Kotak Musik Kenangan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 July 2016

“yah, lisa mau berguru silat lagi, boleh kan yah?!”. rengek lisa pada ayahnya di suatu malam. Setelah membicarakan pada bundanya, ayahnya tadi pun mengizinkan. Asalkan nilai sekolah lisa tidak turun dan lisa pun menyanggupinya. Ayahnya menceritakan ini pada opa mereka saat beliau berkunjung di sore harinya. “kebetulan opa punya kenalan guru besar perguruan silat namanya fremli solihin. Dia mengajar beladiri silat di perguruan teratai putih. Nanti biar opa bilang sama beliau ya lis?”. Kata opanya menyarankan. Setelah perbincangan itu selesai lisa kembali ke dapur untuk membantu oma dan bundanya memasak.

Setelah beres–beres lisa pergi kerumah opa dan omanya seperti janjinya kemarin. Kakaknya tidak ikut karena lusa ia ada turnament basket dan hari ini harus latihan on time and full time. Lisa terkejut ketika melihat orang yang duduk di sebelah opanya itu ternyata kakek dari sahabat karibnya di desa. Ia mengetahui hal itu karena mereka dulu pernah bertemu sekali saat sahabatnya itu mengajak lisa kerumahnya. Nama sahabatnya itu adalah yusuf aditya. Dia adalah pria yang baik, sopan dan juga tampan dan menurut kabar burung yang beredar adit menyukai lisa, tetapi lisa tidak menanggapi masalah itu dengan serius.

Siang itu seperti biasa rubby mengajak lisa pulang bersama. Tapi kali ini lisa menolak karena dia sudah berjanji dengan pakcik (panggilan khusus untuk guru besar di perguruan lisa berlatih) untuk mulai latihan pada sore hari ini.
Ketika hendak masuk perguruan lisa bertabrakan dengan toni, dan ternyata dia juga anggota teratai putih. Semenjak kecelakaan itu toni mulai sedikit berubah ia tak lagi sejutek dulu walau kadang tidak bersifat terbuka.

Setelah selesai latihan awal mereka di perbolehkan beristirahat selama 15 menit yang kemudian akan dilakukan latihan pernafasan dan pendinginan akhir. Saat sedang bercengkrama dengan toni. Pakcik datang bersama seorang pria yang wajahnya sudah tidak asing lagi di ingatan lisa. “adit?! Kapan kamu tiba disini. Dan bagaimana kabar kamu? Aku rindu banget” sapa manis lisa. “kemarin. Aku juga rindu. Lebih rindu dari kamu. Rasanya kalau tidak ada kamu di sisiku aku gak selera lakuin apa pun. Hampa hidupku”. gombal sahabatnya itu. Lisa hanya manyun saja. Mereka sangat bahagia hingga lisa lupa dengan toni yang tadi bersamanya, saat ia hendak mengenalkan adit dengan toni, toni telah pergi.

Pakcik menyuruh semua anggota berbaris. Setelah semua tahapan latihan selesai. Pakcik pun memberikan waktu 15 menit untuk ganti pakaian bagi yang mau ganti. Waktu menunjukan pukul 16.38 wib. Semua anggota berkumpul lagi dan membentuk lingkaran. Toni di tunjuk untuk mengucapkan “sumpah teratai”. Setelah semuanya benar benar selesai dan mereka telah di perbolehkan pulang. Lisa menemui toni dan mengajak adit juga. “toni, kenalin ini adit sahabat aku di desa. Dan adit ini toni”. Mereka saling bersalaman dan memperkenalkan diri. Ketika adit dan lisa hendak pergi, toni memanggil lisa dan seperti ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Tapi pakcik memanggil lisa. Pakcik bilang orangtua lisa menyuruh lisa pulang bersama adit. Lisa kembali menemui toni tapi ia malah bilang “tidak jadi”. Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat dan sekarang wajah itu tampak kecewa. “salis ayo”. Ajak adit pada lisa. Lisa tersenyum pada toni dan mengucapkan salam, tapi seperti ada yang aneh pada diri toni.

Hari ini toni tidak masuk sekolah dan yang lisa takutkan dia masih marah padanya yang entah karena apa. Soalnya ketika hendak pulang semalam rasanya ada yang hendak toni bicarakan tapi terhalang oleh sesuatu. Dan saat lisa tersenyum pada toni. Toni hanya cuek dan kembali dingin seperti dulu lagi.

Setelah selesai sekolah seperti biasa lisa ke perguruan untuk latihan seperti biasa. Hari ini sepertinya dialah orang pertama yang sampai karena ia datang lebih cepat, sangat sangat cepat tidak seperti biasanya. Hari ini mereka pulang cepat, karena ada rapat guru di sekolah.
“assalamuala…iykum?”. Lisa agak terkejut ketika mengetahui bahwa di dalam perguruan sudah ada orang dan ternyata itu toni. “Sejak kapan ia tiba mungkin itu yang di pikirkan lisa, tadi ia tidak sekolah apa ia ada masalah?” gumam lisa. Lisa memberanikan diri memanggil toni dan saat ia melihat ke arah lisa tanpa sengaja lisa melihat air matanya menetes dan ia buru buru menghapusnya.
“toni. Kamu kenapa?” tanya lisa sedikit ragu. Toni menjawab ketus sekali dan dia bilang “kenapa semua orang sama munafik!”. Lisa sangat terkejut mendengar kata kata itu dan sepertinya toni memang benar benar sedang ada masalah dan itu seperti bukan toni yang lisa kenal. Toni yang lisa kenal adalah orang yang sopan walau dia bukan tipe orang peramah, tapi lisa belum pernah melihat toni semarah ini. Lisa mencoba meredakan amarah toni dan toni kembali meneteskan air mata.
“menangislah jika air mata dapat menghanyutkan kesedihan”. Tanpa sadar lisa berkata demikian. Ia teringat kembali dengan perkataan sahabatnya saat ia menangis, dan lisa memberikan sapu tangan hijau kesayangannya kepada toni.
Toni mulai bercerita ia bilang awalnya ia membenci lisa karena lisa wanita berjilbab tapi bermesraan dengan pria yang bukan muhrimnya dan ternyata ia salah dan ia meminta maaf kepada lisa, bukan hanya itu saja sebelum ia mengenal lisa ia sangat membenci wanita apalagi wanita berjilbab, karena itu membuat ia mengingat kedua wanita yang sangat ia benci. Mereka sama sama berjilbab tapi jilbab itu hanya digunakan sebagai penutup kepalanya saja dan hatinya dibuat seperti tidak “berpakaian”.

Lisa memberanikan diri bertanya mengenai kedua wanita tersebut awalnya toni seperti terkejut dan bingung. Dengan segera lisa meminta maaf siapa tau perkataannya itu menyinggung perasaan toni. Untungnya toni tidak marah dan menjelaskan mengenai kedua wanita itu. Yang pertama itu adalah wanita yang ia hormati dia adalah ibu biologis dari toni. Ibunya meninggalkan toni dan ayanhnya hanya untuk seorang pria selingkuhannya katanya pria itu lebih kaya dan lebih tampan juga lebih muda dari ayahnya. Penderitaannya bukan hanya sampai situ saja yang kedua bibinya adik dari ibunya. Bibinya sendiri dengan teganya meracuni pikiran waras ayahnya, dan sejak itu ayahnya menjadi seorang pemabuk dan ayahnya terkena penyakit hati yang membuat ia hanya bisa berbaring di atas kasurnya, dan bibinya juga yang mengganti obat yang diresepkan dokter dengan racun yang berbahaya dan membuat ayahnya meninggal dunia. Bukannya suuzhan tapi ia melihat sendiri bibinya melakukan hal itu dan saat itu toni masih berusia 9 tahun. Dia ingin melaporkannya ke polisi tapi bibinya malah bilang bahwa ia masih kecil dan masih shok dengan kematian ayahnya. Dan bibinya juga mengambil ahli perusahaan ayahnya. Parahnya bibinya juga berjilbab.
“astaghfirullahalazim”. Semua kejadian itu sungguh membuat hatiku sangat miris sekali, karena kejadian itu toni jadi mencap seluruh wanita berjilbab itu munafik tapi itu semua tidak benar.

Setelah amarah toni reda, lisa mengajak dia untuk sholat bersama dan untungnya toni tidak menolak dan tersenyum. Setelah selesai sholat terdengar suara gerbang perguruan dibuka dan tandanya ada orang yang sudah datang. Tidak berapa lama sosok itu terlihat, dan ternyata itu adit dan adit seperti tampak cemburu dan marah ketika melihat toni dan lisa bersama. Melihat hal itu lisa mendekat ke arah adit dan bertanya “apakah adit uda makan? Dan adit uda sholat kan?”. “sholatnya uda tapi makannya belum, tadi terburu–buru jadi gak sempat makan, bahkan sampai lupa bawa bekal”. Jawab adit. “sama dong, yuk makan bareng tadi bunda masak makanan kesukaan kita. Oh ya toni juga mau ikut?”. Ajak lisa. “gak usahlah, aku mau keluar sebentar”. Setelah toni keluar lisa makan bersama dengan adit, dan wajah adit tidak tampak marah lagi, dan entah mengapa lisa merasa senang melihat senyum adit itu.

Lusa, lisa ada turnamen dan berarti besok ia harus izin dengan kedua orangtuanya, karena mereka harus latihan full time. Dan pastinya adit sudah menawarkan diri menjemputnya dan entah mengapa ayah dan bundanya setuju saja. Tapi ketika teman iwan, dafa yang memintanya ayahnya malah marah–marah dan tidak mengizinkannya, padahal ayahnya tau kalau dafa itu teman dekat kakaknya. Hal ini membuat lisa merasa aneh dengan semua yang terjadi.

Ketika selesai makan malam ayah, ibu dan kakaknya berkumpul di ruang keluarga. Ayahnya sedang membaca koran, ibunya menonton tv, dan kakaknya sibuk dengan game playernya. Lisa mulai berbicara, “ayah, ibu…” semua mata tertuju padanya. Lisa melanjutkan kata–katanya. Setelah selesai mengatakan itu semua. Tanpa disangka sangka semua tertawa dan lisa semangkin bingung. “muka kamu dek, aneh banget kamu dek seperti ayah dan ibu ini orang lain saja. Kenapa kamu terlihat canggung begitu dek?”. Kata bundanya.
Pipi lisa memerah. Jujur saja lisa sedikit gerogi karena ia tidak terlalu terbiasa berbicara dengan kedua orang tunya malah ia lebih terbiasa berbicara dengan oma dan opanya di kampung. Mungkin karena lisa lebih terbiasa bersama dengan opa dan omanya dari pada dengan ayah dan bundanya.
“iya dek semalem pakcik uda izin sama ayah, dan kamu bareng aditkan?” tanya ayahnya. “hmm, tentu yah. Bukanya itu yang salah ayah dan seluruh kelurga inginkan, apa apa selalu bersama adit. Salsa pun gak tau kenapa harus adit dan ayah juga gak pernah bilang apa alasannya”. Mata lisa berkaca kaca. “kenapa dek? adek gak nyaman ya, atau apa adit gak baik sama adek?” tanya bundanya dengan lembut. “bukan bun, tapi salsa merasa aneh karena dimana ada salsa disitu ada adit, apalagi ketika adit melihat salsa matanya itu seperti rasa rindu, kekesalan tetapi lebih tampak rasa ingin menjaga dan salsa gak tau kenapa. Ia sih kita uda sama sama sejak kecil tapi…” lisa tidak melanjutkan kata katanya. 5 menit semuanya terdiam hingga. “ayah bunda…!”. suara kakaknya mengagetkan semua orang di ruangan itu dan semua mata tertuju padanya tetapi… “kan iwan KO. Padahal dikit lagi last level. Oh ya lisa jawaban pertanyaan kamu itu karena kalian jodoh?… kenapa iwan gak salah kan?”. Tapi suasana tetap senyap dan parahnya ayahnya melotot ke arah iwan dan membuat iwan meneguk ludah. “salsa suatu saat nanti kamu akan tau jawabannya dan sekarang lebih baik kakak sama adek tidur gi. Uda malam ne”. Pinta bunda

Hari ini lisa datang lebih cepat dari siapa pun hatinya terasa kacau dan bimbang ia inggin sekali menangis dan berteriak sekuat mungkin, pepohonan, kolam dan bangku taman menjadi saksi bisu akan semua kesedihan yang dialami lisa semenjak ia tinggal disini. Lisa harus meninggalkan semuanya semua keceriaannya, suasana di desa tempat ia bercanda, gubuk dan suara air terjun tak pernah ia dengar lagi sejak ia disini sahabatnya riska. Ia sangat rindu riska sahabat terbaiknya ia sangat sangat membutuhkannya saat ini dan ia lah orang yang paling mengerti lisa.

Tanpa disadari telah berdiri seorang pria di samping lisa duduk. “kenapa sih aku selalu melihat kamu menangis? Kapan ya aku melihat kamu bahagia tertawa dan tersenyum di hadapan aku?”. Lagi lagi dafi datang menghibur lisa. “kamu sih selalu datang disaat yang tidak tepat. Kamu seperti hantu tiba tiba datang tiba tiba hilang. Cepet kali kamu datang. “aku? Cepet datang? Aku memang selalu datang lebih awal. Seharusnya aku yang bilang begitu? Kamu kesambet apa rupanya kok kamu cepet banget datangnya. Jangan bilang kamu lagi ada masalah lagi?!”. Tanya dafi dengan ceria. “aku mau curhat sama kamu boleh kan?”. Dafi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lisa menceritakan semuanya kepada dafi dan entah sejak kapan mereka berdua menjadi akrab dan sering bertemu walau hanya kadang kadang saja. Lisa dan dafi merasa nyaman saat mereka bersama. Setelah menceritakan semuanya ia merasa agak mendingan dan mereka tertawa bersama. Iwan kakaknya datang menemui mereka berdua. “loh dek, cepet banget kamu datengnya pantes dari tadi kakak tungguin kamu di dirumah dan saat semua sarapan pun bunda cariin kamu dek. Kamu kok gak bilang bilang sih. Ne ada bekal dari bunda kamu harus kabarin bunda, bilang kalo kamu uda sama kakak kamu uda gak sedih lagikan?.” Tanya kakanya sambil memberikan kotak bekal berwarna hijau. “maaf kak lisa masih shock banget. Nanti lisa kabarin bunda. Dan sekarang lisa uda agak baikan ini semua berkat dafi.” Seraya tersenyum sambil mengambil bekal yang diberikan kakaknya itu. “eh lo sob. Thanks ya atas semuanya elu uda tepatin janji lo untuk jaga adik kesayangan gue ne” (menepuk pundak sahabatnya). “woleslah guekan selalu penepat janji, and kita ne kan friend uda sewajarnya saling tolong menolong”. Dafi ikut nyengir. “apa? sahabat? Sejak kapan?” lisa semakin bingung. “iyupz. Aku ama iwan uda sahabatan sejak SMP kamu sih baru dateng kemana aja neng?”.

Setelah pukul 07.15 wib mereka bertiga masuk ke kelas masing masing. Hari ini lisa mendapat kejutan yang membuatnya semangkin bingung. Adit sahabaatnya itu datang dan pindah sekolah. Dan sekarang ia satu kelas dengan lisa. Hal ini juga membuat toni tambah cemburu dan bingung dengan perasaannya dan sekarang adit duduk di belakang lisa. “kenapa lis? Kamu gak seneng aku disini?” tanya adit. “seneng seneng banget malah tapi ada yang kurang disini gak ada riska. Kita kan tiga sahabat”. Keluh lisa.

Cerpen Karangan: Nurul Qolbillah
Facebook: Nurul Qolbillah

Cerpen Kotak Musik Kenangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


SMS Harapan

Oleh:
Sore ini hari tidak begitu bersahabat, selepas asar, tiba-tiba aku dan muhayir tak bisa pulang ke rumah karena hujan. Sehingga kami menunggu di masjid hingga hujan reda, Alhamdulillah tidak

Cinta Itu Sederhana

Oleh:
“Cinta yang indah adalah jika kita mencintai seseorang dengan ikhlas tanpa balasan dan tanpa satu alasan apapun” Pagi yang cerah menyelimuti alam ini, ak terbangun dari tidur yang lelap.

The Truth

Oleh:
“Serius lo, Gi?” Yogas menatap Egi geram. Seakan tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya barusan. Egi pun berusaha menatap Yogas dan perlahan mengganggukan kepalanya. “Gi, lo bebal

Plester Biru Muda

Oleh:
“Vinn!” Teriak seseorang dari kejauhan dan langsung saja kukenali wajahnya. “Agil? Kenapa dia tahu aku di sini?” Batinku. Agil adalah sahabatku sejak aku masih smp. “Vinn, udah dong. Gak

Obat Sakit Hati (Part 2)

Oleh:
Semakin hari, Adrian seperti orang asing di kehidupanku. Sosok yang notabenenya adalah pacarku, kini tak lagi sering memunculkan wajahnya di depanku. Berjuta pertanyaan tentang Adrian ada di kepalaku. Hingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *