Kudapatkan Apa Yang Kumau (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 July 2017

Esok harinya aku berani untuk menceritakan kiki pada mamahku, aku ceritakan kedekatan aku dengan kiki dan aku jujur tentang kejadian malam itu. Setelah aku ceritakan aku merasa lega banget, baru aku ceritakan aja sikap mamah udah welcome banget sama kiki. Setelah sekian lama dekat, untuk pertama kalinya aku berani untuk minta jemput sama kiki *udah kaya sama pacar sendiri hehe. Karena aku menganggap kiki adalah teman dekatku walaupun bukan pacar, tapi kiki mungkin menganggap lain, jelas aku bukan siapa-siapa. Setelah menjemputku, kiki mengajaku untuk mampir ke rumahnya, kita banyak ngobrol disitu, kita makin dekat, memang ini yang kuharapkan, tapi aku berfikir lagi “apa bisa lebih dari sekedar teman?” pikiranku mulai ngaco, mana mungkin kita akan bersama lebih dari seorang teman?

Aku dan kiki memang semakin dekat, namun sepertinya kiki tak ingin membuat aku berharap banyak padanya. Kiki malah mengenaliku dengan temannya, namanya rifan, untuk apa dia melakukan ini? untuk menjauhiku?. Awalnya aku biasa saja pada rifan, aku tak pernah membalas chatnya, aku hanya ingin kiki yaa kiki. Tapi kiki terus menjodohkanku dengan rifan,
“Jangan sombong jadi cewek, dia cuma mau kenalan, dia sama aja kok kaya gue”
“Kamu gak ngerti perasaanku ki, aku hanya ingin kamu, bukan temanmu” batinku

Setelah sekian lama dekat, sikap kiki bener-bener beda terhadapku, tapi aku tak menyerah. Aku cari tau tentang kiki pada rifan, yaa saat itu aku memberanikan diri untuk chat rifan duluan. Mungkin aku bodoh, aku rela tidak tidur semaleman hanya untuk menunggu kabar kiki, tapi kiki malah bersikap yang tak enak padaku, dia berkata “tidur aja sana, gak usah nungguin gue”. Seperti ditusuk, aku bener-bener menangis saat itu, aku menunggu dia sampai tidak tidur tapi dia malah bilang itu padaku, iya aku mengerti, mulai dari situ aku ingin membuang semua perasaanku, tapi nyatanya tidak bisa.

Esok harinya tanpa merasa bersalah kiki muncul di recent update “terimakasih jaketnya”, perasaan tak menentu, seketika aku meneteskan air mata, sakit sekali. Aku memberanikan diri untuk chat kiki lagi
“kok gue baper ya liat ini”
“Lah baper kenapa? Emang apa si yang lu suka dari gua ini?”
“Gak tau, entah kenapa gua suka aja sama lu”
“Gua sayang sama lu, tapi gue udah nganggep lu sebagai adik gue”

Ini bukan friendzone lagi, perasaan macam apa ini? Makin tak menentu, sejauh ini aku hanya dianggap adik, dan ternyata memang dia masih punya pacar. Tak lama dari kejadian itu, dia semakin dingin, tak seperhatian dulu lagi. Kita jadi jarang kontekan, hampir satu bulan kita tak berkomunikasi, aku pun tak bertemu dia selama satu bulan itu. Ke mana dia? Dia ingin ngelupain aku setelah dia buat aku senyaman ini?. Aku benar-benar ingin menghapus semua perasaanku, tapi aku tak bisa. Aku selalu menanyakan tentang dia pada rifan, namun rifan pun jarang bertemu dia. Aku coba stalk dia di sosial media, kenyataan pahit datang lagi, foto profil salah satu akun medianya menggunakan foto pacarnya itu, jelas saja hati ini sakit, walaupun aku terus meyakinkan diri kalau aku bukan siapa-siapa dia. Aku menangis lagi, dia membanggakan pacarnya itu kepada temannya, aku bisa apa?

Setelah sekian lama dekat dengannya, walau sudah tak seperti pertama kali kenal dan dia hanya menggapku sebagai adik, tapi aku tetap sayang sama dia, benar-benar sayang, sampai tak mau kehilangan. Aku ingin melupakannya, tapi aku tak bisa, sampai suatu saat aku chat dia dari media sosialnya untuk memperbaiki keadaan, tak lama dia mengabariku lagi lewat sms, aku merasa masuk lagi di hidupnya, tak ada kapoknya aku dengan sikapnya itu. Kita kembali bersama, sering main bareng, aku ceritakan lagi tentangnya ke mamahku, bahwa aku bangga memiliki dia meski tak lebih dari seorang teman.

Kita kembali dekat seperti dulu, meski sedikit berbeda, dia selalu lama membalas pesanku karena memang ada yang diutamakan olehnya. Sekarang, aku tak diizinkan untuk meminjam handphonenya, ya aku mengerti, tak apa lah yang penting aku tak jauh dengannya. Aku selalu berfikir “sabar ri, jadi adik lebih menyenangkan karena tak ada kata putus, lain hal dengan pacar, yang penting dia sayang dan lu gak kehilangan”, batinku terus berkata seperti itu.

Memasuki bulan puasa, dia selalu membangunkanku sahur, meski tak hanya aku. Dia perhatian sekali denganku. Dia sering aktif di media sosial dan jarang sekali membalas pesanku, saat itu aku coba untuk chat dia lewat media sosialnya, tapi tak dibalas juga. Aku coba untuk sms lagi

“Aktif 5 menit yang lalu di fb, tapi sms gue gak dibales”
“Bukan gua yang on, mungkin temen gue, lu gak ngirim pesan kan?”
“Gue ngirim, cuma sekedar nyebut nama lu aja”
“Kalo bisa jangan ngirim pesan lagi ya”
Iyaaaa aku ngerti, ternyata yang buka media sosialnya itu pacarnya, sampai aku dilarang untuk mengirim pesan, seterbelakang ini? ya aku mengerti posisiku.

Mulai dari situ, aku langsung blokir akunnya kiki, aku tak akan stalk kiki lagi. Setelah itu, kiki hilang lagi, entah ke mana dia. Aku sudah jenuh, perasaanku selama ini tak dihargai, aku hanya seperti pelarian saja, bodohnya aku, masih berharap pada laki-laki seperti itu. Aku mencoba untuk menghapus semuanya, sampai terlintas untuk pindah rumah supaya tak bertemu dia lagi. Tapi entah kenapa perasaan itu tak bisa hilang, terus melekat pada hati ini. Aku terus meyakinkan diri, bahwa memang dia bukan yang terbaik. Aku ceritakan lagi semuanya pada rifan, tapi rifan terus membela dia,

“besok kiki mau ngobrol sama lu”
“Ngobrol gimana? Lewat apa?”
“Pake hp gue, dia bakal ngechat lu pake hp gue”
“Oh, ya udah”
“Ya udah tunggu ya”
Ada maksud apa kiki berlaku seperti ini? Aku gak butuh chat dari dia, aku hanya butuh dia.

Sampai esoknya
“Yuri”
“Oy” dengan singkat aku membalas
“Seh cuek banget”
“Kenapa?”
“Lu kenapa sama gue? Marah?, gue punya salah apa sampe lu kaya gini ke gue?”
“Gak ada”
“Bilang aja ri”
“Gakpapa”
Entah, dia benar-benar tak sadar akan kesalahannya. Mungkin memang bukan dia yang salah, tapi aku, salahku yang terlalu perasa.

Terus saja aku berniat untuk melupakannya, namun tak bisa, dia tak bisa hilang dari hati dan pikiranku. Aku rindu masa-masa awal kita kenal, aku rindu perhatiannya, aku rindu semuanya semua tentangnya. Aku mulai yakinkan diri untuk membuang semua perasaanku, aku tak menyimpan apapun tentang dia lagi di ponselku, aku sudah mendapatkan tempat tinggal baru supaya tak dekat dengannya lagi. Aku ceritakan semuanya rifan, “titip salam ya buat temen lu, kalo mau nikah jangan lupa undang gue hehe, soalnya sebentar lagi gue udah gak tinggal di sini”
“Lu mau pindah?, kenapa? Lu mau pindah ke mana?”
“Ke mana aja yang penting gua gak deket dia lagi”
“Tapi gua yakin suatu saat lu bakal bersama sama kiki, gua bakal bantu doa, gak ada yang gak mungkin”
“Tapi semua itu gak mungkin, hubungan dia udah jauh banget, dia udah gak bakal mungkin putus, gua udah gak mau ngarepin dia lagi”

Rifan seakan menahanku untuk pergi, rifan selalu meyakinkan diriku bahwa suatu saat aku akan mendapatkan hatinya kiki, tapi aku tak bisa terus-terusan berharap pada seseorang yang hatinya kosong terhadapku. Tapi memang saat itu aku tak jadi pindah rumah.

Saat hari raya idul fitri tiba aku mengharapkan kiki datang ke rumahku yang memang tidak mungkin, tapi tiba-tiba ponselku bunyi dan itu dari pesan dari kiki “selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin ya” dia punya hp, dan baru ini dia mengabariku, niatnya aku tak ingin membalas, namun aku tak sanggup untuk membiarkannya, aku pun membalasnya “mohon maaf lahir dan batin juga”, tapi setelah itu dia hilang lagi, entah ke mana, tapi aku tak ingin memikirkannya lagi, aku harus melupakannya yang memang tidak bisa.

Setelah hari itu pun aku tak pernah lagi bertemu dia, hingga pada suatu saat tak sengaja aku lewat depan rumahnya dan bertemu dia, aku harus apa? aku tak ingin melihatnya lagi, kenapa harus bertemu?, dia memanggilku dan menarik tanganku “mau ke mana? sombong ya, sini mampir dulu kita kan belum lebaran”, sebenernya aku tak ingin menolak, tapi apa boleh buat aku sudah terlanjur kecewa, kulepaskan eratan tangannya dan kutinggal pergi tanpa kujawab apapun. Iya aku salah, tapi aku harus apa lagi? Aku tak ingin perasaan ini makin kacau.

Aku menceritakan ini pada rifan, dan rifan menasehatiku untuk bersikap lebih menghargai lagi “gak boleh gitu, niat dia kan baik, kenapa gak mampir dulu, lu ngobrol apa gitu, lu harus menghargai lah” Iya aku tau aku salah, tapi saat itu aku bener-bener gak bisa menahan emosiku, aku harus pergi meninggalkannya.

Cerpen Karangan: Intan Widuri
Facebook: Intan Widuri

Cerpen Kudapatkan Apa Yang Kumau (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi

Oleh:
“Rifa bangun, hari ini hari pertama kamu sekolah kan ayo jangan tidur terus ntar telat lagi..” Suara mama membangunkan ku dari tidur ku “Iya mah” Oh iya kenalkan nama

Dia Adalah Gadis Manisku

Oleh:
Ada banyak hal tentang cinta tapi sedikit dari mereka yang paham tentang cara menyambutnya. Cinta adalah sebuah misteri kehidupan, tak tahu kapan tiba dan pergi, ia datang seperti air

Latihan Drama

Oleh:
“Hey nanti kumpul ya untuk latihan drama?” kataku. “kenapa tidak besok saja? Sekarang gue mau pergi bersama saudara!” tanya Ernest. “Iya, sekarang gue juga sibuk” kata Gunawan dengan ikut

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
“Maaa! Mamaaa! Adiiiik! Huuufft, sunyi lagi deh nih rumah,” ucap Rara, kesal. Ia lalu melangkah ke kamar, mengganti seragam sekolah, lalu segera meluncur ke dapur. ‘Bawalah pergi cintaku, ajak

Sleeping Beauty (Part 1)

Oleh:
“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *