Kisah Si Mak Comblang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 January 2020

Ani, orang biasa memanggilku dengan nama itu. Namun, semenjak di SMA aku mulai dipanggil mak comblang karena aku sering menyatukan dua orang yang saling jatuh cinta atau mendekatkan seseorang dengan orang yang dicintainya. Belum lama ini, aku naik ke kelas 12.

Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan bagiku karena aku ada pelajaran olahraga. Aku pun memutuskan untuk membeli minum ke kantin setelah selesai pelajaran olahraga. Saat aku berada di kantin, seseorang tiba tiba memanggilku.
“Ani,” panggil orang tersebut.
Aku celingukan mencari orang yang memanggilku.
“Ani,” panggil orang itu lagi.
Aku celingukan lagi dan akhirnya aku menemukan orang yang memanggilku.
“Vian, lo yang panggil gue?” tanyaku pada Vian untuk memastikan bahwa Vian lah yang memanggilku.
“Iya, cepet sini!” jawabnya yang lalu menyuruhku untuk mendekat padanya.
Aku pun berjalan menuju Vian.

“Ada apa?” tanyaku pada Vian.
“Bantuin dong,” jawabnya.
“Bantuin apaan?” tanyaku lagi.
“Lo kan udah terkenal sebagai mak comblang yang selalu berhasil mendekatkan cowok/cewek sama orang yang dicintainya sama berhasil nyatuin orang yang saling jatuh cinta. Jadi, gue mau lo bantuin mendekatkan gue sama Lia,” jawab Vian panjang lebar.
“Oh gitu ya. Gue bisa bantuin lo kalau masalah kayak gitu. Lagian, Lia juga deket banget sama gue. Jadi, gampanglah,” ucapku.
“Oke, pokoknya lo harus berhasil,” ucap Vian.
“Sip, tenang aja,” ucapku.

Minggu sore, aku sengaja bertemu dengan Vian untuk membahas masalah mendekatkan dirinya dengan Lia. Kami berdua bertemu di salah satu restaurant, di kota kami tinggal.
“Vian, Lia itu suka sama boneka beruang, suka sama kue rasa vanilla, suka olahraga voli, suka sama kalung bertuliskan namanya, suka sama aksesoris gelang warna warni, bando, gak suka makanan pedas, gak suka minuman teh anget, gak suka baju warna kuning, dan gak suka sama kucing. Terus, tipe cowoknya itu yang tinggi, jago basket, pintar, pekerja keras, halus, penyayang, dan romantis,” ucapku panjang lebar.
Vian hanya menatapku dengan tatapan yang aneh.
“Lo kenapa sih, liatin gue kayak gitu?” tanyaku.
“Lo tuh lucu deh kalau lagi ngomong panjang kayak gitu. Baru kali ini gue lihat cewek kayak lo,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Yaelah, kirain ada yang aneh sama gue,” ucapku.
“Gak ada yang aneh kok,” ucap Vian.
Aku dan Vian lalu meminum jus mangga yang telah dipesan tadi.

“Oh iya, lo kan sering nyomblangin orang. Lo sendiri udah punya pacar belum sih?” tanya Vian padaku.
“Belum,” jawabku polos.
“Hahahaha… lo lucu deh,” ucapnya sambil tertawa.
“Lucu? Gue kan gak lagi gak ngelawak, terus apanya yang lucu sih?” tanyaku dengan tampang kebingungan.
“Ya lucu lah, lo suka nyomblangin orang tapi lo gak punya pacar. Harusnya lo nyomblangin diri lo sendiri dengan orang lain dulu, baru lo nyomblangin orang,” jawab Vian.
“Hm, gue juga lagi nyari pacar kale. Tapi, belum nemu orang yang pas,” ucapku.
“Padahal ya, gue yakin banyak yang suka deh sama lo,” ucap Vian.
“Masa sih?” tanyaku gak yakin.
“Serius deh. Lo itu kan cewek unik dan beda sama cewek lain yang sekolah disini,” ucap Vian meyakinkan.
“Unik? Unik gimana maksud lo?” tanyaku pada Vian.
“Lo itu tomboy tapi cantik dan gak suka tampil feminin. Lo suka bikin orang lain ketawa dengan sifat humoris dan konyol lo. Lo juga suka banget olahraga yang biasa disukai sama laki laki. Selain itu, lo paling muda diantara seluruh kelas 12, tapi lo itu pintarnya ngalahin teman teman lo yang lebih tua. Jadi, lo tuh cewek langka di sekolah ini,” jawabnya panjang lebar.
“Alah, bisa aja lo,” ucapku tersipu malu.
“Serius, gue” ucap Vian.

Kita berdua ngobrol membahas segala hal hingga tak terasa hari sudah malam.
“Eh, udah malem nih, kita pulang yuk!” ajakku pada Vian.
Vian lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Iya nih, udah jam setengah 7. Gak terasa udah 3 jam kita ngobrol disini,” ucap Vian.
“Ayuk pulang!” ajakku.
“Sip mba boss, kita pulang sekarang,” ucapnya.
Aku dan Vian membayar minuman yang dipesan sebelum keluar restaurant. Setelah membayar, aku dan Vian menuju motor milik Vian dan melaju untuk pulang.

Cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya sampai di rumahku.
“Vian, makasih udah anterin gue,” ucapku.
“Yoi, sama sama. Gua langsung pulang ya, udah malem soalnya,” ucapnya.
“Oke, hati hati,” ucapku.
“Sip,” ucapnya lalu melaju pergi dari rumahku.

Selama satu bulan mendekatkan Vian dengan Lia, aku jadi sering pergi berdua dengan Vian. Selama satu bulan juga mendekatkan Vian dengan Lia, mereka belum juga jadian. Aku pun memutuskan untuk bertanya pada Vian.
“Heh, udah satu bulan gue nyomblangin lo sama Lia, kok kalian belum juga jadian?” tanyaku.
Tiba tiba Vian berlutut sambil menyodorkan boneka beruang berwarna pink.
Aku bingung dengan tingkah Vian saat ini.
“Pertama, aku mau ngomong sama kamu kalau kamu suka banget sama boneka beruang warna pink meskipun kamu itu tomboy. Kedua, aku mau jawab pertanyaan kamu. Aku gak jadian sama Lia, karena aku hanya mau jadian sama kamu dan aku mau boneka beruang ini jadi saksi jadian kita,” ucap Vian menjawab pertanyaanku dengan keadaan masih berlutut dan menyodorkan boneka beruang warna pink itu.
“Tapi kan,”
belum selesai aku berucap, Vian langsung memotong ucapanku.
“Aku gak mau denger alasan kamu. Sekarang aku hanya butuh jawaban kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” ucap Vian menyatakan cintanya.
“Maaf Vian, aku gak bisa,” ucapku.
Wajah Vian muram saat mendengar ucapanku.
“Aku gak bisa nolak kamu maksudnya,” ucapku lalu tersenyum.
“Jadi, kamu terima aku?” tanya Vian yang wajahnya tiba tiba berubah gembira lagi.
“Iya,” jawabku.
Vian sangat gembira dan lompat lompat gak jelas karena saking girangnya.

“Cie, yang udah jadian,” ucap Lia yang tiba tiba datang.
“Iya dong,” ucap Vian gembira.
“Hm, jadi gue berhasil nyomblangin dong,” ucap Lia.
“Berhasil nyomblangin?” tanyaku heran.
“Iya. Jadi, gue sama Vian udah kerja sama gitu. Vian pura pura minta comblangin dirinya sama gue. Terus gue pura pura minta lo ketemu sama Vian buat ngobrolin tentang gue supaya lo deket sama Vian. Akhirnya lo berhasil gue comblangin sama Vian,” jelas Lia panjang lebar.
“Berarti, gue mak comblang kena comblang dong,” ucapku.
“Iya lah. Hahaha…” ucap Lia lalu tertawa.

Aku yang tadinya berniat mencomblangkan Vian dengan Lia, akhirnya malah kena comblang oleh si Lia. Tapi aku kini bahagia, karena aku bisa menemukan pacar seperti Vian. Walau aku si mak comblang yang kena comblang.

The End.

Cerpen Karangan: Selda Arifani
Blog / Facebook: Selda Arifani
Hallo Readers…
Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003. Aku hobi membaca.
Add Fb ku: Selda Arifani (First account) dan Selda Ran (Second account)
Follow ig ku: @seldaarifani30
Maaf kalau cerpenku yang ini jelek, berantakan, dan gak jelas ceritanya. Saya masih penulis pemula soalnya.
“Sekian dan Terima Kasih”

Cerpen Kisah Si Mak Comblang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Segelas Susu Chocolate

Oleh:
Arien bangkit dari tempat tidurnya ia beralih ke dapur untuk membuat segelas susu panas sambil mengaduk aduk susu tersebut ia duduk di ruang tamu. Keadaan rumah sudah sepi. Papa

Dinda (Cinta Yang Terpendam)

Oleh:
Bel bunyi masuk kuliah berbunyi, aku lari pontang-panting karena memang aku telat memasuki kelas dari dosen killer yang bisanya cuma pasang wajah masam yang membuat jengkel seisi kelas. Hari

Sleeping Beauty (Part 1)

Oleh:
“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *