Komunikasi Obat Rasa Sakit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 April 2013

Begitu berat yang kurasa saat jari jemariku harus mengetik kata-kata agar dapat terhubung lagi, takut dia tidak membalas pesanku, setelah lebih dari delapan bulan yang lalu kita memutuskan untuk berpisah. Selama itu juga aku berusaha untuk menghilangkannya dari pikiranku, tapi begitu berat rasanya. Dan hari ini akan kuberanikan diri untuk dapat terhubung kembali dengannya, sekadar ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang.

“hai, apa kabar? Lagi di mana sekarang?”

Itulah ketikan awal pembuka pembicaraan yang kukirim lewat salah satu jejaring sosial. Karena hanya inilah salah satu cara yang dapat menghubungkanku dengannya kembali.

“alhamdulillah sehat, kamu sendiri bagaimana.?”

bahagia yang tak terkira, karena Dia membalas pesan singkatku. rasa senang menyelimuti hatiku saat ini karena bisa menjalin komunikasi lagi dengannya.

Sampai lupa, perkenalkan aku yana dan orang yang kukirimkan pesan adalah mantan pujaan hatiku namanya raiya. Sudah lebih dari delapan bulan kami tidak berkomunikasi, sejak saat raiya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dengan alasan yang sangat tidak masuk akal menurutku, “aku ingin lebih fokus kerja dulu.” Itulah kata terakhir yang raiya ucapkan padaku, aku tidak begitu yakin itu alasannya, karena aku merasakan perubahan pada dirinya semenjak aku memutuskan kerja di luar kota. Berat rasanya saat itu aku harus menerima keadaan kehilangan orang yang aku sayangi. Mulai saat itu aku memilih menjauh dari kehidupan raiya. Itulah yang aku usahakan selama beberapa bulan, tapi sangat sulit, mengingat begitu banyak hal yang telah kami lewati.

Menerima keadaan aku sudah tidak bersama dia lagi adalah hal yang berat, benar orang bilang melupakan tak semudah menyayangi seseorang. Aku telah mencoba melupakan raiya, sampai saat ini masih ada aja hal-hal yang membuat aku mengenangnya. Oleh sebab itulah, aku beranikan diri lagi menghubunginya kembali, tidak berharap dapat kembali seperti dulu lagi, tapi hanya berharap dapat berkomunikasi dengan baik saja. Menurutku melalui cara ini aku dapat benar-benar melepasnya, dan berusaha melepas rasa sakitku yang selama beberapa bulan ini kupendam.

“aku sehat. Bagaimana kerjaanmu lancar?” Balasku.
“kurang ana, banyak project mampet nih” balasnya
Ada rasa iba sekaligus tenang ketika aku membaca balasan darinya, iba karena pasti sekarang dia sangat pusing memikirkan kerjaannya, tapi apa yang bisa kuperbuat, tenang karena aku merasa ini hukuman untuk apa yang telah di lakukan terhadapku, dulu saat bersamaku semua project yang dijalaninya lancar-lancar aja. Duhh, kenapa aku jadi jahat yah. dalam hati aku hanya bisa mendoakan agar dia diberi ketabahan dan kelapangan untuk pekerjaannya.

“oya minggu depan aku pulang, kamu ada waktu gak? ketemuan yuk.” Pintaku pada raya
“boleh, tapi aku gak janji yah karena sekarang aku lagi di luar kota. Tumben pulang?” balasnya
“iya, kangen sama rumah dan maen sama teman-teman.”
“sama aku gak kangen apa. Gak kangen maen sama aku lagi?”
“maksudnya apa tuh.” Tanyaku, senang rasanya terima balasan yang barusan, ternyata dia masih mengingatku.
“gak ahh, gak jadi, susah ngomong ma orang yang pura-pura gak ngerti.”
“kan aku udah ngajak ketemuan tuh,”
“Cuma ketemuan?” tanyanya padaku
“yang penting ketemuan dulu deh.” jawabku.
Perbincangan ini terus berlanjut, dan berakhir aku pamit karena ada hal yang harus aku kerjakan, rasa bahagia yang aku rasakan saat ini setidaknya dapat menutupi rasa sakit yang aku rasakan selama beberapa bulan ini, walaupun tidak menghapus rasa sakit itu, tapi minimal telah mengurangi kesakitan ini.

Selama beberapa hari ini mood ku berubah senang aja bawaannya, sejak komunikasiku dengan raiya telah terjalin kembali, baru komunikasi aja aku udah kayak gini, apalagi kalo ketemuan yah. Hmmm, gak sabar rasanya aku ingin cepat-cepat ketemu raiya, tapi waktu serasa berjalan begitu lambat.

Semoga pertemuan aku nanti baik-baik saja. Di pertemuan nanti akan ada banyak hal yang akan aku bahas bersama raiya, aku ingin meluapkan semua beban yang aku rasakan selama ini. aku berharap setelah pertemuan itu tidak ada lagi rasa sakit yang mengganjal dalam hatiku.

Semoga saja pertemuan itu adalah obat untuk rasa sakit yang di tinggalkan raiya untukku dulu. Dan aku bisa menjalin kembali komunikasi yang baik dengan raiya.

Cerpen Karangan: Yossi Febriani
Facebook: cie yossi febriany

Cerpen Komunikasi Obat Rasa Sakit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Sang Pejuang Cinta

Oleh:
Pagi itu untuk sekian kalinya orang-orang bekerja keras mencari nafkah demi sesuap nasi. Rata-rata mereka bekerja sebagai petani, pedagang, dan nelayan di desa terpencil di Lombok. Desa ini memang

Satu Menit Pandangan

Oleh:
Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat

You Are The Best Friend

Oleh:
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Chika akhir-akhir ini. Dia seperti menjauhiku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan padanya. Tapi kenapa? Padahal dulu aku dan Chika adalah sahabat

Kamu Idolaku

Oleh:
“Terus.. Katanya dia jadi nggak suka aku lagi. Habis, aku kan penasaran hubungannya dengan teman masa kecilnya itu..” Airmata membanjiri pipi Merry. Dunia ini benar-benar nggak adil. Sahabatku diputusin

Cinta Tak Semanis Lolipop

Oleh:
“Hei kenapa nangis?” Tanya seorang bocah laki-laki kelas 5 SD berkulit putih dan berparas ganteng. “Aku jatuh dari sepeda ini dan kayanya kaki aku terkilir, sakit banget. Hiks” Jawab

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *