Ketika Hati Bicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

Matahari mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur. Awan-awan putih bergeser mengikuti gerak angin. Alunan angin menggoyangkan ranting-ranting pohon, ke kanan, ke kiri. Hembusan udara pagi menerpa wajah Dinda yang sedang duduk di samping jendela memandang indahnya pagi itu. Dinda belum ingin beranjak untuk memulai harinya. Ia masih ingin menikmati suasana itu yang sama dengan gemuruh di dadanya. Terjebak dalam lamunannya. Ingatan kemarin sore di halte dekat tempat ia bekerja memasuki ingatannya. Lelaki berkemeja putih lewat di hadapannya yang sedang duduk di salah satu kursi halte. Matanya terus mengikuti gerak lelaki itu. Lelaki itu duduk di salah satu kursi ujung kanan. Dinda terpaku melihatnya. Entah apa yang menarik darinya. Dia merasa pernah memiliki hubungan dekat dengannya.

“Oh Tuhan. Ada apa gerangan? Kenapa aku begitu tertarik dengan orang itu?” batin Dinda bingung.

Dinda melihatnya sekali lagi, kemudian mengalihkan pandangannya. Mengalihkan pandangan ke sekitar lelaki itu. Tak ada yang menatap lelaki itu, seakan hanya dirinyalah yang tertarik melihatnya. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat ke luar. Ia suka merasakan hal itu meski hatinya bercampur aduk berbagai rasa. Hatinya bak penuh bunga-bunga mekar di dalamnya. Baru kali ini ia merasakan hal semacam itu lagi, setelah berpisah dengan “Dia” bertahun-tahun lamanya.

Suara pintu bus terbuka. Tandanya penumpang diharapkan segera masuk ke dalam bus. Bus yang ditunggu telah datang. Dinda belum beranjak dari tempat duduknya. Ia menunggu lelaki itu beranjak dari tempat duduknya. Ia lirik lelaki itu, namun tak beranjak juga dari tempat duduknya. “Apa aku ikuti saja ya? Masih jam segini kok. Aku masih berani pulang,” pikir Dinda usil. Dinda yang harusnya tak naik bus itu, masuk untuk mengikuti lelaki itu. Ia hanya merasa penasaran.

Bus terlihat padat penumpang dari luar. Dinda pun segera bergegas menuju pintu bus mengikuti lelaki itu. Terakhir masuk menjadikan Dinda di posisi yang tidak mengenakan. Lelaki itu berdiri, Dinda pun tentu saja berdiri. Rasa gugup menyelimuti dirinya. Mereka hampir bersebelahan, dibatasi dua penumpang. Dinda tak berani menatapnya langsung. Entah rasa malu atau gengsi yang menyelimuti dirinya. Ia gunakan ekor matanya untuk mengawasi keberadaannya. Ekor matanya sangat berguna saat itu. Ia seolah melihat jalan, namun fokusnya pada lelaki itu. Sungguh penasaran Dinda pada lelaki itu. Bibirnya menyimpulkan senyum tipis sepanjang perjalanan itu.

“Ya Tuhan, maafkan diriku ini. Apakah aku terlalu berlebihan mengagumi seseorang? Baru kali ini aku seperti ini, setelah sekian lama tak merasakannya,” batin Dinda. Ada rasa takut dalam dirinya. Takut melewati batas, namun dia ingin menikmati rasa yang bergelora di dalam hatinya. Suasana senja semakin menambah indahnya suasana hati Dinda. Bus sampai pada halte berikutnya. Dinda sudah siap siaga kalau saja lelaki itu turun di halte itu. Penumpang sudah mulai turun. Lelaki itu memberi jalan penumpang turun. “Oh, dia tidak turun di sini,” batin Dinda sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dinda memandangi sekelilingnya. Terdapat beberapa bangku yang kosong. Ia memilih salah satu bangku yang paling dekat dengan lelaki itu, meski sebenarnya tak ada yang dekat. Kakinya yang memaksanya untuk duduk, sudah tak mampu berdiri lama. Ia merasa tindakannya sedikit gila.

“Tuhan, seberapa istimewanya lelaki itu. Kenapa aku seakan susah untuk menghilangkannya dari pikiranku,” bisik Dinda lirih. Dinda tersadar. Ia melihat sekelilingnya, takut ada yang mendengar bisikannya. “Syukurlah tak ada yang menyadari bisikannya,” batin Dinda tenang sambil menepuk lembut dadanya. Dinda mendongakkan kepalanya, mencari-mencari dimana lelaki itu. “Duh, ke mana dia? Kok menghilang?” Ia menegakkan badannya agar dapat melihat ke depan, namun sia-sia. Bagian depan terhalang oleh penumpang yang mulai berjejalan.
“Yah. Bodohnya aku. Sekarang aku mau apa kalau dia ternyata sudah turun?” Dinda mencoba beranjak dari tempat duduknya, namun tak bisa. Terlalu padat. Harus ada yang ke luar dulu baru bisa beranjak.

“Kenapa sih mbak? Dari tadi berisik banget. Aku nggak bisa tidur nih,” kata pria di sampingnya, kira-kira berumur 20 tahunan.
“Maaf ya mas. Darurat.”
“Aku jadi nggak ngantuk lagi nih. Kamu harus tanggung jawab.”
“Yah gimana saya harus tanggung jawab? Saya bisanya hanya minta maaf mas.”
“Pokoknya kakak harus ngajakin aku ngobrol. Biar aku nggak pusing nih. Gara-gara keganggu kamu, kepalaku jadi pusing.”
“Jiahhhh, itu gampaaangggg,” kata Dinda sambil tersenyum kesal. Dinda yang sedang panik malah ditambah masalah lagi. “Bikin males aja sih nih orang.”

“Lagi nyari apa sih mbak? Dari tadi celingukan gitu?”
“Ada deh. Sudah kamu diam dulu.”
“Yah, katanya mau ngajakin ngobrol.”
“Iya bentar. Nggak sabaran banget sih?” Dinda belum bisa menemukan lelaki itu.
“Yah dah nggak ada orangnya. Mungkin besok aku bisa lihat dia lagi. Semoga. Aamiin,” ucap Dinda penuh pasrah, menenangkan hatinya agar tak terlalu kecewa. “Yah mulai lagi deh. Ngedumel sendiri,” kata anak muda di sampingnya. Dinda mengacuhkan omelan anak muda di sampingnya. Setelah beberapa detik, ia merasa kasihan. Ia memulai pembicaraan. Ia menepuk bahu pemuda itu.

“Hei, kamu. Namanya siapa?” kata Dinda penuh kelembutan kepada anak muda yang sedang sibuk memandangi pemandangan lewat jendela. “Ih kepo deh. Mau tahu namaku,” kata pemuda itu sambil mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.
“Kamu alay banget sih. Mimpi apa aku tadi malem, bisa-bisanya ketemu sama orang kayak kamu,” kata Dinda sambil cekikikan. “Tipe orang kayak aku ini yang banyak dicari loh.”
“Masa sih?”
“Iya lah. Itu artis-artis yang sering muncul di tv kan alay-alay. Kalau nggak alay nggak laku lah. Oh iya, kenalin namaku Roy,” kata Roy sambil mengulurkan tangan kanannya.
Dinda tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya seperti yang dilakukan Roy.

Roy melanjutkan percakapan, “Hari ini kakakku pulang kampung. Sebenernya mau pulang barengan, tapi malah akunya ada urusan mendadak.”
“Ciyeee… yang kakaknya pulang. Jangan sedih gitu dong. Jangan nangis di sini, entar dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.”
“Sial. Aku diejek sama tante-tante.”
“Hei, kau sebut aku tante? Kurang ajar sekali kamu ini. Kalau dilihat-lihat, sepertinya kamu mirip sama seseorang yang aku kenal. Tapi siapa ya?”
“Eh, sudah mau sampai pasar. Bentar lagi aku turun soalnya rumahku belakang pasar. Kakak?”
“Aku juga. Aku salah naik bus. Aku juga punya temen SD yang rumahnya daerah situ. Aku tak tahu sekarang masih di sana apa nggak.

Bus berhenti di halte pasar. Dinda dan Roy langsung berjalan ke luar dari bus bersama dengan penumpang lainnya. Roy melanjutkan percakapan, “Tadi kakak bilang aku mirip siapa?” Belum sempat Dinda menjawab pertanyaan Roy, seseorang menepuk pundak Roy dari belakang. Roy menengok ke arah belakang. Dinda pun ikut menoleh. Roy sontak berteriak, “Bang Rey….” Ia langsung memeluknya. “Kok duluan aku Bang?” selidik Roy penasaran.

Dinda kaget melihat lelaki itu. “Itu kan lelaki yang tadi,” bisik Dinda dalam hati.
“Tadi namanya siapa? Rey? Reyhan-kah?”
“Kita itu ternyata satu bus, tadi aku ngelihat kamu ngobrol sama cewek. Pacar kamu ya? Aku kok ngerasa dia nggak asing ya?” jelas Rey panjang lebar. Roy dan Rey melakukan percakapan yang hampir seluruhnya tak didengar oleh Dinda, sedangkan apa yang yang dilakukan Dinda? Pikirannya melayang mencoba mengingat sosok familiar di depannya.

“Hai Kak, kok bengong sih?” kata Roy. Dinda terdiam, ia masih sibuk dengan lamunannya.
Roy menepuk bahu Dinda, sontak membuatnya kaget. “Nih kenalin abangku, Kak Din. Panggil aja Rey, oke?”
“Kamu Dinda kan? Ini aku Reyhan, temen lamamu. Masih ingatkah?” kata Rey menambahi ucapan Roy. Dinda sedikit gagap menjawab pertanyaan Reyhan, “Hmm… iy..iya. Aku inget kok.”
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa sekarang aku jadi keren banget kan?” goda Reyhan kepada Dinda. Dinda tersenyum. “Ih, PD banget sih kamu? Tapi emang sih. Dikit,” kata Dinda sambil tertawa. “Hampir saja aku tak mengenalimu. Kalau saja adikmu ini nggak mirip sama kamu waktu kecil, mungkin aku nggak ada bayangan,” sambung Dinda tersenyum lebar. Dinda tak menyangka akan bertemu dengan temen lamanya yang pernah menggetarkan jiwanya. Sekarang pun kembali menumbuhkan getaran di hatinya.

“Din, Dinda..” seru mama dari luar kamar membuyarkan lamunan Dinda.
“Iya, Ayah,” kata Dinda sambil menghampiri ayahnya.
“Tuh dicariin temenmu di luar, cepetan gih samperin,” kata ayah sambil tersenyum genit meninggalkan putrinya.
“Ih, Ayah. Emangnya siapa sih yang datang?”

Dinda bergegas menuju ke ruang tamu. Betapa kagetnya dia. Reyhan sudah menunggunya di sana. Ia tersenyum. Reyhan langsung menyapanya begitu melihat Dinda ke luar mengenakan baby doll, “Halo cantik. Ayo cepet siap-siap. Aku sudah dapat izin Ayahmu buat pergi seharian denganmu.” Dinda hanya melongo mendengarkan ucapan Reyhan. Dia hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kejadian kemarin ternyata mengantarnya mendapatkan keberuntungannya hari ini. Entahlah mungkin itu takdir Tuhan. Dia percaya tak ada yang kebetulan, semua sudah direncanakan oleh-Nya. Ketika hati berbicara, tak akan ada yang bisa menipunya.

Cerpen Karangan: Lestari Handayani
Facebook: Lestari Handayani

Cerpen Ketika Hati Bicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan dan Hati

Oleh:
Perasaan dan Hati memang terlihat satu tapi tak selamanya bersatu. Seperti kisahku kali ini, aku adalah ibu rumah tangga yang notabennya seorang pekerja, ibu sekaligus istri dari suamiku yang

Menunggumu

Oleh:
Pantai geloda menyajikan suasana sore yang indah, pemandangan matahari tenggelam berwarna kuning keemasan menambah syahdu hari ini. Angin bertiup sepoi menyanyikan lagu rindu yang bergolak di hati Niha. Kerinduan

Mystery Of Love (Part 2)

Oleh:
“Derika?” Tanya Anfa hati-hati. “Sebentar ya.” Aku pun berdiri dari kursiku dan mengahmpiri Sandi. “Sandi.” Panggilku dengan suara serak, orang yang dipanggil pun menoleh dengan kaget. “Derika.” “Sandi mereka

Ya Sudahlah

Oleh:
Ya sudahlah, mungkin terdengar seperti pasrah atau menyerah. kenyataannya memang begitu sih. Gue, cowok yang diakui orang berbakat, pandai bergaul, dan tentunya tampan. Tapi Gue nggak menganggap ‘ketampanan’ gue

Rahman Hadiah dari Ibu

Oleh:
“Aminah, cepat kemari, dan bawakan Inak penyelut1 di dalam keranjang” teriak wanita di balik ruangan bersekat satu ruangan dari tempatnya. “Nggih Inak(2)… balas seorang gadis yang sedang termenung di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *