Khayalanku Telah Bahagia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 28 March 2013

Senja berlalu dengan sangat cepat beriringkan rintika hujan yang smakin deras. Petir yang seketika menyambar didahului kilat bagai kamera itu membangunkan lamunanku yang bisa terhitung lebih dari sepuluh menit. Waktu yang cukup lama itu berisi khayalan tentang sesosok sempurna itu.
Aku adalah siswi SMK favorit di daerahku, aku biasa dipanggil Risa walaupun sebenarnya nama asliku di akte Risma Ersa Al Dzikra.

“belajar sajalah biar jadi anak pintar”
“kamu mau belajar? Kok tumben?”
“ya. Ini lebih baik daripada aku galau”
“eh, dasar lu miss galau”
“yee… biarin, keren kali!”
Sambil mengabaikan ejekan kakak, aku mulai membuka buku-buku pelajaran yang terlihat usang, yah mungkin karena tidak sering dibuka.

Malam kian berganti, larut malam juga telah menyambut. Mata tak lagi bersahabat dengan buku-buku itu. Aku memutuskan untuk tidur, berbaring melepas penat dan berniat untuk benar-benar pulas memejamkan mata.
“heh mata, kapan kamu mulai terpejam? ini sudah larut malam. Heh otak, apa yang kamu pikirkan? Segera beristirahat, aku sudah letih!” gumamku malam itu yang tak bisa tertidur karena sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu? Aku rasa itu bukan sesuatu tetapi itu kamu. Aktor kehidupanku yang selalu sempurna dipikiranku, selalu sempurna dipandanganku.
“ah sudahlah, dia kan hanya khayalanku. Tak layak rasanya aku terus begini”. Bisa atau tidak aku berusaha memejamkan mata saat itu, takut kesiangan dan telat untuk berangkat ke sekolah.

Lagi-lagi pagi itu akan didahului oleh ayam-ayam sialan itu. Ternyata semangat bangun pagiku masih kalah dengan si ayam.
“goreng saja kali ya itu ayam?” emosi tingkat tinggi
“kenapa sa kamu? Pagi-pagi ngomel?” sahut kakak
“ah, sialan kak itu ayam berisik banget!”
“hello? Sudah siang adek, bangun!!” betapa sakitnya tabokan dari kakak saat itu, membuat aku tak sabar membalasnya.

Aktivitas berlanjut, kini aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Seperti ada hasrat yang menggerakkan aku untuk lebih cepat sampai di sekolah. Entah karena semangat belajar atau ada keinginan lain. Senyumnya, terlalu manis untuk didustai pagi ini. Matanya, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja saat aku berpapasan lawan arah dengan dia. Dia? “sempurna” ucapku lirih agar dia tidak dapat menyadari. “ah khayalan, diakan hanya khayalan” sampai kata itu terlupakan.

Setengah sepuluh, istirahat lima belas menit dimanfaatkan sebagian besar warga SMK untuk menabung. Menabung di kantin tepatnya. Aku juga tak luput dari kerumunan itu, jajan bareng teman-teman. Mereka adalah teman terbaik sebut saja Gia, Diah, dan Ruri. Sahabat suka duka ku walaupun akau rasa lebih bayak dukanya. Meraka adalah tempatku bergalau-galau ria.
“stop!” teriakku histeris
“kenapa sih, udah kaya polisi lu”
“selamat siang mbak, bisa lihat surat-suratnya?”
“surat sapa ya pak? Al-Ikhlas? Atau surat Ya’sin?”
“eh, nglantur kalian, ada apa sih sa?”
“ada… ah biasalah si penyebab galau”
“ow dia, eh salah khayalan sempurna itu”
“husstt!! diem. Males banget!”
Terlihat sekali aku munafik, tetapi mereka tetap mengerti apa yang aku rasakan. Menghiburku agara aku tetap terlihat ceria itu sudah menjadi makanan pokok mereka. Kalian begitu berartinya untukku, sampai kadang aku seperti tak sanggup lagi membalas kebaikan kalian.

“Risa!” panggil seseorang, seperti aku hafal luar kepala dengan suara itu. Suara bijak yang sangat aku nanti-nanti ketangannya.
“Iya, ada apa?”
“ada urusan, males manggil kamu tanpa sebab”
“oh, kenapa?”
“gajah rumah kamu anaknya berapa?”
“rumahku bukan kebun binatang boy!”
“ow iya lupa, yasudah duluan ya?”
“ya!”
Hal seperti itu yang sering membuatku mengkhayalkan sesuatu yang tidak wajar. Bagaimana mungkin cowok sedemikian sempurnanya bisa melihat orang-orang sepertiku ini. Ini masih dalam posisi berjalan dan dengan percaya dirinya aku melamun. Membahayakan bukan?.
Tumpukan kekaguman yang jika ditulis mungkin akan menjadi novel menyakitkan ini seperti sudah tak sanggup aku menahannya. Bayangkan seberapa hancur hati itu, ketika harus berpaling muka tak mengakui, munafikpun tak terhindar lagi. Sampai kadang aku benar-benar lelah sembunyikan semua ini. Tak berbeda aku menanam kaktus dalam luasnya padang psir dihatiku. Tertusuk, khayalan itu adalah seorang Ruma, lebih tepatnya ‘Ruma Kama Dikya’.Bagaimana mungkin aku harus pindah sekolah, itu hal bodoh hanya karena kagum yang berlebihan dengan teman sekolahku. Tak akan selesai aku menggalau kala tiada pelampiasan seperti ini.

“pagi-pagi nglamun lagi yo, galau sa?”
“enggak, kali ini lebih parah”
“apa?! Kok bisa?”
“tak layak aku berpanjang lebar dustai pagi ini”
Sekuat-kuat aku menahan, mata itu yang tak sanggup.Sambil memeluk sahabatku Gia, aku menatap kesudut itu tempat favorit meraka berdua. Ruma dan Eri, pacar khayalanku beserta pemilik hati sang Ruma.
“walau aku tak mengalami, tapi aku merasakan”
“aku tak ingin kalia rasakan”
“tapi ini wajib sahabat ikut rasakan”
Lamunkan kebaikan mereka, yang sekejap menghilangkan penatku yang sedang mengalir ini. Aku bagai miss lamun yang melamun tak kenal waktu, tempat, dan suasana.

Hari berlanjut seperti biasanya, tapi ada yang berbeda belakangan ini. Aku tak layak lagi dijuluki miss lamun, karena mereka sahabatku tahu kalau aku sedang menyibukkan diri. Ini hanya sebagian dari strategi agar aku benar-benar bisa memanfaatkan waktu panjangku untuk hal yang lebih bermanfaat. Walaupun terkadang senyumnya itu, senyum seorang Ruma masih saja mampu membuat aku terbang kembali ke dunia khayal. Syukuri saja aku sudah bisa mengurangi kebiasaan burukku itu.

Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Kala itu kita mendapat tugas untuk menciptakan puisi, tanpa ketentuan entah mau nyata atau imajinasi saja.
“Risa, kamu sudah selesai?”
“sudah, bu”
“siap maju?”
“oh, ya bu saya siap!”
Kesempatan emas untuk mengungkapkan suatu kenyataan, meski dia juga tidak akan mengerti. Iyalah kita kan tidak satu kelas. Mana mungkin dia mendengar puisiku.

Dalam kesunyian senja ini
Aku masih terdiam untukmu
Dalam gelap gulita malam ini
Aku masih berkhayal tentangmu
Tentang kekaguman dalam diam itu
Yang kian hari tiada pernah menentu
Dalam larutnya malam ini
Kirimkan salam rindu itu untukmu
Agar terhantar bersama angin berlalu

Setelah semua membacakan puisinya masing-masing, jam pelajaran usai. Aku bergegas pulang agar tidak bertemu dengan Ruma.
“kok buru-buru? “tegur ruma sambil mengejarku
“iya, ada gajah mau melahirkan!”
“oh, masih ternak gajah?”
“iya.. Ruma namanya, mau nengok?”
“sialan lu!”
Benarkan? Padahal aku berniat menghindar kenapa malah jadi barengan kayak gini? Aku kan jadi gak enak sama Eri.
Aku melihat hubungannya kian hari kian dekat saja. Mereka jodoh kali ya?, atau Eri hanya meminjam jodohku untuk jadi cowoknya saja. Tak tahulah itu semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Aku mulai lupa kalau perasaan itu hanya kekaguman belaka, kok malah menjadi-jadi seperti ini.

Satu minggu berlalu, ujian nasional SMK mulai dekat saja. Aku tidak begitu khawatir karena aku sudah mempersiapkannya sejak dulu. Pandanganku tertuju pada sesobek kertas yang terlipat-lipat dalam buku paketku. Cepat-cepat aku membacanya.

Risa… bukan aku tak mengerti maksudmu
Aku masih menunggu takdir itu
Aku juga bersama dirinya
Ini memang menyakitkan
Tapi ini kehidupan, dan aku tak ingin kau menyiakan
Aku juga tak akan menghindar, jika kelak takdir itu
Akan menyatukan, semangat risa hari cerah menyambut senyum indah kita

Tidak disangka itu jawaban dari puisiku waktu itu. Darimana dia tahu? Apa dia mendengar?.
Berkat surat itu, aku seperti terbangun dari mimpiku. Dia memperdulikan aku dan itu sudah lebih dari sekedar cukup untukku.
“sekarang jarang galau?” Ruri bertanya seperti meledek.
“ow iya dong, say no to galau!”
“haha, sip deh. Eh, dapat salam kamu”
“dari?”
“dari niko teman sebelah”
“yaudah salam balik aja”
Niko teman kelas sebelah, sejak penyampaian salam itu dia selelu mendekatiku. Datang bagai malaikat untukku, dan satu-satunya cowok yang bisa membuat aku tersenyum. Sampai suatu hari di taman sekolah ia bertingkah lain.
“sa.. aku bukan tipe orang yang suka panjang lebar”
“emang kenapa?” masih bingung dengan ucapan Nico
“aku suka sama kamu!” jawabnya tegas
“eh yang beneran, jangan bercanda berlebihan deh!”
“ini beneran!” tegas Niko sekali lagi
Aku diam tak bisa berkata apa-apa lagi, seketika pembicaraan itu menjadi sunyi.

Kejanggalan mulai aku rasakan, Niko lebih sering menghindar dariku. Aku juga tak mampu berbuat banyak karena aku tak memiliki perasaan apapun dengan Niko. Ujian nasional telah berlalu, dan kali ini adalah pengumuman kelulusan. Entah hasil seperti apa yang aku peroleh, aku benar-benar tak bisa mempridiksi. Tak selang beberapa lama aku mengetahui hasilnya. Sorak-sorak bahagia dari sahabat-sahabtaku cukup mewakili kebahagiaan kita semua karena hasil yang memuaskan.
“selamat ya” ucap Ruma kepadaku
“iya nilai kamu juga bagus” jawabku spontan
Lagi-lagi Ruma hadir, bagaimana akuu tak gugup kali itu. Ruma akan melanjutkan ke perguruan tinggi yang tentunya sama dengan Eri. Benar-benar nyesek hal yang aku rasakan.

Aku memilih perguruan tinggi yang agak jauh dari Ruma. Mencari dunia baru di luar sana. Banyak berharap juga temukan suatu takdir yang lebih baik dan bisa keluar dari belenggu masa lalu itu. Beberapa bulan berlalu, aku tak pernah lagi mendapat kabar dari seorang ruma. Detik itu juga handphone ku berbunyi dan aku segera mengangkatnya.
“hallo juga, siapa ya?” sepertinya aku kenal dengan suara sapanya
“Ruma, kamu gimana kabarya?” jawabnya dan lanjut bertanya
“ow kamu, kabarnya sih masih ternak gajah”
“hahhaha.. inget aja kamu”
Pembicaraan itu berlangsung sekitar setengah jam. Dia juga tak sengaja bicara kalau dia akan segera bertunangan dengan Eri, sampai aku ingin melempar handphone ku kala itu. Ruma, dia jodohku atau bukan? Keoptimisanku melebur, aku tak yakin lagi kalau Eri hanya meminjam jodohku. Sudahlah aku harus benar-benar ikhlas, toh mereka juga baru akan tunanagan. Jika memang Ruma jodohku dia juga akan kembali, laksana kata-katanya waktu itu. “aku juga tak akan menghindar jika kelak takdir itu akan menyatukan” sungguh itu tak bisa aku lupa.

Jika khayalan itu memang telah bahagia bersama yang lain, aku tak banyak berharap lagi bisa bersama dia. Bukankah awalnya aku hanya mengagumi? Entahlah, apa yang akan terjadi. Aku juga ingin ikut bahagia ketika garis takdir sang khayalan bahagia bersama yang lain. Dia bersama dirinya.

Cerpen Karangan: Rina Efendi
Blog: rinaefd.blogspot.com
Facebook: RADAR eR-blog

Cerpen Khayalanku Telah Bahagia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kodok Jelek

Oleh:
Suatu hari dipagi yang cerah, terlihat seorang gadis cantik. Dia bernama natasya yang biasa disapa dengan tasya. Gadis ini terlihat sedang mengamati beberapa pasang burung yang sedang berada di

Surat Usang Dari Samudra

Oleh:
Aku meletakan sebuah surat yang dibungkus dengan amplop coklat dan dihiasi pita pink di atas meja kerjaku. Amplopnya sudah usang warnanya. Tadi sepulang kerja, aku sengaja mengambilnya dari dalam

Jas Hujan Untuk Mama

Oleh:
Seorang malaikat yang rupawan dengan sejuta tingkah yang membuatku berdecak kagum akan dirinya seolah mampu untuk meluluhkan hati ini kepadanya. Sosok Mifta yang memiliki wajah oval, bibir yang sensual

Untold Story (Part 2)

Oleh:
Tamu yang ga di undang… Untuk kabur dari rutinitasnya yang membosankan dan juga dari paksaan pihak keluarga Gerry untuk bertunangan dengan anak perempuan salah satu rekan kerja bisnis orangtuanya,

25 Anak Tangga Pada 35 (Part 3)

Oleh:
Sepertinya dia telah pergi aku kembali memasuki rumahku. Baru ini ada orang menculikku dengen izin. Masih gelap dan tetap gelap hingga masa depan itu datang mendekat aku bisa bernafas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *