.

Semakin ia mengingkari semuanya, semakin bertambah pula yang ia resahkan. Antara sahabat ataukah perasaan?. Memang sahabat itu penting, tetapi apakah ia harus melukai perasaannya terus menerus?. Walau begitu banyak yang ia pikirkan, tetapi ia tak pernah menyerah mencari harapan-harapan yang telah hilang ditelan ombak.

Aldi memang seorang yang baik. Tetapi kini dia telah berubah. Aldi yang dulu manis, santun, sopan, sekarang sudah gak ada lagi. Bahkan bertemu dengan Dila pun ia tak menghiraukannya. Hari yang melelahkan, karena persiapan OSN yang dilatih habis-habisan. 9 Maret 2013, datang menghampiri peserta OSN.

Dan keesokan harinya diadakan try out di sekolah Dila. Hari itu Ia bertemu dengan Adin yang kebetulan mengikuti try out tersebut. Ia teringat kembali pada Dista. Dia berfikir bagaimana keadaan Dista sekarang. Tapi itu hanya terlintas di pikirannya karena ada Aldi dihadapannya. Karena kini cinta Dila bukan untuk Dista lagi, melainkan untuk Aldi.

Malam itu Dila dan Aldi mengikuti pengajian akbar di MTSN Karangmojo. Paginya Dila memberitahu Aldi tentang perasaan Ani yang suka sama Aldi. Tapi Aldi tak percaya dan menanyakan langsung pada Ani. Aldi bilang kalau Ani suka sama Aldi. Karena Dila tak ingin menggangu hubungan mereka. Ia menyuruh Aldi supaya tak menghubunginya lagi, tapi Aldi tak mau. Waktu itu juga Dila mengatakan perasaannya pada Aldi. Ternyata selama ini Aldi juga masih sayang sama Dila. Dan Ani juga sudah punya pacar. Ani suka sama Aldi hanya sekedar sahabat saja. Perkataan Aldi yang bilang kalau Ani suka sama Aldi hanya untuk memancing Dila. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menyambung hubungan yang dulu sempat terputus karena Dista. Mereka bahagia menjalani hidupnya sekarang.

THE END

Cerpen Karangan: Dian Putri Penasih
Facebook: Aldila Dian

Cerpen Kesetiaan Bekaskan Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kereta

Oleh:
Seperti minggu-minggu sebelumnya sepagi ini saya sudah berada di stasiun yang sama, melihat jam besar di atas sana menunggu kereta datang, berada pada orang-orang yang sesekali memadangi jam tanpa

My Grandma Is My Friend

Oleh:
“ra, amar ra!!!” teriak nenek yang sambil menari-narik lenganku. Nenek adalah sahabat karibku, sebenarnya nama aslinya adalah Dyah Salsabilla. Aku tidak ingat apa yang menyebabkan dia kupanggil nenek, tapi

Secret of Love (Part 2)

Oleh:
Dan pada saat aku ingin melupakan Reno tiba-tiba dia datang lagi. Dia menghampiri gue yang lagi duduk sendirian makan bakso di Kantin. “heyyy, Tania Maulida Wijaya” kata Reno dengan

Senja Di Hatiku

Oleh:
Jingga mulai bersanding di samping senja untuk menambah pesona pantai karang jahe. Perkenalkan dulu, pantai karang jahe adalah salah satu pantai wisata di wilayah kabupaten rembang, sebuah kabupaten yang

Lembayung Senja (Part 1)

Oleh:
Suara bel yang nyaring dan panjang adalah alunan kebahagian bagi setiap murid. Mereka akan langsung mengemas barang-barangnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang setelah seharian menyebu akal dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *