Ketika Cinta Tak Bisa Menuggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Matahari mulai kehilangan cahaya teriknya yang menandakan langit sebentar lagi akan gelap. Perlahan cahaya mulai meredup, tapi entah mengapa mentari seakan sulit untuk menenggelamkan dirinya seperti menjaga seseorang agar tetap mendapat cahayanya agar dia tetap berada dalam cahaya terangnya.

Sebuah Pantai menjadi tempat persinggahan satu satunya seorang remaja SMA yang terlihat sedang duduk di atas pasir menatap sunset terkadang orang yang melihatnya bingung apakah dia sedang menyaksikan sunset atau dia sedang melamun.

Saat gadis itu sedang tenang meanatap senja, tiba tiba saja sebuah tepukan di pudaknya mengejutkan dirinya.
“Mmm, maaf jika kamu terkejut.” Ucap seseorang yang tiba tiba menyapanya.
Gadis itu cukup memalingkan wajahnya dari pandangan laki laki itu tanpa menjawabnya sepatah katapun.
Orang itu langsung saja duduk di samping sang gadis.

“Kamu orangnya pendiem ya?.” Sekali lagi orang itu memancing suara si gadis.
“Hanya ingin kamu tau sih namaku Adi.”
Lagi lagi gadis itu hanya diam.

“Oke!!! Mungkin tebakanku benar. Kamu memang orangnya sedikit pendiam.” Tanpa berputus asa Adi terus mengoceh tak peduli di dengarkan ataupun tidak.

Tiba tiba gadis itu pun pergi begitu saja meninggalkan Adi.
“Aku tunggu kamu besok disini.” Tanpa ada perasaan marah Adi berteriak kepada gadis itu.

Gadis itu pulang ke rumahnya. Di rumahnya ia disambut oleh kakaknya.
“Dari mana saja kamu de.” Sapa kakaknya yang cemas menunggu kepulanganya
Gadis itu tak menghiraukan perkataan kakaknya syila.
“De… de…”

Keesokan harinya seperti biasa gadis itu berkunjung ke pantai setelah jam sekolah selesai. Dan seperti perkataan Adi kemarin Adi akan menunggunya di tempat itu.

“Hai cantik! Kamu sudah datang. Lama aku menunggu kamu.” Sapa Adi sambil tersenyum
“Maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku hanya ingin tau namamu.” Lanjutnya
Gadis itu tetap diam.
“Ok! Mungkin kedatanganku mengganggu kamu.”

Tiba tiba Adi pergi meninggalkan gadis itu. Namun, tia tiba…
“Namaku Dina.” Teriak gadis yang bernama Dina itu.
Langkah Adi tiba tiba saja menghentikan langkahnya. Berbalik badan lalu menghampiri Dina.

“Dina?”
“Iya.”
“Maaf mungkin aku sedikit egois dengan mendiamkanmu seperti itu.” Lanjutnya.
“Tidak papa, aku paham.” Balas Adi.

“Aku sering liat kamu, selalu duduk sendiri di sini.” Lanjut Adi.
“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” Balas Dina.
“Ah jangan tersingung seperti itu Din aku hanya ingin tau saja. Apa pacar kamu tidak mau menemanimu?” Tanya Adi.
“(menghela nafas) bahkan di dalam kandungan pun kita sendirian iya kan? Lalu kenapa hanya untuk ke pantai ini pun aku harus berdua.” Jelas Dini

Sejenak mereka saling menatap dan berdiam diaman.
“(memalingkan pandangannya) ya udah aku pulang dulu.” Pamitnya dengan terburu buru tanpa memberi kesempatan Adi untuk menjawabnya.

“Hai de?” Sapa syila dengan tersenyum.
“Aku langsung berangkat kak!” Balas Dini.
“Sarapan dulu de.”
“Gak sempet kak.” sambil berlari

Akhirnya Dini pun berangkat menuju ke sekolahannya. Sama halnya dengan Dini, Syila pun berangkat untuk sekolah.
Seperti biasa setelah bel istirahat Dini pergi ke masjid sekolah.

“Loh kok dia udah ngilang aja?” Kata salah seorang sahabat dari Dini yang bernama Erga.
“Yaelah, kalian kan sudah pada tahu jam istirahat gini dia biasa ada di mana.” Balas satu lagi sahabat Dini, Nayla.
“Pokoknya hari ini juga kita harus tau apa alasan dia berbuat seperti ini kepada kita semua.” Ucap Rehan.
“Ya sudah dari pada sekarang kalian banyak omong mending kita cepat cari Dini.” Ucap Nayla. Erga dan Rehan pun mengangguk. Tanpa berfikir panjang mereka pun pergi menemui Dini.

Di saat yang bersamaan Dini yan sedang melaksanakan Shalat Dhuha di situ tersipu tak berdaya di hadapan Nya. Perlahan lahan air mata Dini mengalir tanpa ia sadari terhanyut dalam do’a nya. Entah apa yang sedang ia do’a kan. Bahkan orang orang disana pun heran melihat Dini yang menangis dengan menutup matanya. Akhirnya Dini pun selasai melaksanakan Shalat Dhuha. Dia keluar dari Masjid itu dan ternyata dia sudah ditunggu oleh Erga, Nayla, dan Rehan.
Saat Dini sedang memakai sepatunya tiba tiba merekapun menghampiri Dini.

“Dini?” Sapa Nayla.
“Kalian?” Ucap Dini terkejut
“Kita mau bicara sebentar sama kamu.” Ucap Rehan.
“Aku tidak bisa.” Balas Dini lalu pergi.

Erga pun menahannya dan berkata ”Sampai kapan kamu mau menghindari kita Din?”
“Sampai kalian berhenti buat ngejar aku lagi.” Jawab Dini kesal.
“Kamu ini kenapa sih sih Din? Apa kamu lupa omongan kamu waktu itu. Hah? Kalo di antara kita tidak boleh ada rahasia. Kamu lupa sama itu?” Ucap Rehan seakan ingin mengingatkan janji janji mereka dulu.

“Kita bertiga tahu kamu tidak akan bermaksud untuk menjauhi sahabat sahabat kamu. Kita juga tahu pasti ada sesuatu yang membuat kamu menjauh dari kita. Karena itu kita mohon banget sama kamu, tolong kamu jangan jauhi kita seperti ini. Kita siap bantu masalah kamu apapun itu. (berhenti sejenak dan menggenggam tangan Dini) Karena kita itu adalah sahabat.” Bujuk Nayla

Dengan perkataan sahabat sahabatnya tadi, pelahan Dini mulai luluh dan berfikir untuk menceritakan masalahnya yang telah lama ia pendam sendiri itu. Saat ia ingin menceritkannya seakan angin berkata kepadanya, menahannya agar tidak berkata apapun kepada mereka.

Tanpa berfikir panjang Dini langsung saja melepaskan genggaman tangan Nayla lalu pergi.
“Apa itu artinya kita bukan lagi sahabat Din?” Teriak Erga yang dapat menghentikan langkah Dini
“Jika itu yang terbaik.” Balas Dini lalu pergi begitu saja.

“Aku cape.” Ucap Erga yang memancing emosi dari Nayla.
“Maksud lo apa? Hah? Bagaimana pun Dini, dia tetep sahabat gue, sahabat lo, sahabat kita semua.” Ucap Nayla kesal setengah berteriak .
“Terus kenapa? Lo gak denger dia bilang apa? Dia gak mau lagi temenan sama kita. (sambil menunjuk ke arah Dini pergi) Gue gak bisa maksa orang yang ga mau temenan sama gue buat jadi sahabat gue.” Bentak Erga.

“Udah udah..!!! kalian itu kaya anak kecil tau gak. Erga bagaimanapun dia, dia tetep sahabat kita. Dan kita udah sama sama tau bahwa dia menjauh bukan karena dia gak mau lagi temenan sama kita. Tapi, dia begitu karena ada masalah besar yang dia sembunyiin dari kita yang kita sendiri pun gak tahu itu apa.” Jelas Rehan yang mencairkan suasana.
“Bagi gue jawabannya tadi cukup jelas bahwa dia gak mau lagi temenan bahkan kenal sama kita lagi.” Balas Erga yang semakin memanas.
Lalu Erga pun pergi begitu saja.

“Erga.”
“(menahan Nayla) sudahlah Nay, kamu kan tahu Erga orangnya memang seperti itu.” Ucap Rehan berusaha menenangkan.
Rehan dan Nayla pun terus berusaha mencari cara untuk mengetahui alasan Dini menjauhi mereka.

Jam pelajaran terakhir pun telah selesai. Lagi lagi Dini tidak langsung pulang, tapi dia berkunjung dahulu ke pantai yang sering ia kunjungi hingga senja tiba.

Terlihat Dini yang sedang duduk di atas pasir di tepi pantai sendirian dan dari salah satu kamar hotel yang tak jauh dari pantai itu ada seseorang yang sedang mengawasinya. Ya itu Adi. Sebenarnya bukan hanya hari ini ia mengawasi Dini, tapi dari awal Dini sering berkunjung sampai sekarang Adi selalu penasaran pada Dini. Tanpa berpikir panjang lagi lagi Adi menghampiri Dini.

“Hai!” Sapa Adi.
“(melirik Adi) Buat apa kamu ke sini?” Balas Dini sinis
“Ya… aku hanya ingin menemani kamu di sini.”
“Untuk apa? Aku tidak butuh teman. Aku hanya ingin sendiri.”

“Aku tahu kamu sedang ada masalah iya kan?”
“Tau apa kamu tentang aku?” Lagi lagi Dini menjawabnya dengan sinis.
“Aku tahu lah.” Ucap Adi menggoda Dini.

Lama lama Dini sangat merasa terganggu dengan keberadaan Adi. Dia pun pergi tanpa berpamitan.
“Dini…” teriak Adi.
Dini pun pergi meninggalkan Adi sendirian.

“Lalu apa yang kamu tunggu Din?” Ucap Syila geram.
“Aku cape kak.” Balas Dini membuang muka.

“Dan apa kamu pikir, kakak gak cape liat kamu seperti ini.” Balas syila lagi.
“Lebih baik biarkan saja aku begini kak.” Ucap Dini pasrah.
“Itu artinya kamu sudah tidak ingin lagi bersama kakak?” Ucap Syila sedih.

Hanya sekilas tapi percakapan itu membuat Erga, Nayla, dan Rehan semakin bingung lagi akan sikap Dini. Dari tadi ternyata mereka berada di luar rumah Dini dan Syila, mendengarkan percakapan Dini dan Syila dari jendela rumah mereka.

“Aku benar benar tidak mengerti.” Ucap Rehan bingung.
“Kita bener bener gak dapet apa dengan datang ke sini malem malem.” Timbal Erga.
“Kita benar benar dapet jalan buntu sekarang.” Balas Nayla.

“Apa perlu kita temui Dini sekarang juga.” Ucap Erga.
“Nggak nggak, itu bukan jalan keluar yang terbaik. Kalo kita nemuin Dini sudah pasti dia gak akan mau nemuin kita.” Jelas Nayla
“Nayla bener Ga, belum tentu juga Dini bakalan mau nemuin kita.” Ucap Rehan menyetujui.

“Terus kita harus gimana sekarang?” Tanya Erga.
“Gue juga bingung ga.” Balas Rehan.
Mereka pun pulang dengan tangan kosong. Tak ada percakapan yang pasti yang bisa memberi mereka petunjuk akan perubahan sikap Dini.

Keesokan harinya, kebetulan hari ini weekend. Jadi, Dini tidak perlu ke sekolah dan bertemu dengan sahabat sahabatnya.
Tiba tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka. Dengan cepat Syila yang sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Dini pergi untuk membuka pintu.

“Ya… sebentar.” Teriakan Syila. Syila pun membuka pintu.
“Pagi kak!!” Sapa tamu itu.
“Loh Sindi.” Ucap syila kaget.
“Iya ini aku memang siapa lagi.” Balas Sindi ketus.

“Ya sudah. Kamu pasti cape, iya kan?”
“Hah…, cape banget tau kak.”
Syila pun mengajak Sindi untuk duduk. Karena mendengar suara rebut di luar kamarnya Dini pun keluar dari kamarnya.

“Eh, kak Sindi sudah pulang.” Ucap Dini gembira.
“Iya nih de.” Balas Sindi.

“(duduk samping Sindi) gimana kemahnya kak?” Tanya Dini.
“Ya seperti itulah de. Kan kamu tahu sendiri, namanya juga berkemah. Mana ada berkemah yang enak (lesu).” Jawab Sindi.
“Bahkan aku lupa kak gimana rasanya kemping kaya gitu.” Balas Dini sedih.
“(mengelus rambutnya) kakak yakin pasti kamu akan kembali normal lagi de.” Ucap Sindi.

“Oh iya kakak sudah siapkan sarapan buat kalian.” Ucap Syila.
Mereka pun pergi bersama sama ke meja makan.

“Loh kak, kakak gak sarapan bareng sama kita?” Tanya Dini.
“(gugup) kakak sudah sarapan tadi de.” Jawab Syila.
“Bener?” Ucap Dini seakan akan ragu dengan jawaban Syila.
“Bener de, sudah kalian saja yang sarapan.” Balas Syila meyakinkan.

Lalu Syila pun pergi ke kamarnya. Di situ entah kenapa Syila tiba tiba saja menangis. Entah masalah apa yang sedang ia tangisi. Lalu Syila pergi setelah dia menerima WhatsApp dari seseorang.
Tanpa sepegetahuan adik adiknya dia pergi menemui Nana sahabatnya di taman dekat kampusnya.

“(bersandar di bahu Nana) Aku benar benar tidak tahu lagi harus berbuat apa Na.” Ucap Syila sambil menangis.
“Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan itu Syil.” Balas Nana khawatir.
“Tapi aku tidak akan pernah rela kehilangan adik aku sendiri Na.” Ucap Syila.

Cerpen Karangan: Melin Rohmawati
Facebook: Melin Rohmawati / Melin Rohmawati II

Cerpen Ketika Cinta Tak Bisa Menuggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hewan Dapat Membahayakan Cinta

Oleh:
Mulai hari rabu kemarin dia gak ada ngehubungin aku sampai sekarang pada hari kamis pukul 00.00 wib. Aku coba ngehubungin dia cuman nomornya gak aktif dan lineku cuman diread

Kamu Dan Roti Buayaku (Part 2)

Oleh:
“Hai bos kusut amat tuh muka. Masa Nicholas saputra pagi-pagi udah lecek gitu sih” sembari membereskan roti di rak display Rizal pun meledeki bosnya yang sedang berpangku tangan di

Gaptek?

Oleh:
Rian. Cowok pintar dan keren dari kelas XI IPA 1 itu lah yang selalu mengganggu pikiran ku. Aku dan Rian sekelas pas kelas X, tapi sekarang tidak lagi. Rian

Aku, Egi dan Pasar Kaget

Oleh:
“Dodol! Bukan gitu caranya!” Egi memukul kepalaku dengan penggaris yang sontak membuatku meringis kesakitan. “Sakiiiittt…” kataku sambil memanyunkan bibir. Egi berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekali lagi ia memukul kepalaku

Meskipun Itu

Oleh:
Bagiku cinta adalah salah satu kekuatan yang menguatkan. Masa jatuh cinta, cinta diam-diam, cinta dijatuhkan bahkan cinta kembali bangkit setelah dicampakkan. Cinta memang ada, tetapi tidak mudah untuk mendapatkannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Cinta Tak Bisa Menuggu”

  1. Dian Kalila sumbogo says:

    Cerpen nya bagus. Cuma kurang penjelasan, maksudnya masalah yang dialami dalam cerita itu sebaiknya dijelaskan lebih rinci, semuanya! Nah, lalu bisa di tambahkan penyelesaian masalah atau ending. Sad ending atau happy ending. Karena dalam cerita itu terdapat unsur2 nya. Dan itu harus disesuaikan lagi ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *