Kisah Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 March 2016

Ya, tepat tanggal 04 November 2015 di hari Rabu. Mungkin menurut orang-orang itu hari yang biasa. Tapi, tidak untukku dan seorang lelaki. Lelaki itu adalah temanku saat di perkemahan besar. Dhani Atma Bintang. Ya, orang-orang dan aku menyapanya Bintang. Oh, ya. Pasti kalian bertanya tanggal 04 November itu tanggal apa. Itu adalah tanggal aku dan Bintang resmi Berpacaran. Ya, mungkin bisa dibilang aku dengannya pasangan baru. Ya, seperti yang ku bilang, dia adalah temanku saat perkemahan besar. Aku juga kenal dia di saat aku di perkemahan besar. (Kita singkat ya Perkemahan Besar menjadi Kemsar.)

Awalnya aku dengannya tidak kenal. Kami berbeda kelas. Kami juga baru masuk SMP kelas 7. Jadi aku dengannya tidak kenal. Tetapi, aku kenal dengan semua teman-teman sereguku. Kebetulan semuanya kakak kelasku (terkecuali aku, Bintang dan seorang lainnya). Aku juga kenal dengan kakak kelas itu lewat kakakku. Kakakku juga seorang ketua dari regu perempuan perwakilan sekolah. Ya, biasa disebut Pratama putri. Kami regu perempuan ada 8 orang begitu juga dengan yang laki-laki. Kami sudah bisa dipanggil Dewan Kehormatan.

Di sela-sela latihan untuk Kemsar sesekali aku memperhatikan Bintang. Ya, lelaki tinggi itu. Bisa dibilang tinggi. Bagaimana tidak? Tingginya melebihi guru pendamping laki-laki. Katanya sih tingginya 175 cm. Mungkin itu angka biasa. Tetapi, untuk seorang remaja berusia 14 tahun itu tidak cocok. Ah, sudahlah lupakan saja. Awalnya aku tidak berani memanggilnya. Tetapi, aku terpaksa memanggilnya untuk membantuku menjual lambang-lambang pramuka ke kelas-kelas 7.

“Bintang!” Panggilku. Ia menoleh dan sontak berkata, “Apaan?” Sahutnya. dia mendekatiku. Aku melanggak karena tingginya jauh dariku.
“Bantuin gue dong jual ini nih lambang-lambang. Disuruh kakak pembina.” Balasku.
“Ah, males. Cape gue.” Jawabnya. Aku sedikit kesal dengannya.
“Ayo!” Aku memaksanya sambil menarik tangannya.
“Is, gue cape tahu.” Ujarnya. Aku memaksanya terus-menerus. Tetapi, dia menolaknya dengan alasan ‘cape’. Aku semakin kesal dengannya. Aku memegang tangannya dan menyentuh lengannya membentuk cubitan. Awalnya aku pelan, tetapi dia tetap tidak mau. Semakin dia mengeluh, semakin kuat cubitanku. Dan dia mengalah.

“Iya, iya. Gue mau.” Ujarnya sedikit kesakitan.
“Haha. Ya udah, ambil tuh stoknya. Bawa ke atas,” Perintahku. Dia membawanya dengan sedikit kesal sambil memegang tangannya yang tadi ku cubit. Kami menuju ke lantai paling atas. Dan aku mengajaknya ke kelasnya dulu. Kelas 7-C. Aku dan dia menawarkan barang-barang yang kami bawa. Ada stok dan lambang-lambang. Dia mulai mengeluh. Aku menariknya ke kelasku. Tepat di sebelah kelasnya. Kelasku adalah kelas 7-B. Seperti tadi. Aku menawarkan barang-barang yang kami bawa. Setelah itu, di kelas 7-A. Sama seperti kelas sebelumnya. Saat aku melayani teman-temanku membeli barang-barang. Ku lihat lelaki itu sudah pergi meninggalkan barang-barang.

“Ya Allah. Bintang,” Aku mengeluh. Setelah selesai aku membawa barang-barang ke bawah sendirian. Ia menertawakanku.
“Huh, awas aja tuh anak,” Gumamku sambil kerepotan. Saat dia sedang diam aku mendekatinya.
“Bagus lo ya. Ninggalin gue gitu aja. Repot tahu gak bawanya.” Jelasku. Dia hanya tersenyum mengejek dan lari meninggalkanku. Aku mengejarnya. Awalnya aku kesal dengannya. Tapi, di sela-sela aku mengejarnya ia membuatku tertawa dan aku tidak kesal lagi padanya.

Hari-hari terus berlalu. Acara kemsar sudah dekat. Kami mempersiapkan semua barang-barang yang harus dibawa. Pagi itu di hari jum’at tepat tanggal 29 Agustus 2015 aku langsung pergi ke sekolahan untuk berkumpul begitu juga dengan kakakku. Ku lihat baru satu orang yang datang. Dan kami bertiga. Lalu datang lagi satu orang, datang lagi. Kami asyik mengobrol sehingga tak ku sadari ada lelaki yang selalu membuatku kesal itu datang. “Hufft, nih cowok dateng.” Ucapku dalam hati. Semua sudah berkumpul. Tinggal 2 guru pendampingku yang belum datang. Sambil menunggu kami juga sarapan sejenak. Ku lihat Bintang lari menuju sebuah mobil. Oh, ternyata itu mama dan papanya. Aku tertawa dalam hati ‘Masa sih cowok anak pramuka kemah aja masih ditemenin Mama. Haha.’ Kataku dalam hati. 2 guru pendampingku telah tiba. Ku lihat di belakang motor guruku ada sebuah mobil pick up yang lumayan besar. Bisa dibilang ukuran sedang. Kata guruku kami pergi menaiki mobil itu.

Kami semua terkejut. Sebenarnya kami tidak mau. Tetapi, terpaksa. Ya, aku menaiki mobil itu. Sesekali ku pandangi sekeliling. Aku mencari lelaki barbadan tinggi itu. Ku lihat dia duduk di samping sopir beserta dua kakak kelas yang satu regu dengannya. Aku agak sedih. Karena aku tidak bisa bercanda dengannya. Ya, mungkin itulah awal pertama aku menyukainya. Di perjalanan kami bernyanyi-nyanyi dan selfie-selfie. Kami tertawa bersama. Dan salah satu kakak kelasku yang laki-laki membuat kami terus-terusan tertawa. Dan tak terasa kami sampai di tujuan. Aku turun dari mobil dan mengambil barang bawaanku. Aku sangat lelah, padahal baru saja mulai. Guru pendampingku pergi mengambil nomor urutan kemah kami. Sambil menunggu guru pendampingku datang. Aku menjahili lelaki yang bernama Bintang itu. Kami bercanda tawa. Ku lihat ada mobil yang tadi disamperin Bintang waktu kami berkumpul di sekolahan.

“Loh, itu kan mobil lo? Mama lo ikutan kemping?” Tanyaku kepadanya.
“Iya. Dia nungguin gue.” Balasnya. Aku menertawainya. Mulai dari itu aku mengejeknya ‘Anak Mami’.

Setelah guruku datang. Kami berpisah dengan regu putra. Aku merasa sedih karena aku harus berpisah dengan Bintang. Tapi, aku terpaksa. Sampai di nomor urutan kemah kami, kami langsung menaruh barang-barang dan mendirikan tenda. Aku sangat bersemangat sekali. Setelah tenda itu berdiri, kami membentang tikar dan menyusun barang-barang. Kami beristirahat dan makan siang. Jam 16.00 kami langsung bersiap-siap untuk Upacara Pembukaan Kemah. Kami berbaris dengan cepat. Aku menoleh ke kiri sambil menjinjit untuk mencari regu putra. Ya, aku ingin melihat Bintang. Tapi, usahaku sia-sia. Aku tidak bertemu dengan mereka. Saat jam 17.00 Upacara selesai. Kami kembali beristirahat dan salat maghrib. Malamnya Jam 08.00 kami pergi ke lapangan. Tapi, 2 orang dari regu kami harus tinggal karena menjaga tenda. Kami pergi ke lapangan karena ada Acara Pentas Seni. Kami regu putri mencari regu putra untuk bergabung. Kami menemui mereka dan bergabung. Ku lihat Bintang juga ada di sana. Aku semangat sekali.

“Wee, Tonjang!” Sapaku dengan lelaki tinggi itu. Dia kesal dan mengejarku. Kami bercanda berdua. Kakak kelas semuanya sibuk membicarakan Pentas seni itu sedangkan kami bercanda bareng. Lalu aku mengajak Bintang untuk bergabung dengan kakak kelas. Mereka bertanya ingin main apa. Aku mengusulkan untuk bermain ABC 5 Dasar. Yang kalah akan mendapatkan hukuman. Kami tertawa bareng. Bintang mencari masalah lagi dengan mengejekku. Aku mengejarnya dan saat aku mendapatkannya aku mencubitnya. Dia mengerang kesakitan. Ia memohon kepadaku untuk melepasnya. Aku melepasnya. Dan ia mengejekku lagi. Kami berlari bareng dan terdengar suara sirine toa yang menandakan untuk berkumpul memulai acara. Regu kami berkumpul dan duduk. Kami melihat peserta-peserta itu menampilkan pensi mereka. Sesekali aku menoleh regu lelaki. Aku melihatnya. Dan dia melihatku. Aku sinis kepadanya. Dan berpaling arah ke acara itu.

Setelah acara selesai regu kami berdiri. Awalnya aku tidak mau berdiri. Karena aku tidak kuat lagi. Aku merasakan semua badanku lemah. Dan aku dibantu dengan salah seorang kakak kelas dari reguku. Aku bangkit. Dan mereka melangkah maju tetapi, aku masih tetap di tempat dan tiba-tiba lututku tidak kuat menahan badanku lagi. Aku tersungkur jatuh. Salah seorang dari mereka berteriak meminta tolong. “Woy! Rani pingsan! Cepat! Cepat!” sontak seluru reguku menolongku. Mereka memanggil-manggil regu putra untuk meminta mengangkatku. Sebenarnya aku masih sadar. Tapi, mereka beranggapan aku sudah pingsan. Aku hanya lemah dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku melihat sekelilingku dengan memutar bola mataku mencari lelaki yang ku maksud. Bintang, tetapi aku tidak melihatnya.

Salah seorang regu putra berteriak, “Mana Bintang?! Dia kan besar badannya. Suruh bantulah.” Teriak seorang lelaki. Aku tidak tahu siapa. “Udah balik ke kemah. Udah lah. Mending sekarang antar dia ke pos kesehatan.” Balas salah seorang perempuan. Aku juga tidak tahu siapa. Aku diangkat oleh kakak-kakak yang ada di pos kesehatan. Aku ditaruh di atas matras. Aku diperiksa oleh anggota PMR.

Setelah itu datang seorang dokter yang langsung memeriksaku. Sekitar 15 menit aku di pos kesehatan, aku meminta pulang. Awalnya aku dilarang pulang. Tetapi, aku memaksa dan aku pun diantar pulang oleh kakak penegak. Aku diantar menggunakan motor. Lalu aku tidur di kemah. Keesokan paginya kondisi kesehatanku semakin parah. Dan guruku menelepon mamaku. Satu jam kemudian mamaku datang menjemputku. Aku langsung dibawa pulang. Aku tidak sempat melihat Bintang. Aku kembali ke rumah dan langsung beristirahat. Saat hari senin kondisiku mulai membaik. Aku kembali masuk ke sekolah. Dan aku melihat Bintang di sana. Semuanya sibuk menanyakan kondisiku. Aku menjawab apa adanya.

Setelah peristiwa itu berlalu. Aku dan Bintang semakin dekat. Kami selalu bercanda tawa bersama. Saling mengejek. Tanpa ku sadari rasa sukaku semakin mendalam. Aku bercerita kepada sahabat-sahabatku. Awalnya cuma sahabatku yang tahu. Saat aku semakin dekat dengan Bintang, aku dan Bintang digosipi berpacaran. Huft, sungguh memalukan. Aku mulai takut dan aku berbicara dengan Bintang.

“Bin, gimana nih? Kita digosipin pacaran loh. Guru mulai tahu. Nanti kita bermasalah lagi.” Jelasku. Tapi, dia menanggapnya biasa saja.
“Biarin aja,” Singkatnya. Entahlah, kenapa dia menanggapinya dengan santai. Gosip aku berpacaran dengannya mulai terlupakan. Tetapi, muncul gosip baru kalau aku menyukainya. Sontak Bintang terkejut. Aku sangat takut kalau dia mengetahuinya. Dan muncul lagi gosip kalau Bintang menyukaiku. Tetapi, itu hanya gosip. Tepat ditanggal 04 November 2015 saat pelajaran Agama Islam. Aku dan salah seorang sahabatku izin ke toilet. Aku berpapasan dengan Bintang. Ia tersenyum kepadaku dan aku membalasnya. Saat aku ingin menuruni tangga 2 temanku yang beragama Nasrani memberhentikanku. Ia menjelaskan bahwa temanku dan Bintang berpanco siapa yang menang akan mendapatkanku.

Aku tertawa dan bertanya, “Siapa yang menang?” Tanyaku singkat. Dan temanku tersenyum sambil berkata, “Bintang,” Jawabnya. Aku tertawa dan di dalam hatiku rasanya senang sekali. Aku kembali ke kelas dengan wajah yang mungkin merah karena kejadian tadi. Aku masih memikirkan perkataan temanku. Dan tibalah saatnya istirahat. Aku dan temanku turun kebawah untuk jajan mengganjal perutku dengan sedikit makanan. Saat kembali ke atas aku lihat 2 temanku yang tadi dan Bintang berkumpul di dekat tangga. Aku diberhentikan temanku.

“Gimana Ran? Terima gak nih Bintangnya?” Tanya temanku. Wajahku sedikit memerah.
“Nembak aja belum.” Jawabku sedikit malu. Bintang menghadap tangga. Ia tidak berani menatapku.
“Ya kalau dia nembak gimana?” Tanya temanku lagi.
“Ya gak tahulah.” Jawabku sambil memakan sedikit jajananku.
“Bintang, bilanglah nih. Ungkapinlah isi hati lo.” Ujar temanku. Ia tersenyum malu.

“Bin, lo suka gak sama Rani?” Tanya temanku lagi.
“Iya gue suka sama lo Ran.” Ujarnya. Aku tersenyum malu. Kata temanku wajahku memerah.
“Iya, gue juga suka sama lo.” Jawabku malu-malu. Aku langsung lari ke kelas. Wajahku benar-benar merah. Saat pulang ia menghampiriku.
“Ran, nanti gue add facebook lo, lo confirm ya.” Katanya kepadaku. Aku sedikit deg-degan.
“Iya iya. Gue balik dulu ya. Bye.” Pamitku kepadanya.
Saat malamnya, aku cepat-cepat mengambil hp-ku dan membuka Facebook-ku.

Ku lihat ada 1 permintaan pertemanan. Tertulis di sana ‘Dhani Atma Bintang’ sontak aku langsung meng-konfirmasi facebooknya. Ia langsung mengirim pesan kepadaku. Ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Begitu juga denganku. Tetapi, kakakku tidak setuju dengan hubunganku. Jadi, aku berpacaran diam-diam. Baru 2 bulan lebih aku berpacaran dengan Bintang, kakakku sudah membaca percakapanku dengannya. Kakakku meminta aku untuk putus dengannya. Aku langsung membuka pesan. Aku pura-pura mengirimnya pesan untuk putus. Tetapi, aku masih tetap berpacaran dengannya. Entah sampai kapan hubungan ini harus berjalan rahasia. Sampai saat ini aku tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan kisah kita. Dan ku harap semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin merasakan akhir kisah kita.

TAMAT

Cerpen Karangan: Mirani
Facebook: Siti Nurmirani
Hai para Reader! Maaf ya kalau cerpen aku jelek. Terus alur cerpen aku juga gak jelas. Tambah lagi berantakan. Maklum aku baru buat. Ini kisah nyataku sih. Tapi, ada sedikit perubahan. Oke, thanks For Attention yah. ^_^

Cerpen Kisah Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Oralda dan Sisiliano

Oleh:
Oralda gadis yang sangat cantik, matanya berbinar binar, langkahnya begitu cepat dia segera mengambil gaun cantik bewarna putih yang tergeletak di atas ranjangnya, tiba-tiba matanya melihat ada sebuah surat

Cinta Tak Terduga

Oleh:
Aku sedang berbicara lewat hp dengan sahabatku, Anggun, “Iya, Gun nanti sore jadi kok ke toko buku. Tenang aku antar kamu kok.” kataku sambil menyeruput minuman dingin yang ku

Ku Akhiri Segalanya

Oleh:
Terbuai dalam dekapan malam, terpancarkan cahaya hati. Terlampiaskan akan canda tawa, terjerat kembali akan memori. Seuntai rasa segumpal hati. Berjuta cinta berjuta kasih tiada tara dalam kiasan hati. “Rasya…..ayo

Pembantu Bodoh

Oleh:
Di sebuah Kota yang besar hiduplah sepasang keluarga kaya, mereka mempunyai anak bernama Rico. Ayah dan Ibu Rico selalu kerja, jadi ia di rumah hanya sendiri, dan akhirnya pada

Pacar 24 Jam

Oleh:
Saat pulang sekolah, tiba-tiba aku mendapatkan kejutan dari teman-teman sekelasku terutama Ferel. Ferel menyanyikan lagu cinta diiringi dengan alunan musik gitarnya, kemudian teman-temanku berdiri mengelilingiku dan Ferel. “Ada apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *