Key of The Black Sphere

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 20 July 2014

“Demon mulai membanjiri Black Sphere. Mereka memerangi kaum kami. Cresill. Kaum berdarah campuran. Aku dan Jeremy berhasil keluar dari sana demi melakukan serangan dari luar agar dunia kami tetap aman. Tapi, sia-sia. Keluar dari Black Sphere adalah hal yang bodoh. Kami kehilangan kekuatan sihir dan kami tak dapat kembali ke Black Sphere karena seluruh atmosfir Black Sphere telah disegel dengan sebuah mantra. Akhirnya kami terdampar di dunia manusia. Tepatnya Kota Sydney, Australia. Walaupun tanpa kekuatan. Kami akan berusaha mencari kunci berupa mantra penghancur di Sydney. Itu menurut keterangan yang aku dapatkan dari para tetua. Dan disinilah petualangan kami di mulai …”

Aku hanya terdiam kosong saat darah merah pekat membanjiri dimana-mana. Makhluk-makhluk aneh yang mereka sebut demon mulai membanjiri dunia kami, entah bagaimana cara mereka memasuki dunia kami yang atmosfirnya dilindungi mantra pelindung. Lagi. Aku hanya menatap nanar.

Aku berlari di tengah gelimangan mayat-mayat cresill –bangsa kami- darah dan potongan tulang busuk sejauh mata memandang. Tak lupa bau busuk menyengat indera penciuman kami.
“Aaaarrrgghh!! Lepaskan aku! Demon jahat! Kau telah membunuh teman-temanku, keluargaku dan kerabat-kerabatku, apalagi mau mu?” aku berteriak histeris saat satu demon mendekatiku dan mengejarku saat aku lari terbirit-birit. Tangisku semakin kencang saat mereka menyerangku dengan kekuatan mereka yang tak dapat aku imbangi. Aku mengepalkan tanganku geram dan melancarkan seranganku ke arah si demon. Gagal. Iblis itu terlalu kuat. Aku berlari dan berlari secepat mungkin bagai angin. menjauh dari iblis itu sebisaku. Kemana pun aku bisa. Menembus tabir dan waktu.

Mataku bergerak penuh waspada. Menurut keterangan para tetua melalui kekuatan telepati, mantra penghancur itu ada di kota dimana aku terdampar bersama temanku. Jeremy Bratcland. Sekitar lima jam lalu, saat aku berada di sebuah motel yang kami tempati. Aku menemukan sebuah memo tantangan dari para demon. Aku tahu. Mereka memang mengikuti kemana kami bergerak. Dan mereka semakin waspada saat kami terdampar di Sydney, ibukota dari negara bagian New South Wales di Australia. Kami memang telah kehilangan kekuatan, tapi tidak dengan kekuatan fisik yang pernah kami pelajari dan anehnya, kekuatan telepati dan six sense kami masih berfungsi. Bagus.

Sydney Harbour Bridge – at Night – Australia – 11

Kalau tidak salah inilah Sydney Harbour Bridge itu. Aku menunggu sesuai kesepakatan bersama dengan Jeremy. Kami melangkah hati-hati di pijakan jembatan. Menerawang kota Sydney dari tempat ini sangat indah dengan pemandangan sebuah danau di bawahnya. Kulihat Jeremy, wajah pria itu begitu bersinar dengan bantuan cahaya bulan sempurna. Sedetik aku terheran, aku tak pernah melihat wajahnya dari samping seperti ini. aku pikir dia tampan.

Aku terhenyak sekejap saat sebuah sinar merah menghantamnya. Dengan sigap kami merunduk dan mendapati satu demon di hadapan kami. Sialan. Dia mencuri kesempatan saat kami lengah. Jeremy maju perlahan dengan mengacungkan sebuah belati perak ke hadapan si demon. Dan berhasil. Satu demon musnah di tangannya. Sekarang giliranku. Satu demon menghunuskan pedang ke atas kepalaku. Dengan cepat aku merunduk dan menendang selangkangannya. Dia jatuh terlentang di pinggir jembatan. Satu langkah lagi dia akan tercebur ke danau. Saat para demon lengah, Jeremy menarik tanganku untuk pergi dari Sydney harbour bridge yang sudah menjadi arena pertarungan disini. Tentu saja. kami tak mau ambil resiko untuk itu.
“Hikaru, cepat! Aku dapat pesan telepati lain dari para tetua. Kita harus buru-buru mendapatkan mantra itu. Mereka memberi kita waktu paling lama 1 minggu. Kalau tidak, Black Sphere beserta isinya akan musnah.” Jeremy berbisik dengan nafas yang tak beraturan. Aku mengangguk cepat. Dan mengimbangi larinya.
Nafasku terengah. “Hikaru kau lelah?” Jeremy mengeluarkan sebuah tissue dari saku bajunya dan menyeka keringat di dahiku. “Tentu saja bodoh!” aku bergurau, sudah lama tak bergurau. Jeremy melotot, sepertinya tak terima dengan sebutan ‘bodoh’ dariku. Aku tertawa dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Jeremy, kemarin aku melihat citraku lagi lewat mimpi.” Jeremy terlihat tertarik dengan topikku. “Oya? Citramu muncul lagi? Saat di Black Sphere?” aku mengangguk. “Tapi, citra itu tak berarti apa-apa. Aku harap citra lainnya muncul berupa petunjuk dimana letak mantra penghancur itu disembunyikan.” Jeremy berdehem tanda setuju. Kemudian dia beranjak “Ayo, kita tak punya banyak waktu.” Dia menarik tanganku. Lagi.

Aku berdecak saat melihat pemandangan di hadapanku. Bagaimana bisa si kepala besar itu mengajakku kesini. ku edarkan pandanganku dan membaca sebuah alamat, Rocks Markets, L6, 66 Street Harrington, Sydney, Australia 2000. Ash, dia gila? Untuk apa mengajakku ke pasar? Yang benar saja. ini bukan saatnya kita berbelanja. Dia nyengir saat aku menatapnya dengan tatapan tajam. “Hikaru Smith, please! I’m hungry. Let me buy some foods, okay?” dia menatapku dengan tatapan memelas. Aku memutar mataku malas dan menghela nafas pasrah. “okay, just ten minutes? We must go to the next place to break out this mistery!” dia terlihat senang. Oh baiklah. Kelihatannya perutku juga lapar.

large_Rocks
Kami berjalan-jalan di sekitar Rock Markets. Mengunjungi stand satu ke stand lainnya. Menikmati makanan–makanan enak yang di jajakan disana. Selain itu, mata kami juga termanjakan dengan aneka souvenir–souvenir yang unik dan lucu yang berjejer rapi. Sejenak aku melupakan misiku di Sydney. Berjalan-jalan seperti ini membuatku selayaknya manusia biasa yang hidup damai tanpa adanya pertarungan. Hhhhh, sebenarnya kami juga manusia, hanya saja di tubuh kami juga mengalir darah demon. Jadi mau bagaimana lagi? Tak ada yang bisa kami lakukan selain menjalani hidup kami dengan pertarungan dan darah. kadang aku berpikir, kenapa aku harus dilahirkan sebagai bangsa berdarah campuran seperti ini? maksudku, ras yang paling dibenci oleh para demon murni. Baiklah, ini memang sudah takdir.

Lelah berjalan, kami duduk di sebuah bangku sambil mendengarkan lantunan suara pengamen jalanan dengan gitar akustiknya. Walaupun mereka pengamen jalanan, tetapi suaranya patut diacungi jempol. Suaranya indah disertai dengan petikan melodi gitar yang begitu harmoni. Kulihat Jeremy di sampingku, dia terlihat menikmati dan sesekali bibirnya ikut bernyanyi. Hey, ternyata suaranya bagus juga. Aku melihatnya tersenyum padaku. Dia menepuk bahunya menyuruhku merebahkan kepala disana. “Untuk saat ini, kita nikmati saja dulu waktu ini. karena belum tentu esok hari kita memiliki waktu seperti ini lagi.” aku mengangguk dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Malam memang sudah larut, membuatku tak sadar tertidur di bahunya.

Aku tak dapat melihat apapun disini. Disini terlalu gelap, bahkan untuk melihat bayangan pun tak bisa. Aku berjalan sendirian mencari jalan terang. Mataku perlahan menyipit tatkala sinar putih menyilaukan mataku. Aku bernafas lega, bersyukurnya aku masih menemukan sinar. Aku mulai berlari sekuat tenaga, tak kulihat samping kanan-kiriku. Bahkan aku baru menyadari bahwa tubuhku tembus pandang. Ah entahlah aku tak peduli. Semakin aku melangkah, aku semakin yakin bahwa di depanku berdiri kokoh sebuah bangunan. Bangunan ini dikelilingi oleh sebuah taman. Dan aku melihat sebuah tulisan-tulisan samar melayang-layang di udara. Aku memperjelas penglihatanku. Itu… kah mantra penghancur yang dimaksud?
“Kau sudah bangun?” ternyata itu mimpi. Aku masih berada di pinggiran Rock Market bersama Jeremy. Tapi aku yakin, itu adalah citra baru. Mungkin di tempat itulah aku akan menemukan mantra penghancur. Tapi tempat itu masih samar, sebuah bangunan yang di kelilingi taman. Aku tahu tempat itu masih di Sydney. Tapi, aku tak tahu dimana letaknya.
“Jeremy, citra baruku muncul lagi” Jeremy mengerutkan dahinya “ayo pulang, dan ceritakan mengenai citra mu di perjalanan” Jeremy menarikku pulang.
“Aku melihat mantra penghancur itu dalam citraku. Melayang-layang samar dalam penglihatanku.” Jeremy tertegun. “dimana letaknya?” aku menghela nafas dan mulai melanjutkan kalimatku,” yang jelas masih di Sydney. Hanya spesifiknya aku tak tahu dimana. Aku hanya melihat sebuah gedung yang di kelilingi taman. Dan sebuah mantra yang melayang-layang.” Jeremy menghentikkan langkahnya membuatku terheran.
“Kenapa?”
“Aku rasa aku tahu tempat yang kau maksud. Aku sempat melewatinya beberapa hari yang lalu saat aku berjalan-jalan.”
“Kau tahu? Tempat apa itu?” aku mengerutkan dahiku.
“Semoga saja dugaanku benar. Government House. Letaknya di Macquarie Street, sebuah tempat kediaman para gubernur New South Wales pada tahun 1966. Sebuah gedung yang dikelilingi Royal Botanic Garden.” Okay, aku mengerti. Besok malam kita harus kesana.

Government House

Government house – 3
Hikaru dan Jeremy telah menginjakkan kakinya di gerbang depan bertuliskan ‘Government House’. Hikaru tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat. Ternyata benar, sama persis dengan yang muncul dalam citranya.
“Jeremy, kita harus waspada. Bisa saja demon itu mengikuti kita.” Hikaru bergerak waspada. “Kau benar, Hikaru. Mereka bisa saja sedang mengintai keberadaan kita. Kalau mereka menyerang kita, nanti ketampananku hilang!” Hikaru mencibir, dia tak habis pikir. Saat genting seperti ini, sempat-sempatnya percaya diri seperti itu. “Ah baiklah, terserah kau sa— JEREMY !! AWAAAASSSS!” Sebuah siluet hitam mendekati pria itu dari belakang dan menghantamnya. Melemparnya ke lantai dan mencengkeram lehernya. Jeremy hendak bangkit tapi sosok hitam ini melemparkan sebuah belati perak berkilau, dan JLEB. Bagus. Salah sasaran. Jeremy bangkit setelah memungut belati itu, dan mengopernya kepada Hikaru. Tangannya mengeluarkan sebuah pistol yang sengaja ia sembunyikan di balik mantel. Bidik. DORR!! sosok itu merunduk yang menyebabkan peluru itu meleset dan menghantam sebuah pohon. Hikaru melangkah cepat dan menebas sosok hitam itu dengan belati. Darah hitam memuncrat kemana-mana. Sosok hitam itu mengerang dengan erangan yang menyakitkan telinga. Ambruk dan menghilang seketika.

“Dia muncul sangat tiba-tiba. Aku kaget. Untunglah kau tak apa-apa. Je! apakah dia mati?” Hikaru mendesis tak percaya seraya menyeka peluh di dahinya.
“Entahlah” Ucap Jeremy dengan nafas yang tersenggal.
BRAKK!!
Matanya membulat tatkala melihat siluet hitam itu kembali. Berdiri tegap di hadapan mereka. Demon sialan. Dia memiliki nyawa berapa? Ah dia lupa kalau makhluk ini bukan manusia. Tentu saja. Dia Demon. Makhluk keturunan iblis murni, mereka bersayap hitam. Si pembunuh berdarah dingin, yang akan membunuh kaum berdarah campuran seperti mereka. ‘Oh tidak, kenapa ini seperti novel yang pernah ku baca? Tentang anak dari sebuah planet asing yang dilarikan ke planet bumi untuk berlindung dari serangan para alien. Tetapi mereka tak bisa dibunuh kecuali dibunuh secara berurutan sesuai mantra pelindung’. Hikaru memiliki mantra pelindung? Tentu saja, hanya saja dia dapat terbunuh kapan saja, tidak berurutan seperti novel. ‘Hikaru, berhenti berpikir macam-macam! Ini bukan saatnya memikirkan novel!’

Hikaru tertegun. Dia melangkahkan kakinya mendekati sosok ini. Dia menggerakkan tangannya untuk membuka mantel yang dia pakai agar lebih leluasa. Tangannya mengepal kuat. Dengan keberanian yang luar biasa dia berjalan angkuh ke hadapan sang demon.
“KAU DEMON SIALAN! BERIKAN KUNCI ITU!” Hikaru berucap lantang sementara Jeremy masih mencoba menghabisi demon lain.
“Kunci apa yang kau maksud, Cresill? Apakah kunci menuju Black Sphere bodohmu itu? Hahahaha sampai kapan pun kau tidak akan mendapatkannya. Kunci itu telah ku sembunyikan di suatu tempat. Kau tak akan bisa kembali ke Black Sphere untuk menolong leluhur tua dan mengembalikan kekuatan sihirmu, Hi-ka-ru-chan! HAHAHAHAHA!”
“ck, kau menyebalkan juga ya, Demon sialan. Lihat saja nanti. Aku pasti akan mendapatkan kunciku.” Hikaru berujar sinis. Kedua makhluk itu saling berpandangan tajam. Dengan kecepatan secepat cahaya, Hikaru menyeret demon ini ke arah kiri dan membantingnya sekuat tenaga.
Demon itu terkapar di tengah rerumputan hijau. Hikaru memperjelas penglihatannya saat ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. “Jeremy, bagaimana demon lainnya? Sudah kau habisi?” Jeremy menggerak-gerakkan tulang lehernya ke kanan dan ke kiri. “ya, ada beberapa yang mati, tapi sepertinya masih ada yang mengintai, dan aku pastikan, kunci berupa mantra itu sedang ada di genggaman mereka.” Jeremy meregangkan tangannya pegal. “Ya aku tahu. Mantra itu tidak disimpan di suatu tempat seperti yang mereka katakan. Mereka ingin menjebak kita. Mantra itu tertulis di sebuah kertas kecil yang mereka selipkan di sebuah pedang belati. Dan aku tahu, demon mana yang menyimpan belati itu.” Hikaru tersenyum penuh teka-teki, dia mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi yang misterius.
“Dan demon itu adalah …” Hikaru melangkah pelan ke depan, memandang Jeremy sekilas dan tersenyum misterius, kemudian memungut mantel yang sebelumnya dia lepaskan dan mengenakannya kembali. Jeremy mengikuti langkahnya, dan mengeluarkan sebuah revolver dari balik mantel dan mengarahkannya ke satu titik, bidik, DORR!! dalam sekali tembakan, tewas tertembak satu demon di balik tembok menuju pintu masuk Government House. “Kau demon yang ku maksud” Seru Jeremy tegas dengan masih mengarahkan pistolnya ke arah demon. Hikaru memandang Jeremy bahagia, ‘Ah Jeremy, kau keren sekali! Kau seperti tokoh detektif yang pernah aku tonton di TV’ Hikaru bergumam kagum dalam hati dengan mata yang berbinar. Jeremy membalas gumaman Hikaru.
“Thanks, Hikaru sayang. Aku memang keren” balas Jeremy seraya mengedipkan matanya jahil. Hikaru hanya memalingkan wajahnya yang terlihat merona kemerahan. Jeremy tersenyum geli melihat tingkah gadisnya. Dia segera mendekap Hikaru erat. Keduanya tersenyum haru, satu langkah telah terlewati, mereka telah berhasil menjatuhkan demon yang menggenggam mantra itu. Jeremy melepaskan pelukannya, melangkah kemudian membungkuk mengambil sebuah kertas berisi mantra yang berada di sebuah belati yang terselip di pinggang mayat demon itu. “Hikaru, selamat! Kita telah mendapatkannya!” ucap Jeremy seraya mengacungkan belatinya senang.

Dari arah belakang, demon lain mendekati Jeremy. Dia merampas belati yang ada di tangan pria berjubah hitam ini. Dengan sekali helaan nafas, sebuah belati perak berkilau itu berhasil menembus punggung Jeremy.
“AAAAARRRRGGGHHH!!! HIKARU-CHAAAAANNN!” Jeremy mengerang keras dan jatuh berlutut di antara rerumputan hijau. Dengan tangan bergetar hebat, dia meraba punggungnya dan mencabut belati yang menancap disana. Belati perak itu bersimbah darah merah pekat dan jatuh berkelontangan. Jeremy melototkan matanya sebelum dia jatuh telungkup.

917014-256-k256408
“Je- Jeremy” Hikaru seakan kehabisan kata-kata melihat pemandangan di hadapannya. Dia hanya diam tak bergerak dengan tatapan tak percaya. Tangannya mengepal keras, matanya buram, sekali kedipan, cairan bening akan mengalir di pipinya. Bibirnya bergetar kemudian dia memekik keras, menangis sejadi-jadinya. Dia tak percaya akan seperti ini jadinya. Hikaru berlutut di hadapan Jeremy yang bersimbah darah. mendekap Jeremy sekuat-kuatnya.
“Jeremy, bahkan misi kita belum selesai! Kau tak boleh pergi! Aku tak bisa menyelesaikannya sendirian! Jeremy!!!” Hikaru menangis sesegukan.
“Tidak, Hikaru-chan! Mungkin inilah saatnya. Aku akan pergi. Sekarang, tugas besar ini aku serahkan sepenuhnya padamu. Genggam Black Sphere, jangan sampai demon menguasainya. Hikaru-chan, aku percaya padamu. Kau dapat menaklukkannya, jaga dirimu ya, walaupun aku pergi, percayalah! Aku selalu berada di sampingmu. Di sini. Di hatimu. Hikaru-chan … ak-aku mencintaimu.” dengan beberapa kalimat terakhir, Jeremy menutup mata pertanda berakhirlah hidupnya sebagai bangsa berdarah campuran.

Sydney. Tempat terakhirku bersamamu. Pertarungan dan pertempuran telah kita lalui di kota ini. Tapi sepertinya, Tuhan lebih menyayangimu sehingga dia memilihmu untuk beristirahat di dunia sana. Jeremy Bratcland, lihatlah! Aku akan menaklukan Black Sphere. Demi diriku, demi dirimu. Dan demi bangsa berdarah campuran.
Jeremy, beristirahatlah yang tenang. Aku akan berusaha sekuat aku bisa. Selama aku masih di beri kehidupan, aku akan merebut Black Sphere kembali. Aku akan membuatmu tersenyum di alam sana. Aku bertekad bahwa Demon itu akan habis di tanganku. Jeremy, aku tak akan pernah kecewa bahwa aku tak dapat hidup bersamamu. Walaupun kau telah pergi mendahuluiku, suatu saat nanti aku akan menyusulmu juga. Kita akan membentuk sebuah keluarga bahagia di alam sana. Selamat tinggal Jeremy Bratcland, aku mencintaimu.

-Hikaru Smith-

Cerpen Karangan: Hajar siti Khotimah
Blog: imahinamori.wordpress.com

Cerpen Key of The Black Sphere merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Terbalik

Oleh:
“Kia, Ayo cepat bangun. Sudah jam berapa ini?” Omel Mama. “Iya, ma..” Sahutku. Aku pun melihat jam weker doraemonku, ternyata sudah pukul 06.12 tak salah Mama mengomeliku, biasanya masih

Cintaku Berawal Dari Facebook

Oleh:
Hari ini hari minggu, yaitu hari yang banyak di tunggu-tunggu bagi anak muda zaman sekarang. Tapi tidak denganku, semenjak dia meninggalkanku demi cewek lain, maksudku mantan kekasihku Devid namanya.

LDR Tipe Gamers

Oleh:
LDR TIPE GAMERS versi JELLAL Seperti biasa aku memencet tombol pada CPU komputerku untuk melakukan kegiatan keseharianku yaitu ngegame Online. Kudengar desisan mesin komputer ditambah deritan kipas dalam CPU

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *