Ketika Harapan Menjadi Nyata (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 October 2019

“Jadi, kamu ikut ekskul apa?”
“Entahlah. Mungkin hadrah sesuai untukku”
“Hadrah? Sejak kapan kamu menyukai hadrah?”
“Entahlah, ini sudah menjadi keputusanku”
“Baiklah”

“Ibu, aku berangkat. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati di jalan.”
“Tentu.”

Kulangkahkan kakiku menuju motor kesayanganku. Sebenarnya, berat rasanya aku meninggalkan rumah ini. Untuk masa depan, akan kulakukan apapun yang terjadi. Sekarang, aku akan menjalani hidup sendiri, dengan pengalaman baru yang akan menghiasi hidupku selama tiga tahun kedepan. Ya, sekarang aku adalah seorang siswi SMA. Sudah seharusnya aku hidup mandiri dan akan tinggal di kos dekat sekolah karena jarak rumah dengan sekolah cukup jauh. Aku pasti akan merindukan ibu, ayah, adek, nenek dan juga teman-temanku. Terutama Andre, sahabatku. Karena hanya dia yang selalu ada untukku dalam keadaan apapun.

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 5.30, kuketuk pintu kos dengan ucapan salam, Assalamualaikum. Dan tak beberapa lama kemudian seorang ibu keluar dari dalam pintu tersebut.
“Waalaikumsalam. Kamu yang kemarin kesini kan? Mari silahkan masuk.”
“Iya, bu.”
“Coba ibu lihat dulu kamar mana yang masih kosong. Kemarin, juga ada anak baru masuk sini. Oh, ini dia kamar nomor 47.”
“Iya, bu. Boleh saya langsung ke sana?”
“Iya, ini kuncinya. Begini nak, peraturan di sini hampir sama seperti kos lainnya. Seperti bangun pukul 4, sholat berjama’ah dan mengaji. Setelah itu, kegiatan sekolah dan pulang jangan terlalu sore. Oh iya, kalau mau keluar harus izin sama ibu dan kalau lama, jangan sampai lebih dari jam 9. Paham kan?”, penjelasan panjang dari ibu kos.
“Iya, bu”, kataku sambil mengangguk tanda paham.
“Ya sudah, semoga betah tinggal di sini ya, nak”

Aku mengangguk dan membalas dengan senyuman. Ternyata ibu kos disini ramah, kataku dalam hati sambil berjalan menyusuri lorong. Semua pintu kamar telah hampir dibuka. Kulirik cepat dari sudut pintu yang terbuka. Kegiatan yang sama, mereka kebanyakan adalah siswi SMA. Walau tak semuanya dari sekolah yang sama.

Di pintu itu tertera nomor 47, akhirnya sampai juga pada tujuan. Kubuka pintu dengan bacaan bismillah dan salam. Sunyi, tenang dan rapi. Kamar ini cukup terawat dan cocok untukku. Aku segera menata baju di rak baju kecil di sudut ruangan dan bersiap untuk ganti baju.

Tokk-tokk, bunyi pintu mengagetkanku. Segera ku pakai jilbab dan membuka pintunya. Seorang perempuan berjilbab bertubuh langsing berdiri di depanku.
“Iya, ada apa ya?”
“Sarapan sudah siap. Ibu memanggilmu karena lupa memberitahu kalau setiap pagi kami rutin dan harus sarapan. Dan untuk makanan selanjutnya bisa diambil di dapur berupa nasi kotak. Oh iya, aku Sandra. Kelas XII, kita satu almamater ya. Emm, yaudah buruan gih. Udah ditunggu”
“Iya”, jawabku sambil mengangguk dan tersenyum.

Aku mengambil tas dan mengunci pintu. Sepanjang lorong menuju ke ruang makan, kami bercengkrama. Paling tidak, aku sudah mengenal satu dari puluhan orang yang tinggal disini. Ruangan itu cukup besar, ketika kudapati semua orang telah berada di meja makan. Semua sibuk dengan piring masing-masin. Walau ada beberapa yang masih sempat untuk berdandan, membaca dan bersenda gurau.

“Hai, kamu anak baru ya?”
“Iya. Kenalin, aku Viona, kamu?”
“Fitri. Kamu kelas apa? Seragam kita sama lho”
“X IPA-5”
“Wow, IPA! Aku X IPS-3”
“Oh iya, kamu ikut ekskul apa?”
“Hadrah”, jawabku sambil melahap menu sarapan.
“Oh, kenapa enggak ikut voli? Aku ikut lo!”
“Rumahku jauh. Lagi pula aku enggak begitu mahir main bola”
“Dihabisin dulu makanannya. Udah jam 6.12”, kata kak Sandra di sela-sela obrolan kami.

Jam menunjukkan pukul 6.20, semua telah bersiap untuk berangkat. Kami bertiga bergegas menuju sekolah. Kak Sandra mengenakan earphone, mendengarkan musik. Fitri dan aku bercengkrama tentang keluarga masing-masing. Sampai akhirnya kami berpisah karena kelas kami berbeda. Di depan kelasku sudah datang beberapa temanku. Ada yang selfie, membaca, tiduran dan mengobrol. Kuletakkan tasku dan tiba-tiba.

Braakk..
Tangan seorang perempuan menghantam mejaku. Siapa lagi kalau bukan Cintya, teman sebangkuku. Memang seperti itu, setiap kali aku datang. Tidak bosan-bosan mengagetkanku.
“Lo kaget gak?”
“Enggak”
“Aduh, Viona. Yang semangat dong. Apa kurang keras gue gebrak meja nya?”
“Enggak juga, tapi aku mau hemat tenaga. Nanti kan masuk ekskul. Lagi pula ini hari ini pertama ekskul, karena kamu tau kan kalau rumahku jauh. Jadi enggak pernah masuk ekskul”
“Iya. Gue paham. Maaf deh.”

Ttteeenggg…
Lonceng sekolah berbunyi menandakan waktu KBM dimulai. Sungguh, hari ini adalah hari baru untukku. Memulai kehidupan baru.

Waktu pun cepat berlalu. Jam menunjukkan pukul 1.30, bel berbunyi dan KBM pun berakhir. Kubereskan semua buku dan bergegas menuju masjid sekolah untuk menunaikan kewajiban. Setelah itu, aku melirik ke serambi masjid. Ternyata sudah banyak orang di sana. Mungkin ini anggota hadrah, ucapku dalam hati. Kudekati mereka dan seorang perempuan mendekatiku.

“Anggota baru ya?”
“Iya”
“Ada pemilihan vokalis baru”
“Benarkah? Tapi, aku belum tau bagaimana caranya”, jawabku lugu.
“Itu disana ada kak Sinta. Dia vokalis, sering juga mengikuti banyak lomba”
Aku mengucapkan terima kasih atas penjelasannya dan mendekati kak Sinta dan menanyakan hal itu.
Semua yang berminat menjadi vokalis menyanyi bersama, kak Sinta mulai mendengarkan dan memilih calon vokalis. Alhamdulillah, aku terpilih.

Tak kusadari, sepasang mata melirik ke arahku. Dia melihatku dengan tatapan datar. Sepertinya, dia heran denganku. Mungkin karena aku tak pernah masuk ekskul sebelumnya. Hanya kuabaikan, tapi ternyata dia tetap memperhatikanku sampai waktu ekskul selesai. Kami berdoa sebelum mengakhiri latihan dan semua bergegas pulang. Segera kupakai sepatu dan melangkah pergi karena waktu telah menunjukkan pukul 4. Aku berjalan pulang sendiri karena kak Sandra dan Fitri pasti sudah pulang sedari tadi.

Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba ada yang berhenti di sampingku. Dia bertubuh sedikit gendut dan memakai helm. Aku tak menghiraukannya, tapi dia tetap saja berusaha menghentikan langkahku. Saat aku sudah mulai marah dan penasaran siapa di balik helm itu, dia membuka tutup helm. Aku terkejut, dia adalah laki-laki yang tadi. Pemain rebana yang memperhatikanku. Dia terlihat lebih tinggi dari yang aku kira sebelumnya.

“Kok sendiri?”, laki-laki itu mulai berbicara.
“Iya”, jawabku singkat.
“Enggak baik cewek jalan sendirian. Lagi pula ini jalan yang sepi. Sini aku antar pulang”, lanjutnya.
“Enggak usah, makasih. Udah deket kok”
“Udahlah. Ayo naik”, ajaknya.
“Terima kasih, tapi beneran udah deket kok. Di sana, sudah terlihat”
Dia melihat arah yang kutunjukkan, “Kamu tinggal disana?”
“Iya. Ya udah aku pulang dulu. Assalamualaikum”, kataku sambil beranjak pergi.
“Waalaikumsalam. Tunggu!”, lagi-lagi dia menghentikanku.
“Apa?”
“Aku Dio, kelas XII IPS-2. Salam kenal dan semoga betah di ekskul hadrah ya”, katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku.
“Iya, aku Viona. Terima kasih”, kataku sambil tersenyum dan membalas uluran tangannya.
“Ya sudah cepet pulang, gih.”, lanjutnya. Aku tersenyum dan melangkah pergi. Dia sepertinya tetap memperhatikanku dan saat aku melangkah memasuki pagar rumah, ia menghidupkan mesin motor lalu pergi.

Malamnya, aku mengerjakan PR di kamar kak Sandra. Setelah selesai mengerjakan PR, aku mencoba menceritakan kejadian tadi pada kak Sandra yang sedang mendengarkan musik.
“Kak”, kataku memulai perbincangan
“Iya”, jawabnya sambil mencopot earphone kanan dari telinganya.
“Vio boleh cerita nggak?”
“Boleh, cerita aja. Atau kalau ada apa-apa bilang kakak. Siapa tau, kakak bisa bantu”, jawabnya santai.
“Begini kak, tadi..”, aku menceritakan semuanya.

“Gitu kak. Kakak kenal kak Dio?”
“Dio XII IPS-2?”, sambil wajahnya terlihat mengingat-ingat. “Anak hadrah itu ya?”
“Iya, kak”
“Dari cerita kamu sih menurut aku, dia suka kamu”
“Apa? Enggak mungkin kak. Dia aja baru ketemu aku tadi”
“Cinta kan nggak direncana. Cinta itu kan datangnya tiba-tiba”, kata kak Sandra, lalu tertawa kecil.
“Idih, kakak”, jawab ku manyun.

Trttrtrrttrtrr. Di raih ponselku dari tangan oleh kak Sandra.
“Waah.. Nomor tak dikenal. Siapa hayo? Jangan-jangan, Dio!”, lanjut nya dengan tawa yang lebih keras dari pada yang tadi.
“Kakak!”
“Siapa tau aja, aku balas ya”
“Iya, silahkan”, jawabku dengan nada datar.
“Jangan marah dong adek cantikku”, bujuknya. Suasana yang tadinya hangat, menjadi sedikit tegang.

Tak lama kemudian ponselku bergetar lagi.
“Dibalas!”, ia membaca pesan lalu melirikku dengan tatapan sama, sedikit menjengkelkan.
“Tuh kan beneran Dio, ciah adekku. Belum ada satu hari tinggal disini udah dapet cowok. Hahaha..”
Aku meraih ponselku untuk mengetahui kebenarannya. Mataku terbelalak kaget karena ternyata memang benar, kak Dio mengihubungiku.
“Gimana, masih belum percaya juga?”, kata kak Sandra menggodaku.
“Udah kak, percaya. Tapi, dari mana dia dapet nomor aku? Atau jangan-jangan dari absen hadrah tadi”, gumamku.
“Udahlah, sana ngobrol aja sama Dio. Hahaha..”
“Kak Sandra!”
“Vio-Vio. Ya udah, kakak udah ngantuk. Kamu mau tidur disini atau kamar kamu sambil chatting sama Dio?”, kata kak Sandra tetap meledekku.
“Idih, kakak! Umm, yaudah aku tidur kamarku sendiri aja kak. Selamat malam kakak cantik”
“Hehe, iya. Makasih adek cantik. Yaudah cepetan dibalas, udah di tunggu tuh”
“Hehe, iya kak”, jawabku tersipu malu. Menutup pintu kamar kak Sandra dan menuju kamarku.

Aku merebahkan tubuhku ke kasur. Aku memperhatikan ponselku dengan lekat, kemudian membalas pesan itu.
“Iya, aku Viona. Dio siapa ya?”, balasku. Hanya beberapa detik, pesanku dibalas.
“Lupa ya? Aku Dio yang tadi ngobrol sama kamu.”
“Oh, kak Dio ya. Maaf ya kak, Vio nggak tau. Kakak dapet nomor aku dari mana?”
“Dari absen tadi”
“Oh, gitu”
“Iya. Kok belum tidur?”
“Belum. Kakak sendiri juga belum”
“Haha.. Aku nungguin kamu”. Sontak aku terkejut, entah mengapa timbul perasaan aneh di hati. Belum genap satu menit setelah pesan itu kubaca, datang satu pesan lagi.
“Emm, Vi. Kamu cepetan tidur gih. Udah malem, Sleepwell”, tutup kak Dio. Tak kusadari, bibirku melengkung dengan manis. Tersenyum hingga kusadari pipiku terasa panas. Aku meletakkan ponsel di meja, merangkul guling dan menatap ke arah jendela sembari tersenyum hingga tak terasa semuanya menjadi gelap.

Cerpen Karangan: Dilla Naritasari
Blog / Facebook: Dilla Naritasari
Dilla Naritasari. Blitar, 18 sep 2001. Suka nulis sejak SMP.

Cerpen Ketika Harapan Menjadi Nyata (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nino’s Story

Oleh:
Seperti biasa, Nino menyapa siapa saja yang dia lihat saat akan menuju kelas dengan senyum yang lebar. Dia memang sosok yang ceria dan ramah. Idola di sekolahnya. Sangat sempurna,

Babysitter And Son

Oleh:
Ini adalah kisah seorang laki-laki yang yang tidak punya banyak waktu dan seorang wanita yang berprofesi sebagai babysitter, tapi kali ini dia tidak menjaga seorang bayi atau anak-anak melainkan

1 Detik

Oleh:
18 agustus 2016, perlombaan memperingati hari kemerdekaan diadakan di sekolahku. Saat itu, aku hanya melihat sebuah pemandangan yang berisikan peserta lomba. Aku tertawa melihat mereka yang dengan lucunya mengambil

November Rain

Oleh:
– Sajak rindu – Aku menatap bayangnya yang kian kabur, Bayang yang selalu kurindu kala malam menjelang, Bayang yang selalu kupeluk erat kala sepi menyentuhku.. Sosok itu begitu memukau,

Lying By Boyfriend

Oleh:
Uh… mama pasti bakal ngomel lagi kalau tahu anak semata wayangnya pacaran, di usiaku yang menginjak 17 tahun ini aku selalu menunggu datangnya panggeran. Aku selalu berharap memiliki kekasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *