Kuasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

“Kenapa lo?,” tanya Riska saat mereka berkumpul bersama dengan anggotan Pro Techno.
“Nggak papa kok.”
“Hy guys!,” sapa Bram saat ia telah sapai di restoran itu.
“Wuuzzz makin keren aja lu! Di New York dapet apaan, Bram?!,” tanya Billy dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bram.
“Gue… dapet ini!,” jawabnya dengan mengambil sesuatu dari saku jasnya. Kemudian, memberikannya kepada Bram, Billy dan Felly.
“Wow!,” gumam Riska saat menerima benda itu. Udangan. Yah.. undangan pernikahan.
“Datang ya?!,” kata Bram dengan menyerupu kopi milik Riska.
“Ini kebiasaan banget sama makanan gue! Mulai Pro Techno terbentu sampe bubar masih aja sama! Nggak ada berubahnya!,” kata Riska dengan menepuk lengan Bram.
“Hahahaha. Iya-iya. Gue akan pesen sendiri. Hhhh pelit amat lu!,” kata Bram dengan mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
“Oh ya, Kapten lu kapan nikah?!,” tanya Billy kepada Felly.

Gadis dengan mata bulat yang sempurna. Perawakan semampai. Berotak jenius. Dan juga, pewaris tunggal 36 bisnis dari orang tuanya. Felly Anggi Wiraatmaja. Itulah namanya. Dia adalah mantan kapten band Pro Techno. Band yang terbentuk saat mereka masih SMA. Bubar setelah mereka menentukan kehidupan masing-masing.

Akan tetapi, nama Pro Techno masih saja melejit di media sosial. Bagaimana tidak? Band yang memiliki sejarah terpanjang sepanjang tahun. Kini, mereka mewariskan semua itu kepada Felly. Ia kini menjadi model majalah brand terkenal. Sedangkan Bram, ia berhenti sebagai partner Felly untuk cover majalah setelah kepergian bokapnya. Dan, menjalankan wasiat bokapnya untuk menjalankan semua bisnis mereka. Begitu juga dengan Billy dan Riska.

Namun, mereka tidak berhenti untuk bermain musik. Mereka memanfaatkan bakat mereka untuk mengajar di berbagai les privat musik. Bisa juga, di sekolah musik. Terkadang, saat mereka mendapatkan liburan, mereka menggunakannya untuk menjadi dosen sementara di salah satu universitas. Meskipun hasil rupiah yang mereka dapat tidak sebanding dengan hasil mereka saat berbisnis, tapi kebahagiaan dalam diri merekalah yang membuat mereka puas.

“Eh Ris! Gue ngarep sih, setelah gue nikah nanti, lu bakalan nyusul gue!,” kata Bram dengan mengunyah dagingnya.
“Kenapa harus gue?! Billy kan bisa! Emang lo pikir nikah itu gampang apa?!”
“Hahaha kenapa? Lo nggak punya pasangan sekarang? Emang lu sih, terlalu dingin jadi cewek!,” lanjut Billy.
“Tahu ah! Lu kayak gue dong! Murah senyum!,” tambah Bram dengan senyuman manisnya.
“Tch! Tahu ah!,” kata Riska sewot.
Mereka pun kembali bergurau dengan ramainya restoran. Bercerita tentang pengalaman cinta masing-masing. Namun, mata mereka terbelalak saat mereka tahu kisah cinta Felly.

“Apa lo bilang? Lo serius?!,” tanya Riska dengan nada terkejut.
“Kenapa bisa begitu, hah?!,” lanjut Billy.
“Pasti ada sebab akibatnya, kan Fel?!,” tambah Bram.
Felly hanya terdiam mendengar pertanyaan teman-temannya yang bersahutan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mengingat kejadian yang terjadi di hari sebelumnya. Semua itu menyiksa dirinya.
“Gue nggak tahu harus gimana. Tapi yang pasti, gue akan bercerai sama Arka.”
“Lo gila ya? Bukannya lo dulu mendambakan Arka sebagai suami lo. Dia cinta pertama lo pula! Dan sekarang, lo pasrah dengan perceraian lo?! Oh Tuha… Felly! Gue nggak abis pikir sama otak lo!,” oceh Riska dengan memegang kepalanya gemas.
“Tahu nih anak! Lo inget kan sama buku pertitur musik kita?! Semua itu lo ciptakan untuk arka. Dan sekarang, giliran dia udah ada di sisi lo, lunya malah nyerah gini aja! Dasar gila lo, Fel!,” lanjut Bram dengan menghentikan gerakan pisaunya.
“Gue tahu. Tapi, gue ngerasa nggak bisa mempertahankan rumah tangga gue.”
“Kenapa bisa begitu. Gue nggak pernah mengenal lo sebagai cewek yang lemah dan lembek begini. Lo rumah tangga sama Arka di kasih makan apaan sih, hah? Lo berubah, Fel!,” kata Bram.
“Gini Fel. Lo sama arka pasti ada masalah, ya?,” tanya Billy perlahan.
“Setiap gue ketemu sama dia selalu aja ada masalah. Bahkan, lebih baiak gue nggak ketemu sama dia.”
“Jadi itu, alasan lo nggak hamil-hamil sampe sekarang?”
“Tahu ah, Ris. Capek gue ngerasain rumah tangga ribet kayak begini.”
“Fel, lu kan cinta sama Arka. Semua itu bakalan kerasa enteng kalau lo ngelakuinnya dengan cinta. Lo selingkuh kali!,” tuduh Bram dengan mengacuk-ngacungkan pisau makannya.
Billy pun menghentikan pergerakan tangannya dengan memberika kode kepada Bram untuk menaruh pisau dan garpu di tempatnya. Dengan nada yang berbisik dan bibir yang manyun, Billy meletakkan tangan Bram perlahan agar pisau itu turun.

“Fel, gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?!”
Felly hanya mengangguk pelan.
“Apakah Arka masih sering pulang ke rumah?”
Felly menggeleng.
“Dia pulang ke mentionnya. Dan, gue pulang ke rumah gue sendiri.”
“Oh my god. Lo gila! Rumah tangga macam apaan sih itu, hah?! Felly, ini nggak bisa di biarin! Lo sebenernya kenapa sih sama dia? Ya ampun.. nih anak!!!,” kejut Riska saat mendengar jawaban Felly yang penuh dengan kepasrahan.
“Awal dari semua ini dari apa sih, Fel? Semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya kan kalau kita tahu akar masalahnya darimana?”
“Awalnya sih, karena masalah majalah yang ada. Dia bilang, kalau partner gue Bram, dia masih bisa terima. Tapi, kalo yang lainnya dia udah nggak bisa toleran.”
“Terus, sekarang apa yang lo lakukan? Tetep sama partner kerja lo itu?,” tanya Bram penasaran.
“Awalnya sih gitu. Tapi, setelah gue tahu dia makin marah, akhirnya gue meminta untuk sigle cover sama isi sekalian.”
“Gimana hasilnya sekarang?,” tanya Billy.
“Dia semakin menghindar ke gue. Padahal, gue udah nurutin apa yang dia mau.”
“Tuh anak! Bener-bener, ya?!,” kata Bram dengan emosinya.
“Bentar-bentar guys! Jangan keburu emosi dong, kita kan belum tahu kepastiannya kayak gimana?!,” kata Billy menenangkan.
“Tapi semuanya udah jelas kan, Bil?! Apanya yang kurang?!,” tanya Riska dengan nada yang mulai meninggi,
“Adaa! Karena gue merasakan hal itu.”
“Udah-udah. Kalian nggak usah bertengkar cuma gara-gara gue doang. Lanjutin deh makannya. Sorry, gue udah ngerusak suasana malam ini,” kata Felly dengan meminum koctailnya.
“Apa, semua ini ada hubungannya dengan karir lo, Fel?,” tanya Billy menerka.
Felly pun kembali memuntahkan koctailnya. Sedangkan Billy, begitu gembira saat ia telah menemukan momentum untuk mendapatkan jawaban yang tepat.
“Lo tahu darimana?,” tanya Felly serius.
“Jadi, gini Fel. Perusahaan gue ada kerja sama dengan punyaan Arka. Kita udah jalin kerja sama dua bulan yang lalu. Dan, semua itu berjalan dengan mulus. Hingga akhirnya saat dewan peimpin, General Meneger dan juga direktur pengen refress. Kita ke disko buat ngilangin stress. Di sanalah gue mulai berbincang sama Arka. Semua temen-temen pegang cewek bawaan mereka. Termasuk gue. Lo tahu kan gimana gue?! Nah waktu gue tahu di sendirian minum di Bar, gue menghampiri suami lo! Gue tawarin deh cewek bawaan gue. Tapi, dia malah bilang. Di rumah udah adah cewek yang bisa bikin gue kepanasan saat ngeliat dia. Bawaannya pengen banget bawa di ke kamar. Gue mah, it’s okay aja. Maklum lah pengantin baru. Nggak lama dari itu, dia udah abisin dua botol. Gue yakin, dia nggak kebiasaan minum orangnya. Gue bantuin deh dia buat masuk mobil. Saat gue mau telepon supir kantor, dia malah ngingau. Dia bilang, gue cinta sama lo! Kenapa lo nggak ninggalin itu! Dia terus, aja bilang kayak begitu. Nah.. gue udah mulai bingung deh dari situ. Ini orang kayak tertekan banget sih? Nyatanya beneran kalau dia tertekan sama bininya,” cerita Billy panjang lebar.
“Terakhir kali, dia nanya sama gue. Apakah gue mau ninggalin karir gue. Yah.. gue ma langsung nyolot aja, Bil. Gue ngedapetin ini nggak gampang tahu!”
“Nah! Udah ketemu jawabannya sekarang! Lo pulang sekarang! Jemput Arka dan bilang kalau lo bersedia untuk ninggalin karir lo! Gue jamin, dia bakalan balik!,” ucap Billy yakin.
“Tapi, Bil…”
“Fel, tugas cewek itu hanya melayani suami dan mendidik anak serta merawatnya. Boleh kita bekerja, selama suami mengizinkan. Kalau enggak, sama aja kita melanggar aturan agama!,” ucap Riska memutuskan pembicaraan Felly karena mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Felly.
“Lagipula, sesukses apapun cewek. Dia bakalan kembali ke dapur. Karena, itu udah kodrat mereka. Felly, suami adalah kepala keluarga. Lo adalah imam. Walaupun gue, Billy sama Riska bejat. Seenggaknya kita tahu kewajiban kita apa aja. Dan, gue ingetin sekali lagi buat lo! Pernikahan itu ibarat sebuah rumah. Kalau pondasinya nggak kuat, dia akan roboh, dan..”
“Dan pondasi rumah dalam bahtera rumah tangga adalah, pengertian, kepercayaan, cinta, dan juga kejujuran,” lanjut Riska meneruskan ucapan Bram yang sengaja ia putuskan.
“Nah, mereka aja tahu apa yang harus dilakukan dengan otak bongol mereka. Kenapa lo yang jenius begini diam kayak patung. Ditambah lagi, apa lo nggak kasihan apa, lihat Arka mabok terus gara-gara stress mikirin lo?! Dia butuh lo di sisinya sekarang. Dia diam, karena dia takut melukai lo. Seharusnya, lo ngertiin dia dan cari tahu apa yang dia inginkan. Kalau dia yang lo suruh mendekat nggak bakalan bisa, Fel. Dia udah gila dengan bisnisnya. Di tambah lagi, proyek yang kita bangun sekarang adalah proyek besar-besaran. Dia butuh sosok yang bisa membuatnya nyaman. Gue tahu, kalian masih saling mencintai. Bahkan, masih sangat mencintai. Apakah lo rela menunggu dia setelah tujuh tahun lo menunggu? Dan.. untuk kedua kalinya lo…,” kata Billy terputus.
“Cukup! Gue udah puas dengan semua jawaban ini! Makasih guys udah ngasih gue keberanian untuk menghadap ke suami gue. Dan, gue janji gue akan melepas nama gue sebagai barbie.”
“Nah! Gitu dong! Jangan asal cerai aja! Pernikahan itu, cinta yang sesungguhnya. Bukan untuk main-main!,” kata Bram.
“Sekarang kan insiden Felly udah terpecahkan solusinya. Gimana, kalau kita lanjutin makannnya. Perut gue udah keroncongan menunggu hasilnya! Hehehehe,” ucap Riska dengan mengangkat garpunya

Mereka pun kembali bergurau bersama. Meneriakkan tawa mereka dengan lepas. Membaurnya bersama udara dan juga alunan melodi lagu yang tersiur di dalam restoran itu. Kembali mengingat masa lalu mereka dengan mengumpulkan album foto bersama.
Begitu juga Felly. Ia kembali mengenang masa sulit dan bahagianya bersama Arka. Lebih tepatnya Arkana Aditya. Cinta pertamanya yang telah kembali selama 7 tahun setelah perpisahan itu. Laki-laki yang berada di sisinya saat ini. Laki-laki yang selalu memendam apa yang ia inginkan. Menyiksa dirinya sendiri dan juga membunuh dirinya sendiri secara perlahan.

Namun, semua itu tidak akan terjadi. Setelah melihat dan meraba apa kesalahan yang ada di dalam diri Felly. Yah.. seperti halnya yang dikatakan oleh Bram, Billy dan Riska. Mereka semua benar dalam mengartikan filosofi pernikahan. Tapi yang pasti, pernikahan adalah titik bendung permasalahan. Dimana, kita harus bisa menghadapi permasalahan itu dengan cara apapun. Sehingga dapat menemukan solusinya. Bukan lari dari masalah tersebut. Dan, pasrah akan keputusan yang kuasa tanpa adanya sebuah usaha.

Tidak hanya itu saja, pernikahan adalah tempat dimana kita mencari kekurangan pasangan masing-masing. Dengan cara, saling mengerti dalam kesetiaan. Saling jujur dalam perkataan. Saling percaya dalam setiap hal selipan kebohongan. Dan juga, saling mengasihi satu sama lain dalah lingkup panasnya bahtera rumah tangga. Karena, semua akan terasa menyenangkan saat kita melakukan dengan sepenuh hati dan keikhlasan.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Kuasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Bloods

Oleh:
Key dan Sun bersahabat sejak mereka masuk SMP, mereka selalu satu kelas, duduk pun bersama. Suatu hari, Key memberitahu rahasianya kepada Sun. “Sun, aku suka sama seseorang loh.” Kata

Bulan Dan Bintang

Oleh:
Kulihat langit. Yang dihias dengan bintang dan bulan. Dan kuingat kembali saat aku bersamanya. Kenangan itu begitu indah. Aku tak menyangka ia pergi secepat ini. Saat ini, air mataku

Sejuta Bintang

Oleh:
Aku mengelap lensa kacamataku berulang-ulang sambil mengamati Frans. Dia masih saja mengetik di laptopnya. Dia begitu sibuk akhir-akhir ini, aku yakin kalau dia lupa aku masih ada di ruangan

Sekilas

Oleh:
Sejenak ku luangkan waktuku untuk mengulang kembali rutinitas ini lagi. Ya, melukis. Dimulai dari menggoreskan setitik cat hitam pada kuas ini ke kertas kanvas tepat di hadapanku. Perlahan ku

Cinta Dalam Satu Alamat

Oleh:
Namaku adalah Abdul Pradana dan Aku ini tinggal di rumah baruku di sebuah perkotaan di Jakarta. Namun, kenapa aku pindah rumah? Karena ayahku diterima di tempat kerjanya di jakarta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *