Kotak Musik Kenangan (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 July 2016

Guru sastra memerintahkan agar semua siswa ke perpustakaan untuk mencari referensi dan secara kebetulan lisa, adit, dan toni menjadi satu kelompok. Mereka pergi bersama Sepanjang perjalanan ke perpus lisa dan adit terus saja bercanda. Sampai sampai toni yang ada di belakang mereka tidak di perdulikan. Bukan hanya itu saja ketika sampai perpus pun mereka masih terus bercanda hingga mereka dimarah oleh penjaga perpus, di tengah tengah perbincangan tiba tiba…
“oh ya lis, aku ada sesuatu buat kamu. Happy birthday to you my angel” sambil memberikan sebuah kotak berwarna merah jambu. “ oh ya ini hari ulang tahunku ya?. Pantes semuanya tega sama aku. Aku aja gak inget Cuma kamu satu satunya orang yang inget. Aku buka ya?. Adit pun menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu toni semakin bingung dengan perasaannya, ia merasa aneh ketika ia melihat lisa bersama dengan pria lain ia merasa cemburu, tapi ketika lisa bersamanya ia merasa begitu nyaman dan damai. “kamu ulang tahun lis? Astaga aku baru inget hari ini kan hari ulang tahun sekolah dan otomatis ini hari ulang tahun kamu juga. Andai aku tau lebih dulu, aku pasti kasih sesuatu buat kamu. Maaf ya” kata toni. “gak papa kok, aku aja gak inget”. “tunggu tunggu. Kalau begitu aku orang pertama yang ngucapin dan pastinya aku juga orang pertama yang ada di hati mu”. Mendengar hal itu lisa mengepalkan tangannya kearah adit. Tiba–tiba mata toni berkunang kunang dan ia jatuh pingsan. Melihat hal itu lisa dan adit segera bergegas membawa toni ke UKS dan dokter bilang kalau suhu tubuh toni sangat tinggi dan dia harus dibawa pulang. Dokter meminta tolong kepada adit dan lisa untuk mengantar toni pulang. Saat lisa sedang dipanggil kedalam. Adit menunggu di luar, dan sulwan datang ia minta pada adit untuk menjauhkan adiknya dari toni, karena toni akan membawa dampak buruk bagi adiknya itu, sama seperti latar belakangnya yang juga buruk.

Setelah sampai di rumah toni mereka disambut oleh seorang wanita tua yang berpakaian sangat rapi bak keluarga bangsawan, dengan kebaya yang indah dan sanggul yang menawan. Dan dua orang pria bertubuh tegap berpakaian seperti abdi dalam. Wanita tadi mempersilahkan lisa dan adit untuk masuk kedalam sebuah rumah yang eksteriornya seperti villa dan bagian interiornya sangat klasik. Dan yang lebih mencengangkan lagi ketika wanita tadi bilang nama lengkap dari toni itu, “RADEN MAS WILLYFRASETYA SOERYANINGGRAT”. Hal itu tentu saja membuat lisa merasa tertipu karena yang ia tau nama lengkap toni itu “TONI WILLYFRA”. Setelah berbincang singkat, lisa dan adit pamit pulang. Adit menitipkan salam pada wanita tadi untuk toni.

Tak berapa lama setelah mereka berdua pulang, toni sadar dan dia bertanya kepada eyangnya apa yang sebenarnya teryadi seingatnya tadi ia sedang berada di perpus sekolah dan kenapa sekarang ia berada di rumahnya. Eyangnya menjelaskan semua yang terjadi seperti yang dijelaskan oleh lisa tadi. Bahkan eyangnya juga memberitau nama asli dari toni. Toni ingin segera bergegas menemui lisa agar ia bisa menjelaskan semuanya dan alasan kenapa ia mengganti nama itu. Tapi eyangnya menghentikannya karena tubuh toni belum terlalu kuat untuk bisa bangun dan berjalan jauh apalagi berkendara.

Adit sedari tadi terus saja memandang lisa. “lis, kamu kenapa? Kok kayaknya sedari tadi kamu sedih baget. Kamu ada masalah ya?”. “enggak dit, aku heran aja kenapa dia bisa sejahat itu menipu kita. Aku benci sama dia dan aku gak mau berteman lagi dengan dia”. Sambil terus memandang ke arah luar kaca mobil. Adit tidak mau ikut campur apalagi setelah ia ingat apa yang dikatakan oleh sulwan tadi kepadanya dan mungkin memang benar kalau toni itu tidak baik untuk lisa. Adit memacu mobilnya ke arah yang tidak lisa ketahui. “dit, kita mau kemana ini kan bukan jalan ke arah rumah ku”. Tanya lisa kepada adit. Tapi adit terus saja diam hingga sampailah mereka di sebuah desa yang tidak asing lagi buat lisa dan adit. Disitu lisa melihat sahabatnya sahabat yang sangat ia sayangi berdiri di bawah pohon tempat mereka selalu berkumpul bersama. Lisa sangat bahagia ia langsung berlari dan memeluk sahabatnya itu sambil berkata “aku rindu kamu” dan ia menteskan air mata yang membasai pipi dan pundak sahabatnya itu. Setelah melepaskan kerinduan mereka berdua pun pamit pulang karena hari sudah semakin sore.

Sesampainya di rumah bunda dan ayahnya sudah duduk di ruang tamu. Mereka sudah dari tadi menunggu lisa pulang. Bahkan orang tuanya sudah menelpon ke sekolah tapi sekolah bilang kalau lisa sudah pulang mengantar teman yang sakit. “kamu darimana lisa? Dari tadi ayah cari kamu, liat bunda kamu sangat kuatir sama kamu” marah ayahnya. “udalah ya jangan marah lisa lagi kasian dia, dia juga baru pulang kasihan dia pasti kecapean, sudah sana dek kamu masuk kamar”. Pinta bundanya tapi… “ayah mau tau lisa kemana lisa dateng ke sebuah tempat dimana tempat itu gak buat lisa sedih dan tempat itu juga gak pernah rahasiain sesuatu dari lisa apa lagi bohong sama lisa”. Setelah mengatakan semua itu lisa masuk ke dalam kamarnya ia masuk ke dalam kamar mandinya dan menyalakan shower air dia mengguyur tubuhnya dan tidak berhenti berhentinya menangis. Bundanya mengetuk pintu kamarnya dan memanggil lisa berulang kali tapi lisa tetap saja membungkam. Saat jam makan malam pun lisa gak turun ke bawah ia terus saja mengurung dirinya. Bundanya sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada putrinya, bahkan ayahnya pun menjadi gelisah mungkin kata–katanya tadi membuat kacau hati putrinya. “salis turunlah sayang. Bunda sama ayah mau bilang sesuatu”. Tapi lisa tetap diam. “kalau kamu gak mau turun gak papa ayah Cuma mau bilang selamat ulang tahun. Dan maaf untuk semuanya ayah tau ayah uda kasar sama kamu tapi itu semua bukti kalau ayah sayang sama kamu. Ayah rindu sama lisa kecil ayah yang uda lama gak ayah peluk dan ayah ingin mengecup dahi lisa seperti dulu”. Bundanya pun menitiskan air mata dan berkata “hati bunda juga sakit saat lisa memanggil bunda dengan sebutan bukde dan pakde. Ingat dulu saat lisa bunda beri boneka teddy warna coklat. Lisa tersenyum sambil bilang makasih bukde dan bunda langsung masuk kamar. Lisa ingin tau alasannya apa itu semua karena bunda gak tahan jauh dari lisa”. Setelah mengatakan semua itu lisa pun keluar ia memeluk bundanya dan menangis tersedu sedu. Dia meminta maaf atas semua sikapnya yang membuat bundanya menangis. Dan saat itu juga kakaknya datang sambil membawa kue brownis kesukaan lisa dan sulwan. “happy birthday to we… happy birthday too we… happy birthday happy birthday happy birthday to we… selamat ulang tahun adik kakak tersayang”. Lisa pun tersenyum dan membalas kata kata kakaknya karena hari ini mereka sama sama berulang tahun yang ke 18 dan tidak berapa lama lagi lisa dan sulwan masuk ke perguruan tinggi.

Toni masih sibuk dengan hadiah mana yang akan ia berikan kepada lisa. Ia telah membelikan lisa sebuah boneka teddy berwarna ungu dan sebatang coklat yang ia lilitkan di leher boneka itu, bonekanya tidak terlalu besar dan di telingannya ada sebuah surat untuk si penerima boneka, tapi ia bingung karena ia belum menjelaskan semuanya kepada lisa tentang jati dirinya yang sebenarnya. Dan ia masih belum yakin apakah lisa akan memaafkannya atau tidak.

Keesokan harinya dengan diantar supir. Toni pergi sambil membawa boneka itu. Ia terus mencari lisa dan menemukannya sedang duduk di bangku taman tempat ia biasa bersama dengan dafi, dan untungnya saat ini dia tidak bersama dengan dafi, ia sendirian dan sedang asik membaca komik. Toni memberanikan diri dan memanggilnya. Lisa melihat ke arah toni dan melihat apa yang sedang ia bawah. Dengan ketus ia bertanya “ada apa raden mas willyfrasetya soeryaninggrat”. “aku ingin meminta maaf pada mu aku bisa menjelaskan semuanya alasan aku menyembunyikan nama ninggratku. Dan aku ingin memberikan kamu hadiah ulang tahun yang seharusnya ku berikan padamu waktu itu”. “gak perlu aku gak butuh apa pun dari kamu. Kamu uda janji gak bakalan boong sama aku tapi apa. Pembohong!!” lisa langsung meninggalkan toni yang masih tetap diam.

Lisa duduk di kelas dan saat itu juga adit datang dan duduk di sebelahnya. “kenapa kamu gak maafin dia? Dia aja maafin kamu yang juga boong dengan nama sugiono itu. Salisku itu cewek pemaaf, Lebih baik kita dengerin dulu penjelasannya jangan terbawa emosi”. Mendengar kata kata bijak sahabatnya itu membuat lisa sadar betapa egoisnya dia. Saat itu juga ia sadar untuk tidak terlalu terbawa emosi dan semarah apa pun dia harus mau mendengarkan penjelasannya. Lisa tersenyum dan memeluk sahabatnya itu dan hati adit pun berdegup kencang, pipinya memerah seperti tomat. “kenapa dit?” “eng… gak enggak papa kok hm fiuh”. Dalam hatinya lisa merasa geli. Karena sedari dulu jika mereka bertiga berpelukan persahabatan pasti adit selalu begitu.

Hari ini angel mengajak lisa dan dan ruby untuk menginap di rumahnya karena hari ini orangtuanya pergi ke luar kota, dan dia hanya tinggal bersama pembantu dan supirnya. Dan saat mereka membicarakan itu adit dan toni mendengarnya. Saat sedang tc di perguruan toni terus saja mendekati lisa tapi lisa terus menghindar. Bahkan ketika hendak pergi kerumah angel pun toni terus mengikuti. Lisa memberitaukan pada angel dan rubby untuk tidak memperdulikan toni. Jam menunjukan pukul 09.00 tapi toni tidak juga menyerah ia terus memanggil nama lisa. Rubby menjadi khawatir karena saat ini sudah larut malam dan halilintar terus menerus menyambar, dan benar saja hujan turun dengan sangat derasnya. Angel menyarankan pada lisa untuk memaafkan toni, karena terus menerus dipaksa oleh temannya ia pun keluar tapi saat ia keluar ia tidak melihat toni. Ia mengambil payung dari guci payung angel untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan ia sangat terkejut ketika melihat toni terduduk bersandarkan gerbang rumah angel. Lisa memanggil teman temannya dan tidak memperdulikan air hujan yang menjatuhinya karena saat itu payung digenggamannya terjatuh. Setelah sampai di dalam rumah lisa memegang dahi toni, dan betapa terkejutnya dia suhu tubuhnya sangat sangat tinggi. Angel memanggil supirnya untuk segera mengganti pakaian toni yang basah karena hujan. Setelah semuanya selesai lisa mengkompres dahi toni agar panasnya turun. Rubby dan angel tambah khawatir dengan diri lisa karena ia juga tak mau istirahat, ia terus berjaga dan merawat toni lisa juga menyarankan pada temannya untuk tidur terlebih dahulu. Jam menunjukan pukul 03.00 wib. Lisa terbangun seperti biasa ia sholat tahajud. Setelah selesai sholat ia mengganti kompresan toni. Suara azan berkumandang dan lisa pergi sholat shubuh, ketika ia sedang berdoa toni sadar ia meraba dahinya dan bingung apa yang sebenarnya terjadi. Lisa datang dan toni pura pura memejamkan matanya. Lisa memegang dahinya dan ternyata suhu tubuhnya sudah kembali normal. Saat lisa akan pergi toni meraih tanganya dan berkata “terimakasih untuk semuanya, alasan aku mengganti nama itu karena aku tak ingin orang menganggapku karena harta, aku ingin kamu tau kalau sebenarnya aku sayang sama kamu dan aku suka sama kamu”. Lisa melepaskan pegangan toni “aku uda maafin kamu kok, tapi aku gak bisa turuti permintaanmu. Karena aku uda punya orang yang aku sayang, dan aku hanya menganggapmu sebagai sahabat saja gak lebih”. Toni merasa kecewa tapi ia tetap tersenyum dan ia pun menelpon supirnya untuk menjemputnya. Karena ketika ia datang kemari ia naik taxi.

Cerpen Karangan: Nurul Qolbillah
Facebook: Nurul Qolbillah

Cerpen Kotak Musik Kenangan (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tokoh Utama

Oleh:
Dulu kita sempat memperebutkan posisi itu. Bahkan di antara kita tidak ada yang mau mengalah. Butuh waktu lama bagimu untuk memberikan posisi itu padaku. Sempat pula terlintas keinginan kita

Awan Vs Jingga (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari setelah kejadian itu, Jingga bersikap seolah menjauh dari Awan. ”Kenapa lo selalu meluk gue seperti ini?” Jingga tidak membalikkan badannya karena tidak ingin Awan tau kalau dirinya

Senyumannya Lembayung Senja

Oleh:
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring tanda hari berakhir, dengan dihiasi wajah murid yang kusam terlihat seperti hape yang sedang low bat, yah begitulah suasana sekolah kami, Nama ku

Tersisa

Oleh:
Matamu memandangku seperti orang yang sedang menonton adengan klimaks. Berkediplah, matamu perih nanti. Kita masih terpaku satu sama lain, mencoba menganalisa apa yang terjadi selama ini. Ada yang aneh

Warisan Rasa Rindu (Part 1)

Oleh:
Untuk Nagendra Saya tak pernah menyangka, tak pula punya insting mengenai hadirmu dalam hidup saya. Saya kira kita hanya manusia yang terlibat adegan dalam bingkai yang sama. Nyatanya kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *