Kucari Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 August 2016

Namaku Rena. Aku pemain basket puteri bernomer punggung 13 dengan posisi point guard. Aku siswa kelas 9 yang baru saja selesai menyelesaikan Ujian Nasional tahun 2016 ini. Basket tim puteri pada pertandingan MGMP tak diikutsertakan karena adik kelasku belum siap untuk pertandingan itu. Padahal aku benar benar berharap untuk pertandingan terakhirku di SMP ini.

Sudah lama sejak pertandingan basket MGMP seKabupaten Bandung Barat, aku kenal dengan Raku. Lelaki yang jangkung, dengan tinggi ± 170 cm. Pemain basket KBB pada tahun 2015. Aku kagum dengan permainan basketnya, dia dalam posisi 5 di timnya. Pen-jump ball bola saat permainan baru dimulai. Kenal dengannya adalah sebuah anugrah. Siapa sangka aku bisa dekat dengannya meskipun hanya pernah bertemu beberapa kali saja.
Pada awalnya memang aku tak berniat untuk lebih dekat dengan dia. Aku hanya ingin meminta kotak pemain basket yang satu sekolah dengan dia, yang sedari awal bertemu aku sudah jatuh hati. Namanya Reki pemain basket kejurda mewakili KBB untuk tahun 2016 ini. Di sekolahnya dia memakai jersey bernomer punggung 14.

Berhasil aku mendapatkan kontak Reki dari Raku. Tapi begitu aku memulai bercakap lewat pesan line, sikap Reki tak menunjukan kesukaannya padaku. Tanpa pikir panjang, aku cepat meninggalkan dia. Aku takut cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Siapa sangka. Ternyata, Reki sudah punya gebetan meskipun mereka belum berpacaran.
Cepat-cepat aku beritahu Raku, kalau aku tak jadi untuk mendekati Reki.

Hari demi hari aku sering bercakap dengan Raku lewat pesan line. Menanyakan perkembangan tim sekolah mereka dalam pertandingan MGMP, tim putera sekolahku telah kalah saat melawan tim sekolahnya. Dan sekolahnya terus melanjutkan pertandigan. Saat sampai babak final, tim Raku masuk ke babak final. Aku berjanji untuk menonton pertandingan itu meskipun jarak rumahku jauh dengan gor dilaksanakannya pertandingan.

Esok harinya aku pergi ke sekolah hanya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan dan meminta tanda tangan untuk kartu NISN baru milikku. Sesudah melaksanakan Ujian Nasional siswa kelas 9 sudah tidak wajib untuk datang ke sekolah, kecuali jika memang ada keperluan di sekolah.

Hari ini aku datang ke sekolah pukul 8 pagi. Aku selalu ingat bahwa hari ini tim Raku juga termasuk timnya Reki melaksanakan final. Aku bingung harus datang ke pertandingan itu dengan siapa, tidak mungkin aku berangkat ke tempat itu sendirian. Beberapa teman sudah aku bujuk untuk menonton final MGMP basket, tapi tak ada yang mau. Terpaksa aku tidak menonton pertandingan itu. Aku menulis kalimat “Semangat Final MGMPnya Raku” di atas kertas binterku dan difoto bersama dengan aku yang memegang kertas itu. Aku berikan foto itu lewat line dan dengan menyertakan permintaan maafku karena aku tak bisa menonton pertandingannya.

Di depan kelasku hanya ada aku dan beberapa siswa lain yang sedang mengurusi urusan masing-masing di sekolah. Beberapa murid kelas 7 dan 8 terlihat sedang berolahraga di lapang basket depan kelasku. Aku hanya duduk depan kelas dan membuka laptop. Aku malas pulang, lebih baik aku nonton anime di laptopku. Tiba-tiba Rina sahabatku, duduk di sampingku.
“Hai Rena, lagi apa kamu? Kenapa datang ke sekolah?” Tanya Rina
“Iya Rina, aku abis aja ngasih buku ke perpus, sekalian ngurusin NISN. NISN punyaku beda sama yang sd. Ini aku lagi nonton anime, kan baru liris, dari hari jumat sih cuman aku baru aja downlaod tadi malem” Jawabku.
“Oh Ansatsu Kyoushitsu season 2 ya? Aku sih udah download,” Katanya dengan sedikit nada pamer.
“Ih rin kok kamu gak ngasih sih? Tau gini aku gak akan download, kan sayang kuotanya,” Ucapku seraya memukul pahanya.
“Lah ren kamu kan gak minta”
“Ih seengganya kamu ngasih kek”
“Oke episode selanjutnya aku deh download”
“Itu baru sahabatku hahaha” Tawaku.
“Tumben kamu gak ada acara hari ini. Biasanya kamu berlatih basket hari ini kan?” Tanya Rina.
“Nggak rin, pelatih aku lagi sibuk ngurus yang kejurda, pelatih aku juga kan pelatih kejurda KBB. Hari ini sih niatnya mau nonton final mgmp. Kamu mau temenin aku gak? Gak ada temen nih”
“Hari ini?”
“Iya lah”
“Oke deh ayo, tapi jam 2 udah pulang yaa”
“Oke rin siap”

Aku dan Rina segera berangkat menggunakan angkot untuk sampai ke gor tempat pertandingan berlangsung. Perjalanan memakan waktu ± 30 menit aku dengan Rina diisi dengan bercerita tentang orang yang akan aku temui, Raku. Aku bercerita tentang pertama aku dan dia bertemu. Aku bercerita hingga aku bisa dekat dengan dia, aku pun bilang kalau aku sedikit mulai ada rasa yang berbeda. Aku senang lelucon yang dia kirim lewan pesan line. Tak ada bosannya kalau aku terus baca pesan tadi malam. Pesan yang singkat tapi buat aku benar benar bawa perasaan “Selamat pagi renn”. Semangat untuk final kali ini terus aku kirimkan di sela sela pesan kami. Malam tadi juga aku terus beercerita banyak dengannya, mulai dari bertanya alamat rumah, liga IBL pun kami jadikan topik, hingga dia bertanya “Udah makan?” juga bilang “Pinginnya disupin kamu” membuat aku benar benar bawa perasaan. Hingga pesan line berakhir dengan “Selamat malam juga, mimpi indah, semangat mgmp nya ya, besok aku usahain datang”

Aku dan Rina sudah sampai di gor, kami masuk. Aku melihat kalau pertandingan final basket putra belum dimulai. Saat ini masih pertandingan tim putri. Aku coba menghubungi Raku tapi nomernya tidak aktif, mungkin dia sedang siap siap. Aku coba untuk menajamkan mataku untuk melihat kejauhan ke dalam ruang di dalam gor. Ya sekarang aku melihat timnya. Aku mencoba mendekat. Ya benar saja mereka sedang bersiap-siap. Aku mulai menjauh dari tempat mereka bersiap siap. Aku mencari tempat yang kemungkinan akan mereka pakai untuk pemanasan. Aku dan temanku berdiri di samping ruang tanpa pintu yang kira kira ukuran 5 x 5 meter. Benar saja, mereka pemanasan di ruangan tempat aku dan temanku berdiri.
Aku melihat Raku, dan aku juga melihat Reki. Reki yang pantas mengenakan jerseynya. Raku yang berawak jangkung itu melihat ke araku lalu tersenyum. Selesai mereka pemanasan. Raku menghampiriku.
“Ayo ikut ke dalam” Kata Raku
“Nggak, aku mau pulang, soalnya temen aku mau pulang,”
“Jadi kamu gak nonton?”
“Maaf aku cuman bisa ketemu aja.”
“Oke deh,”
“Ya, tetep semangat, oke?”
“Oke”

Aku dan Rina pulang karena sekarang sudah pukul 1 siang, ditakutkan macet di jalan, jadi aku segera pulang.
Aku meminta maaf pada Raku kalau aku tak bisa melihatnya bermain. Tim mereka kalah, kalah hanya 1 point.

Hari demi hari aku semankin dekat dengan Raku. Perasaanku padanya makin besar hingga aku tak sanggup kalau tidak menerima atau mengirim pesan pada Raku. Sudah sekitar 2 minggu dari awal aku kenal dengannya, perasaan ini merambat begitu cepat. Malam ini aku tak lewatkan bercakap ria canda tawa dengan Raku lewat pesan bbm.
“Kamu lebih milih bintang, bulan, atau matahari?” Tanyaku pada pesan itu.
“Bulan deh kayanya hehe,” Balasnya.
“Lho kok bulan?”
“Soalnya cuman bulan yang dipilih sama bumi buat nerangin melem. Kalau kamu?”
“Aku lebih suka bintang,”
“Hahaha, bintang tuh banyak, gak seru!”
“Hih kamu itu, kamu nyadar gak sih kalau bintang itu setia sama langit. Di siang hari, bintang tetap ada di langit meskipun gak terlihat, saat langit gelap, dia tetap ada nemenin langit. Memberi gemerlap dibalik kepekatan langit malam. Sama halnya sahabat, aku sebagai langit, dan sahabat sebagai bintang. Saat aku tenar atau sedang gemerlap sahabat tidak meninggalkan aku, meskipun aku ga butuh sahabat untuk menerangi lagi. Tapi, waktu aku udah ga gemerlap lagi, udah sengsara aku butuh bantuan sahabat, dan sahabat itu tatap ada bersamaku, memberi gemerlapnya untuk membuat aku (langit malam) tidak terlihat hitam pekat, dan aku tetap indah dipandang saat malam hari,”
“Hahaha kamu emang jago deh”
“Ya dong haha, aku seneng banget sama bintang sirius, saat bintang lain gak sanggup nerangin langit mendung, sirius selalu aja nampakin diri walau gak begitu terang kaya mestinya,”
“Aku siriusnya kamu mataharinya”
“Oke deh,” Jawabku. Aku sedikit pasrah sudah 2 minggu dekat tapi dia tak kunjung menyatakan perasaannya. Untuk kali ini aku akan sedikit menyatakan aku suka.
“Reki gimana kabar?” tanyaku sedikit basa basi di chat kali ini.
“Baik-baik aja, kamu masih punya harapan sama dia?”
“Nggak kok, aku lagi nunggu seseorang,”
“Siapa?”
“. – / – . – / . . – / / . . . / . . – / . – . / . – / / – . – / . – / – – / . . – / /” Aku mengirim sandi morse yang artinya aku suka kamu.
“Apaan itu?”
“Yaa morse lah”
“Artinya apa?
“Itu orang yang aku sukai”
“To the point aja deh. Aku pengen tau namanya.”
“Ish kamu ini kepo banget sih. Kalau mau tau ya artiin lah”
“Oke deh,” Pasrahnya
Obrolan kami terus berlanjut hingga pukul 10 malam.

Keesokan harinya Raku belum juga mengartikan kalimat itu. Padahal aku ingin dia cepat mengetahuinya. 1 minggu berjalan seperti biasa. Dan hari ini aku akan berjumpa dengan Raku. Aku harap hari ini hari yang sangat indah.
Aku menggu Raku di depan gapura kompleknya. Setengah jam aku menunggunya tak kunjung datang. Mungkin aku harus ke rumahnya.
Ibunya bilang kalau Raku sudah pergi satu jam yang lalu. Pergi ke tempat di mana aku dan dia akan pergi. Aku segera berlari ke taman yang jaraknya cupuk jauh dari rumah Raku.
Aku memasang headshet ke telingaku, terus memutar rekaman suara Raku yang dikirim lewat pesan suara bbm “Selamat Malam Rena, jangan lupa makan yaa.” Aku senang dengan rekaman itu. Setiap kali memutarnya aku selalu deg-degan.
Langkahku terhenti saat sudah sampai di taman melihat Raku sedang berbicara dengan perempuan. Aku sedikit mengetahui wajahnya. Oh ya dia itu penari O2SN yang selalu berkomentar di postingan foto milik Raku di instagram. Aku begitu sering menguntit semua akun milik Raku. Hingga aku tau teman-teman Raku yang lain. Perempuan itu tinggi. Mungkin jika aku bersebelahan dengannya, aku kalah tinggi. Mungkin tinggiku sepundaknya. Tingginya hampir setara dengan Raku. Dia sangat cantik dari pada yang aku lihat di foto instagramnya. Perempuan itu tiba-tiba pergi.
Aku segera menghampiri Raku.
“Raku,”
“Hai Rena, maaf aku tak menunggumu di gapura. Aku langsung pergi ke sini.”
“Oke gak apa apa kok.”
“Bagaimana kalau nanti sore kita bermain basket di lapang basket dekat rumahku?” Tanya Raku.
“Hmm oke, sekarang kita kemana?” Aku balik bertanya.
“Maaf hari ini aku ada acara dengan teman-teman basketku, jadi mungkin aku tak bisa. Nanti sore aku sudah pulang, jadi kita bermain basket saja, oke?” Jelasnya.
“Baiklah.”

Aku dan Raku pulang bersama, berpisah pada pertigaan jalan menuju arah yang berbeda.
Sore hari aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke lapang basket dekat rumahnya. Aku membawa musik box hanya untuk mendengarkan lagu sambil bermain basket di sana. Aku pergi menggunakan sepeda. Saat sudah sampai aku menihat Raku yang sedang mendrible bola sendirian. Dia menyadari kehadiranku. Aku dan dia bermain basket hingga larut malam. Kami terlalu asik bercanda, bermain, dan aku merasa, perasaan ini begitu besar, aku sangat nyaman berada di sampingnya.
Sudah larut malam, aku duduk berdua di kursi pinggir lapang. Sedikit demi sedikit meminum minuman penyegar. Aku memutar musik. Lagu yang sangat cocok untuk malam ini. Payung Teduh – Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.
“Kamu suka lagu dari payung teduh?” Tanya Raku.
“Ya aku sangat suka. Irama dari musiknya sangat berbeda dengan lagu dari musisi lain. Apalagi aku suka lagu ini yang liriknya itu hanya ada sedikit bintang malam ini mungkin karna kau sedang cantik cantiknya,” Jawabku dengan sedikit menyanyikan lirik yang aku sebutkan.
“Waw kita sama, aku juga suka sekali lagu lagu dari payung teduh 10 lagunya semua aku punya.”
“Hebat kita ternyata punya selera yang sama ya,” Kataku.
Malam itu bagaikan malam dengan seribu kehangatan. Bernyanyi bersama dengan Raku benar benar membuat aku tenang, senang.

Lagu berakhir. Aku memulai pembicaraan.
“Morse sudah kamu pecahkan, apa artinya?” Tanyaku.
“Belum, aku tak sempat, maaf,” Jawabnya.
“Ok lagian gak penting juga sih. Masih aja ya aku ngejomblo gini haha.” Aku sedikit memberi kode.
“Cowo banyak, kamu cantik, banyak yang suka kamu.”
“Tapi aku lagi nunggu orang yang aku suka buat bilang suka ke aku. Walaupun aku tau, nunggu itu bener-bener sakit, apalagi nunggu yang ga pasti, ya hasilnya gak pasti.” Jelasku.
“Cowo yang ada di morse itu?”
“Iya. Gimana? Kamu masih ngejomblo juga aja ni?”
“Hmmm aku udah punya pacar,” Ucapnya, ada sedikit keraguan saat dia bilang begitu.
Demi apapun. Hatiku seketika seperti ditusuk. Sakit sekali. Siapa orang yang sudah mendapatkan hatinya mendahului aku? Lantas ucapan gombal yang sering dia ucapkan kepadaku itu apa? Bukannya itu tanda juga kalau dia menyukaiku? Yang selalu membuat aku nyaman meski tak di sampingnya itu siapa? Itu sosok yang sekarang sudah memiliki kekasih. Untuk apa aku habiskan 3 minggu hanya untuk menunggu orang yang sudah memiliki kekasih? Sejuta pertanyaan yang ingin kuutarakan kepadanya begitu sulit terucap.
“Sudah berapa lama kamu pacaran? Siapa nama pacarmu?” Tanyaku dengan nada rendah, ada sedikit kegugupan saat bertanya.
“Hampir 8 bulan aku dengan Rika berpacaran. Memangnya ada apa?” Rika, perempuan yang waktu itu bertemu dengannya di taman sebelum aku menghampirinya. Dugaanku benar, mereka punya hubungan lebih.
“Kok kamu gak pernah cerita kalau kamu punya pacar?”
“Buat apa cerita, kamu kan gak nanya,”
“Kenapa kamu beri aku harapan?” Tanyaku, aku menatap matanya. Dia terkejut saat aku bertanya.
“Apa? Aku tak pernah memberi kamu harapan,”
“Ngasih aku perhatian. Selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat malam. Bercanda bareng. Ngajak makan bareng. Hingga bermain basket bareng. Itu apa kalau bukan kasih harapan?”
“Tapi itu bukti kalau aku bener bener ga mau kehilangan teman baruku.”
“Tapi aku punya perasaan lebih ke kamu! Nunggu kurang dari 3 minggu cape! Kalau kamu gak ngasih harapan, aku gak bakal suka sama kamu! Aku ninggalin cowo yang suka sama aku itu cuman buat nunggu kamu, dan sekarang kamu baru bilang kalau kamu punya pacar! Orang yang paling istimewa di hidup aku jadi orang yang paling buat aku sakit hati. Buat apa kamu ngasih perhatian, buat aku baper kalau cuman buat nyakitin aku?” Ucapku membuat dia tertunduk. Aku cepat cepat pergi mengunakan sepedaku, melesat menjauh dari tempat itu.
Air mata tak lagi bisa dibendung. Lelaki yang aku cintai sudah menutup hatinya untuk aku. Karena sudah ada orang yang istimewa di dalam hatinya. Musik Box milikku tertinggal bersama Raku. Aku relakan yang istimewa di hidupku pergi menjauh dari aku. Aku menghapus semua kenangan bersama Raku. Kotak nomor telponnya, kontak line, kontak bbm milik Raku sudah aku hapus. Aku tak ingin lagi mengenal dia.

3 bulan berlalu. Perlahan aku sudah melupakan dan merelakan Raku. Tepat hari ini, Raku dan Rika 1 tahun berpacaran. Aku mengetahui tanggal mereka jadian dari teman Raku.
Kini aku sudah atlet basket KBB kelompok umur 16. Ini impianku yang sesungguhnya. Semenjak kejadian itu, aku tak lagi ingin mencintai lelaki lain. Aku mulai fokus dengan karirku di dunia olahraga basket. Aku tak lagi pernah mendengar kabar tentang Raku.

Penonton sudah memadati gor pajajaran bandung. Hari ini babak final liga DBL sesekolah menengah atas sebandung raya. Aku sedikit gugup bermain basket di depan orang yang sangat banyak. Apalagi ini final, gor benar benar dipenuhi penonton.
4 Quarter kami bermain, tak ada sia-sianya. Sekolahku memenangkan DBL tahun ini! Suatu kebanggan yang sangat besar sekali. Gor menjadi sangat meriah dengan pemenang baru.
Seusai memeriahkan kemenangan, aku tak ikut berfoto dengan piala baru kami. Aku pergi ke tempat aku menaruh tasku, di ruang loker. Aku hanya ingin beristirahat disini. Banyak sekali yang mengucapkan selamat di media sosialku, apadahal belum 1 jam dari berakhirnya pertandingan.

Aku membuka ponselku. Ada pesan sms entah dari siapa, yang jelas aku tak punya kontaknya. Pesan itu berisi “Semangat final DBLnya Rena. Hanya ada sedikit bintang alam ini mungkin karna kau sedang cantik cantiknya. Selamat malam, istirahatlah untuk esok biar tidak sakit.” Pesan itu sampai kepadaku pukul 9 malam, aku sudah tidur, dan baru sempat aku buka hari ini. Ada potongan lirik payung teduh berjudul untuk perempuan yang sedang di pelukan. Lagu dan lirik yang sangat aku suka. Tak peduli siapa pengirimnya. Akhir-akhir ini memang banyak nomor nyasar yang mengucapkan semangat bertanding, jadi pesan ini bukan hal yang aneh.

Sepertinya aku merasakan kehadiran sosok seseorang di belakangku. Aku cepat menoleh. Raku! Sialan, dia kenapa ada di sini.
“Kenapa kamu di sini?” Tanyaku kaget.
“Selamat atas kemenangannya, aku tak mau melewatkan permainan pemenang DBL” Jawabnya.
“Sebaiknya kamu pergi,” Ucapku dengan nada sedikit halus.
“Oke aku pergi,” Dengan cepat dia meninggalkan aku.
Aku melihat ke bawah. Di atas lantai sudah ada musik box. Aku tak asing dengan benda itu. Itu milikku, yang aku tinggalkan dulu dengan Raku.
Sudah lama aku tak mendengarkan lagu payung teduh karena aku tak sempat bersantai mendengarkan lagu. Aku menyalakan musik box itu. Aneh, ini bukan lagu, ini rekaman.
“Rena, aku minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku memberikan perhatian yang lebih dan membuatmu berharap. Aku merasakan hal yang sama seperti kamu dekat denganku. Dekat denganmu aku merasanyaman. Aku mencari kamu kemana mana, tapi tak menemukan kamu. Ini moment yang pas untuk aku bertemu dengan kamu. Aku senang saat mendengar sekolah kamu masuk babak final, dan aku segera membuat rencana untuk mengembalikan benda milikmu ini. Hari ini seharusnya hari dimana aku dan Rika sudah 1 tahun berpacaran, tapi aku tak lagi bersama dia. Aku menyadari bahwa aku juga menyukai kamu. Cinta ini datang terlambat. Semalam hanya ada sedikit bintang mungkin karena kau sedang cantik cantiknya. Mungkin kali ini kamu sudah membenciku, tapi ingat aku akan terus mencintai kamu. Kamu adalah bintang yang menghiasi lagit, dan aku adalah bulan yang selalu hadir bersamamu.”
Aku benar benar terpaku mendengar rekaman suara Raku. Rasa suka ini timbul kembali. Namun kali ini rasa cinta yang begitu besar dari biasanya. Seusai rekaman itu, diputar lagu Payung Teduh berjudul Kucari Kamu. Tapi ini aneh, ini bukan iringan gitaris payung teduh, dan bukan suara pokalis payung teduh, ini suara iringan gitar dengan Raku yang bernyanyi. Lagu yang mewakili kondisi dia saat ini, ini seperti Raku yang berbicara lewat lagu.

Aku segera mencari Raku. Namun tak menemukannya. Aku bertanya kepada teman Raku lewat pesan line. Dia bilang kalau Raku akan bersekolah di sekolah atlet basket di Surabaya dan berangkat hari ini menggunakan kereta, kereta yang akan berangkat pukul 4 sore. Sekarang hampir pukul 4 sore. Dari gor pajajaran menuju stasiun hanya berjarak 1 km. Aku harus datang tempat waktu sebelum kereta berangkat. Aku berlari dengan sekuat tenaga, hingga betisku terasa sakit sekali.

Aku sampai di Stasiun Bandung. Aku memaksa masuk kepada petugas dengan bicara kalau aku akan bertemu orang penting. Petugas bilang dia tidak peduli dan tetap tidak mengizinkanku masuk. Aku segera lari masuk menghiraukan petugas itu. Stasiun yang sangat besar ini dipadati orang-orang. Aku menajamkan mata untuk mencari orang yang akan aku temui. Suara resepsionis terdengar bahwa kereta tujuan surabaya akan datang dari arah barat menuju arah timur pada jalur 5. Aku segera menuju jalur 5. Orang yang aku cari sudah terlihat. Aku berteriak memanggil namanya. Dia menoleh.
“Raku, kalau belum terlambat aku ingin kembali mencintai kamu” Aku mendekati telinganya dan berbisik.
“Aku yang sudah terlambat mencintai kamu. Tapi kali ini aku akan pergi jauh. Maafkan aku, mungkin kita akan sulit untuk bertemu lagi. Kalau ada waktu aku akan mampir ke sini lagi kok,”
“Tapi cinta?”
“Rena, kita sudah saling menyakiti dan kini saling menyayangi, tapi aku tak bisa terus dekat denganmu. Ada urusan yang begitu penting. Selamat tinggal cinta, relakan lagi saja.”
“Oke”

Kereta datang, pintu terbuka, dan Raku masuk ke dalam gerbong kereta. Untuk kedua kalinya aku ditinggalkan oleh orang yang sama, yang aku cintai.
Kehidupanku lagi lagi berjalan seperti biasa tanpa ada sosok Raku dalam hariku. Sudah disakiti olehnya tapi tetap saja aku mencintainya walaupun sudah berusaha untuk pura pura tidak menyukainya.

Cerpen Karangan: Dian Tri Larasati
Facebook: Dian Tri Larasati
Instagram: diantrilarasati
line: diantri.larasati

Cerpen Kucari Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ke Pantai

Oleh:
Satria sedang berdiri bersama lima orang sahabatnya, di sebuah pantai yang sangat indah. Dia tidak menyadari ada sebuah lubang kecil di dekat kakinya yang sedang berpijak. Mahluk penghuni lubang

Pesan Tersimpan

Oleh:
Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal

Friendship or Love (Part 1)

Oleh:
Persahabatan. Sebuah hubungan yang sangat luar biasa. Kesunyian dalam hidup akan berkurang dengan adanya kehadiran seorang sahabat, seseorang yang dapat dipercaya, selalu setia menemani di saat sedih maupun senang.

Jatuh Cinta Setiap Bertemu

Oleh:
Aku terbangun di hari Senin yang cerah. Secepat kilat aku berlari menuju kamar mandi setelah membereskan tempat tidur. Selepas itu lantas mengenakan seragam dengan bangganya. Seulas senyuman terukir di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *