Khayalan Si Bungul 4 (Last Chocolatte)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 March 2015

Di sebuah sekolah yang elit dan terkenal, Terlihat seseorang berjalan di lorong-lorong kelas. Dengan memeluk tas dan kacamata besar di pastikan kalau dia itu culun baget. Dia pertama kali ku lihat di sekolah, kemungkinan dia adalah anak baru. Anak itu masuk ke kelas, tanpa berinteraksi oleh satu siswa pun, dia hanya duduk dan diam. Anak-anak yang terbilang nakal di sekolah mencoba membully dia. 2 orang siswa yang memang terkenal dengan kenakalannya. Dono dan jono.
“Hey, Anak culun kamu anak baru ya?” Kata Dono yang menaiki meja anak itu.
Anak itu hanya diam dan menunduk, Lalu dia mengambil buku di tasnya lalu membacanya. Anak itu seakan tidak ingin menghiraukan berandalan yang ada di depannya. Sakti pun geram melihat kelakuan si culun, dia pun mendekati si culun dan meneriakinya di depan telinga anak itu.
“Heh kamu dengar gak? Kamu budek ya?”
Anak itu hanya mengosok-gosok telinganya, Tak ada perlawanan sedikit pun. Anak itu berdiri dan pergi meninggalkan dono dan jono. Mereka berdua semakin kesal dengan ulah anak baru itu dan mengejarnya. Tapi anak itu bersembunyi di samping toilet, membuat kedua preman sekolah itu kebingungan, keduanya pun pergi sambil melewati pagar, kemungkinan mereka membolos sekolah sekalian mencari anak culun yang sudah tenang di tempat persembunyiannya. Aku yang baru menyelesaikan ritualku di toilet melihat anak itu sedang jongkok sambil membaaca buku. Lalu dia melihat dan memberi isyarat kepadaku supaya tidak ribut.

Begitulah awal cerita ini, Anak baru itu bernama Arif Wahyudi. Biasa di sapa arif. Dia adalah murid pindahan dari salah satu sekolah swasta di kota. Dia adalah anak paling pendiam di kelasku. Oh iya aku lupa, aku belum memperkenalkan diri, aku adalah Sandi Ramadan. Aku akan ku ceritakan kisah cintanya yang begitu rumit dan terbilang mencengangkan. Arif adalah orang yang begitu polos, ngirit kata-kata, terus gak mau berbicara dengan orang yang gak dikenalnya. Termasuk guru loh. Wajar saja dia sedikit mempunyai teman. Hanya akulah temannya yang dia punya, dan walaupun terlihat culun, namun dia termasuk berandalan dan aku yakin dia pindah ke sekolah ini karena perkelahian yang di buatnya di sekolah sebelumnya. Maklum saja aku tau semua tentang dirinya, karena dulu dia adalah teman sekolahku sewaktu SD dan kebetulan dia dulu adalah tetanggaku namun saat kelas 3 SMP dia pindah rumah ke tempat lain. Selama aku mengenalnya, aku tak pernah melihat dia tersenyum sekali pun.

Saat kelas 6 SD, Berbeda dengan anak-anak yang lain, yang menghabiskan sore harinya dengan bermain bersama teman-teman sebaya. Arif hanya duduk di depan rumah sambil melihat memikirkan sesuatu. Pikirku mungkin dia sedang memikirkan ibunya, Yang ku dengar dari orang-orang, Ibunya meninggalkan dia saat dia masih bayi dan ayahnya selalu berpergian ke luar kota dan luar negeri, ayahnya pulang hanya untuk memberikan uang untuk keperluan sekolahnya dan dia hanya tinggal berdua dengan seorang pembantunya. Pastinya dia sangat kesepian. Sebagai orang yang prihatin dengan dia. Berkali-kali aku mendatangi namun dia selalu menghidariku. Namun suatu hari aku mendatanginya dan mencoba mengajak dia mengobrol.

“Hai, Namamu siapa?” Tanyaku
Arif hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku.
“Namaku sandi, Namamu?” Tanyaku lagi
“Arif” Akhirnya arif menjawabku dengan suara yang sangat pelan.
Mendengar dia menjawab pertanyaanku, membuat hatiku begitu senang. Mungkin dia juga merasa kesal padaku yang selalu mendatanginya setiap hari. Tapi aku tidak perduli, kuajak lagi dia mengobrol.
“Apa kamu mau jadi temanku?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Teman?” Mendengar kata teman ku lihat arif tampak bingung, mungkin dia orang yang sangat asing mendengar kata teman itu.
“Iya, Teman. Mau kan?” Kataku sambil merangkul bahunya
Arif sedikit terkejut dengan rangkulan dariku, dia pun tertunduk dan membalas pertanyaanku dengan menggumam. Begitu senangnya aku, akhirnya pertamananku di terima. Saat itu kami akrab, aku menggangap dia sebagai sahabat juga dan aku belum tau apa dia juga anggap aku sebagai sahabatnya juga. Tapi aku ya gak perduli. Aku selalu bermain dengannya berdua, meskipun saat bermain pun dia tidak pernah terlihat senang dan hanya sesekali berbicara tapi aku yakin dengan ini mampu mengikis rasa kesepian yang ada di dalam dirinya.

Saat kelas 3 SMP, Kami berada di satu sekolah yang sama. Kami seperti magnet yang tidak mau lepas, dimana ada aku di situlah ada dia. Dan sekarang dia udah punya banyak kemajuan, yang dulu dia hanya ngomong maksimal 3 kata, sekarang bisa lebih. Hahaha. Yah sayangnya ekspresinya tetap saja datar. Tapi aku masih bertanya-tanya dalam hatiku, apakah dia menggangapku teman atau bukan. Masalah nya dia masih saja selalu bersikap dingin denganku. Tapi suatu ketika, Saat aku dan arif sedang ada di kantin. Aku masih berusaha membuat sahabatku itu setidaknya tersenyum.

“Eh, Rif.. Aku punya tebakan? Kalau kamu hebat kalau bisa jawab. Cemilan itu apa?” Kataku
“Aku tidak tahu” Kata arif
“Cemilan itu cecudah celapan cama cecudah cepuluh.. Hahahahaha” Kataku sambil tertawa sekilas melihat apakah ada perubahan dari ekspresi arif dan ternyata tetap flat, walupun dia tertawa.
“Haha” Arif tertawa dengan datarnya
“Irit banget sih ketawamu rif.. Yang agak panjangan dikit dong” Kata ku
“Ha.. Ha.. Ha” Dengan ekspresi yang sama
“Oh tuhan, bagaimana caranya buat kamu itu ketawa. Minimal senyumlah.. Emh.. Gimana kalo kamu aja yang kasih aku tebakan?”
“Tidak”
“Loh kenapa?”
“Pasti garing”
“Aaahh.. Kamu itu pasti lucu, leluconmu pasti bikin ketawa. Ayo rif, Ayo.” Sambil merayu
“Ufo kalau di balik jadi apa?”
“Apa ya aku gak tau.. Apa? Apa?” Kataku penasaran
“Ofu”
“Bener-bener garing” Kataku dalam hati, tapi aku tidak ingin mengecewakan usaha dari arif. Aku pun tertawa terpingkal-pingkal walaupun sedikit memaksa. Lalu seorang siswa datang dan menjambak rambutku.
“Heh.. Bisa diam gak? Aku itu lagi makan tau gak. Ketawamu itu bikin aku jadi malas makan.” Kata seorang siswa yang bernama Andi. Dia terbilang nakal di sekolah.
“Lepasin” Kata Arif dengan suara pelan
“Apa” Kata andi sambil memasang kupingnya di depan arif
“Lepasin temanku, Monyet!” Teriak arif sekaligus mendorong andi sampai andi tersungkur di bawah meja makan.
Aku pun terkejut dengan sikap yang di tunjukan arif, “Arif membelaku?” tanyaku dalam hati.
“Kenapa?” Kataku dengan ketidapercayaanku terhadap apa yang terjadi
“Karena kamu temanku, Bila seorang teman disakiti, Maka teman yang melihatnya pun akan merasakan sakitnya. Kamu satu-satunya temanku. Aku tidak mau ada yang nyakitin kamu” Kata Arif dengan wajah serius
“Ha.. Sok cool” Kataku sambil tersenyum

Andi pun bangkit, dan terjadilah keributan di kantin. Perkelahian pun tak terelakan. Dan arif memenangkan duel itu. Tapi inilah sebab arif pindah rumah. Andi adalah anak dari kepala sekolah, arif pun di keluarkan dari sekolah dan pindah ke sekolah lain, Ayahnya yang tau kejadian itu langsung men-cap aku sebagai pengaruh buruk untuk arif. Ayahnya pun memutuskan untuk pindah rumah agar menjauhkanku dari arif.

Dan saat SMA kami pun bertemu lagi, yah walaupun ekspresi datarnya itu sampai SMA gak berubah, tapi aku yakin bisa merubah beban berat yang ada di pikirannya itu menjadi ringan, dan mengubah mendung di hatinya menjadi cahaya yang indah mengusir kegelapan yang selalu membelenggunya.
Saat aku melihat arif pertama kalinya di sekolahku, aku benar-benar terkejut. Tapi jujur saja aku senang, karena aku bertemu dengan sahabat lamaku.

“Kamu ngapain disini rif?”
“Aku sekarang pindah ke sekolah ini”
“Dasar, Ekspresimu gak ada perubahan sama sekali, hahaha. Eh tapi, kenapa kamu sembunyi di samping toilet gini?” Tanyaku yang agak heran
“Aku pengen ngasap” Arif mengeluarkan sebatang rok*k dan koreknya
“Eh.. Jangan disini.. Di dalam toilet aja sana? Ntar aku jagain..” Kataku sambil menarik tangan si arif dan menyuruhnya masuk ke dalam toilet.
“Kamu tidak ikut?”
“Oke deh” Aku pun masuk ke dalam toilet.
“Kok kamu pindah sekolah disini rif?” Tanyaku
“Aku melihat kamu masuk sekolah disini seminggu yang lalu, Maka dari itulah aku pindah sekolah” Kata arif dengan datarnya sambil buang air kecil
“Kok gitu?” Tanyaku yang bingung
“Karena kamu temanku, Itu saja” Kata arif
Aku tersenyum mendengar kata-kata arif barusan, ruangan toilet pun mulai pengap, tak tahan dengan asap yang mengepul, arif ingin membuka pintu toilet. Tak sengaja aku menjatuhkan korek arif lalu aku jongkok di depan arif. Tak diduga saat membuka pintu ada cowok yang melihat kami. Dan sialnya arif lupa menutup resletingnya. Dan tepat di depan resletingnya ada wajahku. Sontak cowok yang melihat kami merasa shock. Aku pun mengelak dengan kata cowok yang melihat kami itu yang mengatakan kami itu h*mo. Aku dan arif pun kabur dari toilet itu.

Setelah 3 bulan bersekolah, Aku mengajak arif dengan kegiatanku di luar sepulang sekolah. Yang pertama aku mengajaknya makan es kajang ijo di samping sekolah. Memang setiap kali pulang sekolah, aku selalu nongkrong di sini. Ngadem sekalian menunggu matahari meredam amarahnya terhadap bumi. Cieh, bahasaku. Aku dan bernostalgia dengan arif, Aku bercerita panjang lebar tentang kesenangan di masa lalu. Karena kami sudah menginjak remaja, maka aku bertanya dengan dia tentang hal umum yang sering dialami para remaja, Cinta-cintaan.
“Eh rif, Kamu udah punya pacar belum?”
“Pacar?”
“Iya, Pacar. Kayak pasangan gitu”
“Pasangan?”
“Rif kamu itu dari planet apa sih? Masa pacar aja gak tau.. Purba banget”
“Aku tidak tau apa-apa”
“Pernah jatuh cinta?”
“Jatuh cinta?”
“Iya, Jatuh cinta, Sesuatu yang membuat kamu fokus pada satu titik dan seakan berada di surga”
“Oh. Tidak pernah”
“Hadeh. Susah banget nanya sama kamu itu, Oia. Malam nanti jalan yok?”
“Kemana?”
“Udah kamu ngikut aja, Lama kita gak jalan bareng. Ntar ngumpul disini aja. Oke.”
“Iya”

Malam pun tiba, Aku dan arif pun berjalan ke sebuah rumah di pinggiran kota. Kebetulan ada temanku yang lagi manggung di sana. Namanya Rizky fitriani, Panggilannya kiki. Dia satu sekolah denganku, tapi beda kelas, Dia kelas 3 IPA 1 dan aku IPS 1. Kami akrab karena dulunya saat kelas 1 kami satu kelas dan duduk bersebelahan. Walaupun beda kelas, kami selalu bersama di sekolah, kadang jalan bareng. Setiap bertemu dengannya aku selalu memberikannya coklat. Kiki suka banget dengat coklat, Pernah sekali aku tidak membawakannya coklat, kiki menjadi merajuk. Aku menghampiri kiki yang sedang duduk sambil mencari lirik lagu dengan tabnya. Aku menutup mata kiki dari belakang.
“Dari baunya, Pasti uyus kan” Kata kiki
“Kejamnya eh, kok dari baunya sih” Kataku melepas tanganku dari mata kiki. Kiki berbalik lalu tertawa.
“Iya, abisnya baumu itu aneh sih. Udah mandi belon?”
“Udah lah”
“Pasti sendirian, Dasar jomblo”
“Gak kok, Aku bawa temanku. Tuh dia di situ” Aku menunjuk arif yang bersender di tembok sambil mengisap r*kok.
“Oh, Sekarang homo”
“Sembarangan, Ku kasih bulu ketekku baru tau rasa”
“Hahaha. Becanda. Oia, Mana coklatku?”
“Gak bawa”
“Ih, Kok gitu, oke fine, kita musuh”
“Hahaha, becanda doang, nih” Mengeluarkan coklat dari kantong baju.
Saat kiki hendak mengambil coklatnya aku menarik kembali coklat itu.Kiki sedikit ngambek. Aku pun tertawa lalu memberikan coklat itu kepada kiki. Aku memanggil arif yang sedang asyik melamun untuk duduk bersama untuk melihat penampilan kiki. Suara merdu dari membuat tepuk tangan penonton begitu kencang terdengar. Saat aku memalingkan perhatianku tehadap kiki, aku melihat arif tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat arif tersenyum. Sungguh pemandangan yang langka dari arif. Dan aku yakin banget kalau arif jatuh cinta dengan kiki.
“Cieee, senyum.. Jatuh cinta nih ye?”
“Tidak”
“Aaaahh gak usah bo’ong tadi itu kamu senyum tuh ngeliat si kiki nyanyi, ngomong aja deh, jangan di sembunyiin. Kalau kamu suka sama dia ngomong sama aku, ntar ku comblangin deh”
“Tidak”
“Hadeh, ya udah deh kalau gitu”

Waktu telah menunjukan jam 11 malam, aku masih mendengarkan suara merdu dari kiki. Tak lama kemudian aku mendapat sms dari ibuku, biasalah seorang ibu, pasti khawatir kalau terjadi apa-apa sama anaknya. Jadi aku disuruh pulang dengan ibu ku. Aku pun pamit kepada kiki yang masih ada di atas panggung. Kiki tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku sudah membulatkan tekadku, aku berniat untuk menjodohkan arif dengan kiki, Karena aku yakin, senyum itu bukanlah sebuah kebetulan, arif pasti jatuh cinta kepada kiki, karena yang ku tau, cinta dapat mengusir setiap kesedihan di masa lalu.

Keesokan harinya arif mengajakku ke rumahnya, Layaknya dulu kami bermain Playstation bersama. Namun saat itu ayah arif sedang ada di rumah, Saat ayahnya melihatku, ayahnya pun langsung mengusirku.
“Sedang apa kamu disini, Pulang, Jangan dekati anakku! Kamu itu pengaruh buruk bagi dirinya” Kata ayahnya arif. Ayah arif pun menarik tubuhku dengan penuh emosi, namun arif menghalangi dan menahan tubuh ayahnya dengan tangan kanannya. Ayah arif terkejut melihat anaknya berbuat seperti itu. Ayahnya melepaskan cengkramannya dari tubuhku.
“Kenapa kamu membelanya anakku, Dia itu yang bikin kamu nakal, Sebaiknya kamu menjauh darinya dan bermain lah dengan anak yang lebih baik” Kata ayah arif
“Tidak” Kata arif dengan nada pelan sambil menundukan kepala
“Kenapa anakku? Kenapa kau melawanku? Padahal ayah sudah memberikan semua yang kamu mau” Kata ayahnya arif sambil mengelus kepala arif
“Tidak, Ayah tidak pernah memberikan apa-apa” Arif mengelak tangan ayahnya
“Apa yang tidak pernah ayah berikan anakku?”
Arif mengangkat kepalanya dan berkata dengan sorot mata yang tajam kepada ayahnya.
“Waktu”
Arif pun menarik lenganku, dan mengajakku ke kamarnya. Arif mengabaikan ayahnya yang memanggil-manggil namanya. Di dalam kamar arif, yang terdengar hanya keheningan. Tak ada satu pun yang keluar dari mulut arif maupun diriku. Aku hanya duduk melihat arif dengan wajah emosi melihat keluar jendelanya. Tak diduga arif berkata
“San, Apakah cinta mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan?”
Aku sedikit terkejut dengan perkataan arif, Aku hanya mengatakan “iya” kepadanya.
“Kalau begitu ajari aku untuk mendapatkan cinta itu, Aku ingin menghilangkan kesedihan ini”
“ya”

Arif sepertinya harus diajari mengenai cara-cara mendekati cewek dari awal sekali. Maklum saja dia itu kayak manusia primitif yang baru pertama kali ke kota. Dengan sabar aku mengajari arif dngan segala kemampuan yang aku punya. Dengan setelan tentara aku mengajari arif tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan cinta.

“Oke.. Kita mulai dengan pelajaran untuk mendapakan cewk.. Yang pertama adalah perkenalan. Ini adalah yang urgent, Jika ini gagal, Semua akan berakhir sebelum di mulai.. Jadi saat berkenalan sama cewek usahakan jangan gugup, santai aja tapi pasti.. Oke.. Kita coba dulu ya.. Anggap aja aku kiki.. percobaan pertama… 1.. 2.. 3..”
“Aku harus mengatakan apa?”
“Katakan Hay terus kamu bilang kembangkan sendiri.. Ayok percobaan kedua.. 1.. 2.. 3. ”
“Hay terus kamu bilang kembangkan sendiri” Kata arif mengikuti omonganku
“Jangan ulangi kata-kataku”
“Jangan ulangi kata-kataku” Arif mengikuti omonganku lagi

Untuk mempersingkat waktu mari kita lihat PERCOBAAN KE 27
“Anu jangan ikut-ikutan aku dong” kataku kelelahan
“Anu jangan ikut-ikutan aku dong” Kata arif yang masih mengikuti
“Aaaaggkkkhhh” Sambil memegang kepala
Aku memalingkan pandanganku, Lalu dalam hati aku berkata “Kalo gini terus bisa-bisa bunuh diri aku, Kuatkan mentalmu san, kamu pasti bisa” Aku pun melihat kembali si arif, namun yang ku lihat bukannya arif, tapi robot. Aku langsung kaget melihat itu, Ku usut-usut mataku. Tapi bukannya berubah jadi normal, Arif malah berubah menjadi manusia purba. Aku menepuk pipiku agar menyadarkan dari khayalanku.

“Sandi, Kita masih latihan kan?” Tanya arif sekaligus menyadarkanku dari khayalan ku yang terlalu berlebihan.
“Masih.. Masih.. Ayo kita lanjut lagi.. Eee.. Sampai mana kita tadi?” Tanyaku yang seketika lupa
“Sampai jangan ulangi kata-kataku”
“Oia.. hha.. Oke gini rif.. Katakan aja Hay, boleh kenalan gak? Namaku arif, Namamu siapa?. Gitu ya, Sip.. Oke di coba ya.. Percobaan ke 4”
“Ke 28” potong arif
“Oia lupa, Oke percobaan ke 28, 1.. 2.. 3”
“Hay, boleh kenalan gak? Namaku arif, Namamu siapa?” Dengan ekspresi datar
“Aduh ekspresimu rif, ubah bisa gak. Setidaknya sambil senyumlah atau cool itu udah, Oia hampir lupa kamu juga harus natap mata cewek dalam-dalam biar terlihat perkenalan ini bukan untuk menjadi sekedar teman. Oke. Ngerti?”
“Ngerti”
“Coba lagi yok, Percobaan ke 29, 1.. 2.. 3”
Arif dengan cepat memasang wajahnya di depan wajahku, jaraknya hanya 10 cm dari wajahku. Lalu dia mengatakan kata-kata yang ku ajari dengan senyum yang agak memaksa.
“Oke.. Sedikit menjijikkan, tapi bagusnya gak usah ketemu langsung, kenalan lewat smsm aja.. ni nomornya kiki. Sms sekarang gih klo gak telpon, Oia jangan bilang kalo kamu dapat nomor dari aku.”

Arif memilih untuk menelpon, Dan untungnya kiki mengangkat telponnya. Ku isyaratkan arif untuk loudspeaker hapenya supaya aku bisa mendengarnya juga.
Kiki: Hallo
Arif: Ha..llo (gugup)
Kiki: Ini siapa?
Arif: A..ku A..rif.
Melihat kegugupan arif, aku mengisyaratkan sesuatau pada arif, tapi arif kebingungan, aku pun mengabil kertas lalu menuliskan apa yang harus di ucapkan.
Arif: Ini siapa?
Kiki: Aku kiki, dapat nomorku dari siapa?
Aku menulis lagi, dan menunjukan ke arif.
Arif: Aku asal pencet aja tadi, gak taunya nyambung
Kiki: Oh gitu
Aku mengangukkan kepalaku seakan percaya dengan arif, aku pun menulis lagi dan meninggalkan kata-kata itu di samping arif, sambil aku mengambil air minum yang ku taruh di atas meja. Sangking yakinnya aku dengan arif aku memasang headset untuk mendengarkan lagu.
Arif: Kamu sekolah dimana?
Kiki: SMA 1, Kamu?
Arif: Aku di SMA 1
Kiki: Loh sama dong.. Kamu kelas berapa?
Arif: Aku IPS 1
Kiki: Oh jadi kamu kenal sama sandi dong?
Arif: Iya, Dia temanku.
Kiki: Jadi kamu dapat nomorku dari sandi?
Arif: Iya
Kiki: Mana sandinya?
Arif: Sandinya di sebelahku
Arif memanggilku dan menyerahkan hapenya kepadaku. Aku yang gak tau apa-apa menjawab telpon itu.
Sandi: Halo (dengan nada santai)
Kiki: Uyus. Kamu kok nyebarin nomorku ke orang
Aku yang kaget langsung reflek menutup telponnya, aku jadi panik banget, aku mengirim sms kepada kiki.
Sandi: Eh maaf, Abisnya temanku itu pengen banget kenal sama kamu
Selang berapa menit setelah ku kirim sms itu, kiki pun membalas smsku
Kiki: Oke aku maafin, tapi sebagai gantinya, kamu harus belikan aku coklat.. oke..
Yah begitulah akhir dari perkenalan arif dan kiki, Bener-bener di luar dugaan. Misi perkenalan gagal.

Oke.., kita lanjut ke tahap selanjutnya yaitu penampilan, Penampilan ini juga penting, soalnya yang dilihat cewek dari kita itu penampilan luar. Kebanyakan cewek suka orang yang rapi. Oke sekarang saatnya make over!!”

Aku membawa arif ke salon di dekat rumahku. Salon itu adalah salon langganan keluargaku, tapi yang buat gak betah itu Cuma tukang cukurnya itu loh. Lelaki botak berbadan kekar, tegap, dan perkasa. Tapi kalau sudah ketemu cowk langsung deh ngondeknya maksimal.
“Eh, Sandi.. Mau potong rambut ya? Potong rambut yang di atas atau yang di bawah? Hahahaha..” Katanya sambil ngupil
“Hahaha.. Bukan, Ini temenku mau make over nih, Bisa kan mas?” Kata yang sedikit jijik
“Eh kok mas sih, panggil aja abi”
“bisa kan abi?” kataku sedikit maksa

Lelaki itu melihat arif yang gaya busananya kayak orang tahun 70an dengan detail, dari bawah sampai ke atas “Ah.. itu masalah gampang, serahin aja ma abi.. abi bakal sulap nih cowok, ayuk cus”

Lelaki itu menarik tangan arif dan menuju ke ruangan tertutup, Dengan tertawa ala penjahat lelaki itu menutup pintu ruangannya. Suara-suara aneh pun terdengar, ada suara gergaji mesin, ada suara palu, ada suara bom, dan juga suara jeritan-jeritan.

30 menit berlalu Arif pun keluar mengeluarkan cahaya yang begitu menyilaukan, Arif benar-benar berubah drastis. Dia terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Aku pun langsung mengirim sms kepada kiki untuk menungguku besok pagi di depan kelasku.

Keesokan harinya aku dan arif berjalan berbarengan ke sekolah, Wanita-wanita yang melihat arif semua pada pingsan, dari ibu-ibu, Anak-anak SD, sampai Om-om juga terpesona dengan penampilan arif yang baru. Saat masuk ke sekolah mata semua orang tertuju pada arif. Yang melihat pada shock, sekali arif berkedip 500 siswa semua pada pingsan. Begitu luar biasanya arif saat itu, benar-benar perubahan 360 Persen dari yang sebelumnya. Rambut klimis, Cara berpakaian rapi, Dan dia lepas kacamata. Persis kayak artis deh.

Berharap kiki melihat perubahan drastis dari arif, ternyata dia gak masuk sekolah karena sakit. Dan rencan membuat kejutan hari gatot alias gagal total. Tapi selang berapa hari, Kami pun menjalankan misi yang diberi nama “I) 4p3t1I/I I-I4t! 1< !1

Cerpen Khayalan Si Bungul 4 (Last Chocolatte) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cita Citaku

Oleh:
Menjadi penulis yang hebat. Itulah cita-cita yang selalu kuharapkan. Aku membayangkan bagaimana serunya berbagi ilmu kepada orang banyak melalui tulisan. Rasanya tak akan mungkin cita-cita itu bisa tercapai jika

Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja

Oleh:
“dor dor dor dor”, terdengar suara gedoran pintu kamarku. “qo, cepetan bangun udah jam 6” teriak kakakku, Zahra. “iya kak” teriak ku pada Zahra. Aku bangun, dan bersiap untuk

Kenangan Hujan

Oleh:
Dahlia terpaku menatap hujan di luar jendela sore itu. Begitu deras. Anak-anak bermain dengan riang di sela-sela air hujan, menyenangkan. Ketika hujan meninggalkan genangan, maka masa kecilnya meninggalkan kenangan.

Bersatunya Hati Yang Patah

Oleh:
Semula semua baik-baik saja. Kebahagiaan menjadi hal utama dalam kehidupan mereka. Kasih sayang menjadi perekat dalam istana mereka. Menghabiskan waktu di rumah tanpa sedikit pun rasa bosan. Terlukis dengan

Izinkan Aku Berbuat Sesuatu Untukmu

Oleh:
Aku ingin bertemu denganmu, Gara Suasana malam minggu begitu gaduh di terminal. Hiruk pikuk pedagang asongan menambah suasana makin semrawut. Ah itu lumrah namanya juga terminal. Lain dengan kuburan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Khayalan Si Bungul 4 (Last Chocolatte)”

  1. melody says:

    karakter sandy mengigat kn ku pada seseorang

  2. vanny says:

    Dr sekian banyak cerpen, aku suka yang satu ini. Tapi sayangnya ceritanya ko’ gantung yah. Ga jelas endingnya, syg banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *