Ketika Aku Menjadi Kambing Congek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 September 2017

Mungkin sudah nasibku selalu menjadi orang ketiga, tapi bukan orang ketiga perusak hubungan orang loh ya… tapi orang ketiga perekat hubungan (emang lem, perekat). Dan selalu saja aku menjadi kambing congek atau obat nyamuk ketika aku menjadi orang ketiga (jelek bener perumpamaannya, hahaha), kasihaaan.

Sebut saja namaku Thalia. Nama yang indah untuk ukuran cewek yang parasnya biasa banget kayak aku. Tapi aku bersyukur juga sih, namaku banyak menipu orang. Hampir setiap orang berpikir bahwa aku adalah cewek yang cantik, tapi kenyataannya, yah, kalian bisa menilainya sendiri.

Ada beberapa alasan kenapa aku menggunakan istilah kambing congek. Pertama, kambing biasanya sangat bodoh dan mau saja mengikuti kemauan orang. Kedua, congek (maaf) merupakan kotoran kuping. Ketika kambingnya congek maka dia tidak akan mendengar omongan orang tentangnya. Ketiga, aku pikir kata-kata ini sudah umum digunakan untuk julukan orang ketiga di antara orang yang sedang pacaran.

Kasus pertama
Kelas 2 SMA merupakan masa puber bagi para remaja. Mereka baru terkena virus merah jambu tuh. Puncak-puncak masa puber nih ceritanya. Tapi bagiku, kelas 2 SMA itu masa-masa sibuk memikirkan organisasi dan pelajaran. Pokoknya aku harus menghasilkan prestasi, pikirku. Kapan lagi coba, kesibukan seabrek kayak gitu. Jadi, bagiku mana sempet mikirin sesuatu yang bernama “Cinta”.

Sebagai cewek yang agak tomboy, wajar saja kalau teman-temanku kebanyakan cowok. Tapi yang membuatku gregetan nih, ada beberapa temen cowok yang mendekatiku karena hanya untuk menjadikanku kambing congek alias mak comblang jadi-jadian. Mereka tuh kayaknya nggak tulus berteman denganku. Dibalik kebaikan mereka, selalu ada udang di balik batu. Huft.

“Hai, Tha… gimana? Mau bantuin gak? Tolong ya… pliiisss…” begitulah cara mereka merayuku. Sebagai cewek yang menggunakan perasaan, aku mau aja dijadikan kambing congek. Aku selalu menjadi orang ketiga yang mempersatukan dua insan yang saling mencintai.

Saat kelas 2 SMA, aku deket dengan seorang cowok. Teman sekelasku sih. Ke mana-mana bareng terus. Itu juga karena dia anggota OSIS yang divisinya sama denganku. Jadi, wajar saja aku selalu bareng terus dengannya. Aku juga punya teman dekat cewek. Orangnya bukan orang yang aktif di organisasi OSIS. Tapi, anaknya sangat pintar melukis. Panggil saja namanya Tika. Anaknya sedikit pendiam dan tidak mudah bergaul dengan orang lain.

“Tau gak sih, si Thalia itu kayaknya jadian sama Deny.” begitu gosip yang beredar tentangku dan Deny. Teman seperjuanganku di OSIS.
“Iya, tuh, ke mana-mana bareng terus. Kayak perangko aja.” kata salah seorang temanku yang kutahu namanya Rena.
Tapi kenyataannya adalah aku sama sekali tidak jadian sama Deny. Dia hanya sebatas teman bagiku. Dan faktanya adalah dia mendekatiku karena ingin dekat dengan Tika, sahabatku. Aku sama sekali tidak peduli gosip tentangku.

“Tha, kapan aku bisa ketemu sama Tika? Kamu udah ngasih tau dia kan kalau aku pengen ketemu?” tanya Deny suatu hari.
“Udah. Hari Sabtu ini di rumahku. Okey…” jawabku.
“Okey lah… makasih ya Thalia sayang…” kata Deny. Kelihatannya dia sangat gembira saat itu.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Deny dan Tika bertemu di rumahku. Rumahku yang menyerupai gubuk kecil ini (ceileeeh… merendah) menjadi saksi bisu drama penembakan yang diungkapkan oleh Deny kepada sang pujaan hati. Yah, semoga menjadi keluarga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Ucapan yang tulus dari hati. Sungguh. Aku bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Setelah drama penembakan itu, berhembuslah kabar bahwa aku dicampakkan oleh Deny karena aku bukan tipe cewek feminin seperti yang disukai oleh Deny. Deny lebih memilih Tika yang kalem dan feminin. Hampir sebagian besar teman-temanku membicarakanku. Apalagi Deny adalah orang yang cukup memiliki pengaruh dalam organisasi OSIS dan banyak dikenal oleh junior kami ataupun para senior. Dan begitu juga aku. Intinya, aku adalah korban yang dicampakkan saat drama penembakan itu. Padahal, sebenarnya nggak seperti itu. Aku hanyalah kambing congek yang baik hati. Hehe…

Kasus kedua
Setelah meninggalkan masa-masa remaja di SMU, tiba saatnya memasuki dunia kuliah. Semuanya berubah. Ketika masa SMU, kita terikat oleh peraturan sekolah dan keharusan untuk taat kepada guru, pada masa kuliah, kita diharuskan untuk kritis terhadap keadaan sekitar.

Masa-masa tersulit saat memasuki dunia kuliah adalah masa-masa ospek. Huft, sungguh sangat menyebalkan menyaksikan tingkah para senior yang sok banget, yang ternyata itu hanyalah akting belaka. Sebenernya konsep ospek itu simpel banget. Kita hanya harus kritis terhadap apa yang ada di sekitar kita.

Saat ospek, orang yang pertama kali kukenal adalah seniorku yang setahun lebih tua dariku. Orangnya sangat baik dan murah senyum. Bahkan setelah ospek pun, aku menjalin hubungan akrab dengannya. Tapi hanya sebatas hubungan antara senior dan junior saja, tak lebih. Kami memiliki kesamaan yaitu sama-sama suka membaca buku bergenre detektif. Itulah yang membuat hubungan kami terlihat dekat.

Panggil saja seniorku itu Faiz. Yah, kalau dilihat dari namanya sih, orangnya itu alim banget. Tapi sebenernya kalau udah kenal orangnya, dia biasa aja. Sekali lagi, gosip di kampusku pun beredar antara hubunganku dengan kak Faiz. Apalagi, aku sering bertanya padanya perihal mata kuliah, baik bertanya langsung maupun melalui pesan singkat atau telepon. Semua teman-temanku mengira aku jadian dengan kak Faiz.

“Tha, tuh kak Faiz-mu lewat. Disamperin gih.” kata Desty, teman akrabku, saat Kak Faiz tiba-tiba nongol di kantin.
“Hahaha… iya, ntar kusamperin. Mau nitip salam gak?” kataku bercanda. Aku hanya bisa tersenyum saja dengan berbagai gosip yang beredar mengenai aku dan kak Faiz.
“He’em… ada yang lagi fall in love nih.” goda Fina, yang juga merupakan teman akrabku.
“Yee… nggak ya. Biasa aja kali.” elakku.

Tiga bulan berlalu setelah aku menjadi seorang mahasiswa. Hubunganku dengan kak Faiz biasa saja. Tak ada yang spesial. Aku pun hanya menganggapnya sebagai seniorku saja. Lagi pula, feelingku mengatakan bahwa kak Faiz berusaha dekat denganku karena dia mengincar salah satu kawan akrabku, antara Desty atau Fina. Yah, mengulang kasus-kasus yang pernah terjadi padaku sebelumnya, aku menjadi kambing congek.

Dan ternyata benar dugaanku. Ternyata memang benar kalau kak Faiz ingin mendekati Fina. Dia terus menerus menanyakan tentang Fina kepadaku. Sebagai calon kambing congek, aku selalu mempersiapkan jawaban terbaik untuk melanggengkan hubungan calon pasangan baru itu.
“Fina itu orangnya baik, kak. Di kelas paling pinter.” kataku ketika kak Faiz bertanya tentang Fina. Nampak-nampaknya, insting mak comblangku bener nih. Dan ketika Fina bertanya tentang kak Faiz padaku, maka aku pun menjawab hal yang baik tentang kak Faiz.
“Kak Faiz orangnya ramah. Suka nolongin orang.” kataku.
“Kamu beneran gak ada hubungan apa-apa dengan kak Faiz?” tanya Fina lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Beneran, Fin. Aku kan udah ngomong berkali-kali.” jawabku.
“Baguslah kalau gitu.”

Sebenarnya aku sudah tau hubungan mereka sejak awal. Apalagi ketika Fina meledekku dengan kak Faiz. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia itu memiliki perasaan yang sama dengan kak Faiz. Dan seperti biasa, akulah kambing congek kesepian yang menyatukan hubungan mereka berdua. Ketika kak Faiz ingin mengatakan sesuatu kepada Fina, akulah orang yang menyampaikannya. Dan begitu pula sebaliknya. Akulah kambing congek yang juga berperan sebagai burung merpati penyampai pesan.

Bagi orang yang tidak mengenal Thalia, mereka akan mengasihaniku. Mereka akan beranggapan bahwa (lagi-lagi) aku adalah orang yang dicampakkan.
“Sungguh malang nasibmu, Thalia. Selalu saja kamu menjadi kambing congek.” ledek Desty.
“Hahaha… iya neh. Kasian bener aku…” kataku datar. Sebenarnya ada perasaan jengkel juga aku diledek seperti itu, seakan-akan aku selalu berada di posisi orang ketiga. Cowok yang deketin aku hanya ingin menggunakan jasaku sebagai mak comblang. Emang dasar nasib…

Dengan bantuanku (sombong bener), akhirnya Fina dan kak Faiz jadian. Hampir seluruh orang di kampus tau. Jadilah aku bahan pembicaraan. Seperti biasa aku selalu dijadikan objek yang dicampakkan. Untung saja aku terbiasa dengan keadaan yang seperti itu. Jadi, aku bisa menghadapinya dengan santai. Rumor tentang putusnya hubunganku dengan kak Faiz beredar dengan cepat di kampus, apalagi kampusku tidak terlalu besar. Gosip beredar secepat kilat menyambar (ahaha… berlebihan sekali). Namun, gosip itu pun menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Yang penting cuek aja. Cuek is the best.

Kasus ketiga
Sudah setahun aku menjalani kehidupanku sebagai seorang mahasiswa. Sungguh menyenangkan dengan kesibukan yang seabrek, sibuk kuliah dan organisasi baik dalam maupun luar kampus. Waktu terasa berlalu dengan begitu cepat. Aku tetap pada tujuanku untuk mencari ilmu. Bodoh amat dengan anggapan orang tentangku, tentang sifat cuekku, baik dalam hal penampilan maupun dalam hal lain. Cuek is the best, itulah yang selalu kupegang selama ini.

Di tahun keduaku menjalani masa kuliah, gosip pun beredar lagi tentangku. Susah ya menjadi orang yang jadi pusat perhatian, tak bisa jauh dari gosip. Biasa… artis kampus, haha. Aku memang dekat sama seorang cowok, teman sekelasku. Hmm… wajahnya sih lumayan menurut orang-orang, tapi menurutku biasa saja. Mungkin gara-gara sering bareng, jadi ngeliatnya biasa. Katanya sih, wajahnya mirip salah satu artis Indonesia gitu, hmmm lupa namanya siapa.
Hengky, itulah nama cowok itu. Kalau orang-orang tidak mengenal dia, pasti orang akan mengira kalau dia anaknya cool dan pendiam. Dia memang membatasi diri untuk berbicara kepada orang, apalagi kepada cewek. Entah mengapa. Tapi entah mengapa, jika dia bersamaku, dia menjadi sangat cerewet. Sebagai teman yang baik, tentu aku menanggapi saja tingkahnya itu.

“Gila ya… ternyata kamu tuh cowok yang cerewet juga. Nggak seperti perkiraan orang-orang.” kataku suatu hari.
“Hahaha… pikiran mereka aja yang terlalu picik. Melihat orang dari covernya aja. Mereka gak tau aja dalemnya kayak gini ni…”

Berteman dengan Hengky pun menurutku menyenangkan. Bisa diajak diskusi mengenai beberapa hal. Apalagi backgroundnya juga mendukung. Anaknya sebenarnya supel dan mudah berteman, namun dia lebih banyak diam terhadap orang yang belum dia kenal ataupun dengan orang yang belum akrab dengannya. Ketika orang lain berusaha akrab dengannya, maka dia akan membuka diri.

Ketika di dalam kelas, saat semua orang sibuk dengan pembicaraan mereka masing-masing, aku dan Hengky pun sibuk dengan obrolan kami. Dia akan tertawa lepas di hadapanku dan membuat semua orang dalam kelas terperangah dengan tingkahnya itu. Jadi, wajar saja jika orang-orang mengira kami ada hubungan khusus, padahal sebenarnya aku tak lebih dari temannya.

Ingat dengan Desty, kawan akrabku? Ya, sebenarnya Desty lah yang menjadikan hubunganku dengan Hengky lebih dekat. Disamping Desty adalah kawan akrabku, sebenarnya Hengky diam-diam juga menjalin hubungan dengan Desty. Dan kasus lama pun terjadi lagi padaku. Sudah merupakan nasib bagiku, yang selalu menjadi kambing congek. Ketika Desty dan Hengky sedang mengalami masalah dalam hubungan mereka, jadilah aku kambing congek yang senantiasa menjadi penengah antara mereka berdua. Akulah yang menyelesaikan masalah antara mereka berdua. Ketika keadaan kembali normal, seperti biasa akulah orang yang dituduh memiliki hubungan khusus dengan Hengky.

Aku cuma tersenyum ketika ledekan orang bertubi-tubi menyerangku. “Cie… Thalia, beruntung banget bisa ngedapetin cowok cakep kayak Hengky. Selamat ya…” ledek Tya yang kutahu kalau dia sebenarnya juga menyukai Hengky. Aku hanya bisa tertawa garing mendengar semua ledekan-ledekan itu. Kayak anak SMA aja, masih ada aja tuh yang namanya ledek-ledekan.

Di mata orang, Hengky adalah cowok idola di kampus. Cowok cakep yang bawaannya motor ninja berwarna hijau. Cukup lumayan penampilannya, selalu rapi dengan kemeja kotak-kotaknya. Tak ada yang menyangka cewek model sepertiku yang urakan dan tomboy bisa deket dengan orang seperti Hengky. Ya iyalah, mereka ngiranya aku jadian sama Hengky, padahal aku hanyalah kambing congek super baik yang menjadi mak comblang antara Hengky dan Desty. Bukan cuma Hengky aja yang menurut orang lain berparas lumayan. Desty pun memiliki paras yang cantik. Jadi, pasangan yang serasilah. Jadilah aku kambing congek baik hati yang menyatukan mereka berdua.

Tak ada yang menyangka ketika orang-orang mengetahui kebenaran yang sebenarnya bahwa Desty lah yang memiliki hubungan khusus dengan Hengky, bukan aku. Seperti biasa, aku menjadi orang yang tercampakkan. Dan otomatis, pusat pembicaraan seluruh kampus beralih ke Desty dan Hengky. Desty yang cantik dan Hengky yang cakep.

“Ya iyalah… Hengky pasti lebih memilih Desty daripada Thalia. Desty kan cantik, sedangkan Thalia biasa aja. Tomboy banget lagi. Mana mau Hengky dengan orang kayak dia.”
Begitulah obrolan tentangku yang tak sengaja kudengar di dalam toilet. Sungguh sangat menyakitkan sih. Tapi sekali lagi aku memegang prinsipku, Cuek is the best. Toh kesuksesanku juga tidak ditentukan oleh mereka. Beginilah nasib ketika aku menjadi kambing congek selama bertahun-tahun. Hanya satu penyebab kenapa aku selalu menjadi kambing congek. Tomboy. Itu aja.

Tahun berikutnya, usai liburan aku memutuskan untuk merubah sesuatu dariku. Sesuatu yang dikenal dengan istilah “Tomboy”. Semua warga kampus terperangah dengan penampilan baruku. Untuk pertama kalinya aku mengenakan rok ke kampus. Kesan tomboy yang melekat pada diriku pun tiba-tiba menghilang. Gilaaaa… ribet banget pakai rok. Gak biasa euy. Kesan miring tentangku masih terus terdengar, tapi tetap saja cuek is the best.

Sejak saat itu, aku mulai memperbaiki diri. Aku mulai menghargai diriku dan aku pun mulai menerima kodratku di hadapan Allah sebagai seorang cewek. Keadaan keluargaku lah yang membuatku menjadi cewek tomboy yang kehidupannya gak karuan. Tapi aku tidak pernah menyesalinya karena justru itulah yang membuatku menjadi cewek mandiri yang berusaha tegar dengan berbagai cobaan (he’em, sambil mengepalkan tangan dengan bersemangat).

Gelar kambing congek yang kusandang pun lambat laun memudar. Tak ada lagi Thalia, si kambing congek baik hati yang siap mempersatukan kedua insan. Aku memang tak terlalu memikirkan hal itu. Aku harus menjadi diriku yang baru, seorang Thalia yang mandiri dan low profile. Sifat cuek belum hilang pada diriku. Tapi justru sifat itulah yang menjadikanku bertahan hingga semua orang lelah membicarakanku.

Aku bersyukur dengan semua gosip miring tentangku. Tanpa gosip yang seperti itu, hati kecilku tidak akan tergerak untuk merubah pendirianku dan menjadikanku menerima kodrat sebagai seorang cewek. Ternyata semua yang ada di dunia ini, kejadian, nasib dan takdir, semua ada hikmah di balik itu. Bagus juga nih, judulnya diganti menjadi “Hikmah menjadi kambing congek”, hahaha…

Itulah akhir kisahku ketika aku menjadi kambing congek. Kalian punya cerita yang sama?

Cerpen Karangan: Fakhriyah HS
Facebook: Rya Fakhriyah

Cerpen Ketika Aku Menjadi Kambing Congek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Everlasting Woman

Oleh:
Mengagumi hanyalah sebuah rutinitas, dipikir tak berarti tapi menenangkan hati. Matanya yang selalu tajam dan tak pernah menatap, mungkin sebuah prinsip. “Apakah dia tak pernah jatuh cinta?” pertanyaan yang

Miracle

Oleh:
Putih… Balutan putih tenang Bergeming, Terpaan angin menggoda Bergeming, Tangan rengkuh menggapai haru Bergeming, Langkah kakinya kian mereda, jauh dari kata cepat. Kaki jenjang itu menghentak tanah dengan keras.

Dilema Berakhir Indah

Oleh:
“Vo, tadi aku ketemu sama kak Al”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku. “Kamu mau nolongin aku nggak?”. “Emang mau nolongin apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari novel yang

Photo Bareng Yuk

Oleh:
“Tepuk kanan.. Tepuk kiri.. IIIPPPAAA DDUUAA!!!”. Oh My God, buusyeet dah temen-temen gue ini, seru gue dalam hati. Oke, gue juga nggak mau kalah sama mereka. “Ayoo Iiipaaa duuaaa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *