Kunang Kunang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 May 2019

Pukul 16.00, aku sedang berjalan menuju pangkalan ojek, namun sayang, sudah tak ada tukang ojek lagi sore itu.

“Maaf pak, saya mau tanya, apa jam segini tukang ojek sudah pulang yah Pak?”, tanyaku pada salah seorang pak Kusir yang juga hendak kembali kerumahnya, “Adik wisatawan yah?” tanya pak Kusir itu. “Benar Pak, saya ingin menuju candi untuk kepentingan pekerjaan saya”, jawabku lagi. “wah maaf Dik, para tukang ojek di sini pulang saat pukul empat sore, dan baru saja mereka pulang”, jawab pak Kusir itu lagi. “oh kalau begitu terimasih pak.. mmm, Pak kalau boleh saya mau minta tolong sama bapak untuk mengantarkan saya menuju candi?” pintaku. “Oh sekali lagi saya minta maaf Dik, Bapak tidak bisa, kalau mau besok Adik ke sini lagi”, jawabnya. “Pak saya mohon, saya akan bayar mahal untuk kebaikan Bapak, saya harus memotret Candi, Pekerjaan saya sekarang bergantung pada Bapak Sekarang”, pintaku lagi mencoba membujuk. “mmm… begitu yah, baiklah, saya akan menolong Adik, Sekarang ayo naik sebelum hujannya turun.” Jawab Pak Kusir itu, “Syukurlah terimakasih banyak Pak”.

Perjalanku akhirnya dilanjutkan dengan mengendarai kendaraan tradisional jawa, yaitu Delman. Kendaraan yang tak dapat ditemukan dimanapun kecuali di Indonesia. Saat menikmati perjalan menuju Candi kamu melewati pasar cendramata Khas daerah Yogyakarta.

Saat melewati tempat itu, sejenak pikiranku melayang ke Fandi. Saat itu Fandi juga mengajakku ke Candi untuk menyelesiakan tugas akhir kuliah, cuacanya panas, hingga Fandi pergi untuk membeli air mineral untukku. Ia berjalan menuju pertokoan kecil yang ada di seberang jalan, tanpa ia sadari bahwa ada sebuah mobil mini bus yang sedang melaju kencang ke arah yang berlawanan dengannya. Melihat keadaan itu aku langsung berlari dan berteriak menyuruhnya menepi dari jalan, semua yang aku lakukan hanya sia-sia, ia menoleh ke belakang, tetapi sudah terlambat mobil mini bus itu menabrak tubuhnya, lengan dan lehernya patah, tulang rusuknya juga patah akibat hempasan yang keras. Aku dan para wisatawan lainnya langsung membawa Fandi ke rumah sakit, namun naas, saat di perjalan menuju rumah sakit Fandi meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhrnya, ia memberikan secarik kertas kepadaku tanpa berkata apa-apa, saat itu aku menatap matanya, bola matanya hitam dan bulat besar, seakan ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi terhambat oleh darah yang mengalir dari mulutnya, melihat wajahnya membuat air mataku mengalir, kemudian mengambil kertas itu dan langsung membacanya. Kertas itu berisi:

Untuk Raraku tersayang
Rara, pertemuan denganmu menyadarkanku, bahwa ternya masih ada yang perduli denganku. Pertemuan itu juga membuat kita semakin dekat, hingga menjalin sebuah hubungan. Sampai saat ini kita selalu bersama, tapi mungkin hari ini, atau besok, adalah hari terakhir kita bisa bersama, maaf karena Aku tak dapat menceritakannya padamu sebelumnya tentangku. Yang ingin aku katakana padamu sekarang adalah bahwa aku sangat menyayangimu, hanya kaulah satu-satunya orang yang dapat mengerti persaanku, bahkan orangtua kandungku pun tak dapat mengenal anaknya sendiri karena dibutakan oleh pekerjaannya masing-masing, hingga aku bahkan ragu apakan aku anak kandung mereka atau hanya anak angkat saja?. Teman di kampus juga mendekatiku hanya karena aku anak tunggal dari seorang pengusaha kaya. Maafkan sikapku selama ini, maafkan jika aku mempunya kesalahan padamu Selma ini yang membuatmu tersinggung atau sebagainya. Jaga kesehatanmu dan lulus dengan hasil terbaik di kampus dan raihlah cita-citamu, cita-cita kita berdua. Aku sayang padamu.
Dariku

FANDI

Saat itu juga, tak sengaja aku melihat sebuah laporan berwarna putih yang terjatuh dari tasnya Fandi yang ada di sampingku, sepertinya itu sebuah laporan, kubuka laporan itu dan betapa terkejutnya aku ketika melihat isinya, yang menyatakan penyakit Fandi selama ini, ternyata Fandi terserang Leukimia stadium ahir, aku langsung menangis dan bertanya-tanya mengapa ia menyembunyikan penyakitnya selama ini?, ia menyimpannya sendiri dariku, ia menderita sendiri karena panyakitnya itu.

Tiba tiba aku terbangun dari kenanganku bersama Fandi, ketika seseorang memanggil namaku, “Hi!!!, Rara how are you?” ternya Veronica dan Bimo. “Oh, hi… Veronica, Bimo, I fine thank you, and you?, what are you doing here?” tanyaku yang kaget karena melihat mereka berdua yang ada di sini tiba-tiba. “Rara, can we joint with you?”, “oh yes, why not?, can you’re joint with me that’s here” jawabku.

Aku langsung mengadakan negosiasi dengan Pak Kusir yang mengendalikan kuda saat itu agar ia mau membawa dua orang temanku. Tanpa pikir panjang pak Kusir menerima tawaranku karena dibandrol dengan bayaran yang cukup tinggi utnuk kendaraan tradisional, walau ditambah dua orang raksasa sekaligus.

Jalan yang kami lewati cukup licin karena bsah akibat gerimis tadi, hari juga sudah mulai gelap karena saat itu sudah pukul 17.45, nyanyian katak, dan suara tapak kaki kuda yang berbunyi saat itu menjadi alunan musik yang mengusir kesunyian sore itu. Pak Kusir yang mengendalikan Kuda pada saat itu tiba-tiba berhenti dan mengejutkan kami bertiga, aku langsung ke depan dan bertanya pada pak Kusir, karena Veronica yang merasa takut dengan tingkah Pak Kusir, namun aku tak memperoleh jawabannya sama sekali, hanya gerakan tangan yang menunjuk ke arah sebuah jalan yang dihiasi oleh temaram ribuan bahkan jutaan kunang-kunang yang menyinari gelapnya malam saat itu. Aku yang juga terkejut dan langsung berteriak kepada Veronica dan Bimo “Veronica, Bimo, ome here!!! Look, it’s beautiful and amazing” seruku sambal mengis terharu. “Waww, I was the firs time seeng this scane” ujar Bimo sambal melompat dan melambaikan tangannya untuk menyentuh kunang-kunang. “Yes, too me, oh it’s beautifull!!!!”

Dalam tangis haruku saat itu aku kembali teringat Fandi yang pernah berjanji akan membawaku meliah kunang-kunang pada saat ulang tahunku yang ke 23. Kami akan pergi bersama menikmati pemandangan itu, namun takdir berkata lain, Fandi pulang menemui sang Penguasa tepat disaat ulang tahunku yang ke 22 tahun. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 23, aku sengaja pergi ke candi untuk mengenang kenangan bersamanya, dan melihat kunang-kunang sendiri, walaupun Fandi tak bersamaku saat ini, namun jiwa dan hatinya akan terus bersamaku untuk menikmati keindahan mala mini, dan aku juga yakin bahwa saat ini Fandi juga sedang tersenyum melihatku sekarang.

Kami berempat larut dalam suasana malam itu, kami berempat saling berpelukan. tak ada lagi yang memikirkan waktu, kami pulang disaat kunang-kunang itu sudah mulai memudar. Dalam perjalan pulang, terlintas suara Fandi yang menucapkan “selamat ulang tahun Rara”. Suara itu terdengar begitu jelas di ruang dengarku, kemudian langsung mencari sumber suara, namun tak kudapati seorang pun yang berada di jalan selain kami berempat. Mungkin aku hanya salah dengar atau memang janjinya saat itu yang membawa kembali jiwanya.

Cerpen Karangan: Mustika
Blog / Facebook: Mustika Mulyadi
Nama Lengkap: Mustika
Ttl: Mara Hilir, 01-02-2001
Alamat Rumah: Jl. jambu, kota Tanjung Selor, kalimantan Utara
Alamat Sekolah: Smkn 1 Tanjung Selor
Bidang Keahlian: Akuntansi

Cerpen Kunang Kunang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


One More Time to Remember

Oleh:
“Lo yakin mau pake ini hanya untuk acara begituan?” “Iya. Untuk masalah turnamen nasional, akan gue pikirkan lagi setelah tampil HUT sekolah.” “Terserah deh.” Felly Anggi Wiraatmaja. Vocalis, gitaris,

Cintaku Semanis Coklat (Part 2)

Oleh:
Aku pun diajak satpam itu masuk ke dalam rumah itu, betapa kagumnya aku saat melihat isi ruangan rumah itu, mataku silau akan sinar yang terpancar dari permata-permata, emas, berlian

Gaptek?

Oleh:
Rian. Cowok pintar dan keren dari kelas XI IPA 1 itu lah yang selalu mengganggu pikiran ku. Aku dan Rian sekelas pas kelas X, tapi sekarang tidak lagi. Rian

Date 10 11 12

Oleh:
Cinta tidak memihakku Hati kecil pun membisikku Kejarlah cintamu.. Tetapi hatimu telah terkunci bagiku Dulu kita saling meyayangi Tetapi tidak untuk kini Ku menangis kau terdiam Apakah kita bukan

Thank you, Chalia

Oleh:
“Sekali lagi kamu melakukannya, kamu akan kena hukuman! Paham?!” Aih! Berisik banget nih guru. Daripada lama, gue cuma mengangguk dan tertawa kecil aja. “Hey! Kenapa kamu tertawa? Ada yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kunang Kunang”

  1. Elju Yosephin says:

    Cerpen nya bagus I like it

Leave a Reply to Elju Yosephin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *