Koridor Lolipop

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 February 2015

Alarm jam di kamar ku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuh ku dari tadi malam sungguh sulit untuk ku gantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika ku ingat pelajaran pada jam pertama adalah pelajaran dengan guru terganas di sekolah ku.

Ku raih ponsel yang ku letakkan di meja dekat tempat tidur ku, berharap ada pesan masuk yang menyatakan bahwa hari ini ada pertemuan guru seprovinsi yang diadakan mendadak, sehingga bisa dipastikan sekolah tidak akan dibuka dan aku tidak perlu mengakhiri mimpi indah ku secepat ini.

“Bela, cepat bangun, Kak Dimas udah siap dari tadi, entar kamu ditinggal!” teriak mama dari depan kamar ku. Dengan langkah malas, aku mengiyakan perkataan mama dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah hari ini.

Tidak sampai setengah jam aku sudah menuju ruang makan, ku lihat Kak Dimas telah selesai sarapan dan bersiap-siap untuk menghidupkan motor merah kesayangannya. Namun, disela sarapan ku, aku melihat ada yang berbeda dari Kak Dimas hari ini, hari ini Kak Dimas tidak mengenakan seragam putih abu-abunya. “Kak Dimas kok gak pake seragam sih? emang kelas 3 gak sekolah yaa? Terus Bela berangkat sekolah sama siapa dong?” Tanya ku kepada Kak Dimas sambil memakan roti yang tadi disiapin mama. “Kamu itu yaa, udah turun kamar telat, pas turun pertanyaannya udah kayak mau mensensus penduduk!” balas Kak Dimas kesal. “Abis penampilan Kak Dimas kok biasa aja? tadi pertanyaan Bela belom dijawab lagi?” tambah ku. “heem, denger yaa Bela sayang, hari ini di sekolah kita ada kejuaraan basket, dan tim Kakak akan tanding hari ini, jadi cepet selesaikan sarapan mu dan kita berangkat ke sekolah” jelas Kak Dimas yang sepertinya sudah tak tahan lagi dengan semua pertanyaan ku. “ooh yaa, asiikk… berarti hari ini kita free dong, ya udah ayo Kak kita berangkat!” aku langsung menarik tangan Kak Dimas yang baru saja ingin mengambil secangkir teh yang dibuat mama. “ehh, kalian mau langsung pergi aja, gak pamit dulu sama mama?” protes mama yang merasa dilupakan oleh anaknya. “ohh iyaa, maaf yaa ma, abis si Bela mau buru-buru padahal tadi leletnya minta ampun. Ya udah, kami berangkat ya ma, Assalamualaikum” Jelas Kak Dimas dan kami pun langsung berangkat ke sekolah.

15 menit kami lalui di jalan, akhirnya kami sampai di sekolah. Hal pertama yang aku lakukan ketika sampai ke sekolah adalah mencari sosok ketua tim basket kakak ku, yaa dialah yang membuat ku semangat ke sekolah hari ini. Namanya Raffi Faridz Ahmad, biasanya aku panggil dia Kak Afi, dan tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali teman ku Ayu, Kak Afi lah orang yang sejak aku bersekolah di sini ku sebut dengan Semangat Pagi Ku. Agak norak memang, tapi itulah apa yang aku rasakan, rasa yang mungkin pasti dirasakan oleh setiap remaja seusia ku. Namun aku tak bisa melakukan seperti yang mereka lakukan, aku tak bisa mendekati Kak Afi sekali pun ia adalah teman akrab Kakak ku. Selain parasnya yang menawan, kemampuan Kak Afi di bidang akademik maupun non akademik sangat baik sehingga membuat dia sangat menonjol di sekolah ini, hal ini lah yang membuat ku sedikit takut untuk mendekatinya, terlebih lagi karena semua itu pasti membuat banyak gadis cantik tetarik padanya, dan belum lama ini dia sangat dekat dengan Kak Celsi teman satu angkatannya dan mungkin Kak Afi menyukainya.

“Hei Bela, mau sampe kapan di parkiran? mikirin apa sih dari tadi?” tegur Kak Dimas yang sudah menyadarkan ku dari lamunan. “enggak kok Kak, yaudah Bela masuk duluan yaa, babay Kak Dimas” aku langsung meninggalkan Kak Dimas yang masih ada di parkiran dan segera mengambil lollipop kesukaan ku dari dalam kantong seragam. Karena terlalu terburu-buru tanpa di sengaja, Kak Afi mendorong ku di koridor sekolah. Spontan, setangkai lollipop yang ada di tangan kanan ku pun terjatuh ke lantai.

Mata ku langsung tertuju pada orang yang mendorong ku itu. Kak Afi hanya berlalu begitu saja tanpa memperdulikan ku. Itu dikarenakan Kak Afi sedang sibuk mempersiapkan pertandingannya. “Bela!” sapa Ayu yang sudah berada di sampingku ketika mataku masih memperhatikan pungung Kak Afi yang semakin menjauh. “eh Ayu, lihat nih lollipop ku jatuh tadi ditabrak sama Kak Afi” lapor ku pada Ayu. “Kak Afi? Asiiik dong, bisa dijadiin bahan obrolan sama dia, tadi dia ngomong apa?” selidik Ayu yang tau bahwa aku menyukai Kak Afi. “jangankan ngobrol, minta maaf aja enggak! Udah ahh, ayo masuk kelas” kata ku kesal sambil menarik tangan Ayu agar segera mengikuti ku.

Jam sudah menunjukkan pukul 09.30 itu artinya pertandingan antara sekolah ku dan sekolah Mitra Jaya akan segera dimulai. Dengan cepat aku mengajak Ayu untuk mendekati lapangan, berharap dapat menyaksikan Kak Dimas sekaligus Kak Afi bertanding untuk mengharumkan nama sekolah ini. Perasaan ku sebenarnya masih sangat kesal karena kejadian pagi tadi. Kesal plus senang sih, karena tadi itu kan kakak kelas yang paling aku kagumi tidak sengaja mendorong ku. Tapi, rasa kesal ku itu lebih bergejolak daripada rasa senang ku. Kenapa? Karena tadi, Kak Afi tak mengucapkan kata maaf karena sudah menjatuhkan permen lolipop ku.

Babak demi babak diselesaikan, dan akhirnya sekolah ku memenangkan pertandingan basket kali ini. Dengan diiringi tepuk tangan dari siswa dan guru yang menyaksikan pertandingan tadi, ucapan selamat pun mengalir dari beberapa siswa kepada Kak Afi dan kawan-kawan. Karena tak punya keberanian untuk melakukan hal yang sama, aku memutuskan untuk menjauhi lapangan dan pergi ke kantin sekolah untuk membeli minuman botol untuk menggantikan cairan ku yang hilang karena panasnya sinar matahari tadi.

Setelah menghabiskan minuman ku, aku berencana untuk masuk ke kelas. Namun, sebelum sampai di kelas, aku berpapasan dengan Kak Afi dan lagi-lagi di koridor sekolah. Jantung ku pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Memang, sejak Kak Dimas sering mengajak Kak Afi main ke rumah, aku merasa kalau aku sangat amat kagum melihat kakak kelas sekaligus Ketua tim basket di sekolah ku itu. “eh, kamu yang tadi pagi aku tabrak di koridor kan?” kata Kak Afi dengan suaranya yang sedikit serak. “hah?” kata ku yang salah tingkah. “Aku cuma mau bilang maaf ya soal tadi. Abis nya, aku buru-buru dan gak sengaja mendorong mu sampai lolipop kamu terjatuh.” Kata Kak Afi dengan senyum manis di bibir tipis nya itu. Aku yang sejak dari tadi tak bernyali menatap mata Kak Afi yang berbicara padaku “iya kak. Iya. Aku udah maafin kok” kata ku sambil membalas senyum kakak kelas ku itu. “ooh ya Bela, sebagai rasa bersalah ku, nanti biar aku yang mengantar mu pulang” ajak Kak Afi. “Bela? Kakak tau nama ku?” Tanya ku yang merasa belum pernah sama sekali berkenalan dengan Kak Afi.” Yaa taulah, kamu kan adiknya Dimas” jelas Kak Afi yang sedikit membuat ku kecewa. Aku hanya terdiam sambil memastikan bahwa ini nyata, dan ini kesempatan luar biasa yang aku dapatkan. “Gimana Bel?” Tanya Kak Afi untuk memastikan. “Tapi kak, nanti aku pulang bareng sama Kak Dimas” jelas ku agar tetap sopan di hadapannya. “ohh Dimas, sudahlah, biar aku yang bicara padanya, pulang sekolah aku tunggu yaa” tambah Kak Afi yang sama sekali tidak memberi ku kesempatan membalas kata-katanya karena ia langsung pergi.

Jam telah menunjukkan pukul 01.30, seperti janjinya Kak Afi sudah berada di koridor, aku langsung menyusulnya dan kebetulan di samping Kak Afi ada Kak Dimas. “ehh Bela, ayo kita pulang” ajak Kak Afi begitu aku telah berada di dekatnya. “Tapi Kak Dimas?” kata ku sambil menunjuk ke arah Kak Dimas. “Sudah, pulang saja sama Afi, Kak Dimas ada kerjaan mendadak, entar kalo diturunin Afi di tengah jalan kabarin Kak Dimas yaa” Kata Kak Dimas yang sepertinya tengah mengejek ku. “Gue gak jahat gitu kali Dim, Adik lo bakal gue jagain dan selamat sampai tujuan” jelas Kak Afi yang membuat ku merasa dibawa terbang oleh kata-katanya.

Sejak hari itu, aku dan Kak Afi semakin dekat, tetapi ada satu hal yang selama ini ku pikirkan. Apakah selama ini aku telah menganggu hubugan Kak Afi dan Kak Celsi? Aku tidak berani bertanya kepada Kak Afi, karena aku takut Kak Afi akan pergi menjauh, aku telah nyaman dengan zona ini, zona dimana aku bisa dekat dengan semua orang yang ku sayang tanpa batas. Aku tetap bersama Ayu, Kak Dimas, Mama, dan Kak Afi. Ayu pernah menyarankan untuk bertanya pada Kak Afi, namun aku tak punya nyali untuk itu. Semua pertanyaan itu cuma bisa aku tanyakan dalam hati dan berharap waktu bisa menjawabnya. Dan sampai hari itu tiba, hari di mana acara “Perpisahan Kakak Kelas XII” dimulai.

Hampir dua tahun aku menganguminya, aku telah berhasil berada di dekatnya, tapi sampai hari ini, hari dimana akan menjadi hari terakhir aku melihatnya di sekolah, aku belum juga tau perasaannya terhadap ku. mungkin hanya aku yang menganggap ini “lebih” dan dia hanya menganggap ini biasa dan memandangku sebagai adik dari Dimas Prawira teman akrabnya. “Hei Bel!” sapa Ayu yang langsung duduk di samping ku. Aku menatapnya dan membalas senyum manisnya, sepertinya dia tau apa yang ada di pikiran ku sekarang. “Sepertinya, kamu harus belajar untuk tidak ada di dekatnya, hari ini hari terakhir dia di sekolah ini, dan setelah pendekatan-pendekatan yang kalian lakukan berbulan-bulan, Kak Afi tidak memulai apapun” Kata ayu yang sepertinya mulai mendekati pembicaraan serius. “Aku akan mencobanya” jawaban ku hanya mengalir begitu saja tanpa ada ekspresi apa pun, pandangan ku terus tertuju pada seorang lelaki berkemeja biru dengan satu gelas sirup di tangannya yang ku sebut Semangat Pagi.

“Dari pada selalu memandanginya dari jauh, lebih baik kamu dekati dia, dan tanyakan semuanya, agar langkah yang kamu ambil tidak salah.” Nasihat Ayu yang akhirnya membuat ku berani untuk mendekati Kak Afi. Langkah demi langkah yang membuat ku semakin dekat dengannya menambah pertanyaan yang bergejolak di hati ku tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini. Dia tak membiarkan ku mundur, dia tak menyuruh ku maju, dia mencoba untuk menahan ku. Aku tidak suka keadaan ini, aku akan menentukan sikap ku hari ini.

“Kak Afi” sapa ku padanya ketika aku sudah ada di depannya. Dia hanya tersenyum dan menarik tangan ku agak sedikit menjauh dari teman-temannya. Ku kira dia akan marah pada ku karena aku telah menganggu waktunya. Tetapi perkiraan ku salah, dia terus menuai senyum di bibirnya sambil menatap ku dan terus membawa ku dan akhirnya berhenti di koridor. Ya, lagi-lagi di koridor!. “Bela, ada yang ingin aku katakan” kata Kak Afi memulai keheningan yang terjadi. “Aku juga Kak, tapi silahkan kakak dulu yang bicara, aku akan mendengarkan.” Kata ku sambil berharap kalimat yang aku tunggu-tunggu tentang perasaannya terhadap ku akan segera keluar dari mulutnya. “tapi tidak sekarang Bel, aku masih ditunggu oleh teman-teman ku disana, ku minta kau menunggu ku disini, aku akan kembali.” Setelah mengatakan kalimat itu, Kak Afi mengacak manja rambut ku, aku hanya mengangguk seperti terhipnotis oleh sorot matanya yang indah. Bahkan, aku melupakan tujuan ku untuk menemuinya hari ini, setidaknya itu ku lakukan karena setelah ini aku masih akan bersamanya, walaupun itu hanya beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja.

Aku masih duduk disini sambil menatap Kak Afi dari kejauhan. Aku memang bodoh, aku menunggu seseorang yang mungkin tak pernah akan datang untuk ku. Tapi aku tak ingin lari dari sini, aku tak ingin menyia-nyiakan momen berharga ini. Aku tetap akan menunggunya, menunggunya di koridor sekolah dengan setagkai lollipop menemani.

Hampir 1 jam aku menunggu, dan akhirnya Kak Afi mendekati ku. Jantung di rongga dada ini seakan tak ingin memperlambat detaknya sehingga membuat paru-paru yang berada di dekatnya kesulitan menghela oksigen. “Bela, dengarkan aku. Aku diterima di universitas National University of Singapore.” Kak Afi memberiku kabar yang entah harus membuat ku sedih atau senang. “Singapore? Selamat yaa Kak” Hanya itu yang dapat aku katakan, dengan senyum kecil di bibir ku. “Apa kau membiarkan aku pergi?” pertanyaannya ini sungguh membuat ku tak kuat lagi menahan apa yang ingin ku katakan padanya hari ini. “Bel, apa kau tak pernah merasakan apa yang ku rasakan selama ini? Aku menyukai mu Bel? Apakah kau tak sadar itu?” Pengakuan itu membuat air mata ku yang sejak tadi ku tahan tak dapat terbendung lagi, tanpa sadar aku memeluknya “Aku juga menyukai mu Kak, bisakah kau tak menyuruh ku untuk menunggu lagi? Aku lelah” Air mata ku terus mengalir dan membasahi pundak Kak Afi. “Aku pergi bukan untuk meninggalkan mu, Aku pasti kembali, kembali untuk kamu Bel karena aku mencintai mu” perkataannya membuat harapan ku tak sia-sia. Aku memang tidak berhak menghalangi masa depannya yang cerah. “Aku juga mencintai mu bahkan sangat mencintai mu. Jika itu yang terbaik bagi mu, aku akan menunggu mu disini,” Kata ku untuk menyakinkannya agar Kak Afi tidak terlalu merasa khawatir tentang perasaan ku. “Terima kasih Bel, aku berjanji akan kembali untuk mu” Kata Kak Afi dengan senyum manisnya menatap ku dan memberikan setangkai lollipop manis untukku sebagai tanda perpisahan hari ini.

“AKU MENYUKAI MU…” Kata-kata itu selalu aku ulang dalam hati ku. Mulai malam ini, besok, hingga 4 tahun kedepan aku tak akan melihat Kak Afi. Rindu sudah pasti ku rasakan, namun setiap aku melewati koridor sekolah dengan setangkai lollipop di tangan ku pasti aku merasakan keberadaannya. Aku telah menentukan sikap ku padanya sejak hari itu, sikap ku adalah aku akan melanjutkan menunggunya karena aku mencintainya, dan dia akan datang padaku karena dia juga mencintai ku!

Cerpen Karangan: Herlia Rahmadona
Facebook: Herlia Rahmadona
Nama saya Herlia Rahmadona saya lahir pada tanggal 25 Janauari 1997. “Koridor Lolipop” ini cerpen pertama saya semoga kalian suka 🙂

Cerpen Koridor Lolipop merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa Pemiliknya?

Oleh:
Aku terbawa suasana sendu mengikuti lagu yang kudengar dari sebuah earphone di telingaku. Suara gerimis dari atap toko yang aku singgahi untuk berteduh seperti mengiringi alunan lagu penyanyi idolaku

Awalnya Sih Biasa Saja

Oleh:
Rizal.. Orang-orang biasa memanggilku. 15 belas tahun yang lalu, bayi dari keluarga sederhana lahir. Memang pengalamanku banyak, tapi yang paling indah adalah di saat aku pindah sekolah. Aku pindah

Maafkan Aku

Oleh:
Namaku Indah dan usiaku 17 tahun saat aku menulis cerita ini. Aku memiliki seorang sahabat laki-laki bernama Aldo, dia seorang yang memiliki banyak kekurangan yang membuat orang lain sulit

Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 2)

Oleh:
Nisa segera mengembalikan beberapa buku yang dibacanya ke rak perpus. Kemudian, Nisa melangkah keluar dari perpus. Ternyata Arul sudah menantinya di sana. Nisa segera melangkah menuju Arul. Kini, Nisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *