Ku Temukan Hati Yang Tak Biasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Aku wanita yang tak begitu peduli dengan cinta. Entah mengapa aku sendiri pun terasa tak punya alasan untuk menjawabnya. Ketidakpedulianku ku buktikan hingga saat ini, aku masih betah sendiri tanpa seorang kekasih. Mungkin terdengar naif jika di zaman sekarang masih ada orang yang tak peduli dengan cinta namun aku harus bagaimana lagi? Itulah nyatanya dan tak bisa lagi terpatahkan.

Buku diary ini adalah kawan sejatiku, semua isi hatiku ku curahkan di setiap lembarnya, itu sebabnya mengapa jika ada orang yang berani membaca buku diary ini aku akan marah, marah sejadi-jadinya. Di lembaran pertama hingga ke lembaran 50 buku diaryku tulisannya hampir tak pernah menyinggung masalah cinta, namun entah mengapa di lembaran selanjutnya. Ku tulis agak berbeda.

Semua keresahan ini berawal dari siang itu, ketika aku bersantai di taman seorang diri, biasanya jika aku ke taman aku selalu mengajak Nina sahabatku, namun kali ini tidak. Aku memilih untuk pergi sendiri karena pikirku nina mungkin sedang beristirahat karena ia baru pulang dari bekerja. Aku juga tak ingin mengganggu waktu istirahatnya. Niat hati ingin melepas penat setelah seharian penuh bergulat dengan tugas kuliah yang yang menumpuk di meja belajarku, sementara aku asyik menikmati angin sepo-sepoi. Tiba-tiba seorang pria menyapaku dengan salamnya dari arah belakang, suaranya sedikit membuatku terkejut hingga akhirnya aku membalikkan badan untuk menjawab salamnya.

Ia seorang pria yang bertubuh tinggi, kulit sawo matang serta memiliki lesung pipi di kedua pipinya. Ia memakai baju koko, rambutnya masih sedikit basah seperti orang yang baru pulang dari mesjid. Tetapi aku tak ingin dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa ia lelaki yang baik hanya karena melihat penampilannya saja, namun ku akui bahwa penampilannya memanglah sedikit berbeda dari lelaki pada umumnya yang sering ku jumpai setiap harinya. Kali ini.

“Bolehkah saya duduk di sini?” Pintanya dengan santun.
“Iya duduk aja.” Kataku dengan sedikit cuek.

Tak pikir lama ia pun akhirnya duduk di sebelah kiriku yang jaraknya sedikit jauh dariku. Semenjak ia duduk kami hampir tak pernah bertegur sapa, aku sibuk dengan bacaan novelku yang ku bawa dari rumah, sementara ia sendiri sibuk dengan gadgetnya. Namun sesekali ia terlihat melirikku, mungkin ia ingin aku melayangkan pertanyaan kepadanya agar bisa mengundang percakapan, namun aku tetap acuh, aku masih tetap sibuk dengan bacaan novelku yang sisa beberapa lembar lagi.

“Hari ini cerah ya.” Sapanya yang tiba-tiba memecah keheningan.
“Iya.” jawabku yang masih cuek.
“Kamu suka dengan tempat ini?”

“Ahhh sial!! Lelaki ini benar-benar membuatku tak nyaman hari ini.” pekikku dalam hati. Ingin rasanya meluapkan kekesalanku padanya namun ku tahan, aku tak ingin dipandang sebagai wanita galak dan sombong olehnya, maka ku hentikan bacaan novelku lalu ku masukkan bukuku ke dalam tas.

“Iya, aku suka dengan tempat ini, jika aku sedang tak ada kegiatan kuliah ku sempatkan untuk mampir, lagi pula jarak rumahku dari sini tak terlalu jauh, bersepeda saja sudah sampai.” pikirku penjelasan itu sudah cukup baginya, namun aku salah. Kami terhanyut dalam percakapan yang cukup lama. Tadinya ia seorang lelaki yang menyebalkan, namun dari percakapan siang itu merubah pandanganku tentangnya. Seharusnya dari awal ia menyapaku aku sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa ia lelaki yang amat baik, tetapi itu jauh dari logikaku, pikiranku malah negatif tentangnya.

Aku mengira ia sama seperti kebanyakan lelaki di luar sana, jika bertemu dengan seorang wanita ia akan mengeluarkan segala bujuk rayunya agar wanita itu terpesona, namun ternyata ia berbeda. Ia seorang lelaki yang humoris namun tetap sopan, selama kami bercakap-cakap ia tak pernah sekali pun merayu seperti yang dilakukan banyak lelaki jika bertemu dengan seorang wanita. Dari percakapan itu sesekali ia memberiku nasihat tentang hidup, dan aku belajar banyak hal darinya.

Semenjak dari pertemuan itu jalinan pertemanan kami semakin indah, bahkan jika aku sedang tak ada kegiatan kuliah kami sering bertemu, di mana lagi? Jika bukan di taman, di tempat awal kami bertemu. Bukan hanya itu, ia juga sering mengirimiku buku novel yang sering dititip ke Nina, dan bukan Nina namanya jika tak pandai mengejek. Saat ini hatiku tak bisa lagi berbohong bahwa ia lelaki pertama yang berhasil mewarnai hidupku.

Hati kecilku pun tak bisa sembunyi dari perasaan ini, awalnya ku kira hanya aku yang memiliki perasaan yang tak biasa ini, namun ternyata ia juga sama denganku. Apakah ini cinta? Atau hanya sebuah cobaan dalam pertemanan? Hatiku berbisik, ingin rasanya semua segera terjawab agar hatiku tak menjadi resah. Meski Cinta kini mulai terasa nyata tetapi aku juga tak ingin berharap banyak dari perasaan ini, kami tak mungkin menodai pertemanan kami hanya karena cinta. Iya hanya karena cinta.

Cerpen Karangan: Nurhikmah
Facebook: Hikmah Nur Pratiwii

Cerpen Ku Temukan Hati Yang Tak Biasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf, Aku Terlalu Memaksa

Oleh:
Hai selamat datang malam yang penuh dengan isakan sendu jangkrik-jangkrik, yang daunnya menari indah dilatari melodi alam yang merdu. Itu semua tak membuatku bergerak meskipun seinci. Aku sangat menikmati

Take A Bow

Oleh:
Kusingkap tirai yang menutupi jendela kaca kamarku. Rinaian hujan mengguyur rumahku, membuat bercak-bercak putih kecoklatan di jendela. Dari kaca yang bernoda ini, kulihat samar-samar halaman rumahku yang basah kuyup.

Tempat Camping

Oleh:
“Kaylaaa…” teriak pacarnya Naufal, dan langsung duduk di sebelah Kayla dan menoyor kepala Kayla. “ishh, kebiasaan banget. kepala gue udah difitrah.” “biarin aja hahaha.. lo beli apa Kay?” tanya

Sebuah Pertanyaan (Part 2)

Oleh:
“Hohoho!” Mas Tyo tertawa. “Kaget, ya?” Aku menatap Mas Tyo dari sepatu hingga ujung rambutnya. Penampilannya benar-benar berubah. Aku tahu pasti penampilan alumnus yang satu ini yang biasanya acak-acakan

Tak Terbalas

Oleh:
Saat aku menginjak kelas 8, aku bertemu dengan orang orang baru yang belum kukenal seluruhnya. Dari berbagai kelas. Hanya beberapa orang yang kukenal, tentu saja orang orang yang berasal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *