Ketika Khatulistiwa Bersuara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 21 March 2018

“Kau akan menolongku jack? Atau kau akan mengakhiri hidupku?” kata sherly dengan lembut namun pasrah
“bagimu semudah itukah kau menyelesaikan masalahmu?” jack balik bertanya
Sherly melirik ke samping kanan dan kirinya dilihatnya tidak ada seorang pun di sana hanya bebatuan karang dan lautan yang kejam

“aku sudah berakhir di sini jack, aku sudah memulai segalanya dengan mengakhiri segalanya”
“kau bisa menaruh harapan padaku hanya pegang tanganku dan semuanya akan baik baik saja”
“kau tidak seperti biasanya jack, kau nampak bertobat dengan segala ekspetasi buruk tentangmu”
Mata layu sherly mulai berubah menjadi tajam, jack tahu bahwa ini bukan pertanda baik

“sherly, setidaknya malam ini kau harus pulang ke rumah”
Mata sherly mulai layu kembali, di hatinya ia berharap semuanya akan berakhir dengan menerjunkan dirinya di lautan dan batu yang dalamnya bisa menghancurkan tubuhnya dalam seketika dan semuanya akan berakhir
“aku tidak mengenalmu jack, kau mahasiswa yang aneh yang pernah kukenal selama ini, dan kau adalah sepasang mata terakhir yang melihatku masih sanggup berdiri”

Angin berhembus cukup kencang, cukup untuk membuat gaun merah yang dipakai sherly tampak mendayu dayu, sherly menutup matanya beberapa detik lalu tampak tetes air matanya mengaliri wajahnya yang elok menawan dibukanya kembali matanya lalu menengok ke belakang, dilihatnya sunset yang bersinar tenang, jack masih berdiri 2 meter di depannya dan tepat di belakang sherly adalah jurang yang curam cukup selangkah ia melangkah mundur maka berhasil nalurinya untuk mengakhiri hidupnya

Sherly berbisik lirih “jika kau yang terakhir yang bisa kulihat, salamkan rasa sayangku untuk kedua orangtuaku aku menyayanginya”
Dengan wajah masih memerah dan dihiasi tetes air matanya sherly mulai melangkahkan kaki ke belakang.

Angin berhembus kencang, suara laut yang menggelegar disertai suara beberapa burung yang berceloteh membuat jack memutar otak pasrah dengan rencana menyelamatkan teman yang baru dikenalnya tersebut
“jack” sherly memanggil jack untuk terakhir kalinya gaunnya melambai, tangannya didekapkan di dadanya
Di benak terakhirnya hanya kenangan manis sherly dengan orangtuanya yang ia rasakan ketika ia kecil, ketika ibunya menyuapinya ketika ayahnya sering menggendongnya ketika dia diajak berbelanja ketika ibunya memanggilnya dan ketika ia mengingat pelukan hangat dari sebuah keluarga, keindahan yang selalu didambakan sherly walaupun pada akhirnya kedua orangtuanya berpisah dan malam nanti akan diadakan pesta pernikahan ibunya dengan ayah barunya yang memperlakukan sherly yang masih berusia 19 tahun dengan sangat keji, biadab dan tidak berperi kemanusiaan dan calon ayah tirinyalah yang telah merenggut harapan sherly agar orangtua mereka bisa menjalin hubungan rumah tangga kembali.

Angin dari timur bergerak begitu kencang sehingga mematahkan daun daun dan mematahkan semangat para burung camar untuk terbang ke timur, menerabas pasir pasir putih yang tampak tak bertenaga terombang ambing menelisik sisi-sisi karang lautan yang masih berdiri kokoh seperti seolah sombong kekuatan adalah segalanya dan kelembutan adalah sesuatu yang paling basi dan lemah di dunia ini!

Tanpa disadari sherly, gaun merah yang dipakainya digenggam erat oleh jack dengan satu tangan yang menyebabkan ia terjungkal terbalik punggunya sempat tergores oleh bebatuan karang yang cukup runcing untuk melukainya, jack berteriak “kau belum saatnya melakukan seperti ini” walaupun lengan jack tidak sekuat lengan orang dewasa namun ia masih sanggup menahan berat tubuh sherly dengan menggenggam erat gaunnya. Ditariknya sekuat tenaganya, sherly hampir pingsan sambil meronta ronta lemah dengan menjejakkan kakinya yang mulai dipegang oleh jack tangannya melambai ke bawah tergores oleh batu karang. Dalam posisi seperti ini jack dihantui perasaan khawatir yang luar biasa keringatnya menetes hingga kaosnya basah dalam hitungan tiga menit akhirnya gadis itu bisa dia selamatkan, dipapahnya sherly yang sangat lemas dan hampir pingsan dengan perlahan dipapahnya dengan tenaga ekstra mengingat tubuh jack yang kecil sedangkan tubuh sherly bisa dikatakan besar untuk anak seusianya. Dipapahnya sherly menuju ke bawah dengan perlahan menuruni bebatuan karang lalu dengan perlahan juga dipapahnya sherly menuju rumahnya yang berjarak sekitar 700 an meter dengan karang tempat ia berada.

“jack” yang dipanggilnya melamun terkaget oleh suara sherly, “jack” ditatapnya wajah jack, jack hanya dia berkonsentrasi untuk melamun sambil menahan berat toboh sherly “kenapa jack? kenapa aku kau selamatkan?” tanya serly lemah dan serak “kau harus hidup” jawab jack dingin dan cuek dilihat dari mimik wajahnya “bukan itu jack, ini bukan tentangku” dengan malas dilihatnya wajah sherly, “jack? apa kau mencintaiku” jack menunduk menghentikan langkahnya diturunkannya tubuh sherly sehingga tanpa disadari jack tubuh sherly terhenyak ke bawah membuatnya terpaksa duduk di pasir putih, jack berjongkok ditatapnya wajah sherly dengan sangat tidak romantis jack berkata “karena aku sangat mencintaimu” sherly tidak terkejut, beberapa detik kemudian didekapnya tubuh jack didekapnya erat-erat, tangisnya muncul kembali, jack bingung sekaligus tampak naif hendak berdiri namun limbung, didekapnya tubuh jack didekapnya dengan sangat erat, dibalasnya dekapan sherly lalu di sisi barat seberang lautan matahari memberi salam terakhir namun warna dan cerahnya sebagian masih tertinggal dan warna jingga, orange, merah yang mulai melapuk itu memberikan sebuah kenangan dua pasang insan saling memadu kehangatan dalam pelukan, dalam sebuah perjalanan satu titik, dalam sebuah proses tanpa waktu, dalam sebuah tragedi indah yang mengkhususkan kepada dua insan tersebut.

Cinta

Cerpen Karangan: Nisca Marsandi
Facebook: facebook.com/nieztchamrzndhy
Hanya satu dan semoga satu yang lebih baik.

Cerpen Ketika Khatulistiwa Bersuara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu Singkat

Oleh:
Pada suatu pagi aku berangkat ke sekolah, sesampainya di kelas aku duduk di bangku temanku di jajaran paling belakang saat itu aku sedang berbincang dengan temanku, tak lama kemudian

Allegro

Oleh:
Bisa kuhitung dari awal pertemuan kita hingga saat ini. Kau yang tak pernah kusangka-sangka hadir begitu saja. Barangkali sejak pertama aku tidak pernah menyadari bahwa ternyata kau begitu hebat,

Aku dan Kamu

Oleh:
Sore ini terasa sepi. Bagaimana tidak orangtuaku pergi ke bandung, biasa tugas pekerjaan. Aku masih santai duduk di teras depan ditemani kucing anggora lucu pemberian om vian setahun yang

Aku Melihat Cinta di Mata Suamiku

Oleh:
Berada di antara dua lelaki yang dicintai. Bahagia. Akan tetapi, aku harus memilih salah satu karena alasan tertentu. Cintaku sama besarnya. Aku tak mungkin memilih salah satu. Karena memang

Salam Rindu Di Album Kenangan

Oleh:
Malam ini aku masih menikmati malam yang begitu indah menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit, angin kumbang pun terasa dingin mendesir menggugah pori-poriku. Namun, semua itu bertolak belakang dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *