Khayalan Si Bungul 5 (Two Finger)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 31 December 2015

Namaku Nur Ubay, Bisa dipanggil Ubay, Bisa dipanggil Ponge, Bisa dipanggil Jimmy, dan juga bisa dipanggil Bang Bossun. Umurku 23. Aku seorang mahasiswa dan aku mencoba terjun ke dunia menulis, lebih tepatnya menulis cerpen. Cerpen andalanku adalan khayalan si bungul. Kenapa ku beri judul khayalan si bungul? Aku pun juga gak tahu kenapa bisa judulnya seperti itu. Khayalan Si Bungul sudah sampai jilid 4 dan ini adalah jilid kelima.

Malam ini aku sedang menunggu temanku untuk memperlihatkan cerpen terbaruku. Di sebuah angkringan kecil di pinggiran kota. Aku menunggu sambil meminum segelas kopi joss dan sate ati. Tak butuh lama aku menunggu dia, lima belas menit setelah aku duduk di angkringan dia pun datang. Namanya adalah Reza, sepasang kacamata bertubuh manusia. Manusia gaib yang timbul dari alam baka, telihat jelas dengan kulitnya yang hitam. Jreng. Jreng. High five, smile, And To The Point. Alias kompak, tersenyum, dan langsung pada intinya. Cara ampuh untuk menghilangkan sindiran terlambat bagi yang sudah menunggu lama.

“Mana cerpennya? Sini ku lihat,” Reza melihat cerpenku. “Weih. Khayalan Si Bungul 5 Two Finger alias 2 jari, mantap nih kayaknya. Eh tapi kamu pernah buat status judulnya The Game And FlashBack?”
“Itu biar yang baca penasaran aja. Tipu-tipu sedikit gak apa-apa kan? Cerpennya ada tapi belum jadi. Mungkin yang keenam.”
“Oh gitu. Oke deh aku baca cerpennya.”

Dan Inilah Yang Isi Cerpennya.

Pertama-tama saya sebagai penulis mohon maaf bila cerpen saya jelek, karena saya hanyalah penulis cerpen yang rada-rada sedeng dan gak tahu bagaimana menulis cerpen yang baik dan benar. Mari kita mulai cerita ini. Kisah asmara itu bagaikan pelangi. Banyak warna yang disajikan dalam satu bentuk garis panjang. Dan itu adalah ibarat yang aku buat sembarangan. Tapi yang pasti, aku adalah orang yang belum pernah melihat pelangi tersebut, karena aku belum pernah pacaran satu kali pun, itu di karenakan aku belum pernah berpikir tentang yang namanya pacaran ataupun dekat dengan yang namanya cewek.

Namun temanku si Ridho selalu mendesakku untuk mencari pacar, katanya sih biar gak dicap sebagai jomblo seumur hidup. Dan aku selalu menjawab gampang aja itu. Tapi Ridho gak pantang menyerah, Ridho selalu memperlihatkan foto cewek di depanku tapi aku gak pernah menanggapinya. Sampai Ridho pernah bilang aku penyuka sesama jenis, aku cuek dengan kata-kata itu. Aku hanya berpikir bahwa kuliah dan cerpen yang paling utama untuk saat ini, dan pinggirkan yang namanya cinta.

Ah sampai lupa untuk memperkenalkan diri, namaku Aditya Saputra Dan Patnerku adalah Ridho Hendrawan. Aku adalah penulis cerpen amatir yang selalu mengambil referensi dari film dan bukan dari kehidupan nyata. Kenapa? Karena aku gak punya pengalaman cinta satu kali pun. Namun suatu ketika Ridho geram dengan kecuekanku terhadap cinta, Ridho pun mengajakku yang sedang asyik membaca buku di taman kampus untuk pergi ke kantin. Ridho dengan serius menatapku. Tapi aku tetap cuek dan meneruskan bacaanku. Tiba-tiba Ridho menghentakkan meja.

“Dit. Aku akan carikan pacar untukmu sekarang.”
“Sudah ku bilang kan itu gampang aja.”
“Gampang apanya? Emang kamu bisa nyari pacar.”
“Ya. Gak tahu. Lihat aja nanti.”
“Nanti? Nanti itu kapan? Umur 30? Umur 40?”
“Ya gak sampai segitunya kali.”
“Nah kan. Ya udah mulai sekarang kamu harus cari pacar sekarang.”
“Kenapa harus sekarang?”
“Ya kalau gak sekarang kapan lagi. Kamu harus punya pengalaman dengan yang namanya pacaran.”
“Emang harus ya?”
“Harus!”

“Why?”
“Emm. Because… Because…”
“Haaahh. Udah deh do. Cinta itu bakal datang sendiri. Semua sudah ada yang atur.”
“Please nah dit. Kali ini aja dengerin aku. Aku sudah mempersiapkan seribu rencana supaya kamu dapat pacar.”
“Hmm. Oke dah. Terserah. Tapi kalau gak berhasil kamu harus traktir aku makan selama seminggu, 3 kali sehari.”
“Siap bos.”

“Berapa hari kamu bisa bikin aku punya pacar?”
“1 minggu. Itu pasti.”
“Oke. Kapan rencana itu dilaksanakan?”
“Besok pagi. Di Taman kota.”
“Oke dah besok pagi ya.”

Pembicaraan kami pun berakhir. Kami pun bertemu kembali saat fajar tiba, Jam 6.30 kami sudah berada di taman kota. Aku yang semalaman membuat cerpen sedikit malas-malasan sampai-sampai aku ingin tidur di aspal trek jogging yang ada di taman kota. Ridho pun memukulku dengan segulung karton lalu mengajakku untuk meminum kopi sejenak. Aku masih belum tahu apa yang direncanakan Ridho, tapi aku juga malas bertanya.

Taman kota yang tadinya sepi perlahan menjadi ramai seiring matahari mulai menunjukkan wujud aslinya. Ridho pun berdiri lalu membuka gulungan karton yang dibawanya. Karton itu diberikan kepadaku lalu Ridho memberi kode kepadaku untuk meninggalkan warung kopi dan menyuruhku berdiri di pinggir trek jogging. Aku yang sedikit ngantuk dan masih belum sadar apa yang direncanakan Ridho jadi aku hanya mengikuti perintah Ridho.

Lalu Ridho mengisyaratkan untuk membuka gulungan karton dan membentangkannya di dada. Ridho memberikan jempol ke arahku tapi belum sampai 5 menit berlalu aku mulai curiga, masalahnya aku seperti menjadi pusat perhatian orang-orang, kebanyakan orang-orang tertawa saat melihatku. Aku yang penasaran pun membalikkan karton yang diberikan Ridho. “Aku jomblo, Yang Berminat Telepon ke 200879xxx.” begitulah tulisan yang ada di karton. Mataku yang tadinya sayu langsung menjadi melek. Aku pun mengejar Ridho yang sudah kabur saat aku menatapnya dengan tatapan marah.

Keesokan harinya, Malam hari di sebuah cafe.
“Gimana sudah ada yang nelepon?”
“Matamu! Yang ada aku malu berat tahu gak.”
“Tapi itu cara ampuh loh.”
“Ampuh apanya? Hah. Aku gak mau lagi ikutin rencanamu.”
“Eh, Jangan. Aku masih 999 rencana lagi loh.”
“Stop. Aku gak mau lagi, lupakan masalah pacar. Baiknya aku ngirim cerpenku mumpung ada wifi di sini.”

Aku mengambil laptopku di atas, kemudian aku pun mengedit sedikit cerpenku sebelum ku kirim. Pada saat hendak dikirim Ridho mengambil laptopku, lalu membaca cerpenku.
“Wah. Bagus cerpenmu dit. Padahal gak punya pengalaman cinta, tapi bisa bikin cerpen tentang cinta. Hebat. Hebat.”
“Iyalah. Aku ngambil referensi dari ftv, k-drama, dorama, anime, dan lain-lain.”
“Weih, kalau bagus gini penggemarmu pasti banyak ya kan?”
“Gak. Aku gak punya penggemar.”

Di kepala langsung muncul lampu, dengan cepat Ridho mengotak-atik laptopku.
“Heh. Ngapain kamu do?” Sambil mengambil kembali laptop, dan ternyata cerpenku sudah dikirim.
“Aku cuma ngirim cerpenmu aja kok.” lalu Ridho bersiul.
“Ku kira ngapain, Thanks ya.”
“Sama-sama bos. Oia, kapan cerpen itu terbit?”
“Mungkin 3 hari atau 4 hari.”
“Oke. Pas banget.”
“Apanya yang pas?”
“Gak apa-apa. Lupakan. Hahaha.”

3 hari berlalu saat aku mengirim cerpen itu, Ridho gak lagi membahas tentang pacaran. Tapi selama 3 hari itu Ridho tampak mencurigakan. Dia terus mengatakan bersiaplah, aku gak tahu maksudnya dan aku juga malas menanggapinya. Dan saat hari keempat, aku sangat terkejut saat handphone-ku bergetar berkali-kali. Masalahnya handphone-ku itu cuma hiasan aja, dan cuma menunjukkan kalau aku punya smartphone walaupun kontaknya cuma ada nama Ridho dan rumah dan kegunaannya hanya main game. Aku pun membuka pesan itu.

997xxx, “Apakah ini bener penulis cerpen Last Chocolatte?

Aku langsung terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dia tahu nomorku? Kenapa dia tahu dengan cerpenku? Aku pun bertanya kepada pengirim sms itu dari mana dia mendapatkan nomor hp dan pin bbm, lalu dia menjawab dia mendapatkannya dari cerpen milikku. Tanpa pikir panjang aku pun membuka situs tempat di mana aku mengirim cerpen, dan judul cerpenku berada di list cerpen terbaru. Aku membuka cerpen yang ku kirim untuk memastikan bahwa aku tidak memasukkan contact person-ku ke dalam cerpen. Dan betapa syoknya saat aku melihat bahwa ada nomor teleponku ada di akhir cerita cerpenku. Aku pun mencoba mengingat apakah aku pernah memasukkan nomorku atau tidak. Tiba-tiba Ridho datang memegang pundakku.

“Gimana? Sukses kan? Banyak cewek yang dekatin kan?” Kata Ridho sambil memaikan alisnya.
Aku hanya bisa mendesah dan mengeleng-gelengkan kepala, ku kira Ridho sudah menyerah untuk mencarikan aku pacar, tapi ternyata nggak. Dia malah menyebarkan CP-ku lewat cerpen yang ku kirim. Aku pun mengabaikan sms yang masuk dan memasukkan kembali handphone-ku ke dalam saku celana.

“Loh kok dimasukin lagi, balas dong sms dari fans.”
“Gak ada pulsa aku.”
“Jiah. Di BBM gimana? Ada yang invite?”
Aku mengeluarkan kembali Hp-ku lalu membuka BBM. Dan ternyata ada 1 permintaan teman.
“Ada 1, emm. Namanya Wulan.”
“terima dong, terima.” Aku pun menerima pertemanan itu, lalu kembali memasukkan Hp-ku.

“Eh. Kok dimasukkan lagi?”
“Males. Aku do.”
“Eh. kenapa?”
“Aku gak pernah sms atau bbm-an sama cewek sebelumnya.”
“Tes dulu dong, mumpung kamu yang ada cuma paket BBM doang. Kamu kenalan deh sama si ulan, ulan itu.”
“Iya deh. Aku cobain nanti malam.”

Malam akhirnya tiba. Aku benar-benar ragu untuk memulai obrolan dengan Wulan. Beberapa kali aku membuka dan mengunci handphone karena galau bagaimana cara memulainya. Aku pun mengambil napas panjang lalu membuka aplikasi BBM. Mudah sekali mencari kontak dari Wulan karena di kontak BBM-ku cuma ada kontak Ridho dan Wulan. Ku buka profilnya Wulan, Dan ku lihat statusnya dengan menggunakan bahasa jepang dia menuliskan yang artinya selamat tidur. Aku yang suka dengan anime jepang tertarik dengan statusnya, dan sempat berpikir untuk bicara tentang anime. Tanganku seperti bergerak sendiri, aku mengetik kata-kata yang sebelumnya belum pernah ku ucapkan.

“Iya maaf. Anda siapa ya? Nama saya Adit.”

Begitu ku kirim pesan itu, aku langsung panik, apa yang sudah ku lakukan? Kataku dalam hati. Ku singkirkan Hp-ku agak jauh dari jangkauan tanganku. Tapi selang berapa lama nada BBM-ku berbunyi, entah apa yang terjadi, tubuh seperti bergerak sendiri. Membuka BBM yang masuk itu.
“Bisa membaca kan? Yang pasti nama saya bukan bang bossun.” Jiaaaahhh. Aku mengambil langkah awal yang salah. Kenapa aku begitu bodoh menanyakan namanya padahal jelas-jelas nama lengkapnya sudah terlihat jelas, Aduh. Belum lagi nama ID-ku diambil dari nama tokoh anime lagi. Jadi disindirkan. Haduh. Bego. Bego. Begitu kataku dalam hati. Aku menjadi bingung menjawab apa, jadi aku menjawab seadanya.

“Oia. Mohon maaf. Salam kenal mbak Wulan.”
“Apa? Mbak? Setua itu? Saya baru 18 tahun.”
Agggkkkhh. Aku membuat kesalahan lagi, tuh kan bener, aku paling gak bisa kalau bicara sama lawan jenis. Aku gak punya pengalaman. Tuh kan marah orangnya. Aduh gimana ini? Oia minta maaf. Minta maaf dan katakan yang sejujurnya.
“Oia? Jadi Wulan aja ya. Maaf saya suka bingung sendiri kalau kenalan sama orang.”
“Kelihatan sih.”

Dan pembicaraan pun berlanjut. Entah kenapa aku mulai terbiasa dengan Wulan padahal baru saja berkenalan. Setelah bertanya-tanya ternyata dia adalah penulis sama sepertiku. Lalu dia menanyakan masalah tahun kelahiran. Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku menulis kan tahun 92 padahal aku lahir tahun 91. Mungkin supaya jarak gak terlalu jauh dengan dia yang kelahirannya tahun 96. Setelah berbicara dengan Wulan aku mendapatkan ide untuk memasukkan obrolan aku dengan di ke dalam sebuah cerpen.

“Oke. Terima kasih. Obrolan ini aku masukkan ke cerpenku. Maaf ganggu waktunya.”
“Oh tidak bisa.”
“Loh kenapa gak boleh. Ini bagus loh. Obrolan cowok yang kaku dengan selera humor yang jelek sama cewek yang baru dikenalnya.” Bukannya cerpen tapi kenyataan.
“Sekali gak tetap gak.”
“Tapi udah ku masukkan ke cerpenku loh obrolannya.” Padahal Belum.
“Coba lihat!”
“Nanti aja ya. Entar pagi ku kirim cerpennya. Aku janji.”
“Oke deal, Besok pagi ya.”

Pembicaraan pun berakhir. Lalu aku membuka laptopku dan memulai membuat cerpen dibarengi dengan senyuman dan motivasi yang lebih baik daripada saat membuat cerpen-cerpen yang lalu. Tanganku tak berhenti mengetik. Setiap dialog, setiap kejadian ku tuliskan di cerpen yang aku buat. Dan sampai pada pagi hari tepatnya jam 10 pagi aku menyelesaikan cerpenku. Aku pun langsung mengirimkan ke BBM-nya. Tapi belum ada tanggapan. Waktu menunjukkan jam 4 sore, aku masih stay di depan handphone-ku menunggu balasan dari wulan. Aku pun mencoba mengirim pesan yang sedikit ekstrim bagiku, dan mungkin saja akan dibalasnya.

“Kalau boleh tahu, kamu sudah punya pacar belum?” 4 menit setelah aku mengirim pesan itu, dia pun membalas pesanku.
“Bagus kok. Aku sudah punya pacar. Kenapa?”
Aku pun mendesah, aku sudah menduga ini akan terjadi. Aku pun menjawab, “gak apa-apa. Kepo aja sih.”
Pembicaraan pun berakhir dan kami gak pernah berhubungan lagi dalam waktu yang lama. Ku hapus hidupku dari kata pacaran dan memulai hari seperti biasanya.

SELESAI!!
TARAAAAANGGGGG!!!

“Hah. Selesai, Udah gitu aja? Lanjutannya gimana? Cerpen macam apa ini? Katanya Gendre komedi romantis? Romantis apanya? Cowok yang gak pernah pacaran terus dia penulis cerpen terus aduh bikin bingung ini cerita bay.” kata Reza marah-marah
“Ya. Tapi bagus kan endingnya gantung kayak khayalan si bungul sebelumnya.” kataku memelas.
“Gantung? Badan kurusmu itu yang ku gantung. Ceritanya ini jelek bay sumpah. Terus judulnya juga Two Finger? Itu apa maksudnya?”
“Iya, aku kan mengetik pesan biasanya pake 2 jari, jempol kanan sama jempol kiri.”
“Haduh, Bay. Jelek ini bay cerpennya. Bikin lagi cerpen yang baru.”
“Ya, tapi ini menurutku bagus dalam waktu 3 jam, hebat kan?”
“Gak. Ini paling jelek dari cerpen-cerpen yang kamu buat. Bikin lagi yang baru. Oke selesai, aku pulang.”

TAMAT
TAMAT
TAMAT

“Tunggu bentar. Jangan tamat dulu. Jadi kesimpulannya Adit masih jadi jomblo sejati dengan rekor 35 kali ditolak sama cewek.”
“Itu gak ada di cerita!! Itu bukan Adit tapi kamu!! Gak usah curhat!!”
“Eh tapi itu kebenaran yang terungkap dari Adit. Rencanaku untuk jilid kedua.”
“Gak usah bohong! Udah. Udah. Aku pulang!”

BENER-BENER TAMAT

Cerpen Karangan: Nur Ubay
Facebook: Hokage Ubay Varuna

Cerpen Khayalan Si Bungul 5 (Two Finger) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Ujung Purnama

Oleh:
Cinta. Tak seorang pun tahu kapan ia akan merasakan nya, dengan siapa akan menjalaninya, dimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia merasuk ke dalam hati. Mengusik usik otak ini, sehingga

Berlalu Seperti Rintik Hujan

Oleh:
Dalam tubuhku Megalir cinta kita Yang begitu syahdu Mengalun riang gembira Aku menjadi doa bagimu Begitu juga kau Menjadi malam bagiku Dimana aku selalu Bersahaja memikirkan Tubuh-tubuh kita Sajak

Candra Abyad

Oleh:
Awan kelabu dengan hembusan angin sejuk menyapa ritmik setapak langkah. Menyegarkan dengan tetesan embun dan juga warna pekat awan mengundang guyuran hujan hingga menjadikan view luar bandara menjadi lebih

Cokelat Cinta dari Kak Andra

Oleh:
“Vankaaa..!! Ke sini kamu, cepat!” Teriak Raisya. “Ada apa sih Ra? Nggak usah teriak-teriak juga bisa kan?!” Tanyaku ketus. “Ya deh, maaf Van. Gini Van, aku mau cerita sama

Ini Untukmu, Tulisan dari Hatiku

Oleh:
Aku masih tak paham dengan jalan pemikiranmu, mungkin karena aku terlalu menyayangi dan mencintaimu. Sebenarnya aku sendiri juga bingung untuk menulis hal ini dimulai darimana, aku hanya bisa menerka-nerkanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *