Khatulistiwa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 25 July 2021

Kawan, beginilah keseharianku. Duduk di depan meja, menjajar beberapa lembar kertas kosong. Dan, menikmati hening kesunyian malam bersama secangkir kopi pekat tanpa gula. Di tangan kananku pena masih tertenggam erat. Imajinasi dari secangkir kopi ini telah menyulitkan mata ini untuk terpejam.

Bola mataku terus menari-nari mengikuti melodi jam dinding di kamar ini. Ya, begitulah hampir setiap malam rasa kantuk itu tak pernah bersahabat pada jiwaku. Disaat semua anggota keluargaku sedang merajut serangkai bunga mimpi, disitu pula aku mulai terpaku mendekam dalam kamar kesayanganku.

Sebuah kamar yang tak begitu luas, dengan colour full warna hijau muda. Dan, di kamar itu juga tersusun rapi bingkai-bingkai sketsa tangannya yang beraneka ragam bentuk. Setiap sketsa itu berarti simbol yang mempunyai makna masing-masing. Di ruang kecil inilah yang menjadi tempat tersembunyiku untuk menuangkan segala ide yang menjelma dalam sebuah karya yang berbeda.

Sunyi kali ini terasa berbeda, ada yang ganjil dalam lamunanku. Rasanya, mata ini pelik untuk terpejam. Pukul menunjukkan malam kian larut. Tubuh ini seakan memaksa untuk berbaring, memejamkan mata. Namun, apa daya. Mataku enggan terlelap. Aku terus menatap dinding, memandang beberapa gambarannya yang tersusun rapi di dinding kamar itu.

Percaya atau tidak. Seketika saja, ada satu sketsa yang benar-benar menjelma dalam benaknya; sketsa khatulistiwa. Imajinasiku seakan menembus peta khatulistiwa itu. Seperti segerombolan semut yang keluar dari sarangnya, seperti itulah isi ingatanku yang kembali merayap pada dinding-dinding masa lalu. Terbesit ingatan, masa dimana aku mulai terpaut oleh senyumnya, fikirku terkontaminasi dengan tutur lembutnya dan hatiku kian terjerat akan pesona kepribadiannya. Dia kawan baikku, ya kekasihku.

Aku termangu menikmati sketsa ini. Sorot mataku terus menatap sketsa itu dalam-dalam. Bibirku tersenyum tipis, terasa awan kelabu tampak mencair dari sudut mataku. Terbesit ribuan pertayaan kalut dalam benakku, tentangmu kekasih; Hafiz. Entah, seketika imajinasiku mulai melambai-lambai, jemariku berontak ingin menuliskan sepatah aksara untukmu. Namun, aku sama sekali tak mengerti. Apa yang harus kuserat pada lembar kertas ini.

Aku mengerti bahkan aku mengakui, bahwa aku hanyalah gadis bodoh yang tak mengerti akan dunia kepenulisan. Tidak seperti sastrawan-satrawan hebat diluar sana yang gesit menjahit serpihan aksara bahkan menyulamnya menjadi beribu-ribu kalimat bermakna.

Kebanyakan dari mereka, memberiku penilaian yang salah. Anggap mereka, aku lincah dalam ruang lingkup kepenulisan. Omong kosong. Bagaimana mungkin? Aku bukan Ayu Utami, yang mampu merintis cerpen yang menawan. Bukan Andrea Hirata, yang memajut lembar-lembar novel yang menggugah minat baca pembacanya. Jua, bukan pula Sapardi Joko Damono yang mampu menyusun larik-larik puisi yang memukau penikmatnya.
Aku bukan mereka!
Bukan.
Lantas, apa yang harus kuseratkan di lembar kertas ini?

Kuteguk secangkir kopi yang hampir dingin ini. Kupejamkan mataku. Dan, seakan mengikuti semilir angin malam yang menggairahkanku. Kubayangkan raut wajahnya yang tidak terlalu tampan itu. Dengan gesitnya jemariku melukis senyum manisnya, menggambarkan canda tawanya. Bahkan sampai-sampai kuabadikan lontaran lelucon melayu; saat kita masih bersama.
Puing-puing kenangan itu berhamburan, rindu mulai rucah diantara jarak yang berkepanjangan.
Bagaimana aku lupa?

Kedai kopi itu seakan menaburkan rindu, tepatnya 4 tahun silam. Dimana merekka yang masih bersama. Menikmati asyiknya berbincang bertukar kepala mendiskusikan perbedaan bahasa, seni, dan kultur budaya kenegaraan kita masing-masing. Mereka belajar memahami dan menghargai keberaneragaman agama, adat istiadat, bahasa daerah, kesenian daerah, serta kebudayaan di antara negara mereka masing-masing; Malaysia dan Indonesia.

Mendadak imajinasiku buyar, kala si Manis; kucing kesayanganku masuk ke kamarku tanpa permisi. Kuperhatikan gerik langkahnya dan aungan suaranya, ternyata ia lapar. Hmm kulepaskan pena dari genggaman tanganku, beranjak dari kursi. Dan, kutuangkan makanan kucing untuk si Manis.

Lalu, sesudahnya kulanjutkan lagi epidose imajinasi lamunanku. Kuingat lagi, selembar kisah kita bersama si Manis. Bibirku tersenyum tipis, waktu itu kita sedang menikmati senyap senja bersama secangkir kopi. Bukan itu saja, kutenggok kau sedang memperhatikan si Manis bermain di halaman rumah tetangga. Sesaat itu, si Manis sedang buang hajat di pasir.

“Hii, tai tai tai. Kau punya kucing tai ka sembang tempatlah. Mana boleh macem tu? Kotorlah”, ucapmu dengan logat bahasamu.
Tawaku dan tawa adikku pecah mendenggar ucapan itu. Entah, mendenggar bahasa dan logat berbicaranya saja cukup membuatku tertawa, mungkin karena cukup asing bagiku untuk mendengar dan berinteraksi menggunakan bahasanya. Apalagi adikku, yang masih berumur 4 tahun. Dan, kebiasaannya suka melihat film kartun Upin & Ipin. Ya Abiel suka menirukan logat bahasa semua tokoh yang berperan dalam film kartun Upin & Ipin. Bahkan, ia memberikan nama kepadanya dengan sebutan mas Upin & Ipin. Tawaku hisretis kala menginggat kejadian-kejadian lucu itu.

Jarak
Karya : Orang yang merindu

Dalam desir sunyi sepertiga terakhir
Angin menerjang dedaunan, dinginnya mencengkram
Mengeja yang kian meradang

Aku pun bersimpuh, limpuh diatas sajadah
Bersujud terkatup bisu, kelu
Apa yang terjadi?
Derai air mata seakan berbicara, mewakilkan rasa
Lagi-lagi perihal seutas kerinduan, yang kembali menyapa

Di atas sajadah lusuh, kulabuhkan segenggam cinta
Untuknya yang beradu jarak
Terlerai bilah waktu, terbentur ruang panjang
Terhimpit pula oleh lembah bak samudra, berbingkai ruang khatulistiwa

Kini, sejenak ribuan doa menyeru namamu
Membisik bumi, tersiar mengangkasa
Sekedar penepis gejolak kerinduan yang ada

Akan ada saatnya, waktu berbicara
Sehabis sujudku, sediam doaku
Ada jawaban kerinduan di penghujung sana
Semoga, syair doa ini menjadi hiasan kalbu, pelengkap sepi
Di hadapan illahii, tersuratkan namamu dan rinduku

Sesudahnya, perlahan matakku kubuka. Apa yang terjadi? Sungguh, aku terkejut dengan larik-larik puisi yang terserat di lembar kertas itu. Siapa sangka, jemariku mampu merajut rangkaian aksara yang penuh makna. Hatiku terkesima saat membacanya, kupahami setiap makna larik puisi itu dalam kesunyian malam. Ada rindu, ada doa dan ada harapan yang tersirat di dalamnya.

Begitulah jarak, memisahkan kita terlalu jauh. Aku di seberang selatan dan kau di utara perbatansan khatulistiwa ini. Desus angin masuk dari celah jendela, membawa imajinasiku kalut. Kau pernah berjanji untuk kembali walau sekedar menikmati secangkir kopi pekat di perbatasan garis khatulistiwa ini. Namun, rasanya imajinasiku berekspetasi terlalu tinggi.

Saat ini saja, kau tidak bisa menembus perbatasan khatulistiwa ini. Dunia sedang merudung, pintu perbatasan telah diborgol. Bagaimana mungkin, kau menerobosnya? Terlebih tiada kemungkinan kita akan berjumpa. Aku termanggu, merindu. Menunggu tanpa tau kapan harus temu. Apa kabar kekasih?

Seperti perjanjian kita, bahwa kita akan berkomitmen menjaga kesetiaan persahabatan kita, akan jarang berkomunikasi kecuali ada kabar penting. Dan, kita telah menyetujui bersama perjanjian itu. Namun, aku lupa. Ada satu perjanjian yang belum sempat kita buat; tentang arah hubungan kita.

Lima tahun berjalan, kini rinduku benar-benar tak terbendung. Lima tahun sudah terlalu panjang untuk menanyakan kejelasan hubungan ini; sebatas persahabatan, kerabat, atau ingin membangun sebuah pondasi keluarga.

Kukirim pesan singkat “Assalamualaikum, wr,wb. bagaimana punya kabar? Maaf, aku nak cakap sekejap ya. Boleh? Macam mana lagi hubungan kita punya ini? Lima tahun sudah cukup banyak waktu buat kita orang berfikir sebuah kejelasan dari suatu ikatan? Tertanda, Aku. Kawan seberang khatulistiwa”

Kutunggu balasan pesan singkat itu, tetapi tidak pernah kudengar dari jawaban yang sesunngguhnya. Aku hanya mengelus dada, fikirku mungkin ia lupa jika itu aku.

Kunikmati jingga cakrawala di loteng kampus, tepatnya seusai jam perkuliahan. Aku sendiri menatap langit, merenung akan segala kisah rindu yang sendu dan bermimpi akan pertemuan yang berkepanjangan.
Aku terkejut, tiba-tiba Pak Bilal datang menepuk pundak kananku. “Jangan kau terlalu menyesali waktu dan jangan terlalu memburu rindu untuk segera temu. Kau ingat, Allah swt maha Pendengar, maha Pengasih, dan maha Mengetahui segala sesuatu dimuka bumi ini. Kau tak akan pernah tau atas segala rahasia rencana kehidupan yang akan datang. Jangan kau risaukan akan hal jodoh, nak. Ketahuilah bahwa rezeki, jodoh dan maut itu sudah ditentukan oleh Allah swt. Dan, jika kini kau sedang merindu salah seorang makhluk-Nya mendoalah. Semoga kau dan ia segera bertemu, temu kali ini bukan sekedar temu namun temu dalam hal menunaikan sunah-Nya; membangun dan membina pondasi rumah tangga yang kokoh, sakinah mawadah dan warohmah untuk mencapai surga-Nya”
Begitulah pak Bilal menasehatiku, tanpa aku cerita panjang lebar beliau mengerti apa yang menganjal dalam benakku. Beliau ialah sosok orang yang baik, ramah, pendiam, sabar serta selalu perhatian dengan kondisi psikologi mahasiswanya.

Waktu terus berjalan. Dua bulan sesudahnya, usai perkuliahan tepatnya. Allah swt benar-benar menunjukkan kuasa-Nya, menjawab setiap doa dalam sujud panjangku. Kini rindu telah bertemu. Hafiz benar-benar datang; menerobos perbatasan khatulistiwa. Bukan itu saja, ia membawa keluarganya untuk meminangku.

Sungguh, air mata mengalir deras dari sudut mataku. Rasa bahagia, syukur, haru bukan perihal tangisan duka. Bagaimana tidak? Sebentar lagi akan kusaksikan, ia yang lama kucintai akan segera berjabat tangan dengan ayahku di mimbar suci mengucap janji sehidup semati. Terimakasih ya Robb, kini rindu itu telah seutuhnya menjadi temu yang akan membawaku ke surga-Mu.

Cerpen Karangan: Sega Dwi Ayu Pradista
Blog / Facebook: Sega D.A Pradista

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Khatulistiwa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love in Facebook

Oleh:
Pada suatu malam, awal dimana kita saling mengenal. Aku menuliskan sebuah status, status yang isinya perasaan kesal terhadap abang abangku. Tapi dia tiba tiba komen di statusku dan menghiburku.

Perjuangan Cinta Nita

Oleh:
Ada sepasang kekasih panggil saja Nita gadis keturunan jawa betawi dan Apip pria keturunan jawa asli. Mereka pacaran sejak duduk dibangku SMA. Pada saat Nita lulus SMA orangtuanya mengirimnya

Dalam Ingatanku

Oleh:
Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi dengan karya tulis dan curahan hati anak-anak

Ketika Biru dan Abu Bersatu.

Oleh:
“Tania?!” ucapku kaget saat melihat Kak Algi memberi bunga pada Tania sambil tertawa riang. Aku yang sedang bad mood langsung berpikiran negatif. “Eh? Kayaknya ada barang yang ketinggalan deh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *