Ketenangan Jiwa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Hari yang cerah menyambutku, memberitahu agar aku menyambut hari yang baru, dan melupakan hari yang lalu. Namaku Izyans, atau lengkapnya Izyansa Riyanti. Seperti biasa, aku terbangun sesuai dengan kebiasaanku. Namun kali ini sedikit berbeda karena aku bangun lebih awal. Bukan hanya itu, kali ini aku harus menyiapkan semuanya sendiri karena kedua orangtua dan adikku sedang tidak ada di rumah.

Seusai mandi, dan menyiapkan diri, kini aku harus menyiapkan makanan untuk sarapanku pagi ini. Cukup mudah bagiku untuk menyiapkan sarapan karena mamah sudah mengajariku untuk memasak, dan menstok bahan-bahan makanannya jadi tidak perlu repot. Sarapan dari bahan makanan yang selalu sama setiap pagi. Hanya saja, mungkin kali ini agak berbeda dari cara pembuatan dan penyajiannya karena aku yang membuatnya sendiri bukan mamah.

Seusai sarapan, aku bergegas berangkat ke sekolah. Aku harus berjalan kaki untuk dapat menunggu angkutan umum di pinggir jalan sana. Alasan kenapa aku selalu menggunakan jasa angkutan umum adalah karena keluargaku tidak memiliki kendaraan pribadi. Walaupun kakekku memilikinya, tapi kendaraan tersebut tidak pernah menganggur. Namun terkadang jika kendaraan tersebut menganggur, tidak segan-segan kakek mau mengantarku sampai di sekolah.

Bukan hanya itu saja alasanku, tapi juga karena jarak tempuh yang tidak memakan waktu yang lama jika menggunakan jasa angkutan umum. Dan jarak yang harus ku tempuh setiap kali ke sekolah adalah kurang lebih 3 km yang akan memakan waktu 20 menit jika menggunakan jasa angkutan umum. Seperti yang ku katakan tadi dalam waktu 20 menit kemudian akhirnya ku sampai. Tapi Eits, bukan sampai di sekolah melainkan di pinggir jalan, dan aku harus berjalan lagi untuk bisa sampai di sekolah.

Baiklah akhirnya ku sampai di sekolahku tercinta. Tapi.. Huft, aku masih harus menaiki tangga untuk ke kelasku karena kelasku terletak di lantai 2. Aku menghela napas panjang. Huft. Akhirnya aku sampai. Aku langsung melangkah masuk berjalan menuju kursiku untuk menaruh tasku, dan langsung duduk untuk menghilangkan penat juga mengatur napasku yang masih terengah. Tapi bukan cuma itu, aku juga duduk menunggu seseorang.

Setelah berulang kali menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke kursi paling belakang. Dan berulang kali harus kecewa karena orang yang ku tunggu belum datang. Namun pada tolehan ku lagi, aku tersenyum mendapatinya tengah duduk di kursi itu. Tapi.. tunggu, ada apa dengannya? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu? Ada masalahkah? Mungkin, dan sepertinya ia butuh seorang teman untuk berbagi cerita. Dan dengan senang hati, tentu aku mau. Aku bangkit, dan beranjak menghampirinya.

“Sof, kenapa? Apa ada masalah?” tanyaku yang sudah dalam posisi duduk di sampingnya.
Dan oh ya, kenalin temanku. Sofiyani, atau lebih sering dipanggil Sofi. Ia menoleh sambil menghela napas. “Ya,”
“Apa?” aku memperbaiki posisi dudukku agar nyaman. “Ayo coba kau ceritakan padaku! siapa tahu aku bisa bantu”
“Ini soal Adi”

Aku berdecak. “Ck, dia lagi, dia lagi. Dia kenapa lagi sih?” yeah.. agak kesal, muak, dan bosan kalau Sofi sudah bercerita tentang Adi. Meskipun aku senang karena saat menceritakannya matanya akan berbinar. Tapi tetap saja, aku muak, dan bosan. Bukan karena aku cemburu, atau iri. Tapi karena Sofi selalu menceritakan soal sifat Adi yang semaunya sendiri.
“Aku sama dia sedang bertengkar”
“Kenapa bisa bertengkar?”

Ia menghela napas. “Hem, aku hanya mengatakan pendapatku padanya. Tapi ia malah marah”
“Hhh.. sampai kapan sih kamu seperti ini, Sof? Dan aku bingung, kenapa kamu sampai tergila-gila gitu padanya? Padahal kau bercerita tentang sifatnya yang sungguh menyebalkan”
Ia mengangkat bahu. “Aku juga gak tahu, dan sama layaknya kayak kamu dia tanya itu”

“Tanyanya bagaimana?”
“Gini -kenapa kamu suka sama cowok sensitif kayak saya?-”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku jawab, gak tahu”

Tiba-tiba.. KRINGGG!!! (tanda bel masuk)
“Ya udahlah, lebih baik kita ikut kerohanian dulu, baru setelah itu disambung ngobrolnya”
Aku bangkit. “Kamu ikut kerohanian kan?”
Ia mengangguk. “Ya”

“Ya udah, kita bareng ke lapangannya. Aku mau ambil mukena dulu” Ia mengangguk, dan aku bergegas mengambil mukenahku juga melepas sepatuku.
Setelah itu aku kembali dengan menenteng mukenahku, dan segera menghampiri Sofi.
“Yuk?” ia mengangguk. Dan kami berjalan beriringan ke luar kelas.

Oh ya, tentang kerohanian atau kegiatan keagamaan adalah kegiatan rutin yang di laksanakan di hari jumat saja. Dan pelaksanaannya dilakukan sebelum kegiatan belajar mengajar. Semua murid, dan guru diwajibkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kecuali murid-murid yang berhalangan, dan guru honor. Setelah kegiatan tersebut, para murid bubar untuk kembali ke kelasnya masing-masing. Namun ada jam istirahat sejenak sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Aku segera menyimpan mukena ke dalam tasku, dan memakai sepatuku kembali sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan obrolan tadi.

“Aku yang ngerasa atau memang kalian akhir-akhir ini sering bertengkar?” Tanyaku sambil duduk di samping Sofi yang masih sibuk berkutat memakai sepatunya.
Sofi menoleh. “Yeah, memang akhir-akhir ini kami sering bertengkar”
“Cuma karena hal kecil?” Sofi mengangguk. “Huft, dia tuh sebenernya bersyukur disukain sama cewek kayak kamu, Sof, yang tetap nerima semua perlakuan dia”
Sofi tersenyum kecut. “Tapi sayangnya dia gak pernah bersyukur”

“Ya kamu harus punya kesabaran luar biasa untuk hadapi sikapnya” Sofi mengangguk mengiyakan ucapanku. Dan setelah itu kami terdiam lama. Aku menatap lirih temanku yang satu ini, tapi juga kagum karena dia tetap semangat untuk memperjuangkan cintanya. Meski itu sulit.
“Aku selalu salah di matanya” Sofi bergumam pelan, tapi jelas jelas aku masih bisa mendengarnya.
“Sabar ya? Suatu hari, dia bakal lihat kamu” Sofi tersenyum miris sambil mengangguk.

Tiba-tiba.. KRINGG!!!
“Argh, udah masuk. Padahal aku masih mau ngobrol sama kamu” aku bangkit.
“Bisa dilanjut jam istirahat”
“Tapi kurang asyik, hem.. bagaimana kalau kamu pindah duduk denganku?”
“Tapi bagaimana dengan Dila? Ia pasti marah kalau aku pindah”
Aku berdecak. “Ck, dia gak punya hak untuk larang kamu. Toh waktu dia pindah aja kamu gak marah kan?”
Sofi terdiam sejenak. “Baiklah,” aku tersenyum.

Dan yeah.. seperti yang Sofi perkirakan, Dila bakal marah. Saat kami sedang serius menulis tulisan yang tertulis di papan tulis, tiba-tiba Dila memanggil Sofi dengan suara agak lantang.
“Sofi!!!” Sofi pun menoleh, begitu pun aku. “Tasnya sekalian dibawa!!”
Sofi menggeleng. “Enggak, aku cuma pindah sementara” Dan bisa terlihat Dila sedang menggerutu tidak jelas.
“Yans, dia beneran marah” Aku menepuk pundak Sofi. “Ya udahlah biarin aja, nanti juga baikan” Sofi hanya tersenyum menanggapi ucapanku.

Dan pada pelajaran terakhir karena kebetulan guru yang mengajar sedang ada urusan jadi hanya memberikan tugas Lks. Dila, dan Laisa bertugas mengambil Lks kami karena Lks kami sedang dikumpulkan. Pada saat Dila melewati mejaku masih membagikan Lks, ia sedikit menggerutu sambil menyindir dengan bahasa kasarnya. Aku tahu itu ditujukan untuk Sofi. Huft, Dila emang keterlaluan, hal semacam ini saja dibesar-besarkan.

Aku menoleh ke Sofi, dan seketika mengernyit saat melihat Sofi menutupi wajahnya dengan kerudung. Aku perhatikan sejenak, bahunya bergetar, dan sesegukan. Oh, astaga, ia menangis? Tapi benarkah ia menangis? Dan suara rintihan tangisnya membuktikan semuanya bahwa ia benar-benar menangis!
“Sof? kamu baik baik saja?” ia mengangguk. “Kamu kenapa menangis? Apa karena ucapan Dila?” ia terdiam.
“Sof, jangan dengarkan dia! Kamu tidak usah pedulikan dia! Dengar Sof, aku bahkan sering dikatai seperti itu, tapi aku tidak pernah mempedulikannya, dan nanti juga ia lelah”

“Tapi Yans, Laisa, Fifi, dan Elan juga ikut ikutan mengataiku seperti itu” Ujarnya sambil sedikit menurunkan kerudungnya. Dan di sana bisa terlihat bahwa ia benar-benar menangis. Matanya yang memerah, kelopak matanya yang sembab, dan pipinya yang basah.
“Udah Sof, tidak perlu kamu pedulikan! Mereka memang suka seperti itu” ujarku sambil mengelus pundaknya berusaha untuk menenangkannya.
“Aku butuh ketenangan untuk menenangkan semuanya. Pikiranku” gumamnya. “Apa kau tahu tempat yang tenang?”
Aku terdiam sejenak kemudian mengangguk.
“Apa kamu mau antar aku ke sana, dan menemaniku?” aku mengangguk.

KRINGG!! murid-murid berhamburan ke luar kelas. “Yans, maukah kamu menemani aku piket dulu?” aku mengangguk.
“Ya, aku tunggu di sana” ujarku sambil menunjuk meja yang terletak di pojok belakang kelas. Sofi mengangguk.
Setelah piket, Sofi berjalan menghampiriku. “Sudah?” ia mengangguk. “Ayo!” kami berjalan beriringan ke luar kelas.

“Yans..” Aku menoleh. “Ya?”
“Apa tempatnya jauh?” aku mengangguk. “Harus pakai angkutan umum?” aku mengangguk lagi.
“Tapi bisakah kita berjalan kaki saja ke sana?”
“Bisa sih, tapi–”
“Ya udah kita jalan kaki saja” sergahnya memotong ucapanku.
Dan aku hanya bisa menghela napas. “Huft, baiklah. Terserah”

Selama perjalanan kami isi dengan obrolan yang menyangkut berbagai macam hal. Tiba-tiba aku melihat seorang pria paruh baya dengan baju kucel, dan compang-camping sedang berjalan ke arah kami. Apa dia orang gila? “Psst, Sof, apa kamu lihat bapak-bapak itu?” ujarku sambil menunjuknya, dan Sofi melihat ke arah yang ku tunjuk.
“Apa dia orang gila?”
“Mungkin..”

Dan saat pria paruh baya itu makin dekat jaraknya di depan kami, dan sepertinya ingin mengoceh. Aku langsung mengambil langkah seribu, dan berlari sambil menarik tangan Sofi. “Lari!!!”
Aku berjalan kembali seperti biasa sambil berusaha mengatur napasku yang terengah. “Hah, dia memang orang gila!” gumamku membuat kami saling pandang sebelum tawa kami pecah.
“Haha, dia kebingungan tahu! Belum sempat mengoceh kita sudah berlari”
“Lagian suruh siapa tampangnya nakutin” Sofi tersenyum geli, saat aku bergidik ngeri.
“Ah, tawa membuatku haus” aku melirik sekitar. “Di depan ada warung, nanti kita mampir dulu ya?” ia mengangguk.

Aku membeli es, dan beberapa cemilan di warung tersebut. “Loh, Sof, kamu gak beli?”
Ia tersenyum sambil menggeleng. “Gak, kamu aja”
“Loh kok gitu?” aku tersenyum. “Kita kongsi ya?” dan ia mengangguk mengalah.

Berkali-kali aku mengeluh karena kakiku benar-benar lelah, dan rasanya mau patah. Tapi semua ini sepadan dengan apa yang kami dapat nanti. Oh ya, tempat ini adalah sebuah pantai. Pantai yang tenang, dan sejuk dengan angin semilir. “Masih jauh?” Aku tersenyum menggeleng. “Gak, sebentar lagi” Seperti kataku, sebentar lagi. Dan kami masuk di gang, dan berjalan lurus. Sudah terlihat warna biru laut.

Dan sampai. Oh, akhirnya. Kami memilih duduk di pembatas. “Waw!!” Sofi berdecak kagum membuatku tersenyum geli melihatnya. “Sejuk walau panas, tenang dan privacy sedikit”
Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. “Eh, Sof, foto-foto yuk? Pakai handphone kamu ya? Aku tidak bawa handphone” ia mengangguk sambil mengambil handphone dari saku roknya.

Di sana kami berpose berfoto ria, bernyanyi, mengobrol, dan terakhir mendengarkan musik. Bahkan kami sempat ikut bernyanyi karena terbuai dengan alunan musiknya hingga dua orang pria yang bersikap mencurigakan sedang berjalan ke arah kami. Awalnya aku tidak pedulikan karena aku berpikir mereka hanya penduduk sini. Tapi saat jaraknya semakin mendekat, dan rasaku mulai gelisah. Aku memutuskan untuk pergi.

“Sof, pergi yuk? Aku udah gak nyaman nih di sini” ucapku sambil bangkit diikuti Sofi.
“Loh, kenapa?”
“Nanti aku ceritakan” aku segera menarik tanganya berjalan setengah berlari. “Kita harus segera pergi dari sini!”
Sofi menatapku bingung. “Ada apa sih?”
“Ada pria yang mencurigakan sedang berjalan ke arah kita tadi”
Dan berakhirlah hari ini. Agak kesal karena moodku sedikit terusak, tapi aku senang karena dapat merasakan tenang di jiwaku. Sungguh pengalaman yang tak terkira.

The End

Cerpen Karangan: Indah Pebriyanti
Facebook: Indah Pebriyanti
Nama: Indah Pebriyanti
Sekolah : SMP Negeri 13 Kota Cirebon Kelas IX
Umur: 14 Tahun
Email: indahpebriyanti2[-at-]gmail.com
Maaf ya kalau ceritanya jelek, ada kesalahan, atau kurang menarik. Maklumin, saya amatiran baru baru menulis cerpen. Selamat membaca 🙂 semoga suka dengan cerpen yang saya buat, dan berikan saran juga kritiknya ya! 🙂

Cerpen Ketenangan Jiwa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu Yang Pernah Kita Miliki

Oleh:
Aku berjalan menyusuri jalanan kota yang panas, mendengar deru bising kendaraan dan mau tak mau harus aku naik bus tua reyot meski begitu bus itu tetap penuh dengan berbagai

Sahabatku Mencintai Pacarku

Oleh:
Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani.

Rasa Tabu Bersamamu

Oleh:
Suasana pagi yang cerah, telah menyelimuti desa Rajun Pasongsongan Sumenep. Mulai termusiki kokok ayam tetangga yang memenuhi gendang telingaku. Orang-orang kesana kemari merangkul cangkul membawa celurit dan bekal terbungkus

Persimpangan

Oleh:
Persimpangan itu terdengar seperti “banyak jalan yang harus kau pilih dengan tepat”. Sekali kau berbelok ke arah yang salah, susah untuk kembali lagi. Hal seperti itu yang aku alami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *