Ketika Harapan Menjadi Nyata (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 October 2019

Setelah hari itu, kak Dio dan aku menjadi akrab. Bahkan terkadang, dia tersenyum dan menyapaku saat di kantin dan mengajariku bagaimana bermain rebana saat ekskul. Kusadari, hari-hariku terasa berbeda setelah hari itu atau bahkan menjadi lebih baik. Aku tak menyangka, kak Dio bisa sangat akrab ini denganku. Sekarang, aku merasakan hal aneh. Mungkinkah aku jatuh cinta?

Buukkk.. Tangan seseorang menepuk pundakku. Dia telah membuyarkan lamunanku dan aku menoleh, ternyata kak Sandra.
“Aduh, kak Sandra ngagetin aja!”, jawabku kesal.
“Lagian sih, dari tadi aku perhatiin cuma hp aja yang dilihat. Nunggu siapa sih? Dio ya?”, tanya kak Sandra sambil melahap camilan yang ada di meja kamarku.
“Kakak tau aja”, jawabku malu.

Trrttrrtttrrrtt.. Dengan cepat tangan kak Sandra merebut hp di tanganku.
“Waah.. Dio! Buka aja lah”
“Kakak!”, jawabk. Kak Sandra hanya tertawa mendengar jawabanku. Ia mulai membaca pesan.
“Dia ngajak kamu keluar nih. Di kedai deket SMA, utara jalan”, katanya.
“Beneran kak?”
“Iya. Waduh, adekku. Hahaha”, lagi-lagi dia tertawa. “Ya sudah cepet mandi gih, udah bau. Nanti Dio jadi nggak mau lho sama Viona. Hahaha”, goda kak Sandra.
“Kakak apaan sih”, jawabku tersipu malu. Aku segera menuju kamar mandi. Kak Sandra hanya tertawa kecil melihat tingkahku.

Kupakai baju kesayanganku, memakai tas kecil lalu berpamitan pada ibu kos.
“Jangan pulang sore-sore ya nak, awas kalau terlalu sore”
“Hehe. Iya ibu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, nak. Hati-hati”
“Siap, bu”, kataku dengan tersenyum.

Kulangkahkan kaki menuju kedai yang dimaksud kak Dio. Entah mengapa, rasanya hatiku tak karuan. Hanya dengan waktu 15 menit, aku sampai ke kedai kecil itu. Walau kecil, namun tempat ini cocok untuk siapapun. Kubuka pintu kaca kedai itu dan mataku tertuju pada meja nomor 7. Disana telah terdapat seorang laki-laki yang sangat kukenal. Aku mendekatinya dan duduk di depannya.

“Eh, Viona. Mau pesan apa?”
“Ng, nasi goreng aja kak”
“Minumnya?”
“Terserah kakak aja”, jawabku sambil tersenyum.
“Mbak, nasi goreng dua ya. Minumnya? Emm, cappucino sama milkshakenya satu”, pelayan itu mengangguk paham.

Sambil menunggu pesanan itu, kami bersenda gurau. Aku merasa nyaman berada di dekat kak Dio. Entahlah, aku tak tau apa yang membuatku seperti itu. Tawa kami terhenti saat pesanan kami datang.

Hanya tersisa beberapa sendok lagi. Saat kak Dio memulai pembicaraan baru.
“Dek, boleh aku bicara sesuatu?”, tanya kak Dio serius.
“Boleh kok, kakak bicara aja”, jawabku sambil melahap nasi goreng.
“Dek, jangan sampai kamu punya perasaan ke aku”. Deg. Seketika mataku menatap kak Dio dengan lekat. Aku menelan nasi dan menjawabnya.
“Maksud kakak?”
Ia menghela napas, “Kamu tau kan? Sekarang aku sudah kelas tiga dan kamu masih kelas satu. Sebentar lagi aku lulus. Aku nggak mau ngecewain kamu. Maksud aku, kita begini aja ya nggak usah lebih dari ini”, lanjutnya. Aku menunduk, entah mengapa dadaku terasa sesak. Ingin rasanya aku berlari keluar, namun tak mungkin kulakukan.

“Dek, kamu marah ya?”
“A.. Nggak kok”, jawabku dengan tersenyum walau senyum itu hambar rasanya.
“Tapi kok murung?”
“Enggak kok, kak”
“Ya udah, ayo pulang. Udah hampir maghrib”
“Iya, kak. Aku tunggu di luar ya”. Dia mengangguk dan tersenyum. Sedangkan aku melangkahkan kaki keluar dari kedai.

Aku duduk di kursi, menunduk. Dadaku terasa sesak dan tak terasa air mataku pun menetes.
“Viona”, panggil kak Dio. Aku segera menyusap air mata dan menoleh ke arahnya.
“Iya, kak”
Kak Dio menatapku, “Kamu nangis, Vi?”
“Enggak kok, kak. Ini tadi ada truk lewat. Jadi, mataku kelilipan”
“Oh, gitu. Aku antar ya?”
“Enggak usah kak”
“Udahlah, enggak papa. Ayo”, ajaknya. Aku naik ke motor kak Dio walau sebenarnya aku tak menginginkannya.

Di jalan kami saling terdiam. Aku masih tak menyangka jika kak Dio akan mengatakan itu. Namun harus bagaimana lagi, itu sudah menjadi keputusannya.

“Aku pulang dulu, ya. Makasih udah mau dateng”
“Iya, kak. Hati-hati”
Kak Dio mengendarai motor dan kemudian pergi.

Aku berlari memasuki kamar kak Sandra. Kak Sandra yang melihatku menangis langsung memelukku.
“Vi, kenapa nangis?”, tanya kak Sandra.
“Kak Dio, kak. Kak Dio”, kataku sambil menangis di pundak kak Sandra.
“Dio kenapa? Cerita ke kakak”
“Kak Dio tadi bilang, jangan sampai aku punya perasaan sama dia. Padahal sekarang, aku berharap kalau dia bisa temenin aku besok mendaki. Tapi apa kak? Dia bilang kalau dia udah kelas tiga dan dia takut ngecewain aku. Aku sayang kak Dio kak. Aku sayang.”, kataku disela-sela tangisku.
“Udah, jangan nangis. Tapi emang bener apa yang dikatakan Dio, Vi. Dia udah gede. Pasti dia takut kalau seumpama dia pacaran sama kamu, trus dia kuliah di luar kota ketemu cewek yang menurut dia lebih dari kamu. Trus dia lebih milih cewek itu, nanti kamu yang terluka. Udah, jangan sedih. Ayo sholat dulu dan berdoa sama Allah jika memang Dio jodoh kamu, semoga kamu di hari esok dipertemukan lagi dengan kamu”, nasihat kak Sandra. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Begitu pun kak Sandra.

Kami bergegas sholat berjamaah. Kusebut namanya saat berdo’a setelah sholat maghrib dan juga isya’. Entah mengapa, setelah itu hatiku merasa tenang dan damai. Walaupun luka itu masih ada, namun seperti datang kekuatan dalam diriku. Aku menuju kamar kak Sandra untuk mengobrol dan berencana untuk menginap. Kuketuk pintu kamar kak Sandra.
“Kak”
“Waa, hahaha. Kaget nggak?”
“Enggak. Kakak udah biasa ngagetin aku”
“Aduh, masih badmood ternyata adekku. Hihi, ayo masuk”
Di tempat ini, kami bercanda sangat lama. Entahlah, kami bercanda tiada ujungnya. Tetap saja ada cerita.

“Vi, jangan tidur dulu. Aku mau nunjukin sesuatu Fitri juga”
“Iya kak. Hooaam”, jawab kami dengan mata sayup karena mengantuk. Waktu telah menunjukkan pukul 11.58.
“Sebentar lagi”, kata kak Sandra sambil membuka tirai jendela.

Dear, Dear, Dear. Aku dan Fitri membuka mata, sungguh indah tahun baru kali ini. Melihat banyaknya kembang api menghiasi langit mata. Kututup mata dan berdoa kepada illahi.
Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menuntut ilmu, ampuni dosa kami serta orangtua kami dan kak Dio. Orang yang kusayangi, jika dia jodohku maka dekatkan, pertemukan kami lagi ya Allah. Dan jika bukan, jauhkanlah ya Allah. Kubuka mata dan mengusap kedua tangan ke wajah. Kunikmati bunyi kembang api malam itu. Kami bertiga bersenda gurau bersama, hingga akhirnya kami terlelap.

Angin taman begitu membuatku nyaman. Kututup mata sambil mendengarkan alunan musik dari handphone. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat dan semakin mendekat. Aku tak menghiraukannya, namun terdengar suara memanggilku dan kubuka mata.

“Vi”
“Iya, siapa ya? Silahkan duduk”, jawabku sambil mematikan musik.
“Lupa ya?”.
Kuperhatikan dia dan tak kusangka, “Kak Dio? Maaf kak, Vio udah lama enggak ketemu. Kelihatannya, kakak udah sukses sekarang. Kakak kerja apa?”
“Aku sekarang jadi manager, Vi. Alhamdulillah banget. Trus kamu sekarang kuliah semester berapa?”
“Semester 2. Enggak nyangka bakal ketemu kakak lagi. Vio kira, kak Dio udah lupa sama Vio”
“Ya enggaklah. Emm Vi, aku boleh ngomong sesuatu apa enggak?”
“Boleh kok, kak”. Entah mengapa, aku merasa flashback dengan hal ini. Dadaku sesak saat mengingat kejadian saat di kedai itu, 4 tahun lalu.

“Vi, sebelumnya aku minta maaf udah nyakitin perasaan kamu dulu. Tapi, sebenarnya aku sayang kamu Vi. Aku enggak tega kalau aku nanti bisa nyakitin kamu. Dan sekarang, kita udah sama-sama gede. Jadi…”, kak Dio melutut dan memegang tanganku. Sontak aku kaget dan semua orang yang ada di dekat kami berteriak. “Kamu mau enggak jadi pacar aku? Aku enggak bakal ngecewain kamu, Vi. Enggak dan enggak bakal. Itu janji aku, Vi”
“Terima-terima-terima”, teriak orang-orang di sekitar kami. Tak terasa, air mataku mulai menetes dan aku menjawab tawarannya, “Maaf kak, Vio enggak bisa”
“Yaaahhhh”, teriak salah satu penonton. Wajah kak Dio yang semula tersenyum jadi murung.
“Maaf kak, Vio enggak bisa. Vio enggak bisa nolak kakak”, lanjutku dengan tertawa.
“Beneran, Vi?”, tanya kak Dio antusias. Aku tersenyum dan mengangguk. Kak Dio langsung berdiri. Dengan refleks, aku memeluk kak Dio dengan menangis. Semua orang yang ada disitu bertepuk tangan dan perlahan satu persatu meninggalkan kami berdua.
“Makasih, Vi.”, bisik kak Dio.
“Aku juga, makasih buat kakak yang masih mau nemuin Vio”, jawabku sambil menangis saat kak Dio mempererat pelukannya.
“Udah-udah. Masa Vio nangis”, kata kak Dio sambil mengusap pipiku. “Ya udah, ada permen kapas. Beli yuk”, sambungnya sambil memegang tanganku. Aku tersenyum dan melangkah bersama kak Dio.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dilla Naritasari
Blog / Facebook: Dilla Naritasari
Dilla Naritasari. Blitar, 18 sep 2001. Suka nulis sejak SMP.

Cerpen Ketika Harapan Menjadi Nyata (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Benar Sahabat itu Cinta

Oleh:
Aku tutup novel yang telah selesai kubaca, dalam hati aku bergumam tentang apa isi cerita yang mengkisahkan seorang sahabat. Sempat ku berfikir apa ada seorang sahabat yang nantinya akan

Hujan

Oleh:
Rintik hujan mulai membasahi atap rumahku… entahlah, mungkin dia sudah tidak kuat menampung segala air yang ada di dalam dirinya… dan mulai menumpahkan segalanya ke atas bumi. Aku ingin

Hana

Oleh:
Hana, dalam bahasa Korea artinya ‘satu’ dan dalam bahasa Jepang artinya ‘bunga’. Bunga melambangkan keindahan dan kecantikan, sama seperti dia yang selalu cantik setiap hari. Perkenalkan namaku Altair Bhagaskara,

Menghitung Hari

Oleh:
“1.043” Tidak terasa, sudah hamper 3 tahun aku terus seperti ini. Setiap pagi kerjaannya hanya merobek kalender yang aku buat khusus dengan angka yang aku tulis manual hingga ribuan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *