Ketika Cinta Terhalang Usia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 26 August 2017

Terimakasih. Hanya kata itu yang bisa Michella ucapkan. Segala sesuatu yang saat ini ia lihat sungguh tak pernah dibayangkannya. Berdiri di tempat ini dulu hanya sebuah angan. Namun kini ia ada di sini berdua dengan lelaki itu untuk mempersiapkan hidup mereka yang baru.

Michella hanya bisa terdiam menanti jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan sekian banyak persiapan ia diyakinkan untuk melangkah dengan mantap bersama sang tulang rusuknya. Mereka berdoa bersama menyerahkan semua acara yang akan berlangsung. Meski mereka berdua terpisahkan oleh ruangan, namun roh dan jiwa mereka bersatu dalam doa.

“Cantik sekali kamu, Michella…” puji Reva.
“Aduh Cece… Jangan lebay deh!”
“Bener, Dik, kamu cantik. Radit pasti pangling deh sama kamu!” kata Feilia.
“Ce Lia juga berlebihan. Biasa aja kali.”

Ia lagi-lagi mencoba menenangkan hatinya. Hati yang berdebar-debar. Hati yang penuh dengan rasa yang ‘tidak jelas’ itu. Ia menarik napas dalam ketika sepasang matanya melihat ke jam dinding yang menunjukan pukul sembilan kurang lima belas menit.

“Sebentar lagi aku jadi isteri nya Ko Dion..” gumamnya.
“Jadilah isteri yang baik ya, Cha…” kata Feilia.
“Iya, Cha. Aku tahu benar siapa Raditya. Dia pria yang baik. Aku percaya kok dia nggak bakal sakitin hatimu.” sahut Reva.
“Iya, Ibu Pendeta…” candanya pada Reva. “Aku sudah bisa ngerasain hal itu dalam 6 tahun kami berpacaran.”
“Pacaran emang nampaknya bahagia. Beda dengan pernikahan. Lika-liku kehidupan semakin terasa.” kata Reva.
“Dah yuk udah jam sembilan kurang tujuh menit. Kita otw aja.” sahut Feilia.
Hatinya semakin berdegup kencang. Momen terpenting dalam hidupnya akan segera dilaluinya. Ingin tapi juga deg-degan. Bahagia namun juga gelisah. Itulah yang dirasakannya.

Senyum manis terlukis di sepasang bibir itu. Kedua mempelai bertemu dalam satu ruang yang diselimuti kebahagiaan. Keduanya melangkah bersama menuju ke pelaminan. Bapak pendeta telah duduk menanti mereka untuk memberikan berkat itu kepada mereka. Bukan hanya pak pendeta saja, namun juga semua hadirin.

Raditya dan Michella sungguh menawan dalam balutan pakaian pengantin berwarna putih tulang. Raditya semakin tampan dengan jas dan kemeja putih tulang, rompi dan dasi hitam yang dipadukan dengan celana panjang warna senada. Micella pun tak kalah menawan dengan dress panjang berwarnakan sama dengan Raditya dan cadar yang menutup mukanya.

“Demi nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Saya, Raditya Aditama menerima engkau, Raphaela Christy Michella menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.”
“Demi nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Saya, Raphaela Christy Michella menerima engkau, Raditya Aditama menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu”
Kalimat-kalimat itu mereka ucapkan sebagai janji suci pernikahan mereka. Bukan hanya janji, tapi juga harapan. Mereka bersatu hati di dalam nama Tuhan untuk dapat menjadi sepasang suami isteri yang baik dan mencintai Tuhan.
Kemudian bapak pendeta memberikan sebuah kotak mungil berwarna merah. Raditya mengambil cincin yang ada di dalamnya lalu menyematkannya pada jari manis Michella. Begitu juga sebaliknya.

Kebahagiaan, doa dan harapan diucapkan di hati setiap hadirin. Mereka seisi ruangan gereja itu berbahagia atas bersatunya dua pribadi yang telah menjalani petualangan cinta yang tak mudah. Rentang usia yang jauh, kehidupan keluarga Michella yang rumit dan perjuangan LDR telah mereka lalui. Sungguh, apa yang telah dipersatukan Tuhan tak dapat dipisahkan oleh apapun dan siapapun.
Harapan yang samapun diucapkan oleh keduanya. Mereka sungguh bersyukur karena penyertaan Tuhan mereka dipersatukan. Mereka percaya jika Tuhan sudah merencanakan mereka bersama, sesulit apapun rintangan itu bisa mereka lalui bersama.

Mereka berdua duduk di halaman belakang sebuah rumah yang cukup luas. Mereka berbagi cerita, canda dan tawa bersama. Pagi pertama setelah mereka menikah sungguh adalah hari yang berharga. Mungkin mereka masih sedikit canggung satu sama lain. Mungkin mereka merasa tak biasa hidup bersama dalam satu rumah. Namun, rasa canggung itu telah tergantikan dengan berbagai cerita yang mereka bagikan. Cerita masa lalu tentang perjalanan cinta mereka berdua.
Keduanya sama-sama larut dalam kisah masa lalu mereka. Kisah yang terjadi tujuh tahun yang lalu. Kejadian yang mengharukan, menggembirakan dan juga mengesankan. Kejadian yang tak dapat mereka lupakan.

Ingatan Michella tertuju pada sebuah kejadian. Kejadian di siang itu saat ia melangkahkan kaki di sebuah gedung sekolah RSBI. Gedung dimana dulu ia duduk di bangku SD. Rindu dirasakannya kala itu. Pandangan matanya tertuju pada kelas IIIC, kelas tempat Ken, keponakannya menuntut ilmu. Kelas itu dulu juga tempat dimana dirinya duduk, berbagi cerita bersama teman-temannya, dan menimba ilmu.

Terlihat olehnya seorang pemuda keluar dari kelas bersama Ken. Ken berlari ke arah Michella. Pemuda itu sejenak tersenyum padanya namun kemudian berbincang dengan seorang gadis yang adalah guru agama Ken. Entah mengapa Michella merasa tertarik dengan pemuda itu. Entah apakah itu suka, sayang atau cinta.

“Siapa yang sama Miss Natalie itu, Ken?”
“Itu temennya Miss Natalie.” jawab Ken.
“Ohh, ta kira pacarnya…”
“kenapa hayo auntie tanya kek gitu?”
“Enggak kenapa-kenapa kok Ken. Udah ah kita pulang. Masih jemput Niko sama Niki.”
“Lhah jadi waktu itu kamu udah suka sama aku, Cha?” tanya Raditya.
“Ya begitulah, Pit…” katanya.
“Tapi bukannya kamu pernah pacaran sama Vicky?”
“Itu karena aku masih belum nyadar kalau aku udah jatuh cinta sama Dion ku…”
“Ku rasa aku juga seperti itu, Cha.”

Mereka melintas lagi dalam kenangan saat kebaktian youth. Saat itu sedang CG (read: care group). Kebetulan saja Arif, kakak pembina kelas X tidak masuk. Ya seperti biasanya Raditya lah yang menggantikannya. Memang, sejak Michella masuk ke youth, Raditya sering ikut jadi pembina kelas X bersama Arif.

“Silakan sharing nya.” sepasang mata sipit pria kelahiran Palembang itu langsung tertuju padanya. “Icha?”
“Michella, Ko…” sahut teman-temannya.
“Iya, Koko panggilnya Icha.” jawabnya. Michella hanya tersenyum.
“Ciee ada panggilan sayangnya nih, Chelle…” kata Louis.
“Ih, apaan lho. Terserah Ko Radit kan mau panggil aku siapa.”
“Oke, oke. Balik lagi ke topik. Gimana Icha apa yang kamu simpulkan dari firman pagi ini?”
“Semua itu udah diatur sama Tuhan. Dia udah ngerancangin seluruh hidup kita dengan sangat luar biasa. Emang kadang kita nya aja yang nggak bisa memahami rancangan Tuhan itu. Kita sering protes ini itu karena nggak sesuai dengan kehendak kita. Ya kesimpulannya kita itu harus mau diproses sama Tuhan bukan cuma mau berkatnya aja.” jawab Michella. Raditya tersenyum menatap dengan penuh cinta Michella.

“Duar!” ketiga anak itu mengagetkan Michella.
“Aduh, Nak… auntie kaget tau!” bentaknya.
“Maaf. Lagian sih Auntie serius amat ngelihatin Koko Radit.” kata Niki.
“Ciee Auntie…” sahut Ken dan Niko.
“Heh, heh kalian!” Raditya menghampiri mereka bertiga hendak menggelitiki mereka. “Koko gelitikin lho kalian kalo bikin ribut!”
“Ampuunn Ko!” mereka bertiga berlari ke samping Adelle.

Ken, Niko dan Niki sering main ke youth saat ibadah sekolah minggu nya sudah selesai. Mereka sering juga main sama Kakak-kakak Pembina youth, termasuk Raditya. Meski mereka sering buat keributan waktu CG, tapi teman-teman Michella senang dengan kehadiran mereka. Suasana CG jadi tidak bored. Makin seru dan gokil dengan ulah mereka.

“Hahaha… Aku jadi kangen sama mereka, Cha.”
“Besok sabtu kita main ke rumah mereka yuk kalau kamu kangen. Habis rapat kita langsung ke sana. Gimana?” usul Michella.
“Boleh, boleh… udah lama aku nggak ketemu mereka.”
“Lhoh kan Niko sama Niki sekolah di tempat kita kerja. Kamu nggak tau?”
“Masa? Kelas berapa?”
“Niko IXC, Niki IXA.”
“Kok aku nggak tau ya.. Lha kalau Ken?”
“Kalau Ken udah kelas XII. Nggak se yayasan sih sama kita.”
“Gitu. Oya, Cha, masih ingat waktu aku nembak kamu?”
“Ish, kau, Pit! Ya jelas inget lah. Apalagi waktu itu…”
“Aduh… jangan panggil aku Sipit dong…”
“Emang sipit kan kamu?” Raditya tertawa.

Kala itu, kebaktian spesial valentine kedua bagi Michella. Waktu itu para pengurus sudah mempersiapkan serangkaian acara. Dari tukar cokelat se CG, pemberian bunga oleh para pria kepada wanita yang baginya spesial. Michella tak berharap apapun. Ia tak menyangka ada tiga pria datang kepadanya. Dua diantaranya adalah kakak kelas XII, dan satu yang lain adalah Raditya.

“Ko Noel? Ko Jose? Dan… Ko Radit? Sungguhan ini Ko Radit ngasih aku bunga?” pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam hatinya.
“Oke, jika kalian, para wanita juga menyukai salah satu pria yang memberi kalian bunga, berikan dia cokelat terbaik yang sudah kalian siapkan.” kata Dimas, pembina CG kelas XI.
“Sebelumnya aku minta maaf buat dua orang yang nggak aku kasih cokelatnya. Bukan berarti aku nggak menghargai kalian. Tapi biarlah kita jadi sahabat atau sebatas kakak dan adik.” dikeluarkannya cokelat yang telah dibungkus rapi dan indah itu. Tangannya terulur ke arah Raditya.
“Icha?” tanyanya melihat ke arah cokelat itu. “Kamu memilihku?”
“I love you too.” tulisan itu terlukis di atas bungkus cokelat berwarna pink yang dipadukan dengan pita lavender. Senyumnya merekah. Matanya berbinar.
“Nggak papa kok, Chelle. Ini bunga nya kamu bawa aja.” kata salah seorang kakak kelas. Michella tersenyum lalu menaruh bunga itu di sampingnya.
“Koko nanti boleh bicara bentar nggak, Cha?”
“Boleh Ko!” jawabnya memasukkan bunga-bunga itu ke dalam tas magentanya.

Nafas itu serasa berhenti. Sesak dada itu dibuatnya. Debaran cinta yang membuat semua yang dikhawatirkannya sirna. Ia tak sanggup mengatakan apapun. Hanya senyuman yang dapat ia lontarkan. Senyuman pertanda cintanya.

“Boleh aja kok Ko. Aku juga mau jadi kekasihmu. Tapi aku bilang satu hal. Kalau aku dekat dengan mantanku itu nggak masalah kan buat kamu Ko?”
“Selama kamu anggep dia sahabat kamu sih nggak masalah. Emang siapa dan seperti apa sih mantanmu?”
“Ko Radit pasti tau. Dia guru muda di sekolahku. Tiap hari aku pembinaan buat lomba sama dia. Namanya Victor. aku biasa panggil dia Vicky.” jelasnya.
“Nggak masalah kok, Cha. And.. By the way, kamu nggak ada panggilan spesial nih buat aku?” pintanya.
“Ooh oke kalo maksa. Aku panggil Ko Dion.” mereka tersenyum. “Panggilan lain Sipit!”
“Hadeuh kok Sipit sih? Se sipit itu kah aku?” tanyanya sambil membelalakkan matanya.
“Iya. Tuh sampe nggak kelihatan matanya.”
“Ya udah deh. Sekarang kalau kamu aku panggil Bulet. Deal?”
“Aduh, kok Bulet. Aku kan nggak gendut.”
“Bulet matanya neng… Masa kamu yang kek tiang listrik ku bilang gendut.”
“Hahah.. Iya, iya, Ko!”

Cerpen Karangan: Eunike Fany Febriliany
Facebook: Fanny Eunike Febrilia
Nama: Eunike Fany Febriliany
Kelas: X
IG: @fanyf_09
Usia: 15 tahun

Cerpen Ketika Cinta Terhalang Usia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepanjang Perjalanan

Oleh:
Gee Bobby sudah datang. Padahal dia mengatakan akan menjemput pukul 4 sore. Dia bukan lagi terlambat selama hitungan menit. Dia membuatku menunggu selama 2 jam! Sudah 2 tahun kami

Why Do We Break Up?

Oleh:
Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang

Jika Matahari Tak Terbit Lagi

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia. Mungkin karena sudah sepekan terakhir ini Matahari, sahabatku selalu bermain bersamaku. Nampaknya sudah lebih dari sepekan. Ya, sudah sepuluh hari aku menghabiskan

Cinta Yang Terkunci

Oleh:
Pagi yang cerah sudah menyapaku yang tengah tidur nyenyak dan suara kicauan burung yang mulai membangunkanku, aku bangun dengan langkah terkantuk-kantuk dan langsung mandi karena hari ini adalah hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *