Ketika Cinta Tak Harus Menunggu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 17 April 2015

Tidak semua hal di dunia ini bisa diutarakan dengan kata-kata, bahkan sosial media yang kini merajai dunia maya seakan hanya menjadi figuran dalam kisah ini.

Terlalu banyak kebetulan. Satu kalimat yang selalu kupikirkan sejak ku mengenalnya. Sayangnya di dunia ini tidak ada yang dinamakan kebetulan, yang ada hanya takdir.

Menunggu kelas seperti biasanya, gue yang saat itu masih bergelut dengan dunia kesekretarisan gue di kampus A di kota Depok, sedang menunggu untuk mata kuliah hari itu. Dengan asal gue ngotak-ngatik netbook yang gue letakan di pangkuan gue. Mata gue ke layar, tapi otak gue berkhianat dengan memikirkan seseorang yang ada di samping gue saat itu. Laki-laki dengan sweater abu-abu dan T-Shirt merahnya, yang kini juga sedang ‘berpacaran’ dengan laptopnya tepat duduk di sebelah gue. Saat gue bilang tepat, bukan berarti kita duduk ‘nempel’. Kita duduk hanya berjarak sebuah pintu yang memisahkan tembok-tembok yang kita sandari. Dan kalau ada yang benar-benar rajin mau ngukur jarak ini, mungkin hanya beberapa jengkal dari tempat gue duduk bersila di depan kelas yang akan gue masuki beberapa saat lagi. Bermodal sedikit-sedikit lirikan, gue juga dapat sedikit-sedikit lirikan darinya. Yes, merasa terbalas, dalam hati gue ge-er. Kebiasaan cewek yang selalu menyama-nyamai apapun dengan orang yang mereka sukai juga gue lakukan saat itu, dia mengenakan sweater abu-abu T-Shirt merah, gue juga pakai cardigan abu-abu kaos merah. Cucok bukan? Hehehe, lupakan. Karena ini hanya kebetulan.

Kisah gue ini bukan kisah yang pada saat itu juga terjadi perkenalan, minta nomor hape, nanya akun facebook atau twitter, atau yang paling parah segala minta alamat rumah. Bukan, kisah ini belum dimulai.

“San, lu tumben dateng lebih awal?”, ucap salah satu teman gue yang tiba-tiba dengan seenaknya duduk menghalangi lirikan-lirikan gue yang berharga ke Mr. Laptop yang tadinya ada di sebelah gue.
“Lu ngapain duduk disitu? Sini depan gue.”, kata gue menyuruhnya pindah posisi.
“Emang kenapa?”, jawab teman gue dengan wajah polos.
Menyadari apa yang gue maksud, teman gue melirik Mr. Laptop di sampingnya dan dengan malas mengatakan, “Ooohh yang waktu itu.”
“Iya. Makanya jangan duduk disitu”, kata gue dengan cengiran yang mengandung banyak arti.
Gue yang saat itu masih tidak mengerti apa yang gue lakukan, pikirkan dan rasakan, cuma bisa senyum-senyum secara alami melihat dia dengan laptopnya, seperti biasanya.

Dosen kelas gue datang dan membuyarkan drama saat itu juga. Satu jam kemudian kelas gue bubar dan sedikit terkejut gue lihat di depan kelas gue masih ada si Mr. Laptop. Gue yang dengan alasan malas kemana-kemana duduk di seberang dia yang sedang mencolokkan kabel carger laptop hitamnya ke stop contact di sampingnya. Teman-teman gue yang pada saat itu ikut-ikutan malas kemana-kemana duduk di samping gue sambil menunggu kelas berikutnya. Salah satu teman gue yang gue panggil Mbak Masta, dengan mata berbinar-binar melirik colokan listrik di samping si Mr. Laptop.
“Mas, masih dipake gak colokannya?”, tanya Mbak Masta.
Gue dan teman-teman yang lain mengamati apa yang akan dikatakan si Mr. Laptop untuk menjawab pertanyaan barusan. Akhirnya gue akan mendengar suaranya, kata gue dalam hati dengan tidak sabar.
Tanpa diduga-duga, si Mr. Laptop tidak mengeluarkan suaranya dan hanya menunjukan stop contact yang masih tercolok kabel itu dan mengarahkan pandangannya ke sang pengguna stop contact yang sebenarnya.
“Ooh.. bukan dia yang make colokannya Mbak, tapi orang yang di sebelahnya tuh”, kata gue memperjelas arti gerakan itu ke Mbak Masta.
“Ih. Sombong banget Sandra. Masa Cuma nunjuk doang gak ngomong apa-apa.”, kata Mbak Masta merasa kesal.
“Iya ya Mbak”, sahut gue mengiyakan dengan sedikit rasa kecewa.

Genap dua semester gue penasaran sama Mr. Laptop yang selalu gue temui secara sekilas-sekilas dan kebetulan-kebetulan. Gue merasa ini cuma sekedar kagum karena sosok misteriusnya. Nanti juga lupa, pikir gue saat itu. Gue mencoba mengingat-ngingat pertemuan-pertemuan gue dengan si Mr. Laptop.

Suatu ketika di semester 1, sebagai mahasiswi baru, gue yang sedang menunggu kelas, duduk dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di lorong lantai 3 kampus sederhana gue. Dan disaat pengamatan gue itu, ada seorang cowok berjaket hitam dan bertopi, lewat dari hadapan gue dan mencari posisi duduk yang tidak jauh dari tempat duduk gue. Cowok itu duduk sendiri dan membuka laptopnya. Seakan dunia milik mereka berdua, si cowok dan laptopnya, tidak terpengaruh dengan kebisingan di sekitarnya. Gue perhatikan wajahnya dibalik topi itu, “Lumayan”, kata gue setengah sadar.

Pertemuan-pertemuan berikutnya adalah hampir sama dengan pertemuan pertama, gue selalu bertemu -lebih tepatnya menemukan dia dalam keadaan lagi-lagi ‘berpacaran’ dengan laptopnya. Di lorong kampus, di tangga, di depan lab, dengan laptop tercintanya.

Tanpa sadar hari-hari berikutnya gue selalu bersemangat pergi ke kampus dengan harapan akan bertemu dengan si Mr. Laptop. Tuhan seakan tidak membiarkan gue berharap terlalu banyak. Setiap kali usaha gue untuk menemukannya selalu gagal.

Dan suatu hari gue yang seharian di kampus kurang bersemangat untuk kuliah, dengan gontai dan putus asa keluar kampus untuk bergegas pulang. Beberapa langkah gue keluar kampus, gue berpaspasan dengan seorang pria tampan -gue akan menyebut seorang laki-laki tampan dengan sebutan ‘pria’ dan bukan ‘cowok’, tinggi, dengan kaos merah, rambut poni dikeatasin (entah apa nama modelnya) yang sedikit basah, kulit terangnya yang semakin terlihat karena terkena terpaan sinar matahari siang itu, dan seorang cowok berkacamata -yang kemungkinan temannya- mengekornya dari belakang. Seketika gue sulit bernafas, mematung dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Lebay, hehehe. Yang pasti saat itu yang gue pikirkan adalah “Siapa ya? Kayak pernah liat. Ganteng”. Gue yang masih tersipu-sipu ditegur oleh teman baik gue yang bernama Yulindra.
“Heh. Kenapa lu?”, tanya cewek manis berlesung pipit di sebelah gue.
“Gak tau gue kenapa. Gue kayak ngeliat pangeran barusan.”
“Siapa? Si Falex? Mana?”, tanyanya yang berharap bertemu pangeran pujaannya yang ia kagumi.
“Bukan. Gue kayak pernah liat. Tapi dimana ya?”, jawab gue memutuskan harapannya.
Sesampainya di rumah, gue yang masih memikirkan pangeran berkaos merah tadi terkejut sendiri dengan apa yang baru saja gue sadari. “Ya ampun.. itu kan si Mr. Laptop!”.
“Apaan sih lu kak. Berisik banget”, tegur ade gue yang saat itu sedang belajar menjelang ujian semesternya.
“Gue ketemu lagi gak ya nanti sama dia Non?”, tanya gue ke ade gue yang hanya dijawab dengan cengiran malas dan alis terangkat nampak tidak terlalu peduli dengan apa yang aku tanyakan.

Selama dua semester gue kuliah di kampus A itu, gue juga sama seperti remaja umumnya. Menikmati dunia kemahasiswaan dengan beberapa kecengan. Hanya saja, gue tidak pernah kecantol sama cowok-cowok dengan tipe mudah didapatkan. Toh gue sendiri sedang tidak berniat pacaran dalam masa-masa perkuliahan ini.

“San, itu kak Akbar.”, ucap Yulindra menyadarkanku dari lamunan.
“Biarin ah Yul, dia udah punya cewek.”, kata gue sedikit malas.
“Biarin-biarin tapi lu ngintip-ngintip!”, ucap teman gue dengan sedikit gemas.
“Hehehehe..”, kata gue merasa benar akan ucapannya.
“Udahlah San. Lupain aja, ntar juga ada cowok lain yang deket sama lu.”
Entah omongan teman gue yang satu itu hanya kebetulan atau memang sebuah doa yang jadi kenyataan.
“Yul… Yul!!! Itu cowok yang waktu itu!!!”, kata gue antusias.
“Ih cowok muka pucet letoy itu ya.”, gue tidak mengerti apa yang ada di pikiran teman gue yang satu ini begitu gue sebut ‘cowok itu’ dia langsung kepikiran sama cowok kebule-bulean yang sering kebetulan kita temui di seluruh sudut kampus.
“Ih. Apaan sih lu, bukan lah. Itu cowok yang itu. Liat aja deh”, sahut gue dengan unjukan kepala ke arah ‘cowok’ yang gue maksud.
“Oooh.. yang jutek ya San?”, tanya Yulindra yang pernah menjadi saksi kejadian Stop Contact.
“Iya..”, jawab gue dengan mantap.
“Gue bilang juga apa. Lepas dari Kak Akbar bakalan dateng cowok baru di hidup lu.”
Gue hampir gak mendengar apa yang dibicarakan Yulindra selanjutnya. Karena gue sekarang sedang mengamati si Mr. Laptop yang sedang mengikat tali sepatunya, dengan tas hitam di punggungnya -yang pasti salah satu isinya adalah Laptop, dan beberapa detik kemudian pergi meninggalkan mushola.
Gue baru menyadari dimana gue berada sekarang, mengintip dari pembatas ruangan mushola kampus. Astagfirullah, dalam hati gue khilaf.
“Nih pembatas jadi gak berfungsi!”, kata gue kesal sendiri.

Selepas sholat dzuhur gue segera meninggalkan mushola. Walaupun gue bukan termasuk cewek yang sangat agamis, tapi gue masih memiliki sedikit-sedikit pengetahuan tentang agama dan rasa ‘tahu diri’. Seketika gue melupakan pertemuan kebetulan tadi dengan si Mr. Laptop.

Kalau menurut ibu gue dan ibu-ibu beserta orang tua pada umumnya, mereka sangat mewanti-wanti anak-anak mereka agar nanti menikah dengan orang yang seagama. Entah setan mana yang gelayutan lagi di otak gue, kini gue kepikiran lagi sama kejadian tadi siang di mushola. Memandang hampa keluar jendela angkot yang gue tumpangi, lalu lintas yang padat seakan tidak dapat mengusik pikiran gue. Berarti dia seagama sama gue, kata gue dalam hati. “Ah, apa yang gue harepin. Dia seagama sama gue, terus kenapa?”, kata gue mengoceh sendiri. Sekejap gue mencoba menangkis pikiran yang tidak-tidak dari otak gue. Setan yang tadi gelayutan pasti langsung menyumpah-serapah gue karena gue berhasil mengusirnya dari otak gue.

Sejak kejadian Stop Contact beberapa waktu lalu itu, gue bukannya jadi lupa sama si Mr. Laptop, gue malah semakin kepikiran sepanjang liburan semester memasuki semester 3. Bukan berarti gue orang yang gak ada kerjaan dengan memikirkan orang yang sama sekali tidak gue kenal selama setahun. Gue pun sudah melalui masa-masa dimana gue naksir cowok di kampus, salah satunya yang bernama Akbar, mahasiswa tingkat akhir yang gue temui terakhir kali beberapa waktu lalu di mushola sebelum kelulusannya. Gue hanya penasaran dengan cowok Laptop ini. Bahkan namanya pun gue tidak tahu. Gue juga tidak mengerti apa yang saat ini gue rasakan. Sekedar kagum, naksir atau rasa-rasa yang tidak pernah gue alami sebelumnya yang mungkin saja terjadi pada diri gue di kisah ini. Satu hal yang gue ketahui pasti, gue-sangat-ingin-tahu-kenapa-gue-penasaran-sama-orang-itu.

Saat itu juga gue memantapkan hati gue dan mengumpulkan segala keberanian. Gue harus tahu siapa dia.

Cerpen Karangan: Sandra Auliana
Facebook: https://www.facebook.com/sandra.auliana
Nama: Sandra Auliana
Nama Pena: Sanzenaira
TTL: Jakarta, 11 September 1994

Cerpen Ketika Cinta Tak Harus Menunggu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Buram

Oleh:
hari itu hawa di kelasku terasa panas sekali. Aku dan teman-temanku asyik mengipas-ngipas badan dengan buku mengusir hawa panas yang terus membakar tubuh. Gerah, letih, dahaga, semuanya mulai terasa.

Video

Oleh:
Ahz membantai semua pemain yang ada di dalam permainan Romantic Fantasy. Dia sudah tidak memandang bangsa sendiri. Semuanya di anggap lawan. Tak peduli dia akan di hukum oleh Archon

Pantaskah

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana membuatku terbiasa hidup terasingkan juga penuh caci, mencoba menghadapi rintang kehidupan dengan genggaman tangan keluarga. Merasakan hidup lebih dari sekedar susah telah ku

Menunggu Akhir Bahagia

Oleh:
Pada suatu hari di SMA Elezar sedang istirahat pertama. Di sana terlihat Liora dan Olive duduk di depan kelasnya. “Kirim enggak… kirim enggak? Nggak ajalah!!!” kata Liora yang dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *