Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 June 2013

“menurut lo, gue itu gimana sih?” riana menatapku lekat. Oh please, jangan balik ke topik ini lagi.. Kita sudah ngebahas ini sekitar lebih dari seribu kali
“ri, just please. Can we change the topic? Kita sudah ngebahas ini berapa kali? Sebenernya apa sih yang terjadi sama lo?” aku balik menatapnya tajam
“nothing..” riana yang biasa kupanggil riri ini sudah menghela napasnya sekitar 10 kali dalam percakapan 5 menit terakhir
“there must be something.. Kenapa sih lo ga mau cerita?”
“ya, lo tau kan perasaan yang lo sendiri ga ngerti gimana jelasinnya, perasaan itu yang lagi gue rasain sekarang” jawabnya sambil menatap ujung sepatu converse merah terangnya
“apaan nih? Masalah rangga ya?” tebak ku sambil tetap memperhatikan gerak gerik riri
“na..”
“apa? Gue bener kan?”
“gue ga tau ah, bodo amat!”
“ya.. Terserah lo sih” jawabku pasrah, sudah berapa kali masalah ini di bahas dan kembali lagi ke sikapnya yang acuh tak acuh itu. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan tebakanku benar kan, ini masalah riri dan rangga. Dari wajah rangga yang super kusut itu aku bisa menebaknya, walaupun memang setiap hari wajah rangga terlihat seperti itu…
Ri, ngga, kadang ada hal-hal yang nggak semudah itu kita bisa ngerti, kita cuma perlu tau aja…
Pagi ini wajah riri lebih terlihat kusut dari sebelumnya, terlihat sangat kusut. Begitu pula dengan rangga yang sekilas aku lihat sedang melangkahkan kakinya ke kelas sebelah
“issshhhh” riri meletakkan ranselnya dengan kasar ke atas kursi. Aku agak menjauhkan diriku dari kursinya
“kenapa sih lo?” alih-alih bertanya baik-baik, aku malah serbawa sewot karena sikapnya
“gue ga tau ah, ga tau”
“iya ga tau apaan sih? Cerita dulu baru ngomel.. Gue kan ga ngerti apa-apa ri” jawabku sambil membetulkan letak dasi. Riri langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu sekolah dan memulai ceritanya
“gue ga ngerti. Gue salah apaan ya na.. Emangnya gue terlihat bossy?”
“hmm.. Nggak di mata gue..” jawabku seadanya
“kemarin gue tanya sama temennya rangga.. Dan benerkan akhirnya gue tau semuanya dari temennya. Rangga ga mau gue bossy, ngatur, jadi gendut, jadi jelek dan..”
“stop” aku menghentikan kata-kata riri “gue kasih tau ya sama lo, dulu waktu dia nembak lo, apa yang dia liat dari lo? Fisik lo? Atau lo sebagai riana widiani?”
“ya iya sih.. Tapi katanya gitu dia maunya gue ga bossy”
“gue bossy. Setiap saat. Tapi liat ega, dia ga pernah ngeluh kalo gue bossy gitu. Dia biasa aja, dia nerima gue sebagai kirana, bukan sebagai gue yang baik dan lain-lainnya”
“tapi itu ega..”
“kenapa? Harusnya kalo ega gitu bukannya rangga juga bisa bersikap baik sama lo?. Lo kan orang baik, kenapa harus diperlakuin kaya gitu?. Ri, orang baik itu pasti dapet yang baik juga”
“tapi bukannya hidup saling melengkapi? Yang pinter sama yang bodoh, yang gendut sama yang kurus, yang jelek sama yang cantik…”
“iya itu sih gue masih setuju, tapi coba lo bayangin kalo orang baik dapet orang jahat.. Mereka sama-sama nggak seharusnya ngedapetin itu. Coba kalo baik dipasangin jahat.. Yang baik bakalan disakitin dan yang jahat makin makin aja, mereka harus dapet apa yang mereka berikan. Lo ngerti kan?”
“iya.. Teori lo bisa bener juga sih…”
“lo itu ya… Jujur deh, menurut gue lo itu berubah…”
“iya memang gue banyak berubah” katanya sambil membuka tempat pensilnya
“riana yang gue tau sih, ga pernah nangis… Apalagi gara-gara masalah percintaan..”
“hah? Kapan gue nangis?”
“hari rabu kemarin apa itu? Nangis kan lo?”
“oh iya yah hehehe” jawabnya sambil menyeringai
“udah deh lo mending dengerin gue aja, jangan membuat keputusan pas lo lagi kaya gini. Pikiran lo tuh sudah tercemar, sudah ga jernih. Akibatnya apa coba? Semua yang lo liat itu kayaknya salah, ga sesuai dengan yang lo mau. Semua keliatan nyebelin, mending jalanin aja. Komunikasi dan keterbukaan lo sama rangga itu bermasalah, sangat bermasalah. Kalian pacaran.. Tapi kaya engga gitu deh…”
“dia tuh kalo gue tanya kenapa.. Pasti bilangnya ga kenapa-kenapa gitu” katanya sambil mengetukkan ujung pensilnya ke atas meja. Aku menghela napas perlahan, sangat perlahan
“ya lo minta dia untuk cerita lah, kalian ini pasangan. Seharusnya ga begini”
“gue paksa dia?”
“ga usah di paksa, tapi kalian ini pacaran.. Seharusnya sama-sama ngerti apa yang lagi terjadi. Jangan malah satu pihak kebingungan sendiri gini”
“hmm gue coba.. Thanks ya na”
“hmm anytime ri”
Kalau tinggal ngomong aja, rasanya gampang banget ya. Tinggal kasih saran, orang lain yang jalanin. Tapi coba kalau aku yang melakukannya. Aku pikirkan itu sampai sejuta kali.

Aku sedang menempel bahan-bahan mading yang super imut dimataku. Mading dengan dasar kertas pink dan hiasan-hiasan berbau cinta. Ya, aku suka tapi… Ini terlalu imut, bukan seperti aku saja.
Rangga duduk di samping mading yang aku tempel, tak bergeming. Dia menatap lurus ke arah tanaman didepannya, entah apa yang dia perhatikan. Riri pergi membeli konsumsi karena ini sudah hampir jam 12.
“ngga…”
“hm?” jawabnya tanpa mengganti ekspresi sedikit pun. Aku hanya melihatnya dari ujung mataku
“lo kenapa sih sama riri?” tanyaku lepas
“nggak tau” jawaban pendek dan kurang jelas, membuatku tambah ingin mencecarnya
“kalian diem-dieman terus. Gue nggak begitu ngerti” kataku akhirnya sambil melepas kertas persegi panjang hijau dan kemudian menggaruk kepalaku yang tidak gatal
“gue juga. Mungkin gue bakalan end sama dia setelah mading ini selesai”
“hm? Maksud lo?” belum rangga mengeluarkan satu huruf pun, riri sudah muncul dari pintu lobi sambil menenteng kantung plastik putih. Aku dan rangga hanya menatapnya kemudian berlaku seperti tidak ada apapun yang terjadi.
“makan dulu nih, entar lo sakit gue bisa dimarahin ega” katanya sambil menyodorkan satu box makanan padaku
“iye bawel” kataku sambil mengambil kotak itu dan menyingkirkan mading untuk sementara.
Aku memperhatikan keduanya. Hening. Berbicara juga paling-paling hanya “iya”, “enggak”, “enggak tau”. Aku benar-benar tidak mengerti…

Aku memakai jam tangan putih dengan paduan merah di pergelangan tangan kiriku. Sekilas aku menatap kalender meja biruku. Ada lingkaran merah di tanggal 26. Tanggal anniversary rangga dan riri. Mereka anniv hari ini.
“cieeeeeeee yang anniv hari ini! Langgeng ya kalian” emy dari kursi belakang berteriak tepat di samping telinga riri
“iya, makasih ya” jawab riri dengan senyum tipisnya
“lo kan anniv ri, bukan lagi berkabung. Kenapa muka lo malah keliatan kusut?” tanyaku sambil menatapnya
“gue nggak tau bisa bertahan sampe kapan”
“kalo ngomong ga boleh gitu. Gue tau lo capek, tapi selama itu bisa dipertahanin kenapa enggak?”
“gue sih bisa bisa aja, tapi kalo misalnya soal pihak ketiga gimana?”
Aku bergeming. Tidak berkata. Inilah hal yang membuatku tambah tidak mengerti. Ada apalagi dengan pihak ketiga? Rasanya kepalaku bisa meledak sekarang

“jadi menurut lo dia itu orang ga baik gitu?”
“gue ga pernah bilang dia orang ga baik-baik. Apa lo pikir gue orang yang bakalan ngomongin orang lain kaya gitu?” aku mendengar suara riri yang semakin meninggi
“tapi gue tau dari orang kalo lo pikir dia orangnya kaya gitu”
“jadi lo percaya kan kalo gue kaya gitu? Gue ga pernah ngomong sekotor itu. Sebenci-bencinya gue sama orang, gue ga pernah kaya gitu!” suara riri membuatku emosi ku semakin naik. Dia berbicara dengan siapa? Siapa yang berani bilang riri seperti itu?
Aku mendorong gagang pintu sepuluh tiga, mereka berdiri tepat di depan mataku. Napas ku naik turun, rasanya aku bisa melempar orang tersebut dengan kursi terdekat yang ada di sekitar ku. Orang itu menatapku kaget, dan aku balas dengan tatapan marahku. Aku tidak pernah semarah ini sebelumnya.
“lo! Kalo lo ngomong yang aneh-aneh tentang riri lagi, urusan lo sama gue” aku menarik riri keluar kelas. Syukurlah ada siska yang berdiri tepat di depan kelasku.
“ri, lo kenapa? Na? Lo juga kenapa?” riri berdiri di sebelah siska dan aku hanya melangkah masuk ke kelas tanpa berbicara sepatah kat pun.
Aku duduk cukup lama, sekitar setengah jam tanpa bergerak satu sentimeterpun. Aku menatap jam kelasku yang menunjukan pukul 4 sore. Aku memasukan semua barang-barangku ke dalam ransel. Aku menyadari perasaan sakit hati yang dirasakan riri. Aku membanting barang-barangku ke lantai dengan keras, membuat salah satu bolpoinku terlempar dan hancur
“na…” ega memegang pundakku dan aku hanya menatapnya kosong
“kamu kenapa sih? Jangan marah-marah gini” katanya lagi sambil mempererat kedua pegangannya pada pundakku
“aku ga pernah liat riri semarah itu. Aku ga pernah liat dia sesedih itu. Selama aku kenal dia, dia ga pernah gitu. Aku benci rangga dan semua orang-orang di sekitar rangga. Mereka nggak ngerti! Mereka nggak ngerti riri! Nggak ngerti!!!” teriakanku semakin histeris
“nana!” ega memegang kedua sisi tubuhku dengan erat
“aku tau kamu segimana pedulinya sama riri, tapi kamu jangan sampe kaya gini. Kamu histeris sampe kaya gini, kamu harusnya lebih tenang. Riri itu butuh teman yang lebih tenang. Dan nana itu ga kaya gini” ega menatapku lebut sambil mengusap kepalaku pelan
“kamu capek kan? Kita pulang ya?” katanya sambil membereskan barang-barangku yang sudah tercecer entah kemana.

Aku membuka mataku perlahan. Led merah blackberryku sudah berkedip terus-terusan membuatku penasaran jam berapakah sekarang ini
‘gue putus sama rangga’ *5 minutes ago*
‘kenapa? Kenapa bisa?’
‘gue udah bilang ada pihak ketiga’
‘tapi kan..’
‘nanti gue ceritain deh’
‘ya kalo menurut lo baiknya gitu, ya gue bisa apa. Gue setuju apa yang lo lakuin. Kan lo yang jalanin juga. Sabar ya, gue sudah pernah bilang kan. Orang baik akan ketemu yang baik. Gue percaya kalo lo itu orang baik’
‘makasih ya na, lo tuh emang deh.. Yang terus ada pas gue dalam keadaan apapun. Paling paling deh pokoknyaaaa hahaha’
‘sama-sama ri, gue kan temen lo. Masa sih gue nggak bantuin lo’

Cerpen Karangan: Zhahrina Jasmine
Blog: www.ivuviuworld.blogspot.com

Cerpen Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ulang Tahunmu

Oleh:
20 hari lagi.. itulah hari yang bisa Gery punya untuk mengejutkan Lisa pada hari ulang tahunnya. Gery masih bingung memikirkan apa yang ingin diberikan untuk Lisa. Baju? Tas? Bunga?

Tutup Botol

Oleh:
Sejak saat itu ruas jalan terasa sangat panjang. Perjalanan waktu dua kali lebih lama. Sejak ku dengar, “Jaga diri ya,” Panggil saja aku Nilam, dua bulan telah berlalu sejak

Rencana A, B, C, D dan E

Oleh:
Sebulan sudah Aku ingin menulis sebuah CERPEN, dan barulah kini saya coba untuk menbuatnya. Ketika waktu itu, saya sempat kelebihan akal untuk menulis sebuah karya yang mungkin terbilang sangat

Izinkan Aku Mencintainya (Part 2)

Oleh:
Lalu ku buka kedua mataku. Aku sangat takjub begitu melihat apa yang ada di depanku. Sebuah rumah pohon yang dihiasi bunga-bunga merah, putih, pink, kuning, hitam. Eitz… bunga warna

Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kita”

  1. NabilaEka says:

    Sukaak., lanjutin dong seru nih ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *