Ketika Rasa Dipertemukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 March 2018

Waktu… seperti sungai, selalu mengalir, meskipun kita menyentuh air sungai tersebut, tak akan sama dengan air sungai yang pernah kita sentuh sebelumnya. Air sungai itu akan terus berlalu dan tak akan kembali seperti dulu.

Pertemuan di Bumi Perkemahan itu menyisahkan kenangan-kenangan bersamanya, meskipun belum sempat hati ini mengenal jauh sosok dirinya di duniaku. Namun, sosok itu mampu membuatku terbang bebas di angkasa dengan semua beban yang sempat membuatku berhenti untuk terbang. Kekosongan ini terlalu cepat ia isi dengan kehadirannya, hingga membuat kekosongan ini terisi dan dunia ini tak lagi berwarna jingga dalam penglihatanku, kini sosoknya menjadi pelangi dalam penglihatan ini. Tak terlukis jelas bagaimana pertemuan ini di memoriku, yang aku tahu hanya kehadirannya yang merubah pandangan kosongku.

“Dek, mau main kuis apa gak”
“Kuis apa kak,”
“Kuis Milionary, dek. Kita banyak-banyakan skor, kalo kalah nanti gantian mainnya.”
“Iya ka, ayo tapi aku dulu”

Bisa dibilang karena kuis itu kedekatan kita dimulai. Setelah lama kita main kuis dengan kecurangan yang dibuat dan canda tawa saat kuis itu membuat rasa ini nyaman ada di dekatnya. Kedekatan kita terus membuat rasa ini semakin nyaman dan nyaman.

“lho, kok curang dek kan udah kalah”
“lha kakak tadi sibuk sendiri kok, ya aku main lagi kak”
“ya gak boleh gitu dek, sekarang aku yang main,”

Beberapa hari dilalui bersamanya, banyak hal yang berubah bersama dengan kehadirannya. Hari-hari di perkemahan ini terasa sangat menyenangkan, tawanya yang membuatku merasa ada. Kedekatan ini terasa saat ia menemaniku mencuci piring dan mengambilkan air. Masalah yang kuhadapi terasa sangat ringat saat ada di dekatnya. Meskipun kedekatan ini sangat singkat. Berada di bumi perkemahan tiga hari dua malam ini, memberikan aku sebuah arti, pengalaman, dan rasa dari semua anggota di sini.

Hidup ini pilihan, kesedihan atau kebahagiaan yang akan kita pilih. Dan apapun yang menjadi pilihan kita itu yang harus kita jalankan dan kita terima.

Setelah perkemahan itu, kegiatan kita berlanjut di lingkungan sekolah, dan mungkin karena kegiatan lanjutan ini ada alasan untuk aku bertemu dengan sosok yang merubah pandanganku. Sosoknya yang ramah, baik, pengertian dan penyayang. Di depan koperasi sekolah ini aku dan dia bertemu, setelah aku dan dia sempat berbicara melalui pesan-pesan singkat kita.

“Dek” panggilnya dan memberikan telepon genggamnya
Di layar itu terdapat sebuah rangkaian kata yang mungkin tak mampu ia ucapkan. Namun, rasa ini merasa takut untuk menjawab rangkaian demi rangkaian yang tersusun menjadi sebuah kalimat itu. Ketakutan itu yang akan merubah kenyamanan yang pernah tercipta sebelumnya.

“gimana dek, jawabannya kok malah diem”
“hm, nanti aja aku kasih jawabannya kak,”
“nanti kapan dek,”

Antara takut dan berharap, berharap jawaban ini akan membuatnya terus bersamaku dan menemaniku saat masalah-masalah yang aku hadapi kembali mengusik pandanganku dan merubah pandangan ini menjadi jingga. Takut, jika ia tak mampu menemaniku saat masalahku membuatku bersikap egois dan membuatnya tak mengerti, takut jika nantinya kita tak mampu sedekat dulu saat status kita mengalami perubahan.

“Dek, gimana sama dia. Tenang aja dia orangnya setia kok, gak perlu takut udah terima aja” kata-kata itu seperti mengusik lamunanku.
“terima apa kak, orang gak ada apa-apa kok, terus apa yang mau diterima”
“halah, gak usah pura-pura dek, aku lho tahu. Uda terima aja dia orangnya setia kok beneran dek. Aku lho udah temenan sama dia udah lama.”
“iya kak, aku tau dia orangnya setia”

Kedekatan ini terus ada, hingga akhirnya seseorang dari masa laluku kembali, perasaan yang telah berubah ini masih sedikit tersisa untuknya. Kekecewaan ini seakan tak mampu melunturkan rasa yang tersisa untuknya, ia kembali dengan keadaan yang tak mampu kulihat, masalah tentangnya kembali mengusik perasaan ini yang telah berubah dan membuatku takut akan kehilangan sosok baru dalam duniaku ini. Namun, di sisi lain aku tak ingin mengecewakan ibu yang memberiku kasih sayang setelah ibuku meninggal. Aku berada di titik yang tak kumengerti, membuat seseorang yang saat ini ada menemani hari-hariku merasa kecewa terhadap diri ini. Namun, membohongi perasaan ini untuk membahagiakannya. Kadang, perasaan ini berharap ia mampu mengerti namun cara yang aku lakukan salah.

“maaf, aku gak nurut sama kata-kata kamu, maaf aku gak bisa buat orangtua aku bangga sama aku, dan aku malah ngebuat mereka malu sama sikap aku sekarang, aku gak bisa berubah kalo bukan kamu yang ngebuat aku berubah. Meskipun sekarang aku tahu, aku gak lagi sama kamu dan aku juga tahu kamu udah sama dia, tapi aku gak rela kamu sama dia aku cuma mau kamu sama aku aja. Aku bakalan berubah kalo kamu putusin pacar kamu sekarang.”
Pesan singkat yang muncul dalam layar handphoneku dari masa laluku, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dulu, saat aku ada dan mempertahankannya ia menganggap dunianya seperti dalam penjara. Namun, sekarang ia hadir dan membuatku takut akan kehilangan sosok yang saat ini menemaniku dan menggantikannya. Aku dan dia dari masa laluku mengirim pesan-pesan singkat. Dan akhirnya aku sendiri tak tahu harus bagaimana dengan keadaan ini.

Setelah keputusan bodoh itu, duniaku seperti kembali tak ada pelangi dan sosoknya yang selalu menemaniku, tak ada canda tawanya yang menghiasi kekosongan ini. Dan entah, dari titik mana aku dan dia kembali dekat seperti dulu. Perhatiannya yang ia berikan saat diri ini membutuhkan perhatian darinya.

“dek, uda minum obat belum”
“belum kak, aku kan gak suka obat. Obat itu pahit kak, rasanya juga gak enak”
“ya iyalah dek, namanya juga obat kalo manis makan permen aja, kalo kamu gak minum obat mau sembuh dari mana dek”
“aku gak mau minum obat kak, obatnya gak enak, pahit juga”
“ya udah, aku minum obatnya tapi adek juga harus minum obat. Jadi sama-sama minum obat, sama-sama ngerasain gimana rasanya obatnya”
“ya uda aku minum obat”

Karena ia lagi, ia yang sempat hadir. Aku merasakan kehadirannya. Aku dan dia jarang komunikasi, ketemu pun karena waktu. Tanpa kesengajaan kita ketemu, waktu yang membuatku bertemu dengannya dan aku yakin waktu juga yang akan mengatur bagaimana kita selanjutnya.

Banyak kenangan dan masa yang terlewati bersamanya, hingga detik-detik sebelum perkemahan ambalan itu. Sebelumnya sikapnya tak sedingin ini tapi, beberapa hari sebelum kemah itu sikapnya berubah.

“kak”
“malam kak”
Aku mencoba menghubunginya, meneleponenya namun tak ada jawaban darinya. Perasaan ini berusaha bersikap tenang, meskipun dalam hati ini sedikitpun tak ada ketenangan.

Waktunya kemah itu dimulai, sebelum berangkat ke perkemahan semuanya diabsen terlebih dahulu, aku melihat di sekeliling namun tak ada tanda-tanda keberadaannya di sekitar. Di tempat perkemahan itu aku masih berusaha menghubunginya meskipun aku tahu tak akan ada balasan darinya. Aku hanya mampu berharap ia datang, karena aku lelah dengan sikapku setiap melihat sosoknya yang pura-pura tak peduli, padahal aku merindukannya dan dari kejauhan aku terus memandanginya.

Hingga aku teringat akan sesuatu sebelum kemah itu, seseorang itu pernah memberi sebuah gelang bertuliskan “DREAM” dan tanpa aku sadari gelang itu memiliki arti tersendiri darinya.

“itu gelang dari siapa, kok tulisannya dream, dream kan mimpi” ucap salah satu temanku
“dari kakak,” dan aku terdiam sejenak, mencerna kata temanku
“iya, emang hubungan kalian gimana, masih pacaran apa uda putus”
“nggak tahu juga,”
“coba, deh kamu tanya sama dia. Ajak dia ketemu dan ngomong gimana hubungan kalian sebenarnya”
Setelah mendengar perkataan temanku, yang tidak hanya satu anak melainkan perkataan teman-teman dekatku, aku pun menanyakannya, melalui pesan singkat itu aku bertanya.

“kak, aku baru sadar kalo gelang yang kakak kasih itu bertuliskan DREAM yang berarti mimpi, terus apa maksud sebenarnya kak”
“iya, aku kasih gelang itu emang tulisannya DREAM, dan maksudnya kamu itu mimpi buat aku dek”
“kenapa mimpi kak, apa aku gak bisa jadi nyata buat kakak”
“dulu kamu itu nyata buat aku dek, tapi sekarang kamu Cuma mimpi buat aku dek, mimpi yang sulit buat aku raih”
“terus apa maksudnya”
Mendengar pengakuannya kalau aku hanyalah mimpi, benar-benar membuatku bingung apa lagi dengan kata-kata temenku, yang melihat gelang yang ada di tanganku sering lepas.

“gelangnya lepas-lepas terus, emang kisah kalian kenapa. Tiap gelang itu lepas kamu sambung lagi dan lepas lagi, apa gelang itu sama kaya kisah kalian.”
Dengan kalimat itu aku mencoba bertemu dengannya, dan beberapa kali aku gagal bertemu dengan sosok yang merubah warna duniaku. Akhirnya aku beberapa kali buat ngajak ketemu, tapi gak sempet ketemu, dan waktu akhirnya ngizini aku sama dia ketemu, tapi aku salah aku gak tanya gimana hubungan kita. Malah aku ngambil kesimpulan sendiri.

“kalo dia dateng kisah kita tak sebatas patok tenda, tapi kalo dia gak dateng berarti bener kisah ini hanya sebatas patok tenda”
“ya udah, egois aja terus. Pikirin itu aja terus gak usah minta jawaban dia.”

Bel pulang sekolah menandakan waktunya pulang. Dan aku masih tetap di tempat dudukku, berharap ia akan datang. Dan tak lama kemudian ia pun datang, namun perasaan ini tak mampu mengatakan pertanyaan dalam hati ini dan hanya mengambil kesimpulan itu.

“gimana dek, katanya ada yang mau ditanyain”
“e..eeh.. nnggak kok kak, gak ada apa-apa” perasaan ini benar-benar menyenangkan, akhirnya ia pun hadir. dan sesuai kesimpulanku aku tak mau menganggap kisah ini sebatas patok tenda.
“hmb, beneran gak ada apa-apa”
“iya kak, makasih ya kak udah mau dateng”

Teringat akan kejadian beberapa kali itu, membuatku sadar betapa bodoh dan egoisnya diri ini. Tetap melukiskan kisah kita di lembaran yang sama namun, pemikiranku salah dan, tanpa aku sadari kisah ini berakhir hanya sebatas patok tenda.

Cerpen Karangan: Dwi Oktaviyani
Facebook: Dwi Oktaviyani

Cerpen Ketika Rasa Dipertemukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelakor Itu Nyata

Oleh:
Aku sering mendengar berita di tv orang suaminya diambil sama pelakor. Aku tidak pusing. Bagiku yang penting selalu memasak, mengurus anak semua akan aku lakukan sepenuh hati. “Ya semua

Bukit Bintang

Oleh:
“Kakak kelas sialan. Kenapa MOSnya harus manjat bukit segala sih!” gerutu Aline. Tangannya terus menancapkan tongkatnya ke tanah dan mendaki gunung itu. Peluhnya bercucuran kemana-mana. Sivia yang berada di

Boyband Dalam Kardus

Oleh:
Panggil aja gue JONES, temen temen gue yang ngasih panggilan itu. Emang sih gue gak tahu arti dari panggilan itu, tapi gue rasa gue suka panggilan itu, gue pikir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *