Kirito san (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 February 2018

In The World.
Sima pov’s
Sudah satu minggu ini aku tidak bertemu dengan Kirito. Entah kenapa aku merasa kurang sesuatu saat tidak melihat Kirito semingu ini. dan saat bertemu dengannya aku merasa jantungku tidak bisa diajak bekerja sama akhir-akhir ini. aku sering membayangkan wajah Kirito. Apakah aku mulai menyukainya? Entahlah. Namun aku harap kalaupun aku menyukainya dia juga merasakan hal yang sama kepadaku.

Aku teringat sesuatu, aku masih belum mengerti dengan tanda kutukan itu. Dan aku juga belum menemukan petunjuk mengenai seorang laki-laki yang memilki tanda kutukan itu juga. Namun dari semua itu aku sangat senang karena akhirnya dapat meluangkan banyak watu bersama kao-sanku. Oh ya. Dan akhir-akhir ini aku juga meraskan sesuatu yang aneh pada tanda kutukan yang ada di bahuku. Tanda itu terkadang bersinar terang. Dan aku juga merasakan ada yang mengintaiku dari luar bumi ini. seperti seseorang yang mengintaiku itu memiliki niat jahat untuk membunuhku.

Kirito pov’s
Entah apa yang merasukiku, aku merasa rindu kepada gadis itu. Gadis yang diperintahkan oleh Zero untuk kubunuh dan kuserahkan kepadanya. Aku tahu aku mulai menyukai gadis itu bahkan menyayanginya. Aku juga tahu bahwa gadis itu juga merasakan hal sama. Dan semakin lama aku semakin tidak sanggup untuk menyerahkan Sima-gadis itu- kepada Zero sialan itu. Sima sedang mencari laki-laki dengan tanda kutukan itu juga. Dia tidak tahu bahwa akulah pemilik tanda kutukan itu yang artinya aku dan Sima adalah pasangan sehidup semati sehingga tidak ada salahnya aku saling menyukai dengan Sima. Karena kami harus bisa mengendalikan kekuatan besar yang tersimpan didalam tubuh Sima. Aku sudah tahu bahwa Zero sialan itu sudah mengerahkan seorang Hunter untuk memburu dan membunuh Sima. Zero mulai mengetahui gelagatku yang tidak akan menyerahkan gadis itu kepadanya.
Sebaiknya aku selalu menjaga Sima agar tidak tertangkap oleh Hunter yang kutahu bernama Iriye di bumi.

Author pov’s
Kirito segera pergi kerumah Sima dan mendapati gadis itu sedang melamun di atas ranjangnya. Dia segera menghampiri Sima. Sima yang dipanggil oleh Kirito terkejut dan segera beranjak dari ranjangnya dan mematung di tengak kamarnya. “ki..kirito-san” “Sima-chan, ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu.” Wajah Kirito berubah menjadi sangat serius dan itu membuat Sima gugup. “katakan saja.” “aku menyukaimu Sima-chan. Aku menyayangimu dan aku ingin kita segera menjadi sepasang kekasih.” Deg. Perasaan Sima terbalaskan.

“Sima-chan” panggil Kirito lagi ketika melihat Sima menundukkan kepalanya dan memandangi karpet kamarnya. “ayolah Sima-chan. Jawab aku.” “a.. aku.. aku juga merasakan hal yang sama denganmu Kirito-san.” Jawab Sima. Kirito tersenyum dan segera membawa Sima kepelukannya. Dia mengangkat wajah Sima dengan jari tengahnya di dagu Sima. Kemudian wajahnya semakin mendekat dan tanpa aba-aba Kirito mencium Sima tepat di bibirnya. Sima tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya mengikuti irama ciuman Kirito hingga mereka berdua kehabisan pasokan oksigen di paru-paru mereka.

Kemudian Kirito mengecup lebut kening Sima dan memeluknya kemudian berbicara. “kita harus membicarakan hal penting mengenai tanda kutukan yang ada di bahumu Sima-chan.” Sima terkesiap dan meganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan dan duduk di ranjang Sima. “tapi sebelumnya, di mana kao-sanmu berada sekarang?” “kao-san belum pulang dari bekerja.” “ooh. Begini, kau pasti sudah mencari tahu mengenai tanda kutukan itu bukan?” Sima mengangguk. “aku adalah orang yang memiliki tanda kutukan itu juga Sima-chan, aku adalah pasanganmu. Kita harus bersatu untuk mengendalikan kekuatan besar yang tersimpan di dalam tubuhmu. Kau bisa melihat tanda itu padaku.” Katanya dan membuka jacketnya kemudian kaos hitam yang dipakainya dan memperlihatkan tubuh sempurna Kirito. Perut yang sixpack dan ramping. Sima tidak berkedip melihat pemandangan menggiurkan itu. Kirito berdecak jengkel, “jangan memeperhatikan perutku. Perhatikan tanda kutukan yang ada di bahuku” Sima terkekeh kecil dan benar, dia melihat tanda kutukan yang sama dengan yang ada di bahunya. Kemudian dia mengingat tanda bulan dan memperhatikan wajah Kirito yang di ujung alisnya dan tanda bulan sabit.

Tidak berapa lama tanda kutukan itu bersinar bersama. “i..ini..” “iya Sima-chan. Tanda ini menemukan pasangannya. Kita harus segera berlatih untuk mengendalikan kekuatanmu.” Sima mengangguk dan berkata. “lalu benarkah bahwa aku ini anak dari Kaisar Kaname? Berarti aku bukan anak kandung dari otou-san dan kao-sanku?” “iya Sima-chan. Dan negeri musim semi yang kau lukis tempo hari itu adalah negerimu yang sebenarnya. Wonderland. Negeri yang seharusnya kau pimpin. Aku tahu akhir-akhir ini kau merasakan ada yang mengintaimu. Maafkan aku Sima. Dia adalah Zero. Raja dari Dark World yang dulunya adalah Wonderland yang direbut oleh Zero dan membunuh ayahmu. Maafkan aku Sima-chan. Aku adalah orang yang ada di mimpimu dulu, aku adalah orang yang diutus oleh Zero untuk membunuhmu. Tapi aku tidak sanggup Sima-chan. Rasa cintaku mengalahkan niatku itu.” Sima terkejut mendengar semua kebenaran ini. “kau.. kau mencintaiku Kirito-san?” Kirito mengangguk, dan itu sudah cukup bagi Sima. “kalau begitu kita harus segera berlatih untuk mengalahakan raja Zebra, Zeri.. atau apalah namanya..” “Zero” “ah iya. Itu. Kita harus mengalahkannya.” Kata Sima dengan penuh tekad. “oh iya. Aku lupa sesuatu. Zero telah mengirim seorang Hunter untuk membunuhmu. Aku akan terus menjagamu.”

Kemudian setelah malam penuh kejutan dan kebenaran itu mereka berdua berlatih dengan serius. Pada awalnya Sima terkejut saat dia bisa mengeluarkan api dari tangannya. Dan dihari berikutnya Sima dapat membaca pikiran seseorang. Sima belajar dengan cepat apa yang diajarkan oleh Kirito. Hingga suatu pagi di kampus. Sima melihat seorang mahasiswa baru di kelasnya. Dan orang itu terus memperhatikan Sima dengan tatapan mata yang tajam membuat Sima tidak nyaman. Setelah kelas selesai, Sima mengirimkan telepati kepada Kirito. Dia diajarkan untuk mengirimkan telepati kepada pasangannya. “Kirito-san. Kelasku kedatangan mahasiswa baru dan dia terlihat mencurigakan” telepatinya dibalas oleh Kirito. “aku tahu. Dia adalah Hunter yang dikirimkan oleh Zero. Kau harus berhati-hati Sima-chan. Saat dia menyerangmu tiba-tiba, lakukan apa yang sudah kuajarkan padamu.” “baik”

Kemudian setelah selesai berkirim telepati, tiba-tiba saja tangan Sima ditarik dan menghilang. Saat membuka mata Sima sudah berada di sebuah tempat yang sangat luas dan gersang. Sima tidak tahu berada di mana, namun yang dia tahu, ini masih di Jepang. Dan dia mendengar seseorang berkata. “kau harus segera mati Sima dan kuserahkan kepada raja Zero.” “coba saja kalau bisa. Dasar Hunter pecundang.” Hunter tersebut marah dan mulai menyerang Sima. Sima dengan lihai menghindari serangan Hunter itu. Hingga satu kali pedang anginnya mengenai lengan Sima dan membuat darah segar mengalir dari sana. Sima lengah. Dia segera mengumpulkan kekuatannya dan memusatkan pikirannya untuk membuat api dari tangannya. Tidak berapa lama warna mata Sima berubah menjadi merah menyala dengan symbol kutukan di tengahnya. Dia menyerang Hunter itu terus menerus. Hunter itu terus menghindar hingga Sima melempar apinya yang besar terakhir kearah Hunter itu dan mengenainya. Api itu membakar tubuh Hunter itu. Sima tersenyum miring dan berkata “hanguslah!” tidak lama kemudian Hunter itu menghilang menjadi debu. Sima kembali ke keadaannya yang semula. Dia jatuh terduduk dan tubuhnya lemas. Kepalanya pusing. Dan dia tidak tahu bagimana caranya pulang hingga Kirito datang dan memeluk tubuh Sima. “hebat Sima-chan. Kau bisa mengalahkannya. Namun kau harus mengendalikan kekuatanmu.” Sima mengangguk dan matanya tertutup.

Kirito panik melihat Sima yang pingsan. Dia segera membaringkan Sima di rumput begitu mereka berpindah ke daerah yang sejuk. Kirito segera menyalurkan kekuatannya kepada Sima melalui mulutnya ke mulut Sima. Kemudian cahaya biru keluar dari mulut Kirito dan masuk ke mulut Sima. Tidak berapa lama Sima bangun dan tersenyum kepada Kirito saat sadar dirinya telah berhasil mengalahkan Hunter itu. Sudah 2 bulan mereka bersama, raja Zero akhirnya turun tangan ke bumi. Dia sendiri yang akan mengalahkan gadis itu.

Saat pulang dari kampus, Kirito segera membawa Sima ke sebuah tempat yang luas. “sudah saatnya.” Sima mengerti apa yang dimaksud oleh Kirito. Mereka menoleh saat mendengar suara tawa keji dari raja Zero. “HAHAHA. Aku tidak menyangka kau akhirnya jatuh kepelukan gadis itu Kirito.” “diam kau” kata Kirito. “hem, jangan menganggapku lemah Kirito. Aku tahu gadis itu telah mampu mengalahkan Hunter utusanku. Tapi apakah dia sanggup melawanku?” kata raja Zero dengan suara keji dan tiba-tiba saja Shinzi Edogawa -ibu angkat Sima- sudah dalam keadaan mengenaskan di samping Zero. Kao-sannya lemas dan berlumuran darah. Dibagian wajahnya terdapat luka lebam. “kurang ajar kau Zebra. Berani-beraninya kau menyakiti kao-sanku!?” Sima belum bisa menyebutkan nama Zero dengan benar. “brengsek. Namaku Zero, bukan Zebra!” Sima tersadar, “aku tidak peduli Zeri bodoh! Kau akan kubunuh” “namaku Zero!” Kirito sebenarnya ingin tertawa namun ini bukan saat yang tepat.

Raja Zero kesal. Dan entah mantra apa yang diucapkannya, tiba-tiba saja Shinzi berteriak kesakitan dan menghembuskan nafas terkhirnya. “KAO-SAN!!?” Sima berteriak. Air matanya mengalir dengan deras. “BAKA (Bodoh)!! Kenapa kau membunuh kao-sanku!? Kau akan menerima akibatnya.” Kemudian pertarungan dimulai. Kirito mengelurkan pedangnya begitu juga Sima yang mengeluarkan pedangnya. Zero mengeluarkan seluruh anak buahnya. Mereka sangat banyak namun hal itu mudah diatasi oleh Kirito dan Sima. Suara pedang beradu pedang, pekikan kesakitan, suara pedang yang menembus daging, dan darah bercucuran di mana-mana akhirnya pasukan Zero habis. Zero tidak bisa mempercayainya. Dia kesal dan turun tangan. Dia mengerahkan semua kekuatannya untuk menyerang mereka berdua. Mereka bertempur mati-matian. Ketika jarak mereka sudah dekat, Kirito mendorong Sima ke belakang dan menghadang Zero sendirian. “Sima-chan. Kumpulkan kekuatanmu. Kerahkan untuk membunuh Zero. Cepat!” pting! Suara pedang Kirito beradu dengan pedang besar milik Zero. Sima segera mengumpulkan kekuatannya. Namun sangat lambat karena kekuatannya banyak terkuras tadi. “Kirito-san. Ini terlalu lambat. Bagaimana ini?”

“HAHAHA kalian berdua akan segera mati” Zero mengarahkan pedangnya ke arah Kirito dan ditangkis oleh Kirito. “cih. Diam kau!! Sima-chan. Emosimu. Pusatkan emosimu. Pikirkan kao-sanmu dan aku. Dan juga Haru-kun.” Kirito masih beradu pedang dengan Zero. Saling tendang, saling pukul tidak terelakkan. Sima segera memusatkan pikirannya. Benar yang dikatakan oleh Kirito. Sekarang tubuhnya telah dikelilingi api biru, matanya berubah warna menjadi merah dan tanda kutukan itu muncul lagi di bola matanya. Aura api itu membuat rambutnya beterbangan. Tanda kutukan itu bersinar. Kirito yang menyadari hal itu akhirnya menendang perut Zero dengan keras dan berlari kearah Sima. Dia mendekat dan memegang tangan Sima. Lalu hal sama terjadi padanya, namun dengan api merah yang mengelilinginya. Zero yang melihatnya terkejut. “gawat! Mereka sudah bersatu.” Akhirnya Zero mengeluarkan sisa-sisa kekuatannya. Dia dikelilingi api kuning. Namun 2 lawan 1. Kirito dan Sima mengarahkan paduan api mereka ke Zero dan Zero sendiri tidak bisa menghadang api itu. Akhirnya api itu membakar Zero. “HANGUSLAH ZEBRA!?” kata Sima dengan keras. Kirito menahan tawanya. Dan akhirnya Zero hangus dan hilang menjadi debu. Setelah itu api dari tubuh mereka padam. Kirito jatuh karena kehabisan tenaga. Sima yang menyadari hal itu segera memeluk tubuh Kirito dan berkata. “jangan tinggalkan aku. Kao-san sudah pergi Kirito-san. Aku mohon. Aku mencintaimu.” Katanya berurai air mata. Namun Kirito tidak bisa menjawab dan menutup matanya.

Sima menangis dengan kencang sambil menggoncang-goncangkan tubuh Kirito. Dia teringat sesuatu. Dia mendekatkan mulutnya ke mulut Kirito dan cahaya biru itu berpindah kemulut Kirito. Namun Kirito belum juga bangun. “hiks.. Kirito.. huaaaa!! Bangun. Kau harus bangun. Katakan sesuatu. Hikss..” “apa yang harus kukatakan” Sima terkesiap. Kirito hidup. Kirito masih hidup. Dia memeluk tubuh kirito dengan erat.

Beberapa bulan kemudian.
“aku senang akhirnya negeri ini kembali. Wonderland akhirnya kembali.” Kata kirito sambil memeluk Sima dari belakang. Mereka sekarang sudah berada di Wonderland, dan negeri itu dipimpin oleh mereka berdua dengan baik. Dan kao-sannya telah dikuburkan dengan layak. Sima menangis dengan keras, namun Kirito selalu ada untuknya. “aku juga senang. Terlebih kau selalu bersamaku. Aku mencintaimu Kirito-san.” “aku juga mencintaimu Sima-chan.”
“oh iya. Saat Zero terbakar kau menyebutnya zebra. Aku ingin tertawa. Kau tahu saat itu sangat lucu. Hahaha” Kirito tertawa dan Sima menenggelamkan wajahnya di pelukan Kirito karena malu.

Akhirnya mereka hidup bahagia di Wonderland dan sesekali mereka kembali ke bumi hanya untuk makan ramen dan jiarah serta menemui Haru.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: Derisma Paulina Haloho
Add my fb: Derisma Paulina Haloho

Cerpen Kirito san (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wacht Op Mij, Holland

Oleh:
Terakhir kalinya Edo merasakan kehangatan itu sudah lama sekali, ia pun mungkin sudah lupa dengan wajah ayahnya yang terakhir kali ia lihat saat ia kelas 3 SD sebelum Ayah,

Melawan Lucifer

Oleh:
Sering kita melihat ilustrasi makhluk Tuhan yang dikisahkan membangkang terhadap perintah-Nya, yaitu bertanduk, bertubuh merah, bertaring atau apapun itu yang menyeramkan. Dia telah menunjukkan wujud aslinya. Semua orang bisa

Siapa Yang Salah

Oleh:
Alexandrio Pareda. Cowok bermarga pareda dan merupakan murid pindahan dari Manado. Tak banyak yang kutau awalnya. Awalnya yang kuketahui dia merupakan penghuni kelas IPA di sebelah kelas sedangkan aku

Hear My Heart

Oleh:
Kekaguman biarlah tetap menjadi kekaguman. Apa kalian semua pernah merasakan jatuh cinta? disaat hati berbunga-bunga melihat seseorang yang kita sukai lewat di depan kita, membuat jantung ini serasa berdegub

Cintaku Juga Darahku

Oleh:
Sejak kejadian beberapa tahun silam, seiring berjalannya waktu yang aku lewati dengan rasa trauma yang sangat mendalam. Sejak kejadian bencana alam itu tejadi, masih ku ingat betapa isi bumi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *