Kirito san (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 February 2018

Flashback on.
“dasar wanita penggoda. Jangan coba-coba merayu senior laki-laki!” kata senior wanita yang aku tidak tahu namanya. Saat ini kami sedang berada di gedung yang ada di belakang kampus. Gedung ini tampaknya sudah lama tidak dipakai. “aku tidak mengganggu. Aku juga tidak menggoda mereka. Kau saja yang salah paham.” Aku sungguh tidak sopan kepada seniorku. Tapi siapa peduli? “kurang ajar. Kau berani melawan kami. Kau hanya wanita jelek.” “aku jelek? Aku rasa biasa saja. Kalian yang dandan berlebihan. Ini hanya kampus. Kenapa kalian seperti akan pergi ke club seperti itu? Dandanan kalian terlalu menor. Bedak dan entah apa yang kau gunakan itu sangat tebal. Kau terlihat seperti badut. Dn aku yakin isi tas kalian itu adalah kosmetik dan alat catok rambut” ok. Mungkin sekarang sangat tidak sopan dan pastinya mereka marah. Jangan salahkan aku. Aku memang seperti ini. dan plakk! Satu tamparan dan satu jambakan mendarat mulus di wajah dan rambutku. Sial! Aku tidak dapat bergerak. Wanita-wanita gila mengikatku. Entah apa yang mereka katakan aku tidak dapat mendengar lagi. Mereka menghajarku habis-habisan. Namun mereka kemudian pergi ketika datang beberapa laki-laki yang menolongku. Bisa kutebak mereka ada 5 senior dan satu junior. Kemudian 5 senior laki-laki itu membawa 3 senior perempuan tadi ke kantor rektor. Dan junior itu menolongku. “kau tidak apa-apa?” “iya. Terimakasih.” “aku Haru. Kaido Haru. Kau?” aku tersenyum dan membalas jabatan tangannya. “Sima. Aku Sima Edogawa. Terimakasih telah menolongku.” “ya. Tidak masalah. Kau bisa berjalan?” “tentu saja.” Aku tidak mungkin meminta untuk digendongnya bukan? Namun sepertinya tubuh ini tidak mau bekerja sama denganku. Aku jatuh pingsan dalam pelukan laki-laki itu.
Flashback off.
Dan mulai saat itu aku dan Haru menjadi teman baik.

Akhirnya kelas hari ini selesai dan aku pulang ke rumah. Ini pukul 15.30 P.M. seperti biasa.
Namun aku seperti melihat pintu rumah sedikit terbuka. Aku berlari masuk. Mungkin kao-san pulang cepat hari ini. aku senang. Namun begitu masuk aku tidak melihat kao-san. Aku berlari ke dapur namun tidak juga menemukan kao-san di sana. Mungkin kao-san di kamarnya. Batinku. Namun tidak ada di kamarnya. “kao san? Apakah kao-san sudah pulang? Aku sudah pulang.” Tidak ada sahutan dari kao-san. “huft.. mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin aku lupa mengunci pintunya tadi” aku berbicara dengan diriku sendiri.

Aku kemudian naik ke lantai 2. Dan masuk ke kamar. Kemudian melepas bajuku. Sehingga hanya menyisakan tanktop hitam. Namun celana jeansku tidak kulepas. Aku terbiasa seperti ini. hingga aku mendengar suara siulan yang berasal dari belakangku “hi..” aku berbalik dan melihat seorang laki-laki yang sangat tampan. Tinggi. Kepalaku hanya sebatas dadanya. Rambutnya hitam pekat dan lebat. Alisnya hitam dan tebal. Bibirnya pada. Hidungnya mancung, rahangnya kokoh, dan tubuhnya tegap dengan dada yang bidang. Namun setelah memperhatikannya aku tersadar sesuatu. “AAAA..!!!” aku berteriak kencang. “kau siapa? Kenapa kau masuk ke kamarku?” aku segera melompat ke ranjang dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhku. Sialan laki-laki ini! “hem..” dia tersenyum miring. “mau apa kau di sini?” “aku hanya ingin menemuimu. Namun aku mendapatkan pemandangan hebat.” Dan aku yakin wajahku memerah sekarang. Kemudian aku mengambil bajuku yang jatuh tidak jauh dari tempatku masih dengan selimut yang kupegang erat di tubuhku. Kemudian aku melepaskan selimut dan berlari kencang ke kamar mandi yang ada di kamarku. Dan mendorong pintu itu dengan tergesa-gesa. Kemudian setelah aku masuk, aku mengunci pintunya dari dalam dan memakai bajuku tadi. Aku memakai baju kaos polos. dan memudahkanku untuk mengenakannya. Aku masih berdiam diri di depan cermin dan memperhatikan wajahku yang memerah.

“hey… cepat keluar. Apa kau berniat melompat dari lantai 2 ini ke bawah karena aku sudah melihat tubuhmu” “sialan kau. Laki-laki kurang ajar.” Jawabku dari dalam kamar mandi dengan suara yang sangat pelan. Tentu saja dia tidak mendengarnya. “aku mendengarnya. Cepat kau keluar?” aku menganga. Bagaimana dia bisa mendengarnya?

Author Pov’s
Kirito tersenyum dari balik pintu. Tentu saja dia mendengarnya. Dia bukan seorang manusia. Sebenarnya dia juga mengetahui bahwa Sima Edogawa bukan manusia biasa. Sima merupakan keturunan raja Kaname yang dulu berkuasa di The Dark World. Dan ah ya. Dunia itu juga bukan The Dark World saat raja Kaname yang memimpinnya. Dunia itu bernama Wonderland. Dunia yang sangat indah. Namun Zero datang dan mengacaukan segalanya. Kaname tahu bahwa Zero mengincar putrinya yang memilki kekuatan yang sangat besar di dalam tubuhnya. Hingga dia menitipkan Sima ke bumi. Kepada Neji Edogawa. Pada saat itu keluarga Edogawa tersebut baru saja kehilangan putri mereka karena memiliki penyakit lemah jantung. Dan Neji Edogawa menerima untuk merawat Sima, putri kaisar Kaname. Dan setelah perang berlangsung lama. Kaisar Kaname kalah dan meninggal. Wonderland kemudian diambil alih oleh Zero dan menciptakan Dark World. Kirito mengetahui hal itu. Namun tidak ada yang bisa membaca pikiran Kirito. Dan dulunya Kirito merupakan orang kepercayaan kaisar Kaname. Namun sekarang dia harus berpaling dan menuruti perintah Zero.

Tidak berapa lama Sima keluar dari kamar mandi dengan kepala tertunduk. Kemudian mendongakkan kepala untuk melihat laki-laki yang berdiri tepat di depannya. “em.. maaf sebelumnya. Bagaimana kau bisa masuk?” laki-laki itu tersenyum miring dan berjalan ke arah jendela kamar Sima dan bersandar di dekat jendela itu. “dasar wanita aneh. Seharusnya kita berkenalan dulu. Baru kau bertanya seperti itu..” “ka.. kalau begitu siapa kau?” Tanya Sima to the point. “*watashiwa (aku) Kirito desu.” Ohh. Jadi namanya Kirito. “kau?” “ano. Watashiwa Sima Edogawa desu.” “oh. Namamu Sima. Di mana ibumu?” “untuk apa kau bertanya seperti itu?” “tidak ada apa-apa. Jawab saja.” Tipe laki-laki pemaksa. Batin Sima kesal. “ibuku pergi bekerja dan akan pulang nanti malam.” Kemudian Sima duduk di ranjangnya dan memperhatikan Kirito yang sedang memandangi kamarnya. Kemudian kirito beranjak dan merebahkan tubuhnya di ranjang queen size milik Sima. “apa yang kau lakukan?” “aku mengantuk. Aku ingin tidur sebentar.” “ck.. kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa masuk? Hey jawab!!” Sima menggoncangkan tubuh Kirito dan tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh Kirito dan ditarik dengan kencang hingga dia jatuh dengan tubuh atasnya berada di dada Kirito. Kemudian Kirito memeluknya dan tertidur. Sima berontak namun tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kirito. “lepaskan aku. Ihh kau sangat menyebalkan!” “diam sebentar. Aku tahu kau juga sulit tidur karena bermimpi hal-hal aneh bukan. Jadi ini saat yang tepat untuk tidur. Bagaimana aku bisa masuk ke sini kau akan mengetahuinya suatu saat nanti.” Baru saja Sima akan bertanya Kirito sudah berkata lagi “dan jangan bertanya kenapa aku bisa tahu soal mimpimu itu. Tidurlah” Sima menutup mulutnya yang akan berbicara.

Kirito sudah tidur. Dia bisa tahu karena nafasnya berhembus secara teratur dan dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Kirito namun tida ada respon. Sima berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Dan kemudian perutnya melilit. Ini adalah hal yang paling dibencinya. Saat dia memiliki masalah atau terlalu banyak berpikir pasti perutnya akan melilit. Dia menenangkan pikirannya dan kemudian rasa kantuk menyerangnya hingga ia tetidur di dalam pelukan Kirito.

Kirito membuka matanya saat mengetahui bahwa Sima sudah tertidur. Dia sebenarnya tidak tidur. Namun itulah kehebatannya. Kirito mengamati wajah Sima yang tertidur. Cantik. Bisiknya. Kemudian dia melihat ada sebuah tanda di ujung alis wanita itu. Berbentuk seperti bintang namun kecil. Sehingga terlihat seperti tanda lahir. Dia mengenali tanda itu. Tanda yang pernah ditunjukkan oleh Kaisar Kaname dulu. Dan oh ya. Ada satu tanda lagi di bahu wanita itu. Tanda kutukan. Atau lingkaran yang di dalamnya berisi bentuk segitiga yang setiap sudut dari segitiga itu mengenai lingkarannya. Dengan pelan Kirito menggeser baju Sima dan melihat tanda itu. Sepertinya belum terlihat. Batinnya. Mungkin dia harus menghidupkan tanda itu. Kemudian Kirito memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya untuk menghidupkan tanda itu. Kemudian dari bahu Sima ada cahaya yang bersinar. Tidak berapa lama tanda itu akhirnya terlihat. Tanda terkutuk seperti itu hanya dimiliki oleh 2 orang saja di wonderland. Yaitu Sima dan Kirito sendiri. Dan saat kekuatan Sima sudah tampak, dan 2 tanda itu digabungkan kekuatannya akan sangat besar. Oh iya. Kirito juga memiliki tanda di ujung alisnya. Berbentuk bulan sabit. Dan menandakan bahwa mereka itu pasangan.

Ketika malam hari, Kirito segera beranjak dari kamar Sima dan keluar melalui jendela. Tidak lama lagi dia akan melancarkan aksinya. Dia harus menyerahkan Sima kepada Zero. Sima terbangun dengan selimut menutup tubuhnya hingga sebatas dada. Tidurnya sangat nyenyak. Dia bersyukur dapat tertidur nyenyak sore tadi. Tapi begitu tersadar, dia tidak menemukan Kirito di sampingnya lagi. Dia mengangkat bahu dan mengambil handuk. Dia akan mandi. Begitu sampai di kamar mandi dia melepas kaosnya dan melihat bahunya. “tanda apa ini?” katanya sambil meraba tanda itu. Dia melihat lagi tanda di ujung alisnya. Masih sama. Bentuk bintang yang kecil. Dia mengangkat bahunya dan mandi. Selesai mandi dia hanya menggunakan handuk keluar dari kamar mandi dan menuju ke lemarinya. Dan suara siulan itu kembali terdengar. Dia berbalik dan menemukan Kirito sedang duduk di jendela kamarnya. “KIRITO! Kurang ajar kau! Keluar dari kamarku!” sekarang dia melempar benda apa saja yang dapat diraihnya ke arah Kirito. Namun entah mengapa Kirito selalu dapat menghindar. Hingga benda terakhir yang digenggamnya. Ponselnya. Hampir saja di melemparnya ketika benda itu berdering dan hampir saja terjatuh karena Sima terkejut. “huft.. hampir saja.” Katanya menghela nafas. Kemudian dia melihat siapa yang menelepon. –Kao-san- memanggil.

“iya kao-san? Ada apa?” “kao-san tidak bisa pulang malam ini. Sebaiknya kau kunci pintu dan jendelamu Sima. Maafkan kao-san. Setelah pulang besok kita akan makan bersama. Kao-san mengambil cuti untuk besok sehingga harus menyelesaikan pekerjaan kao-san malam ini.” Sima senang sekaligus khawatir. Senang karena dapat makan bersama kao-sannya besok. Dan khawatir karena kao-sannya terlalu keras bekerja. “kao-san jaga diri ya. Kao-san jangan lupa minum ketika haus. Jangan terus-terusan memandangi komputer kao-san. Aku menyayangi kao-san.” Katanya sambil tersenyum. Sima dapat mendengar suara senyuman kao-sannya dari telepon. “terimakasih Sima-chan. Baiklah. Kau juga jaga diri ya sayang. Kao-san juga menyayangimu” kemudian sambungan telepon terputus. Dia bahagia. Akhirnya permintaannya selama ini terkabul walaupun hanya sekali.

“kao-sanmu tidak akan pulang malam ini. Aku bisa menemanimu.” Kata Kirito mengganggu kesenangan Sima. “urusai (tidak perlu). Kau sebaiknya pergi. Sekarang saja kau sudah menakutiku.” Katanya dengan was-was. Dan dengan bodohnya dia semakin merapat kelemari yang sudah terbuka dan agak masuk ke dalam lemari untuk menutupi tubuhnya. “hahaha. Kau aneh. Cepat pakai bajumu. Aku ingin berbicara hal penting kepadamu. Aku akan menunggu di bawah.” Kemudian dia keluar dari kamar Sima dan berjalan kearah ruang tamu untuk menonton. Entah acara apa yang ditontonnya. Dia tidak tahu. Sima kemudian memakai bajunya. Dia tidak suka berdandan karena menurutnya itu merepotkan. Dia hanya menyisir rambutnya dan mengikatnya asal-asalan, kemudian pergi ke ruang tamu dan melihat Kirito yang sedang berdiri memperhatikan foto masa kecilnya. “jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” kata Sima to the point. Kirito beranjak dari tempatnya berdiri dan dengan santai duduk di sofa, diikuti oleh Sima yang duduk di depan Kirito dengan dibatasi meja kaca. “aku akan menemanimu malam ini” “ck.. aku kan sudah bilang tidak perlu. Kau ini kenapa sih? Kenapa kau sangat memaksa untuk menemaniku?” “karena aku tahu kau bermimpi aneh setiap malam. Dan kau harus kutemani untuk membuatmu tertidur.”
“kau akan tidur di mana? Kami tidak menyediakan kamar untuk tamu. Karena memang tidak ada yang pernah bertamu.” Katanya dengan nada cuek. “aku akan tidur di kamarmu. Seperti sore tadi.” Wajah Sima melongo. Bagaimana mungkin dia akan tidur bersama Kirito lagi? Dia takut akan terjadi hal yang tidak-tidak. Melihat Kirito itu seperti bukan manusia biasa. Dan bisa saja dia berbuat hal buruk kepadakukan? Batin Sima. “aku bukan orang serendah itu. Aku tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak kepadamu. Dasar gadis aneh!?” dan lagi. Kirito bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Sima. “hahhh.. terserahmu saja. Aku tidak peduli”

Kirito tersenyum miring dan kemudian “aku lapar. Kau tidak lapar?” “aku juga lapar. Tapi aku tidak bisa memasak. Kalau kao-san tidak pulang biasanya aku memasak Ramen Instan.” “kau tidak bisa memasak? Dasar payah” Kirito mengejek Sima dan Sima mendengus kesal. “kalau begitu kau saja yang memasak.” Dia memang ingin Kirito memasak karena dia memang sudah lapar. “hemm.. kau meremehkanku.” Kirito sebenarnya tahu apa maksud Sima menyuruhnya memasak. Tapi biarlah. Untuk kali ini saja. Kirito beranjak kedapur diikuti oleh Sima. “di mana kau taruh bahan-bahannya?” “di situ” jawab Sima singkat sambil menunjuk lemari es yang tidak jauh dari Kirito. “ok. Aku akan memasak Ramen. Aku tahu kau suka Ramen.” Sima tersenyum, dia sangat lapar sekarang. Kirito sudah seperti seorang professional sekarang. Dia memasak dengan cekatan dan membentuk mie itu dengan bagus. Kemudian mencicipi kuah ramen dan tersenyum. Setelah itu menuangkan kuah tersebut di atas mie yang sudah berada di mangkuk tersebut dan untuk sentuhan terakhir dia menaruh potongan naruto di mangkuk ramen tersebut. Kemudian membawa 2 mangkuk ramen itu ke meja makan dan meletakkan 1 mangkuk ramen di depan Sima.

Mata Sima berbinar mendapati ramen itu sangat menakjubkan. Mirip seperti ramen buatan otou-sannya dulu. Dia mengambil sendok dan mencicipi kuah ramen itu dan tersenyum lebar hingga lesung pipitnya terlihat. Dia mengambil sumpit dan menggosok-gosoknya di kedua tangan. Ciri khasnya ketika akan makan ramen sambil berseru “itadakimast (selamat makan)” kemudian memakan ramen itu dengan lahap. Kirito yang melihatnya tersenyum. Gadis yang manis. Tapi sayang aku harus menyerahkannya kepada Zero. Batinnya.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: Derisma Paulina Haloho
Add my fb: Derisma Paulina Haloho

Cerpen Kirito san (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Fall in Love

Oleh:
“Praisya.. Bangun!!” Huh! Lagi-lagi suara bising itu membuat (memaksa)ku untuk bangun. “Iya, Bik!” Kataku setengah sadar. Setelah mengumpulkan raga, aku langsung keluar. Setelah mandi, aku segera sarapan. “Suruh Bapak

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Talia, mahasiswi semester akhir jurusan perbankan di Fakultas Ekonomi Universitas Budidaya Jakarta. Semenjak menjadi Maba (Mahasiswi Baru) gelar primadona kampus sudah disandangnya. Paras wajah ayu perpaduan Indonesia Australia, alisnya

Pesan Terakhir Poniko

Oleh:
Namaku Madotsuki, usia ku 15 tahun. Aku masih duduk di bangku SMP, tentunya. Aku yatim piatu. Aku tinggal bersama guru musikku di sekolah. Namanya Masada. Aku tidak ingin tinggal

Sheila: The Last Day (Part 1)

Oleh:
Apa yang dilakukan saat ajal menjemputmu? Menangis. Tak ada yang dapat ku lakukan kecuali menangis sepuas-puasanya. Setiap saat. Selama tiga hari belakangan, setidaknya hingga bayang kengerian tentang kematian kering

Rumah

Oleh:
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *