Ketidakwarasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 February 2022

Handoko alias Doko prihatin kepada Nasar. Setiap kali ia masuk ke kamar Nasar, hatinya seketika tersayat melihat Nasar berbicara kepada dinding kamarnya. Nasar menggoreskan sebuah mahakarya sederhana di dindingnya. Dia menggambar sosok perempuan bernama Arum. Goresan tangannya memang tak sesempurna seniman kelas dunia. Namun Nasar merasa, goresan tangannya itulah yang mampu menjadi obat rindu kepada Arum yang terampuh.

“Sar, sudahlah! Kamu gitu terus lama-lama bisa gila, lho! Dunia ini tidak selebar daun kelor. Makan dulu lah bro, kamu sudah dua hari mogok makan, kesehatanmu itu lho bro!”
“Bodo amat. Dunia tak selebar daun kelor pala kau! Memang kamu pernah berkeliling dunia? Palingan cuma lewat google maps.”
“Kamu harus kuat, Sar! Arum gak ada bukan berarti hidupmu menjadi mati, kamu pasti bisa bahagia meski tanpanya…”
“Arum, sudah makan belum? Kok ditanyain diem aja sih dari kemarin?”
“Ya Tuhan, Nasar! Sadar, Sar! Sadar!”

Tangan Doko berkali-kali memijat bahu Nasar dengan harapan menyadarkan temannya yang sedang kehilangan itu tanpa harus dengan kekasaran. Namun Nasar selalu menolak dan makin mendekat ke arah goresan tangannya di dinding. Makanan yang dibawakan Doko malah diarahkannya ke sana.

“Sar, dimakan lah! Ayolah jangan gitu! Buang-buang makanan aja! Tuh lihat dindingmu jadi belepotan…”
“Arum gak mau deh kayaknya, tuh nasinya dimuntahin lagi. Gak ditelan.”
“Sar, gini aja deh. Gimana kalau kamu aku kenalin sama temenku aja. Asli Sar, anaknya cantik, baik lagi. Dan suka mengotak-atik motor seperti kamu! Langka bukan!”

Mahakarya tangannya yang tercipta dari sebuah spidol hitam itu tak henti-hentinya dikecup oleh Nasar. Bahkan Nasar berniat akan merancap di depannya. Doko yang mengetahui itu tanpa ampun menahan tangan Nasar yang akan segera menyentuh “pusaka”nya.

“Sar! Stop, Sar! Bisa lecet kamu bro!”
“Gak! Badannya Arum itu lembut! Gak kayak tembok!”
“Maaf, kamu terpaksa aku gotong, bro! Tolong! Tolong! Nasar butuh bantuan!”
“Kampret, ngajakin adu mekanik lu?, Dok?”

Teriakan Doko menggemparkan seisi penghuni rumah Nasar. Sambil berusaha mencegah sahabatnya yang mulai edan itu, Doko mengeluarkan kalimat istighfar tepat di depan wajah Nasar. Dia juga sesekali mengelus dada Nasar yang mulai datar karena kurus kerempeng agar hatinya jadi tenang.

Sang Ibu datang kemudian menatap tajam Nasar. Beliau memeluk erat sang buah hati. Sang Ibu juga paham akan kesedihannya. Jadi, Arum tadinya adalah tunangan Nasar. Perempuan tiga dasawarsa tersebut dikenal sebagai sosok yang berhati mulia sejak mengenal Nasar. Selain baik pada Nasar, Arum juga menjadi baik kepada keluarga Nasar setelah Nasar melamarnya. Kenyataan pahit harus hadir dalam hidup Nasar. Kepahitan itu datang dalam rupa kabar tentang meninggalnya Arum karena motor yang dikendarainya jatuh dari jembatan layang setinggi enam meter. Jasad perempuan itu hancur karena berbenturan dengan aspal serta tertimpa motornya sendiri. Bahkan karena kejadian itu, dua orang merenggut nyawa.

Nasar akhirnya harus kehilangan tunangan terbaiknya untuk selamanya. Sosok perempuan yang dulu selalu membawakan bebek panggang di akhir pekan kini tak pernah datang lagi. Sang Ibu pula tak punya sahabat dapur lagi. Air mata sang ibu kembali mengucur meski tak deras. Dia lebih sedih melihat kegundahan sang putra. Nasar bahkan sampai mogok kerja akibat duka mendalam karena ditinggalkan Arum.

Malam harinya, Nasar kembali tenang. Dia sementara dipindahkan ke kamar lain agar tidak kumat edannya. Doko masih setia menemaninya sambil membacakan lantunan ayat suci dengan harapan iblis yang bersarang di benak Nasar bisa perlahan ngacir. Jiwa Doko nampak tenang bila melihat sang teman tenang. Nasar terlelap sangat pulas. Niatan Doko lantas diluruskan guna mengenalkan Nasar kepada teman perempuannya yang cantik bernama Esti.

Esok siang, Doko datang bersama Esti. Ibu Nasar yang pertama kali menyambutnya. Kala tangan perempuan itu bersentuhan dengan tangan Ibu Nasar, terasa lembut sekali. Beliau terkejut ketika Doko bilang Esti suka mengotak-atik motor. Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya jarang mencuci pakaian atau berkutat dengan cucian lain di dapur. Raut kecanggungan terpancar di wajah Ibu Nasar. Pikir beliau, Esti adalah perempuan yang malas. Tapi semoga kemalasan itu berbanding terbalik dengan keindahan parasnya.

Doko mengarahkan Esti menuju kamar Nasar yang lain. Nasar masih saja terbaring nikmat. Dengkurannya fantastis. Esti bahkan sempat risih dan memasang wajah yang suram ketika mendengar dengkuran Nasar. Matanya yang tadi terpejam tiba-tiba bergerak diikuti dengusan hidungnya yang mencium bau wangi.

“Wangi apa nih?”
“Sar, bangun. Lihat siapa yang datang!”
“Astaga, siapa kamu? Ngapain di kamarku?”
“Ih, abang kok gitu sih? Kenalan dulu gih. Aku Esti”
“Nasar.”
“Dipegang dong Sar, takut amat sih! Esti ini sudah vaksin lima kali. Sudah pasti kebal virus!”

Keusilan yang hakiki perlahan menghampiri Doko. Dia berniat meninggalkan Esti berdua bersama Nasar. Senyumannya berkembang di balik telapak tangan yang menutupi sebagian wajahnya. Tapi sayang Esti dibuat marah oleh Nasar saat dirinya salah memanggil Esti dengan nama Arum.

Esti pun pergi keluar meninggalkan Nasar. Doko yang terbahak-bahak di luar malah harus kena semprot Esti. Raut muka perempuan itu menjadi garang. Dia mempermasalahkan kenapa Nasar malah menyebut nama Arum kepadanya. Doko menjawab dengan sejujurnya dan Esti mengiba kepada Nasar. Dia ikut prihatin atas wafatnya Arum sang tunangan.

Hawa yang dirasa makin panas membuat Esti tak betah di dalam dan pergi meninggalkan Doko. Pria pengusaha lele tersebut kembali mendatangi sang teman sejati untuk menghibur dan menghapuskan laranya sekali lagi. Sayangnya, Nasar malah bersikap aneh dan membalas segala perkataan Doko dengan tidak sopan.

“Gimana bro? udah enakan belum?”
“Ngapain lu kesini, njing?”
“Sar, kamu kenapa sih?”
“Keluar lu!”
“Lah? Aku salah apa emang?”
“Keluar! Gua mau mantap-mantap sama Arum! Buruan keluar sono, Jomblo!”
“Sar, please lah! Sudahi semua ini. Sadar bro! Sadar!”
“Aku tak akan pernah sadari bahwa Arum tak lagi disini. Udah, keluar sono buruan! Ah lama lu jomblo! Kalo gak keluar juga gua lempar gunting nih!”
“Sar sar sar… ampun sar…!”

Sejak hari itu Nasar semakin gila. Doko pun sudah menyerah dalam menghadapi Nasar. Dia bersama Esti lantas berpamitan kepada Ibu Nasar serta tak lupa mengucapkan beribu terima kasih untuk terakhir kalinya. Doko bangga pernah memiliki teman seperti Nasar. Sambil meninggalkan rumah Nasar, Doko menggandeng tangan Esti seerat-eratnya.

“Beb, kita gak perlu kesini lagi kok. Ini adalah yang terakhir kita kesini. Aku sudah males jadi temennya Nasar. Udah gila gitu!”
“Huh! Untung aja Nasar gak mau sama aku. Dan akunya gak mau juga sih sama dia. Burik. Mana bau sampah lagi”
“Tapi kalau dia mau sama kamu gimana, Beb?”
“Ah, jangan gitu aa. Kalo Nasar mau sama aku, kamu sama siapa? Hiyaaa.”
“Ya cari lagi lah! Hehehe!”
“Ih, dasar buaya! Ah udahlah pulang aja yuk!”

Di hari itu juga Ibu Nasar dan keluarganya sepakat mengurung Nasar di kamar. Sementara mereka semua akan pergi meninggalkannya sendirian sampai dia benar-benar tenang dan tak berkutik. Suara bising darinya di kamar sangat keras dan mengganggu serta tak kalah dengan hebohnya suara monyet di kebun binatang.

Cerpen Karangan: M. Falih Winardi
Blog / Facebook: Falih Winardi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Februari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Ketidakwarasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perbedaan Cinta dan Sahabat

Oleh:
Hai namaku Keiko, aku bingung kenapa manusia berpacaran dan begitu nyaman sedangkan aku, hanya melihat orang yang kucintai bersama orang lain dan dia menganggapku hanya sahabat. Walau menyakitkan aku

Untuk Dia Seseorang Yang Tak Pernah Peka

Oleh:
Pagi itu datanglah anak baru ke kelasnya Windy, di situlah semua permasalahan dimulai. “Hei, nama aku Rivi Andy senang berkenalan dengan kalian” ucapnya dengan sepenggal kata yang penuh makna

Tanya

Oleh:
Tanya diam terpekur, matanya nanar menatap kabut. Ada sesal dalam hatinya dan ada sedikit kesenangan di dalamnya. Menyesal telah mengkhianati hatinya dan senang telah membalas kesal masa lalunya. Dulu

Ku Temukan Hati Yang Tak Biasa

Oleh:
Aku wanita yang tak begitu peduli dengan cinta. Entah mengapa aku sendiri pun terasa tak punya alasan untuk menjawabnya. Ketidakpedulianku ku buktikan hingga saat ini, aku masih betah sendiri

My Diamond

Oleh:
Waktu itu gue duduk di kelas 2 SMP, kenalin nama gue nirmala temen-temen biasa manggil gue mala. gue ikut berbagai kegiatan di sekolah contohnya aja kayak osis. Ekskul osis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *