Kirito san (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 February 2018

Tidak lama kemudian ramen itu habis dan Sima minum. Kemudian “terimkasih Kirito-san. Kau hebat dalam memasak ramen” “aku memang hebat” kata Kirito somobng. “hem. Seharusnya aku tidak memujimu tadi. Tapi ya sudahlah. Aku sudah kenyang.” Kemudian Sima beranjak ke wastafel untuk mencuci mangkuknya dan Kirito dan membersihkan peralatan yang digunakan tadi. Kirito memperhatikan dari belakang. “ayo kita jalan-jalan” katanya tiba-tiba. “apa kau sudah gila? Ini sudah malam” “ini masih jam 8. Lagi pula besok kau tidak kuliah. Kita hanya berjalan ke taman yang ada di ujung gang ini. tidak pergi ke Kobe.” Setelah menyusun peralatan dan mangkuk itu Sima mengeringkan tangannya dan berkacak pinggang menatap Kirito. “baiklah.” Kirito tersenyum dan tanpa izin menggandeng tangan kanan Sima berjalan ke luar dari rumahnya. Sepanjang perjalanan Kirito selalu menggenggam tangan Sima dan Sima berusaha melepaskan tangan Kirito namun tidak berhasil. Dia pasrah
“sebenarnya kita mau ke mana?” “tidak lama lagi kita akan sampai”

Kemudian Sima diam dan mereka pun sampai di taman yang berada di ujung gang ini. dia tidak tahu ada taman yang sangat indah di sini. Taman yang menyediakan bangku dengan ukiran yang indah yang malam hari diterangi lampu jalan yang unik. Menampilkan kesan romantis. Mereka duduk di bangku itu. Sima hanya mengenakan celana jeans dan baju kaos polos. Angin berhembus dan membuat Sima merinding. Dia kedinginan. Kirito melepas jacketnya dan memakaikannya di bahu Sima. Sima terkejut, dan wajahnya memerah. “terimakasih” “emm” balas Kirito dengan gumaman.

“aku ingin bertanya. Kenapa pakaianmu aneh sekali? Maksudku kau mengenakan sarung tangan yang memperlihatkan jarimu. Kau mengenakan jacket ini dan mengenakan sepatu itu kemudian membawa pedang. Siapa kau sebenarnya?” “aku bukan siapa-siapa. Aku hanya nyaman mengenakan ini. jangan bahas itu lagi” “baiklah.” Kemudian hening. Tidak ada pembicaraan di antara mereka lagi hingga Sima terkejut ketika Kirito meletakkan kepalanya di paha wanita itu dan tangan kanannya digunakannya untuk menutupi matanya. “aku mengantuk” katanya singkat dan tidur. Entah atas dorongan apa, Sima mengelus rambut Kirito dengan lembut. Ini hanya tindakan biasa. Batinnya.

Sekitar jam 10 malam Sima membangunkan Kirito. “Kirito-san bangun. Kita harus pulang. Aku ingin tidur.” Kirito terbangun dan mengucek matanya. “ayo kita pulang” “baiklah.” Kata Kirito singkat. Kemudian mereka beranjak dan berjalan kerah rumah Sima. Begitu sampai di depan rumah mereka segera masuk dan menuju ke kamar Sima. Tanpa berkata apapun Sima segera ke tempat tidurnya dan tidur. Menarik selimut hingga sebatas dada dan memiringkan badannya. “kau tidak berniat mengajakku?” “tidak.” Jawab Sima enteng.

Kirito pov’s.
Gadis itu tidak mempedulikanku. Sial! Aku kemudian pergi ke tempat tidurnya dan tidur di sampingnya. Sebenarnya dia tidak akan bermimpi malam ini. Karena aku tidak sedang menerornya. Tapi apa salahnya menggunakan kesempatan ini untuk lebih mengetahui tentangnya. Aku yakin dia belum tidur. “Sima-chan. Aku ingin bertanya” “tanyakan saja” “sebenarnya siapa nama orangtua kandungmu?” “pertanyaanmu bodoh. Aku ini anak kandung dari Neji Edogawa dan Shinzi Edogawa.” “kau yakin?” Sima membuka matanya dan menatapku dengan tajam. “kau sangat aneh. Tentu saja aku yakin. Jangan tanyakan hal itu lagi” “baiklah. Tapi apa kau tidak merasakan hal aneh pada tubuhmu sebagai manusia biasa?” “maksudmu?” Tanya Sima heran. “maksudku kau merasa sangat kuat. Kau tidak kelelahan saat berlari, kau seperti bisa merasakan apa yang orang terdekatmu rasakan, kau dapat menjawab apa yang dosenmu tanyakan tanpa harus mencari jawabannya terlebih dulu, dan kau sering mendengar orang membicarakanmu walupun jarak mereka jauh.” Aku dapat melihatnya menegang. “dari mana kau tahu hal itu? Aku bahkan tidak pernah memberitahukan hal itu kepada kao-san. Siapa kau sebenarnya?” “kau akan mengetahui semuanya suatu saat nanti Sima-chan. Jangan khawatir.” Kemudian aku memeluknya dan mengelus kepalanya agar tertidur. Dan dengan sedikit mantra dari pikiranku dia tertidur dengan nyenyak.

Sebenarnya dia adalah gadis yang cantik menurutku. Rambutnya yang panjang berwarna coklat gelap, mata yang hitam, hidung yang mancung, pipi yang tirus dan tubuh yang ramping. Tingginya hanya sebatas dadaku. Oh iya, bibirnya yang ranum melengkapi kecantikannya. Bagaimana tidak cantik? Dia adalah keturunan Kaisar Kaname, raja Wonderland. Tapi aku harus tetap menjalankan tugasku bukan? Dan akhirnya aku tidak tertidur dan hanya memandangi wajahnya sampai pagi. Kira-kira pukul 5 pagi aku pergi dari rumahnya karena aku tahu kao-sannya akan pulang dan tidak bekerja hari ini. dan aku tidak ingin menerima amukan dari seorang wanita.

Author pov’s
Pukul 7 Sima terbangun dan tidak menemukan Kirito di sampingnya tadi, dan apa yang dikatakannya benar. Dia tidak bermimpi hal aneh itu lagi. Mungkin itu karena Kirito menemaninya tidur tadi malam. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri dan membereskan kamarnya. Setelah itu dia segera turun ke lantai bawah namun belum menemukan kao-sannya pulang. Akhirnya Sima berlari keluar dan duduk di gazebo yang tersedia di taman kecil yang ada di samping rumahnya. Sambil menikmati udara pagi ditemani teh hijau kesukaannya.

Tidak berapa lama menunggu mobil kao-sannya sampai dan tampaklah kao-sannya pulang dengan wajah lelah namun tetap memberikan senyum manisnya kepada Sima. Sima segera berlari menghampiri kao-sannya dan memeluk kao-sannya dengan erat. Sudah lama dia tidak pernah memeluk kao-sannya seerat ini. “Sima-chan, ada apa? Kenapa memeluk kao-san sangat erat?” kata kao-sannya sambil mengelus lembut rambut Sima dan tersenyum. Sima tersenyum dan menjawab “tidak ada apa-apa kao-san. Aku hanya senang akhirnya kita dapat meluangkan waktu bersama.” Kao-sannya tertawa dan mencubit lembut pipi tirus Sima. “ayo. Kita akan memasak sesuatu yang enak untuk hari ini?” “ayoo!!” kata Sima dengan semangat.

Mereka berdua pun masuk dan Kao-sannya segera ke kamar untuk mandi agar tubuhnya segar. Sima menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak. “apa yang akan kita masak hari ini?” Tanya ibunya. “em.. kao-san, bagaimana kalau kita membuat mie udon?” “eum.. baiklah. Kau membantu kao-san ya?” “baik kao-san.” Mereka pun mulai memasak diselingi canda tawa.

Hari ini Sima memakai baju yang sedikit menampakkan bagian bahunya, sehingga tanda itu terlihat. “eumm.. kao-san. Aku bingung.” “apa yang kau bingungkan Sima-chan?” “ini.” katanya sambil menunjuk tanda yang ada di bahunya. Saat melihat tanda itu kao-sannya tiba-tiba terkejut dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Tubuhnya tiba-tiba merinding. Saatnya sudah akan tiba, batin kao-sannya. “kao-san, kenapa?” “ah.. tidak ada apa-apa Sima-chan. Ayo. Kita jangan menyia-nyiakan hari ini.” Sima mengangkat bahunya dan kembali membantu kao-sannya memasak mie udon. Kao-sannya berusaha menampakkan senyumnya yang paling gembira untuk menutupi keterkejutannya. Dia tahu tanda itu. Itu merupakan tanda kutukan. Dia tahu tanda itu dari Kaisar Kaname, orangtua kandung Sima. Itu artinya dia tidak akan memiliki banyak waktu lagi bersama Sima. Dia harus meluangkan banyak waktu bersama Sima.

Setelah selesai memasak mereka makan bersama dan duduk-duduk di gazebo bersama. Kao-sannya menyesap teh hijau miliknya dan Sima meminum susu coklat kali ini, karena tadi pagi dia sudah meminum teh hijau. “Sima-chan.” Panggil kao-sannya. “iya kao-san?” “maafkan kao-san karena tidak memperhatikanmu selama ini. maafkan kao-san karena selama ini kao-san sibuk dengan dunia kao-san sendiri. Kao-san bersalah karena setelah kematian otou-sanmu kau menjadi gadis yang pendiam dan penyendiri. Secara langsung kao-san sudah menjadi pemicu keadaanmu seperti ini. maafkan kao-san Sima-chan.” Sima tersenyum dan beralih untuk memeluk kao-sannya. “tidak kao-san. Kao-san tidak bersalah. Aku juga sudah memaafkan kao-san dari dulu. Aku menyayangimu kao-san.” Mereka pun berpelukan. Kemudian “oh iya Sima-chan. Ayo kita pergi ke berbelanja beberapa keperluan untukmu dan keperluan dapur. Kao-san sangat ingin memilihkanmu baju.” Sima tersenyum dan “baiklah kao-san. Aku bersiap-siap dulu.” Mereka pun akhirnya pergi dan berbelanja beberapa keperluan untuk Sima. Mereka banyak tertawa dan tersenyum hari ini.

Setelah hari itu Sima dan kao-sannya lebih banyak meluangkan waktunya bersama dan Sima sangat senang karena itu. Dan jangan lupakan Kirito yang tidak jarang mendatangi Sima pada malam hari. Seperti malam ini. “hey. Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Kirito yang tiba-tiba saja sudah duduk di jendela kamar Sima. “aku sedang melukis. Kau tidak lihat?” katanya cuek. Dia tidak terkejut lagi dengan kedatangan Kirito yang tiba-tiba. “apa yang sedang kau lukis?” “huft.. entahlah. Aku hanya membayangkan sebuh negeri yang sangat indah. Negeri tersebut selalu mengalami musim semi. Aroma musim semi sangat kental di sana. Entah kenapa, aku tiba-tiba membayangkan hal itu dan langsung melukiskannya.” Kirito terkejut. Bagaimana mungkin? Ini pasti karena tersimpan sebagian pikiran Kaisar Kaname yang melekat di dalam pikiran Sima. Ya sudahlah. Batin Kirito. “ooh. Bagaimana? Kau sudah berniat untuk menjawab pertanyaanku yang dulu?” “baiklah akan kujawab. Iya. Aku sering merasakan hal itu, aku sering mendengar apa yang orang lain katakan dari kejauhan dan aku tidak merasa lelah karena berlari. Tapi apa peduliku? Mungkin itu adalah sebuah keistimewaan untukku.”

Kirito menghela nafas dan tiba-tiba matanya beralih ke arah bahu Sima yang terdapat tanda kutukan. “kau tidak berniat untuk mencari tahu tentang tanda itu?” katanya sambil menunjuk tanda yang ada pada bahu Sima. Sima berpikir. “aku akan mencari tahunya malam ini. Kau pergilah. Aku harus berkonsentrasi.” Kirito mengangkat bahu dan pergi dengan cara melompat dari lantai 2 ke bawah. Menghentikan kegiatannya Sima segera mengambil laptop, menyalakannya dan mencolokkan modem kemudian mulai mencari. Dia mengetikkan keyword “tanda kutukan” di pencarian. Entah apa yang ada dipikirannya, namun dia segera mengetikkan kata-kata itu tanpa disuruh. Kemudian dia menemukan gambar yang sama seperti tanda yang ada pada bahunya. Kemudian mulai membacanya

“Tanda Kutukan, adalah tanda yang dimiliki oleh hanya 2 orang di dunia ini. namun tanda itu hanya dimiliki oleh keturunan dari Kaisar Kaname dan orang terhebat di Wonderland. 2 tanda kutukan tersebut disertai dengan tanda Bintang di ujung alis untuk perempuan dan tanda bulan sabit di ujung alis untuk laki-laki.
Konon katanya tanda kutukan ini aka mengeluarkan kekuatan yang sangat besar bila disatukan. 2 orang yang memiliki tanda kutukan harus bersatu untuk mengendalikan kekuatan yang sangat besar itu. Tanda kutukan berada di bahu sebelah kanan dan akan terlihat ketika perempuan yang memilikinya berumur 21 tahun. Sedangkan untuk laki-laki tanda itu terlihat lebih awal ketika laki-laki itu berusia 17 tahun. Namun kekuatan tak terduga lebih banyak tersimpan di tubuh si perempuan.”

Setelah membaca artikel itu Sima terkesiap. Bagaimana mungkin? Batinnya. Dan juga tanda bintang di ujung alisnya, persis seperti yang dikatakan artikel tersebut. Lalu siapa pemilik tanda itu selain aku? Tanya Sima pada dirinya sendiri.
Sima mencari lagi namun hasilnya sama saja. Dan mematikan laptopnya Sima segera tidur.

Keesokan paginya Sima akan segera berangkat ke kampus ketika kao-sannya memanggilnya. “Sima-chan?” “iya kao-san?” “kau akan segera berangkat?” “iya kao-san. Kenapa?” “kau harus sarapan sayang. Kau terlihat kurus.” Sima tertawa dan duduk di meja makan kemudian memakan sarapannya dengan lahap dan ditutup dengan meneguk dengan cepat susu coklat hangatnya. Saat kao-sannya keluar dari kamar dan melihat cara Sima meminum susu coklatnya, dia menggelengkan kepalanya dan berdehem untuk menyadarkan Sima. Saat sadar Sima jadi kikuk dan tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “hehe.. maaf kao-san. Aku terburu-buru.” Kao-sannya tertawa dan Simapun ikut tertawa. Mereka kemudian keluar dari rumah dan Kao-sannya bersikeras untuk mengantar Sima ke kampusnya.

Sesampainya di kampus, Sima melepas seatbeltnya dan mencium kedua pipi kao-sannya dan berlari ke arah kelasnya. Saat akan sampai ke kelasnya Sima bertemu dengan Haru. “ohayou (Selamat pagi) Haru-kun” sapa Sima girang. Haru yang melihat perubahan Sima menjadi gadis yang periang tentu saja senang kemudian membalas sapaan Sima. “ohayou Sima-chan. Kau semakin hari tampak semakin ceria Sima-chan. Aku ikut senang.” Mendengar itu Sima tertawa kecil dan mengangguk. “karena kau senang dengan perubahanku. Kau harus mentraktirku makan Ramen ukuran Jumbo.” Haru mendecakkan lidahnya dan memutar matanya malas. “kau pasti sudah sarapan pagi ini. dan masih mau makan ramen ukuran Jumbo. Kau semakin lama semakin mirip dengan tokoh anime Naruto yang sangat menyukai ramen. Aku takut perutmu tidak akan sanggup menerima makanan sebanyak itu.” Sima tertawa dan berkata. “aku memang menyukai karakter Naruto, dan kami mirip bukan?” katanya sambil menaik-turunkan alisnya. Haru tertawa dan memberantaki rambut Sima. “baiklah kalau begitu Naruto-kun. Aku akan membelikanmu ramen. Tapi setelah kelas pagi ini berakhir.” Sima tertawa karena dipanggil Naruto-kun oleh Haru.

Mereka kemudian memasuki kelas dan mengikuti mata kuliah yang berlangsung dengan baik. Kemudian saat kelas berakhir Haru menepati janjinya dan pulang ke rumah setelah mereka berjalan-jalan sebentar ke taman hiburan menaiki bianglala dan memakan permen kapas.

In The Dark World
“yak Zero bodoh, apakah aku harus menyerahkan gadis itu kepadamu? Aku rasa itu tidak perlu.” Kata Kirito yang tiba-tiba memasuki kediaman Zero dan mengatainya bodoh. Zero tentu saja kesal dikatai bodoh oleh Kirito, hingga tanpa pikir panjang Zero melontarkan api dari tangannya kearah Kirito dan dengan santainya Kirito menepis api itu dengan pedang panjangnya yang kebetulan ditentengnya di pundaknya. Zero kesal dan Kirito mengangkat bahunya dengan Cuek. “aku tidak mau tahu. Kau harus segera menyerahkan gadis itu kepadaku.” “ya sudah.” Kirito pergi dari kediaman Zero meninggalkan Zero yang masih kesal.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: Derisma Paulina Haloho
Add my fb: Derisma Paulina Haloho

Cerpen Kirito san (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Bernama Safira

Oleh:
Sayup angin malam yang simpang siur mampir lewat celah jendela berkusen jati coklat sambil menggores sedikit candanya di sela-sela kaca yang masih terlihat bening. Saya tidak tahu, apakah saya

Mesin Waktu

Oleh:
Pada tahun 2026 dimana dunia sudah mulai dikuasai teknologi canggih, ada 3 sahabat yang bernama jack, nicole dan alex. Mereka baersekolah di sekolah yang sama tepatnya di smp ABC,

Happy Ending Story

Oleh:
Aku mengomel panjang pendek saat gak sengaja seseorang menabrak ku dari arah berlawanan. hingga membuat buku-buku ku jatuh berserakan di lantai. “ati-ati dong… mas” protesku sambil memungut buku-buku ku

Solena

Oleh:
“Dia lewat!” Teriak Jeje sembari mengguncang-guncangkan lenganku. Aku menoleh ke arah yang sama dengan Jeje. Mataku terpaku pada sosok yang telah kudambakan selama ini. Dintar. Ya, Dintar lah nama

Langit Sore

Oleh:
Langit sore ini memang indah. Ia terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Aku memejamkan kedua mata. Merasakan belaian angin senja di atas bukit. Damai. Ku buka kedua mata mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *