Kirito san (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 February 2018

Aku berlari darinya yang mengejarku sekarang ini. Pedangnya yang mengkilat ditimpa cahaya bulan purnama menimbulkan suara bergesekan dengan lantai karena diseret oleh pemiliknya, membuat jantungku berdetak dengan sangat kencang. Suara pedangnya membuat telingaku sakit. Aku terus berlari dan dia terus mengejarku. Aku tidak dapat mengenali wajahnya. Aku masih terus berlari hingga akhirnya aku tersudut dan tidak dapat ke manapun lagi. Dia semakin mendekat sampai akhirnya tubuh tingginya menjulang di depanku. Tubuhnya tinggi hingga aku harus mendongak untuk melihatnya. Pakaiannya serba hitam, dari kaki sampai kepala semua pakaiannya hitam. Dia memakai penutup kepala hingga aku tidak dapat melihat wajahnya. Kemudian dia mengacungkan pedangnya ke arahku. Aku hanya dapat menutup mata pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku. Aku menghembuskan nafas, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Beberapa saat aku menunggu, aku tidak merasakan apa-apa terjadi padaku ataupun rasa sakit. Yang aku rasakan kemudian sepasang lengan kekar menarikku dan dengan sekali hentakan sudah membawaku ke dalam pelukan yang hangat. Aku merasakan dia semakin memelukku dengan erat, aku kehilangan rasa takutku. Pelukan ini hangat. Aku mendengar suara pedang itu dijatuhkan ke lantai dan kemudian “gomene (maaf), Sima-chan. Aishiteru (aku mencintaimu).” Lalu aku merasakan sebuah pedang yang panjang dan tajam menusuknya dari belakang dan tembus hingga menusuk perutku dan juga tembus ke punggungku. Aku merasakan dunia gelap dan aku terjatuh bersamanya masih dalam pelukannya.

Aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Keringat mengucur deras di tubuhku. Dan rambutku basah oleh keringat. Aku bermimpi. Selalu mimpi itu yang datang ke dalam tidurku. Aku tidak tahu kenapa. Aku melirik jam di nakas yang ada di sebelah kiri ranjangku. Jam 02.00 A.M. Jam 2 pagi. Selalu bermimpi hal yang sama diwaktu yang sama. Aku melirik lagi jendela kamarku yang sudah terbuka dan dengan tirai yang bergerak tidak beraturan karena hembusan angin dari luar. Dan hal itu juga terjadi setiap kali aku bermimpi hal ini. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Aku beranjak dari kamarku dan pergi ke dapur yang ada di lantai bawah untuk mengambil air mineral. Aku juga selalu merasakan hal yang sama setiap kali memimpikan hal itu, perasaan diikuti oleh seseorang dan tidak aman. Semakin lama ini semakin menyiksaku.

Setelah selesai minum aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku yang tertunda karena mimpi anehku.
Aku kembali tertidur…

Meanwhile in other world…
“Kirito.. apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau belum juga membunuhnya? Aku sudah terlalu lama menunggumu untuk membunuhnya” Zero si raja kegelapan berbicara dengan nada yang agak keras kepada bawahannya, Kirito. “Aku masih harus menerornya. Aku merasa terhibur dengan menerornya seperti itu. Kau tunggu saja. aku pasti akan melaksanakan tugasku.” Kemudian Kirito pergi dengan santai sambil menenteng pedangnya yang panjang di pundaknya. Sambil bersiul dan bernyanyi-nyanyi kecil dan tersenyum santai.
Sementara Zero menggeram marah, di dunia kegelapan ini hanya Kirito yang bisa berlaku tidak sopan seperti itu. Semua makhluk yang ada di dunia kegelapan atau bisa disebut The Dark World, takut kepada Raja Zero. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku kepada Kirito.

Back to Earth..
Aku bangun pada jam 07.00 A.M. dan segera melakukan kegiatan pagiku yang biasanya. Mandi, sarapan, berbenah-benah dan lain-lain yang menurutku mulai membosankan. Aku hanya tinggal bersama ibuku. Ayahku sudah tiada sejak aku berusia 15 tahun. Itu adalah hari yang sangat kelam bagiku. Aku harus kehilangan sosok seorang ayah yang seharusnya menemaniku dalam masa pertumbuhanku menuju dewasa. Saat yang dimana aku seharusnya bercengkrama dengan ayahku, namun aku harus menangis sepanjang hari. Saat dimana seharusnya aku sering bercerita mengenai masa remajaku di sekolah bersama teman-temanku, namun aku harus mengurung diri di kamar berhari-hari. Saat dimana seharusnya aku sering berdebat ringan dan berujung tawa dengan ayahku, namun aku harus menjadi seorang yang pendiam. Sungguh hal itu membuatku dan ibuku berubah sekarang.

Aku menjadi seorang wanita yang pendiam, dingin dan tertutup serta penyendiri. Ibuku yang dulunya seorang ibu rumah tangga yang selalu tersenyum, sekarang jadi jarang di rumah karena pekerjaannya yang terbilang sibuk agar dapat menghidupi kami. Dan ini sudah berjalan selama 6 tahun. Sekarang aku sudah berusia 21 tahun. Dan 6 tahunku terbuang sia-sia karena perubahan sikapku. Yang dulunya seorang wanita yang ceria dan yah… aku suka bernyanyi. Sekarang aku seperti menyimpan suaraku untuk diriku sendiri. Aku juga terbilang jarang berbicara dengan ibuku sendiri. Karena waktunya lebih banyak terbuang di luar rumah dari pada menemaniku di rumah. Setiap kali aku protes akan hal itu, ibu selalu marah dan berkata bahwa itu semua untukku.
Dan karena perkataan ibu itu, aku sekarang sudah tidak peduli dengan apapun. Di kampusku aku juga jarang berbicara dengan orang lain. Temanku hanya ada satu. Dia bernama Kaido Haru. Seorang laki-laki tampan yang sangat humoris dan sangat melindungiku. Aku bahagia bisa mengenalnya. Dia seorang yang mudah bergaul, jauh berbeda denganku yang seorang penyendiri. Dia memiliki banyak teman dan selalu mengenalkan siapa saja mereka. Namun kau tahu bagaimana seorang penyendiri bukan? Itulah aku. Dari semua yang dikenalkan Haru padaku. Tidak ada satupun dari mereka yang menjadi temanku. Hanya Haru

Aku kembali mengingat mimpi itu. Entah bagaimana mimpi itu selalu datang disaat yang sama, waktu yang sama dan suasana yang sama. Aku merasa seperti diteror.
Tapi ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri bukan? Aku Sima Edogawa. Aku anak satu-satunya dari ibuku Shizi Edogawa dan ayahku Neji Edogawa. Maksudku mendiang ayahku. Aku tidak memiliki cerita khusus dalam hidupku. Jadi aku tidak perlu banyak bicara mengenai diriku. Dan kembali keawal, mimpi itu terkutuk. Aku selalu berusaha mencari tahu mengapa mimpi itu selalu datang kepadaku. Aku terlalu sibuk berpikir.

“Sima-chan, *kao-san (ibu) akan berangkat kerja. Jika kau akan pergi kuliah, tolong kau kunci pintunya. Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan.” “kao-san.. tidak bisakah kita sarapan bersama? Walaupun hanya sekali. Aku merindukan masa dimana kita sarapan bersama di meja makan.” Sungguh, hatiku mulai sakit lagi mengenang keharmonisan keluarga kami ketika masih ada *otou-san (ayah) bersama kami. “sudah berapa kali kao-san katakan, kao-san tidak bisa. Aku harus bekerja untuk memenuhi kehidupan kita. Otou-sanmu pergi terlalu cepat hingga aku harus bekerja keras. Kau juga harus mendapat pendidikan yang layak. Agar kau menjadi orang berhasil dan dapat memperbaiki keadaan kita yang seperti ini.” selalu seperti itu. Selalu jawaban itu yang keluar setiap kali aku mengajak ibu untuk sarapan bersama. “apa yang kurang dari keadaan kita bu? Aku rasa ini sudah lebih dari cukup. Kita tidak kekurangan. Otou-san pergi dengan meninggalkan tabungannya yang dapat mencukupi kita hingga aku beranjak dewasa. Hingga aku seperti sekarang ini. apa yang kurang lagi?” “kau..! aku sudah bilang. Hentikan kata-katamu. Aku tidak ingin berdebat denganmu saat ini. aku harus pergi bekerja”
Kemudian kao-san pergi dengan pintu berdebam di belakangnya. Begitulah kao-san jika sudah marah. Dia akan berkata “aku”, bukan ibu seperti jika kami berbicara baik-baik.

Aku benar-benar sudah muak dengan keadaan ini. meja makan yang cukup untuk 10 orang hanya ditempati olehku sendiri. Ini yang membuatku menjadi seorang pendiam, karena tidak ada yang kuajak bicara saat di rumah. Kao-san berangkat kerja pagi-pagi dan pulang larut malam. Aku berangkat kuliah pukul 09.00 A.M. Dan aku pulang pukul 3 sore. Setiap aku pulang kuliah tidak ada yang pernah kuajak berbicara.
Aku memutuskan untuk pergi kuliah saja tanpa sarapan pagi terlebih dahulu. Apa gunanya? Toh.. aku hanya makan sendirian. Persetan dengan semua ini!!

IN THE DARK WORLD
“gadis yang malang.. andai kau mati dengan cepat. Aku akan segera menguasai kekuatanmu. Dan kau tidak akan merasakan hal seperti ini lagi” Raja Zero berkata sambil melihat keadaan Sima di bumi. Brakk!! Suara pintu didorong dengan kasar. Dia tahu siapa pelakunya. Itu Kirito. Orang kepercayaannya. Sekaligus orang yang tidak tahu sopan dan tidak takut kepadanya. “apa yang membawamu kemari?” “aku? Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat-lihat.” Sahut Kirito dengan nadanya yang cuek dan seolah tidak peduli dengan Raja Zero. Padahal Zero sudah menahan amarahnya karena diganggu oleh Kirito. Namun dia tidak dapat melakukan apapun, karena Kirito merupakan orang terhebat di The Dark World. Sehingga tidak heran jika Raja Zero mengangkatnya menjadi orang kepercayaannya.

“Aaa.. aku hampir lupa. Bagaimana keadaan gadis bumi itu? Apa semakin membaik sejak aku menerornya?” “Dasar mahkluk aneh. Tentu saja dia tidak merasa nyaman dan aman. Dia diteror olehmu. Dia pati merasa takut dan gelisah. Belum lagi pertengkarannya dengan ibunya. Ibu yang sangat keras kepala dan gadis yang kesepian. Perpaduan yang hebat bukan?” raja Zero berkata dengan sedikit nada menyindir. “ohh.. begitu. Ya sudahlah… aku harus pergi lagi. Mungkin menampakkan diri kepadanya akan lebih menyenangkan. Daahh…” jawab Kirito dengan nada yang sangat sangat santai kemudian pergi meninggalkan kediaman raja Zero. Itu sudah hal yang sangat biasa untuk Kirito. Berbuat semena-mena di kediaman raja Zero. Toh dia tidak akan diusir. Karena apa? Karena hanya dia yang dapat membantu Zero untuk mendapatkan kekuatan dari Gadis bernama Sima Edogawa itu.

Setelah keluar dari tempat Raja Zero, Kirito segera pergi untuk menampakkan diri kepada Sima. Dia memilki kesenangan sendiri saat mengganggu wanita itu.

Bumi..
Aku akhirnya sampai di kampus. Aku sudah kuliah di sini selama 3 tahun dan 1 tahun lagi akan selesai. Aku mengambil jurusan seni. Dan lihat! Itu Haru yang sudah berlari ke arahku. “Sima-chan… kau lama sekali” katanya begitu dia sampai di depanku. Dia langsung merangkulku dengan erat. Dan tatapan semua wanita di kampus ini sudah sangat horror ke arahku. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak mengenal mereka semua. “hey. Ini jam yang biasa. Aku tidak terlambat. Mungkin kau saja yang datang terlalu cepat dan terlalu lama menungguku.” Kataku dengan cuek. “eh.. iya ya? Ya sudahlah. Hey kau sudah sarapan?” aku mengangkat bahuku dengan cuek. “ayo!” Haru kemudian menarik tanganku dengan kencang dan berlari ke arah kantin tidak mempedulikan aku yang tunggang langgang mengikutinya. Dasar Haru sialan.

Begitu sampai di kantin dia segera mendudukkanku di meja yang kursinya ada 2, khusus untuk 2 orang. Lalu dia beranjak ke bagian makanan. Tidak berapa lama dia datang dengan 2 posi ramen. Ukuran jumbo. Aku terkadang bingung melihat Haru. Porsi makannya sangat besar untuk tubuhnya yang proporsional. Apa dia tidak takut gemuk? Aku pernah menanyakan itu kepadanya dan hanya dijawab dengan “aku lapar. Dan aku tidak peduli” itu sudah cukup untuk menjawab kebingunganku. “ayo kau harus makan. Semakin lama kau terlihat semakin kurus di mataku.” Katanya begitu meletakkan ramen itu di hadapanku. “bukan aku yang semakin kurus. Namun matamu yang semakin sipit.” Dia mendengus dan beranjak untuk mengambil minuman. Makanan favouritku adalah ramen. Aku sangat suka. Yang menjadi ciri khasnya adalah potongan *naruto yang unik itu. Kuah ramen yang sangat enak dan mienya yang empuk serta daging yang enak. Ini juga mengingatkanku akan tokoh anime Naruto yang dibuat oleh Masashi Kishimoto. Aku adalah gadis yang mencintai anime. Dan Naruto adalah anime kesukaanku. Sehingga tidak heran aku juga menyukai ramen. Mungkin aku akan terlihat seperti Naruto juga saat melihat ramen. Dulu otou-san juga menyukai ramen sama sepertiku. Sehingga dia sering memasakkan ramen untukku.

“ini. ayo cepat makan. Aku lapar.” “memangnya kau tidak sarapan?” “tidak” kemudian kami makan ramen itu. Saat sudah seperti ini aku tidak peduli akan keadaan sekitar. Aku makan dengan lahap. Dan tanpa sadar aku dan Haru sudah seperti lomba makan ramen. Dan akhirnya aku selesai terlebih dulu. Saat aku meminum kuah terakhir dari mangkuk ramenku dan meletakkannya di meja, ramen Haru masih tersisa setengah mangkuk lagi. Tidak heran. Ini porsi jumbo. Dan aku senang karena itu. Aku sudah selesai minum dan sekarang sedang memainkan ponselku menunggu Haru selesai. Aku bingung melihat ada nomor yang tidak kuketahui mengirim pesan kepadaku “aku menunggumu di rumahmu. Jangan terlambat. Kirito.” Siapa dia?
“ada apa?” Tanya Haru. Aku baru sadar bahwa dia sudah selesai dengan ramennya. “tidak ada apa-apa. Cepat kau bayar. Kita harus ke kelas” aku beranjak dan meninggalkan Haru yang mendengus kesal. Kami kuliah di jurusan yang sama dan kelas yang sama. Dulu kami berkenalan saat masa orientasi mahasiswa. Para senior sialan itu menghukum dan mengerjaiku, mereka para senior wanita yang gila. Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: Derisma Paulina Haloho
Add my fb: Derisma Paulina Haloho

Cerpen Kirito san (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukan Orang Setia Dan Baik (Part 1)

Oleh:
Kata simbahku kalau ketemu wanita, melihat jangan sampai memalingkan muka. Salah satu petuah yang sangat berat melaksakannya bagiku. Apakah bapak dari ibuku itu, begitu kuat seperti yang dikatakannya. Tetapi

My Prince Rio

Oleh:
“Kriiing kriiing” alarm di kamar ara berbunyi dengan sangat keras dan sempat membuat ara kaget, lalu ara terbangun untuk mematikan alarm tersebut dan dia pun tidur kembali tanpa melihat

Rona Merah di Pipi Ratih

Oleh:
Hujan belum juga reda. Tetesan air masih turun ke bumi sambil menari-nari tanpa irama. Sesekali deru motor yang lewat menyelingi kesenyapan di ruangan itu. Ratih masih termenung di kursinya,

Wacht Op Mij, Holland

Oleh:
Terakhir kalinya Edo merasakan kehangatan itu sudah lama sekali, ia pun mungkin sudah lupa dengan wajah ayahnya yang terakhir kali ia lihat saat ia kelas 3 SD sebelum Ayah,

Kisah Dibalik Jendela Kelasku

Oleh:
Kawan namaku Vania Amaira Putri. Aku sih biasa dipanggil sama teman-teman Vani. Temen-temenku bilang aku tuh orangnya bawel, ribet, suka heboh sendiri, tapi baik kok, katanya sih aku tuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *