Ketika Tak Ada Lagi Kata “Kita”

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 October 2021

Awan hitam menutupi matahari yang akan mengucapkan selamat tinggal. Udara dingin mulai terasa. Tak lama kemudian terdengar suara rintikan hujan yang datang beramai-ramai.

Aku melihat ke arah jalan raya saat sepasang muda-mudi mendadak belok ke depan tokoku. Aku melihat si wanita turun dari motor dan si laki-laki secepat kilat melihat kearahnya. Aku tahu betul raut wajah apa itu. Ya, raut wajah penuh kekhawatiran.

“Gak basah kan sayang?” tanya si laki-laki dengan nada bersalah.
“Gak papa kok, cuma basah sedikit.”
Mereka seperti tak menyadari kehadiranku. Padahal aku tepat dua meter di depan mereka.

Ya, masa-masa dimana dunia hanya milik berdua. Yang kini sudah tak bisa kita rasakan bersama, karena kata “kita” sudah tak ada. Kita yang bahkan sebulan yang lalu masih sering chatingan. Ketawa bareng di sepanjang jalan pulang. Kita yang sering ngomongin hidup, saling ngeluh tentang beratnya hari ini, yang setiap menit pasti saling berkabar bahkan ke hal-hal yang gak penting sekalipun. Kita … ya kita! Tapi sekarang aku gak tahu sama sekali apapun tentang kamu. Tiba-tiba dalam sekejap kita berubah 180 derajat. Kita yang awalnya asing jadi orang yang paling dekat karena suatu hubungan yang bernama pacaran, dan sekarang jadi asing lagi karena kata putus. Kita yang awalnya paling dekat lebih dari siapapun dan sekarang menjadi orang yang paling asing lebih dari siapapun, ironis.

Aku melihat tanganku yang sebelumnya kugunakan untuk mengusap mata yang gatal. Ada bulu mata di sana. Seketika aku berpikir apakah benar ini pertanda ada yang merindukanku? Apakah itu kamu? Karena kalau tidak, rasanya tak adil jika aku saja yang merasakan rindu. Tapi jika pertanda itu nyata, aku yakin kamu sudah tak punya bulu mata sekarang.

Banyak temanku yang bilang aku harus melupakan kamu. Mereka bilang aku bodoh, mereka menyuruhku untuk sadar diri karena aku sudah dibuang. Kamu yang mengejarku, kamu yang mengajakku untuk menjadi kita, tapi kamu juga yang memecahkan kata “kita” menjadi “aku” dan “kamu” dengan alasan aku terlalu baik buat kamu. Misalkan itu barang, orang bodoh macam apa yang membuang barang yang terlalu baik untuk dia?

Suara petir membangunkan lamunanku, seketika mataku bertemu dengan si wanita tadi yang masih beteduh di depan tokoku. Wanita itu tersenyum dan meminta ijin meneduh sampai hujan reda bersama pacarnya. Aku terlalu larut dalam lamunku sampai aku tak tahu sejak kapan mereka duduk di kursi samping toko.

Ya, aku masih seperti ini, masih sesekali mengingatmu. Saat duduk dan berdiri, saat aku makan atau mau tidur, saat aku buka instagram atau facebook, aku masih sering teringat padamu.
Teman-temanku bilang ini hal yang wajar pasca putus. Aku melewati hari demi hari seperti ini sampai terkumpul dan genap menjadi sebulan. Apakah hal ini akan berubah setelah setahun? Atau sewindu? Atau lebih? Apakah benar waktu adalah obat paling mujarab untuk melupakan?

Aku menutup pintu toko, hujan belum reda. Aku teringat saat kamu menjemputku di moment yang sama seperti ini.
“Kamu gak bawa jas hujan?”
“Jas hujanku robek, ini aku bawain jaket,” katamu sambil menyodorkan sweater hijau.
Dalam hati aku bilang, kenapa tidak membawa jaket yang berbahan parasite saja, kenapa malah bawain sweter? Aku memakainya mau tak mau, yang tentu saja kebesaran. Walau begitu, jujur dalam hati aku merasa gembira, karena ini kali pertama aku memakai baju seorang laki-laki.

“Kerudungnya dimasukin aja sayang. Sama ini …” kamu mengangkat tudung sweter ke atas kepalaku lalu menarik tali tudung itu. Aku hanya bisa terdiam tersipu.
“Agak deras sayang, nunggu dulu agak reda apa gimana?”
“Oh …,” kataku salah tingkah.
“Em … langsung aja gak papa, sekalian nyicil mandi hahaha,” lanjutku.
“Oh iya, kamu belum mandi ya.”
“Nanti aku dimarahin gak yang, ngajak kamu hujan-hujanan,” katamu saat sudah di tengah jalan.
“Ternyata deras juga ya, kamu basah gak?” tanyamu dengan tangan kanan memegang starter motor lalu tangan kiri mencoba mengecek pahaku dibelakang.
“Gak basah yang, ketutupan aku,” tawamu diakhir kata.

Aku tersenyum mengingat kenangan itu. Perhatian sederhana yang membuatku istimewa.

Tak terasa hujan mulai reda yang biasa orang-orang sebut gerimis. Memang semenyenangkan itu mengingat kenangan kita, sampai aku tak sadar waktu. Aku bergegas menyalakan motor. Aku mencoba menyeberang di antara banyaknya lampu kendaraan yang mengenaiku. Tanpa sadar aku bertemu dengan matamu. Kamu berada di seberang jalan. Dengan motor yang sama dan sweter hijau yang sama yang dulu kupakai. Hanya saja arah kita sudah berbeda. Kamu akan kearah utara sedangkan aku ke selatan. Bahkan kamu langsung melaju saat ada kesempatan untuk menyeberang. Sedangkan aku hanya diam seperti orang bodoh yang kehujanan melihatmu pergi. Iya bodoh karena sudah tak ada kendaraan tapi aku tak bergegas menyeberang. Masih mematung menengok kebelakang dan melihat sisa-sisa lampu motormu. Ya, persis seperti akhir hubungan kita. Kamu sudah melaju pergi sedangkan aku masih disini bersama kenangan kita.

Yang paling membuatku masih berhenti di pinggir jalan saat ini walau jalan sudah sepi adalah aku sadar kamu sudah tidak peduli. Dan aku semakin sadar bahwa kenyataannya, kita sudah tak bisa menjadi kita. Memang lebih bijak untuk menyimpan kenangan indah kita karena jika dipaksa diteruskan, aku takut kenangan indah itu semakin ternoda dengan kenangan-kenangan buruk. Seperti noda hitam di atas putih. Aku takut kenangan indah itu akan tak terlihat karena tertutup noda hitam. Hal yang paling bijak adalah aku harus merelakan kamu dan semua tentang kita.

Cerpen Karangan: Desy Puspitasari
Blog / Facebook: DesyPuspitasari

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 4 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Ketika Tak Ada Lagi Kata “Kita” merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy Ending

Oleh:
“Melody Sinaga Hanggono, hari-hari aku lalui sambil terus menunggu, kapan kamu datang? Minggu-minggu aku lalui dengan rasa takut, kalau-kalau harapan di hatiku buat tunangan sama kamu, berubah kalau cowok

Mine (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi merekah membawa semburat senyum kemerahan dari peraduannya. Seakan mampu menepis awan gemerlap yang berwarna hitam keabu-abuan. Berarak perlahan-lahan ingin menutupi senyum mentari itu dengan bantuan angin yang

Cinta Nayang (Part 4)

Oleh:
Semakin hari gue semakin deket sama arga, begitu juga dengan keluarga gue, gue juga semakin nyaman sama arga, tapi gue bingung sekarang gue masih takut ngungkapin perasaan gue. Disini

My Happy Wedding

Oleh:
Lagi dan lagi aku terpesona akan kehadirannya. Tak bisa sedetik pun aku tak memperhatikan gerak geriknya. Dia memang tak begitu cantik. Tapi untuk gadis seusianya dia amat manis bagaikan

Aku, Seth, Dinding dan Aroma Pinus

Oleh:
Aku hanya ingin disini, duduk diantara himpitan dinding dan aroma pinus yang menusuk-nusuk hidung. Aku tidak pernah mengerti mengapa mereka begitu menikmati semua kepedihan yang aku rasakan. Apakah aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ketika Tak Ada Lagi Kata “Kita””

  1. Khumaera Dwi Yulianti says:

    Ceritanya menarik untuk dibaca, membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh . Terimakasih

  2. anonim says:

    aku terbawa suasana… sumpah mewek bangett

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *