Kurir Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 January 2019

Meraih jaket, meraih kunci vespanya, dan menghentakkan snickersnya, lalu segera berlari menuju vespa cokelatnya yang ia namai “brownis”. Banyak dosen yang menantikan setumpuk makalah yang harus diserahkan Miko hari ini juga. Sambil bernyanyi dan menggelengkan kepalanya menyusuri jalan kota yang cukup rindang yang kanan kirinya dikelilingi beberapa pohon besar. Tak lupa juga menyapa tukang sapu dan tukang sampah yang sudah stand by menjaga kenyamanan dan kebersihan jalanan kota. Keramahan pagi itu hampir tak pernah lepas dari keseharian Miko, kecuali yang satu ini.

“kamu tau nggak bidadari itu apa?” tanya Miko yang duduk di samping Yona dan sedikit demi sedikit mendekat pada Yona yang masih sibuk dengan laptopnya. Tak mendapat jawaban, Miko terus menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya.
Yona yang mulai kesal menutup laptopnya dan menghadap ke arah Miko, “kenapa kamu harus nanyain hal sepele kaya gitu ke aku?” Yona menjawabnya dengan nada kesal dan datar, kemudian pergi meninggalkan Miko.

Yaa.. kejadian beberapa hari yang lalu masih saja melekat dalam ingatan Miko. Keramahan dari Yona tak pernah ia dapatkan tapi memang Yona tak selalu ramah pada beberapa orang. Hanya pada dosen atau orang yang lebih tua darinya yang bisa mendapat keramahannya. Kalau hanya sekadar kakak tingkat, dia cukup lewat saja di depannya. Meski beberapa dari mereka kerap menegur atau bahkan memarahinya tapi itu semua hanya seperti semilir angin yang berhembus. Hari-hari yang suram tanpa tersirat sedikitpun senyum dari bibirnya.

Tak seperti hari-hari yang lalu, Miko terlihat tak bersemangat. Ia hanya melempar senyum masam pada orang-orang yang ia temui, itu pun kalau ada yang menyapanya. Kalau untuk alasan Yona, ia sudah setiap hari diperlakukan seperti itu. Seorang laki-laki berlari dari tikungan sebelah kanan depan Miko, dan tinggal beberapa jengkal lagi ban depan vespa Miko akan menekuk kaki kanan laki-laki itu.

“mas, tolong dong kasih saya tumpangan. Saya buru-buru ke kampus” pinta laki-laki yang hampir Miko tabrak dengan napas tersengal-sengal. Terlalu jauh mungkin larinya.
“maaf ya, mas. Saya hampir nabrak kamu. Kampusnya di mana?” ucap Miko dengan sedikit gelagapan dan rasa bersalah dengan telapak tangan bersatu dan digoyang-goyangkannya. “ayo, mas kalau itu bisa menebus kesalahan saya” sambung Miko.
Laki-laki itu langsung saja naik ke atas motor itu, “depan, mas”.

Itu berarti mereka satu kampus tapi baru kali ini ia menemui laki-laki itu. kalau ia tinggal di sekitar sini, harusnya mereka sering bertemu. Mungkin dia anak pindahan dari kampus lain. Hal yang aneh terjadi. Tidak terlalu aneh sebenarnya, hanya saja tidak biasa. Yona yang selama ini terlihat acuh bila melihat siapapun, ketika Miko masuk ke gerbang kampus, dia justru melihatnya dengan penuh pengamatan. Tidak, tidak pada Miko tapi pada seseorang yang ada di belakangnya. Yang namanya Miko tetap saja dia GR, apalagi ini Yona yang melihat. Selesai memarkir motornya, Miko mendatangi Yona yang masih melihat ke arahnya, sementara laki-laki itu hanya mengucapkan terimakasih dan segera berlari menuju rektorat.

“hai, Yona” sapa Miko sembari melambaikan tangan dan memposisikan dirinya didepan Yona.
Namun ternyata Yona tak memperhatikan Miko, dia terus melihat ke arah laki-laki yang dibonceng oleh Miko tadi dan berlari menghampirinya.

“tunggu!” teriak Yona pada laki-laki itu.
Miko yang ia tinggalkan tentu saja kesal dan kecewa. Mengapa ada perempuan yang begitu dingin dan tak pernah bisa melihat sebuah pengorbanan atau sekecil apapun kebaikan yang ia lakukan selama ini, dan bahkan ketika ia datang bersama orang lain justru Yona langsung menghampiri orang itu, dan anehnya Miko tetap saja menyukai perempuan itu.

“Raka” panggil Yona dari belakang laki-laki itu.
“iya, mbak. Maaf saya buru-buru. Nanti aja ya” dia sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.
“kamu Chiko dan aku Chikanya” ucap Yona sambil meneteskan air matanya.
Laki-laki itu berhenti mengobrak-abrik tasnya dan mengarahkan wajahnya kepada gadis yang mengatakan hal yang pernah ia katakan dulu sebelum kejadian suram itu terjadi.

Tepi danau di belakang rumah Yona begitu indah. Banyak anak-anak bermain ke sana. Kala itu sore hari, Pak Anjas, ayah Yona datang membawa dua kandang hewan kecil. Yona dan Raka segera berlari mengampiri Pak Anjas.
“ayah bawa apa?” tanya Yona dengan semangat.
“anak ayah nggak sabar ya mau lihat hadiah dari ayah?” ucap Pak Anjas sedikit menggoda rasa ketidaksabaran putri kecilnya.
“nggak cuma Yona yang nggak sabar. Aku lebih penasaran, om” ucap Raka lebih bersemangat dari Viol.

Tanpa lama-lama Pak Anjas segera membuka kandang dan mengeluarkan dua kelinci mungil berwarna putih bersih. Kedua anak itu segera mengejar kedua kelinci yang lepas dari kandangnya itu. Mereka terlihat bahagia mengejar kelinci-kelinci itu.
“ahh.. dapat kamu kelinci nakal” ucap Raka yang telah berhasil menangkap kelincinya kemudian menangkap kelinci Yona.
“makasih, Raka. Kita kasih nama siapa ya?” Yona mengelus-elus kelinci kecilnya.
“gimana kalau aku Chiko dan kamu Chikanya. Maksud aku kelincinya” ucap Arka mengelus kelincinya.

Sekelebat kenangan itu kembali membekas dalam ingatan laki-laki itu, ya dia adalah Raka. Laki-laki yang selama ini dinantikan oleh Yona setelah sekian lama. Bahkan demi laki-laki itu, Yona tak pernah memberikan harapan pada laki-laki lain untuk mecintainya. Raka mengepakkan kedua tangannya mengisyaratkan pada Yona untuk memeluknya dan Yona meresponnya. Ini adalah pemandangan langka, seorang perempuan yang terkenal sangat dingin pada siapapun memeluk anak baru di kampus itu. Miko sendiri terbelalak melihatnya. Ia merasa seperti kurir pengantar cinta untuk perempuan yang selama ini ia harapkan.

“aku selalu berharap hal ini akan terjadi. Aku nggak pernah berhenti untuk menunggumu setelah hari itu…

“Yona, Arka nggak ada diperkemahan” ucap Arif, teman baik Raka.
“kok bisa sih? emangnya terakhir kali dia bilang mau ke mana? ayo cepet cari dia” Yona yang panik segera berlari keluar dari area perkemahan dan berteriak memanggil nama Raka namun tak ada sahutan sama sekali.
Dari arah belakang, ada yang menutup mata Yona. Yona marah dan membuka paksa tangan yang menutup matanya. Dia melihat kebelakang dan ternyata yang melakukan itu adalah Raka yang justru tersenyum melihatnya.

“apa yang lucu?” Yona menangis melihat Raka.
“kenapa kamu nangis?” tanya Raka dengan rasa bersalah.
“kamu udah bikin aku khawatir dan kamu ngetawain aku? kamu pikir perasaan aku ini apa?” Yona yang marah langsung berlari jauh.
Raka berusaha mengejarnya, dia berhasil menemukannya namun ia tak berhasil membawanya kembali, justru Raka tergelincir dan jatuh ke jurang. Semua orang tak ada yang bisa menemukannya dan juga tak ada yang tahu bahwa di bawah jurang tersebut terdapat sungai yang arusnya sangat deras. Raka terombang-ambing di sungai itu selama berhari-hari dan untung saja ia bisa berenang, hanya saja ketika ia sampai di tepi sungai ia pingsan karena kelelahan.

Kejadian itu terjadi dua tahun lalu, Raka memutuskan untuk tidak segera kembali karena seseorang yang menemukannya adalah seorang kakek tua sebatang kara. Dia tidak sampai hati untuk meninggalkan kakek itu. Ia sudah berulang kali mengajak kakek itu untuk ikut dengannya ke kota namun kakek itu terus saja menolak. Raka meminta keluarganya untuk tidak mengatakan apapun tentangnya pada Yona dan Arka juga memutuskan melanjutkan sekolahnya di desa kecil itu. Sampai ia lulus SMA, Raka baru bisa meyakinkan kakek itu untuk ikut dengannya pergi ke kota dengan maksud kakek itu akan mendapat penghidupan yang layak di sana dan itu juga sebagai balas budi kebaikan kakek itu yang telah menolong Raka. Kakek itu tinggal bersama Raka di rumah keluarga Raka. Semua orang di rumah itu menyambutnya dengan hangat dan sudah menganggap kakek itu seperti bagian dari keluarga itu sendiri. Selain itu, kakek Raka juga memiliki teman baru setiap hari.

Setelah kepulangannya selama satu bulan, Raka memutuskan untuk kuliah diluar negeri. Selama dua semester kemudian ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di Indonesia. Selain itu, ia juga ingin segera bertemu dengan Yona dan segera menjelaskan kejadian dua tahun yang lalu padanya.

Mendengar semua cerita dari Raka, Yona sedikit marah namun ia tak mampu marah padanya karena ia ingat kejadian dua tahun lalu, ketika ia marah pada Raka justru kejadian buruk terjadi. Kini ia hanya bisa berbahagia atas kehadiran Raka kembali.

Dan Miko…
“jadi kalian udah pacaran lama?” tanya Miko dengan wajah memelas.
“kamu suka sama cewek aku? sama cewek jutek kaya dia ini?” ucap Raka mengejek.
“nyatanya kamu..” sahut Yona.

Mereka bertiga menjadi sahabat yang penuh bahagia. Bermula dari rasa cinta pada orang yang sama, Miko justru mengantar obat penyembuh bagi Yona atas rasa kesepiannya yang ia simpan untuk Raka. Cinta memang tidak harus memiliki tapi cinta bisa membersamai kebahagiaan orang yang kita cintai.

Cerpen Karangan: Noviatun One Aziz Zah

Cerpen Kurir Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jawaban

Oleh:
Seiring detik berganti dengan asa yang kian menggema, saat rumput tersenyum menjamu mentari menandakan kehidupan, masih berlanjut sampai saat ini. Bait demi bait mulai aku untai dalam kata supaya

Abdoellah

Oleh:
Namaku Abdoellah, pemuda yatim dari Mengkasar yang nekat merantau ke negeri orang dan meninggalkan amakya di kampung sendirian. Gejolak jiwa mudaku yang ingin merantau terus meronta yang akhirnya membuat

Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

Cinta Bersemi di Ring Basket

Oleh:
Dia adalah adik kelasku, adik yang sekarang jadi kekasihku. Haha semuanya berawal dari ring basket ini. Flashback Aku sungguh mengingatnya. Hari itu hari sabtu tepat aku bertemu dengannya. Cuaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *