Kita dan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 June 2013

Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari
Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti
Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku
Hujan yang selalu setia menemaniku dalam khayal tentangmu
walau diriku membenci hujan dan dirimu yang menyukai hujan Namun kita sama-sama menyukai pelangi setelah hujan.

Gadis itu menatap rintik hujan lewat jendela kaca, mengamati setiap inci tangisan alam. Seolah mencari kedamaian di dalamnya. Pikirannya melayang entah kemana. Seorang pemuda yang selalu hadir dalam fikirannya. Tak memberikan lubang untuk sedikit saja member rasa lain dalam memori nya.

Drrrt drrrt drrt, benda mungil itu bergetar, membuyarkan lamunan gadis berparas ayu itu, di ambilnya benda itu

From: Rio –beloved-
To: shilla
Cantik, Jalan yuk, boring nih J

Sesaat kemudian senyum di bibirnya merekah indah ketika di layar ponselnya tertera nama pemuda yang baru saja memenuhi otaknya. tunggu, bukan baru saja tapi 7 bulan terakhir ini, keningnya membentuk kerutan setelah membaca pesan dari kekasihnya itu itu ‘hey ini hujan, apa tidak tau pemuda itu kalau dirinya ini membenci hujan Dan malah bukan dirinya saja bahkan hampir semua orang membenci hujan’ begitu fikir gadis itu. Sejurus kemudian ibu jarinya sudah menari-nari di atas layar touchnya itu.

To: rio-beloved-
From: shilla
Nggak, ini hujan. Sebentar lagi pasti hujannya akan deras yo.

From: rio –beloved-
To: shilla
Ayolah shill, lagian hujan Cuma air J

Shilla semakin dongkol dengan pemuda itu lantaran pemuda yang bernama rio itu memaksanya, apa bagusnya hujan sih pikirnya.

To: rio -beloved-
From: shilla
Gak! nanti aja kalau pelanginya dah muncul dan itu kalau nanti kalau hujannya udah reda!

From: rio -beloved-
To: shilla
Ayolah shill, sekali ini aja. Apa salahnya nyoba, aku dah di depan rumah kamu, cepet keluar

Shilla, pasrah. Benar juga kata rio itu, sekali saja tidak apa-apa, ya sekali saja. Pikirnya. Kemudian di ambilnya cardigan yang tersampir di gantungan bajunya. Sejurus kemudian ia sudah berada di luar rumah dan menemui sahabat sekaligus kekasihnya itu yang sekarang sudah bertengger di mobil jaguarnya itu.
“mau kemana sih?” Tanya shilla, setelah berada di dalam mobil rio. Sedangkan yang di Tanya hanya tersenyum manis. Sedetik kemudian mobil itu telah membelah jalanan bersama hujan

Kau yang memaksaku mengenal hujan
Memaksaku menikmati dan menyukai hujan
Memaksaku untuk berteman dengan hujan Terus memaksa hingga aku luluh

“Shill, ayo turun” kata rio, masih fokus melepas sabuk pengaman yang di pakainya tadi. Merasa tak ada jawaban dari gadis di sampinya itu. ia menoleh, hampir saja ia tergelonjak ketika melihat gadisnya itu memeluk kakinya sendiri dengan wajah menunduk yang tertutupi oleh rambutnya. sepertinya gadis itu memang takut dengan hujan. di belainya lembut rambut gadis itu. entahlah gadis itu dan dirinya –rio- tak pernah mengerti kenapa hujan begitu menakutkan pada gadisnya itu. Padahal sudah dari kecil rio menjadi sahabat gadis itu hingga saat ini –duduk di bangku kelas XI- dan sekarang menjadi kekasihnya itu.

“shill” panggil rio pelan dengan masih posisi seperti tadi. namun gadis itu tetap bungkam. Akhirnya rio menyerah “maaf ya shil, ya udah kalau gitu kita pulang aja ya” kemudian ia melepas tangannya dari puncak kepala shilla.
Ketika mesin mobil rio menyala “ehmm, yo” akhirnya gadis itu membuka mulutnya juga. walau wajahnya masih ada sisa air matanya. Rio menoleh, menatapnya lembut “kenapa?” tanyanya lembut sambil megusap sisa air mata pada gadisnya itu
“ayo kita turun” ucap shilla sembari tersenyum “kamu beneran, mau turun?” Tanya rio khawatir, dan hanya di jawab anggukan gadisnya itu. Walau sebenarnya gadis itu tak yakin. Sejurus kemudian rio sudah berada di pintu samping kemudi dan membukanya dengan menenteng panyung. Gadis itu dengan ragu menerima uluran tangan dari dari kekasihnya. Tapi akhirnya tangan itu jatuh juga di atas tangan rio
Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di danau, tempat favorit mereka. mereka duduk di bangku taman yang terlindung dari hujan.

Hening, hanya hujan yang bersuara kali ini.
“yo, mau kemana?” Tanya shilla akhirnya, ketika melihat rio melepas jeketnya kemudian beranjak, menembus hujan
“menikmati hujan” jawab rio, kemudian ia merentangkan tangannya, dan wajah yang mengadah ke langit. Seperti mencari kedamaian dalam hujan, dan seolah hujan adalah teman setianya. Setelah puas, ia menggeret tangan shilla untuk bermain bersamanya bersama rintik hujan. walau awalnya gadis itu menolak namun akhirnya dia menyerah, bukankah tujuannya memamang ingin mencoba mengenal hujan?
Sepasang kekasih itu berlari riang di bawah rinai hujan, biarlah keduanya menghabiskan waktu terakhir mereka di sini. Tunggu ini bukan yang terakhir? entahlah hanya tuhan yang tau.

Petir menggelegar dengan dasyatnya, membuat gadis itu harus memeluk kekasih, disampingnya itu. Pencair tembaga itu menatap tepat di manic mata bening gadis di hadapannya itu. di dekatkannya wajahnya, aroma mint dari pemuda itu terasa hangat di penciuman shilla, wajah pemuda itu semakin dekat menghapus jarak di antara keduanya. dan cup. sebuah bibir mendarat mulus di kening shilla. Ia merasakan panas di kedua pipinya takut-takut rio mengetahuinya, ia menundukkan kepalanya, membiarkan anak rambutnya menghalangi wajah cantiknya. “aku sayang kamu” ucap rio berbisik, dan membuat pipi gadisnya itu semakin memanas. di angkatnya wajah gadisnya itu, membuat gadisnya itu harus memperlihatkan semburat merah yang ada di kedua pipinya, membuat pemuda itu tertawa geli “rio gak lucu!!” kata shilla manja, sambil mengerucutkan bibirnya itu. Membuat rio semakin tertawa melihat gadisnya itu. detik berikutnya cubitan dari tangan mungil kekasihnya itu sudah mendarat di lengannya membuatnya meringis kesakitan “aww, sakit sayang” kata rio sambil mencoba berlari menjauh “biarin, apaan sayang-sayang, gak ada sayang-sayang” ucap shilla, semakin gencar menyubit kekasihnya itu ketika pemuda di sampingnya itu memanggil sayang. gelak tawa renyah mewarnai bahagia keduanya di tengah rinai hujan.

“udah yo capek” ucap shilla sembari duduk secara asal di depan danau, di ikuti rio kemudian duduk di sampingnya. “yo, liat deh pelanginya cantik ya“ rio mengikuti arah jari telunjuk shilla sebagai arah yang di maksud. “hujan gak seperti yang kamu bayangkankan shill” kata rio tanpa menoleh dari pelangi. sedangkan shilla hanya memamerkan senyumanya sembari menatap wajah tampan lawan bicaranya. menatap setiap lekuk wajah kekasihnya itu, menikmati ciptaan sang kuasa yang begitu mengagumkan. Entah kenapa saat ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama pemuda itu hanya bersama pemuda itu. saat ini.

Merasa di perhatikan, ia menoleh ke arah gadisnya. sedangkan yang memperhatikan masih tetap diam, menatapnya. “shill?” tak ad sahutan “sayang?” tetap tak ada jawaban, rio tersenyum jahil. Ia mendekatkan wajahnya ke arah gadisnya itu hingga memaksa sang gadis mencium aroma mint –lagi- yang bercampur dengan aroma maskulin khas dari pemuda itu.

1 detik
2 detik
3 detik
4 detik

“RIIIOOOOO!!!” sedangkan yang di sebut namanya tergelonjak kaget sambil mengusap kesal telinganya, namun masih mempertahankan stay cool nya “aduh, shill biasa aja dong, kupingku bisa budeg nih” shilla semakin gemas dengan kekasihnya itu “kamu tadi ngapain? kesempatan banget sih! ah rese yo! ihhh orang lagi asyik —-” rio tersenyum geli ketika shilla berhenti memarahinya “asik apa? liatin aku ya? haha, aku tahu aku tu ganteng, pinter, cool, —” shilla segera memotongnya “issh, PD banget sih, emang gak boleh ngeliatin pacarnya sendiri” ucap shilla jujur “haha, tumben mau ngaku nona ashilla” rio semakin gencar menggoda pacarnya itu. Sementara yang di goda malah menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya. Membuat rio bingung namun ia membalasnya dengan mendekapnya. “yo, kalau aku pergi kamu bakal sedih nggak?” rio mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan gadisnya “kamu gak boleh pergi, aku bakal sedih banget kalau kamu pergi bahkan lebih sedih dari hujan” jawab rio “kamu suka sad ending yo?” rio semakin bingung di buatnya. segera ia tepis semua pikiran negatifnya “nggak, aku nggak suka sad ending, dan cerita tentang kita pasti happy ending” shilla terdiam sejenak “aku sayang kamu rio” empat kata itu membuat rio tersenyum manis –sekali- “aku juga shill”.

Semua pertanyaan telah terjawab
Semua yang di cari kini kita temukan
Semua yang di gali kini membuahkan hasil, Hasil yang telah ada sesuai rasa namun tidak untuk bahagia

7 hari sudah, pemuda itu menunggu gadisnya yang terbaring lemah tak berdaya di ruangan bernuansa putih. Segala alat medis menempel pada tubuh gadisnya. Di genggamnya erat tangan shilla berharap bisa mentransfer energi yang dia punya, di usapnya lembut puncak kepala gadisnya itu “kamu, mimpi apa sih shill, kok nggak bangun-bangun. Kamu tega banget buat aku sedih. Oya kok ‘leukemia’ nya gak hadir di tubuh aku aja ya shill, dia jahat ya shill buat pacar aku sakit” rio tersenyum kecut “eh shill, 3 hari terakhir ini tiap sore hujan, tapi aku belum main sama hujan. Pelanginya juga nggak ada shill, dia gak mau keluar gara-gara kamu sakit. haha tuh gue jadi kayak cewek ya shill, air mataku netes haha. bentar ya shill aku mau cerita sama hujan.” Ucapnya miris, kemudian mengecup pelan kening kekasihnya.

Rio menelusuri jalan setapak, mengikuti kemauan kakinya. Hujan yang masih tetap setia menemaninya. petirpun juga ikut menyelimuti rasa resah dalam dirinya. hanya gadis itu yang ada di fikirannya. ia tak menyadari dari arah berlawanan ada truk yang berlaju kencang, seolah matanya di butakan, seolah telinganya di tulikan. Seolah fikirannya mengabaikan apa yang ada di sekitarnya.

BRRAAK

‘Shilla’ dan semuanya gelap.

Di sisi tempat lain, tangis mewarnai suasana yang ada, hujanpun masih tetap setia menemani sepasang kekasih dan tempat berbeda

TIIIIIIIIIIIIITTT

layar monitor, menampilkan garis lurus, menyatakan jiwanya sudah tak ada di sini. Hanya ada raga. Yang mebuat setiap orang yang hadir memproduksi hujan.

END

Cerpen Karangan: Tiar Khairatul
Blog: coretantiar.blogspot.com

Cerpen Kita dan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga

Oleh:
Bunga, siapa yang tak kenal dia… tak ada yang mampu berkata tidak untuk perempuan cantik yang satu ini. Bibirnya yang indah menawan kaum lelaki, pipi lesungnya yang memikat roh-roh

Bolehkah Aku (tidak) Merindukanmu?

Oleh:
Sama seperti malam-malam kemarin. Aku termenung di malam yang membeku dengan sejuta harapan dan sejuta luka ditemani oleh sinar rembulan yang menambah keindahan langit malam. Begitu banyak kenangan yang

Cinta Dalam Sebait Puisi

Oleh:
“Tawamu dan senyummu selalu kuingat di dalam hati, entah apa yang kurasakan saat ini, gelisah termenung tak menentu..” begitulah salah satu penggalan puisi yang pernah aku buat saat remaja..

I Am Psikopat

Oleh:
Semua itu berawal dari sebuah kayu yang ada di depan pintu kamarku dan kayu itu telah merubah semua yang ada di kehidupanku. Hari itu, aku sedang menonton televisi. Berhubung

Sesederhana Cinta Adikku

Oleh:
Sepulang sekolah, aku bergeges masuk ke kamar. Viola, ternyata ada di dalam sedang mengambil sesuatu di lemarinya yang tidak berpintu. Tidak aneh lagi bagiku melihat barang miliknya berantakan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kita dan Hujan”

  1. Rida purnama sari says:

    Terharu :'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *