Kontes Dangdut Semilyar (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 3 August 2014

Dan, starting with kunci nada. Satu minggu untuk menghafal dan menghayati dengan story lagu dari sang empunya. Setelah pembubaran kelas hari ini, aku mulai mendekati Farhan. Hanya untuk sekedar bertukar cerita mengapa ia menyukai lagu tersebut.
“Mas Farhan” tegur ku perlahan. Setelah aku mencarinya berkeliling rumah. “Mau sharing boleh?” tanyaku. Ia tetap tak bergeming dan tetap kaku. “Han!” barulah ia menoleh ke arahku. Aku duduk tepat di sampingnya. “Lagi mikir apa?”
“Aku nyesel ikut kontes ini, Nit.”
“ha? La.. eh. Kok gitu?”
“Pacarku mau nikah.” Mataku memicing.
“Nikah? bagus donk, sukses dari sini kamu bisa langsung nikah sama pacarmu kan.” Aku menabrakkan bahuku padanya.
“Nikahnya gak sama aku!” aku bengong mendengarnya. Oh, pantes dia suka lagu ini. “Udah, lupain aja. Kamu tadi mau sharing apa?”
“lagu favoritmu. kalau kamu gak keberatan.”

Hingga tibalah hari Sabtu. Tepat pukul 7 malam nanti kami akan show kembali. Dengan konsep yang telah ditentukan dan dipelajari, gladi bersih berlangsung aman. Satu persatu finalis mulai dirias sesuai pembawaaannya kali ini. Hatiku semakin berdebar. Lagu ini sungguh berarti untuk Farhan. Difikir-fikir sepertinya juga cerita yang sama seperti mas Arifin. Yaaah, aku berada sejauh ini kira-kira mas Arifin lihat aku di tivi gak sih? Andai aku bisa menang challenge yang waktu itu. Pasti aku akan telfon mas Arif. Ibu. Bapak, Riri apalagi. Rasanya aku sudah ingin segera pulang.

Kami telah siap dengan segala riasan. Dan penuh keyakinan. Opening pun dimulai dan lancar seperti biasanya. Sebagai pembuka kami menyanyikan lagu theme song KONTES DANGDUT SEMILYAR bersama. Pandanganku terpaku pada satu blok penonton di sudut ruangan. Dengan spanduk yang tergelar panjang WE LOVE NITA! ah, aku sudah memiliki penggemar agaknya. Sebagai penampil pertama Farhan terlihat kurang fokus dengan lagunya. Mungkin karena beban itu. Sekembalinya ia ke backstage aku menyodorkan minuman dingin untuknya. Ia menolak. Aku tersenyum sinis. Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap konsetrasi juga dengan laguku nanti.

Tiba saatnya aku bernyanyi. “Kali ini tiba giliran Nita yang dapet lagu favoritnya Farhan. Embp… akan seperti apa jadinya? mari kita saksikan bersama. NIIITAAA” lighting panggung mulai berubah dramatis. Aku berjalan mendekat kearah properti.. bunyi suling yang khas membuat bulu kuduku merinding. Aku mulai membawa diriku masuk ke dalam lagu. Aku terduduk di miniatur bus. Dan seolah-olah sedang berada dalam keramaian halte.

“Yank… ini aku… kekasihmu yang daahuluu
yank, ini akuuu janganlah engkau raguuu u u
yank, tentu kamuuu masih ingat suaraku
yank, tentu kamu tak luupa kepadakuu
yank. Saaayank…

Bukankah telah kita rencanakan hari pesta perkawinan
tentunya, telah engkau persiapkan, tuk menyambut aaku dataang
hatikuuu tak sabar lagiii ingin segera berjumpa
betapaa bahagia nanti, saat bersanding berduaaa”

Aku menunduk sebentar sembari mengucapkan terimakasih. Kulihat beberapa penonton yang berjarak cukup dekat dengan panggung sempat menyeka airmata mereka. Aku sangat berharap agar kesan lagu ini tersampaikan. Para juri mengomentari penampilanku. “Memuaskan. Sukses menguras airmata yang lagi galau ya Nit.” Goda Syaiful jamil.
Malam semakin larut. Kini giliran Devi sebagai penutup acara kali ini. Membawakan lagu favoritku, Terguncang-Yunita Ababil.

“pernahkah kau memikirkan, saat aku kau tinggalkan
tersiksanya jiwa badan. Hampa tanpa pegangan
memililh tuk berpisah, demi ooorang ke tigaa
pernahkau yakinkan aku berharap tuk kembali
bara neraka kau beri tak mungkiiin kujaamah lagii
pernahkah kau memikirkan saat aku kaauu tinggalkan…”

Aku turut berdendang dari balik panggung. Meliuk-liukkan badan
“…hilag kebiasaan, merias wajah diri
selera rasa pun sirna. Pahit di lidah
di dalam kegalauan kucoba tuk bersabar
siang malam ku berdo’a mohon pada-Nya
Tuuhan bimbinglah aku
agarslalu di jalanmu. Kuatkanlah imanku
dan tabahkanlah hatiku…

pernahkah kau memikirkan,
saaat aakuuu u u u u kaaau tingggalkaan”

Hingga tiba saat pengumuman siapa yang harus pulang. Kami bertujuh berpegangan tangn dengan sangat erat. “Farhan… Ira… dan juga Lukman. Kalian berada di 3 terendah untuk malam ini. yang lain silahkan merapat kembali.” Ujar Kak Dwiki sebagai pembawa acara. Kami berempat hanya sedikit menjauh dari mereka. Jujur dalam hati, Filingku mengatakan bahwa Farhan yang akan pulang jika seperti tadi. Tapi yang lain mengatakan Ira yang pulang. Tya juga berkata Ira lah yang akan pulang.

“Daan… yang pulang kali ini adalah… Lukman maaf, bukan kamu orangnya.” Lukman buru-buru bersalaman dengan 2 karibnya. Dan bergabung dengan kami. Sedikit janggal kala Farhan menggegam tangan Ira sebegitu eratnya. “Sekali lagi, ini adalah hasil polling sms dari pemirsa di rumah… Ira. Maaf kamu yang pulang malam ini.” saat kami berlima mendekat ke arahnya, Farhan menjabat lagi tangan Ira. Dan itu membuat jantungku kembali berdegup.

Hari-hari berikutnya semakin santer terdengar kedekatanku dengan Farhan. Rasanya aku juga semakin nyaman berada dekat dengannya. Usianya yang tak beda jauh jauh, malah hampir sama, dengan mas Arif membuatku merasa memiliki mas Arif kedua disini. Kali ini kak Lia berkata bahwa sesion duet. Seperti biasa. Pencarian pasangan duet juga melalui fishball. Tapi yang mengambil hanya pihak temen-temen cowok. Kami perempuan hanya bisa membantu do’a agar sesuai dengan harapan.

Aku juga tak ada obrolan yang spesifik dengan Farhan. Tapi aku sangat berharap bisa berduet dengannya. “Okta ft Tya.” Kata kak Lia setelah Okta mengambil kertas ajaib. “Lukman ft. Devi… berarti” kak Lia menahan tawa. Begitu pun aku juga merasa bahagia. Akhirnya kesampaean. “Setelah memilih pasangan duet pasti kalian harus punya lagu.”
fishball pun dikeluarkan. Berisi sterofoam dan mungkin ada kertas ajaib. “Jadi aturannya, sesi minggu depan adalah 2 kali tampil. Solo dan duet. Sekarang, silahkan pilih lagu duet dulu.. yang mau ambil terserah. Mau cewek apa cowok. Yuuk”

Tya yang mengambil kertas ajaib itu. “Malam Terakhir bang” kata Tya kepada Okta. Mereka tos dan saling tersenyum. Kemudian Devi, “cincin kawin. Ihihih” Devi tersenyum geli ke arah kami. “kamu yang ngambil ta?” tanyaku pada Farhan. Tapi ia hanya menggeleng. Akhirnya aku berjalan menuju fishball, dan mengambil kertas ajaib. Aku memandang sekeliling, judul apapun yang keluar aku harus menghayati. Mendadak aku lesu jika ternyata Farhan tak bersemangat bila berduet denganku. Kuambil dengan malas sebuah kertas ajaib, kubuka gulugannya “Hujan Malam Minggu, kak” aku memandang kak Lia.

Akhirnya kami latihan vocal dan penentuan konsep. Namun Farhan tetap dingin padaku. Aku sudah berusaha agar chemistry antara kami terbangun. Namun hasilnya nihil. Lagu solo yang aku pilih juga bergenre ngebeat. “dapet lagu apa Nit?”
“Oh, kak Lukman.” Kak Lukman memang jarang berbicara tak hanya denganku. Dengan yang lain pun demikian. Dia 2 tahun lebih tua dariku “Tamu Malam Minggu, kak. Kamu?”
“sama. Beat juga, Mabok duit…” hening sesaat. “..kayaknya emang dibikin ngebeat deh sesion mingggu depan.” Aku mengangguk.
“Hayo!!” Tya tiba-tiba menghambur ke arahku. “Bahas tentang lagu ya? aku gak ditanya?”
Lukman ngakak. Akhirnya ditanyalah dan Tya menjawab dengan lirik lagu “Aku bukan pengemis cintaaa bila diputuskan cinta. Dari sang kekasih.”
“Malah nyanyi…” kata Devi yang mendadak turut hadir. Ia membawa semangkuk mie kuah dan ditawarkan kepada kami. Alhasil, mangkuk yang semula penuh hanya tinggal sedikit untuknya. “Farhan kenapa itu, Nit?” Tanyanya sambil melihat ke arah Farhan yang terlihat sedang menyepi di musholla.
“awas lo. Bisa bikin mood juga ngedrop” kata lukman. Aku mengangguk dan tersenyum masam. “kayaknya kalian deket. Emang kamu gak diceritain masalahnya dia, nit?” sekali ngomong ternyata Lukman ini orangnya kepo. Oh, berarti yang tau cuman aku?. aku hanya menggeleng dan berlalu pergi, menghambur ke kamar. Dan. Tidur.

Sabtu yang penuh tanda tanya pun akhirnya tiba. Aku dan Farhan sebagai penampil pertama dalam duet kali ini. Gladi bersih yang kami lakukan terbilang lancar. Farhan masih ingin bersaing disini. Lagu Hujan Malam Minggu berhasil kami lantunkan dengan apik. Sebelumnya Farhan sudah berdamai dengan hatinya. Ia Ikhlas, dan kami juga sudah bersenda gurau.

Hujan di malam minggu aku tak datang padamu
bukan aku tak mau, sayang hujan di malam minggu,
bukan aku tak mau, sayang hujan di malam minggu
Tanjung katung airnya biru pantai jernih indah lautnya
terkatung katung menunggu nunggu aku bercermin untuk siapa?
terkatung katung menunggu nunggu aku menyanyi lagu merana
Karena gagal berjumpa di malam itu, selanjutnya kami bertemu di malam berikutnya. Cerita dan properti seolah-olah kami sedang mengobrol di teras depan rumah.
Aku menunggu sampai jam satu namun kau tak datang juga
mana janjimu mana sumpahmu yang selalu kau ucapkan dulu
Katanya gunung akan kau daki lautan luas engkau sebrangi
tapi mengapa karena hujan saja engaku takut dan batalkan janji
aku telah berjanji berjumpa di malam itu
Tai kau tak datang sayang hujan di malam minggu
tapi aku tak datang sayang hujan di malam minggu

Selesai bernyanyi kami tersenyum bangga. Hingga tiba saat para juri mengomentari penampilan kami. “Bagus. Suaranya Farhan nyampe dan bisa balance sama suara Nita ya. Tapi koreksi buat Nita, memang dasarnya susah ya nyanyi agak beat?” aku mengangguk malu “..iya, jadi kadang terdengar kalau suaranya belum maksimal banget. Udah si itu aja ya cantik.” Aku mengangguk lagi,

“Kostumnya oke. Selaras sama semua komponen panggungnya. Nita juga kelihatan nyanyi tanpa beban. Farhan juga kayak udah real gituya.. bener gak si Ful?”

“He’emb. Mereka lucu banget. Kompak. Kayak udah kejadian beneran bakal apelnya.” Ujar Syaiful Jamil “Apalagi waktu adegan lirik-lirikan yang pura-pura ngambek, greget gitu deh. Geregetan jadinya geregetan”
“Oh, jangan sembarangan kalau mau deketin Nita, Han.” Timpal Kak Dwiki “Ini, Keluarganya Nita dateng jauh-jauh dari Surabaya. Izin dulu kamu” Tiba-tiba lampu sorot menyorot para penonton. Dari situlah mulai terlihat Ibu, Bapak, dan Riri. Aku melambai-lambai. Mataku mencari-cari. Kali aja mas Arif turut serta. “Nah, gimana Han?” aku masih belum paham dengan maksud semuanya. “kita lihat ft berikut ini”

“Sesion duet kali ini seharusnya ga berat. Karena suaraku dan pasangan duet aku sesuai lah. Tapi yang bikin berat itu, kalau udah kebawa perasaan hati. Suka beneran sesama finalis itu kadang bikin gak konsen kalau lagi coaching klinik. Suka mendadak blank aja. Makanya aku rada ngejauh dari dia. Grogi aja”

Aku sedikit terkejut. Aku memandang Farhan sejenak. Dan kami tersipu. “Cie… cieee…Tapi. Kamu harus izin Han,” Farhan menengadakan jempolnya “ke kakak tercintanya Nita.” Aku makin melongo. Tiba-tiba saja Mas Arifin telah berjalan mendekat dari arah belakang panggung. Kembali, Airmataku sudah menggenang di pelupuk mata. Mas Arifin mendekapku, dan aku sudah sesenggukan di pelukannya. Penonton bertepuk tangan dengan bangganya. Aku berdiri di tengah-tengah 2 priaku. “Sapa ini, Nit?” tanya kak Dwiki menunjuk mas Arifin.
“Masku. Kakakku.” Kak Dwiki kemudian memintaku bercerita tentang storyku dengan mas Arifin. Aku menceritakannya dengan gamblang. Hingga yang lain juga mulai masuk ke dalam ceritaku. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan untukku. Terlebih karena Farhan mengungkapkan perasaannya padaku, namun kami setuju hanya saling suka dan belum menjadikan hubungan ini pacaran. Kami masi ingin mengejar mimpi-mimpi kami. Dan juga karena malam ini tanpa eliminasi peserta. Dan… Mas Arifin sudah mengizinkan aku menjadi artis dengan jaminan Riri. Mereka Jadian 4 bulan setelah keberangkatanku ke Jakarta.

“Kurasa ini akal-akalanmu untuk menjauhkan aku dari masku kan?… hahaha. Aku sudah feeling sebenernya… oke. langgeng ya… sip. Awas, masku moody… Tunggu aku pulang. Baru kalian bisa serius.” Aku mendapatkan surprise sekali lagi. Bisa menelpon 2 orang kerabat. Kugunakan untuk menelfon Riri dan Ibu. Mas ku tidak. Karena sampai akhir acara semalam kami mengobrol di backstage.

Cerpen Karangan: Erlina Wati
Facebook: https://www.facebook.com/erlyn.tock

Cerpen Kontes Dangdut Semilyar (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Bapak

Oleh:
Lelaki di hadapanku ini semakin mengeratkan pelukannya. Mengusap halus punggungku seakan berat melepasku pergi. Ujung matanya sedikit basah, berkali-kali ia menghela napas panjang. Aku berdiri canggung sejak tadi, menggenggam

Rahasia Cinta

Oleh:
Paskibra merupakan ekstra yang telah Icha pilih semenjak ia duduk di bangku SMK. Semenjak SMP Icha memang suka dengan ekstra ini. Dimanapun ada perlombaan paskibra Icha pasti datang untuk

Sahabat Yang Pertama

Oleh:
Jonathan, anak cowok baru. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya tampan. Selain penampilannya yang keren, dia Juga berotak cerdas. Benar-benar cowok sempurna. Tak heran bila dia menjadi idola banyak

Aku Berbeda

Oleh:
Sesaat kutundukkan kepalaku, duduk tidak tenang dan perasaan ragu-ragu. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus aku katakan? “Mbak Tania?” suara itu terdengar seperti tepat di telingaku. “Hemm… saya… saya…” sembari

Cinta Dalam Satu Alamat

Oleh:
Namaku adalah Abdul Pradana dan Aku ini tinggal di rumah baruku di sebuah perkotaan di Jakarta. Namun, kenapa aku pindah rumah? Karena ayahku diterima di tempat kerjanya di jakarta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *