Kutemukan Cinta di Pangkuan Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

Dentuman keras jam dinding mengagetkan ruangan serta seisinya, tak terkecuali gadis dengan kacamata tebal yang setiap hari bertengger manis di atas hidungnya. Waktu menunjukkan pukul dua belas, pertanda sudah harus berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Rei -begitulah sapaan akrab bagi gadis pemilik kulit kuning itu- bergegas merapikan buku-buku yang berserkan di atas meja dan langsung meninggalkan tempatnya. Matematika bukanlah pelajaran yang mampu membuatnya tinggal lebih lama di kelas untuk tetap asik berkutat dengan rumus-rumus yang menurutnya selalu bisa membuat kepalanya mengepulkan pundi-pundi asap yang entah dari mana datangnya, seperti menghadapi ribuan penjajah dari negeri seberang. Belum lagi pengajar yang selalu menunjukkan sikap aneh pada Rei. Entah apa yang membuat Pak Hendra begitu membedakan antara Rei dengan temannya yang lain.

“Rei!”
“Maaf, Pak saya buru-buru.” Rei menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya.
“Sebentar saja, saya mau bicara.”
“Maaf Pak, mungkin lain waktu.” Rei mempercepat hentakan kakinya, kali ini dengan sedikit berlari. Dia tahu menghabiskan waktu dengan guru macam Pak Hendra bukanlah pilihan terbaik. Apa kata teman-temannya jika mengetahui dirinya lebih memilih menghabiskan waktu berdua bersama laki-laki dengan tubuh tinggi besar itu daripada berkumpul dengan teman-temannya. Memang tak terelakkan jika Pak Hendra merupakan sosok lelaki ideal bagi wanita kebanyakan. Tak heran jika hampir setiap orangtua murid-terutama para ibu- memberikan kesan sempurna bagi Pak Hendra pada pandangan pertama. Kecuali mama Rei. Wajar saja, sejak kepergian papa Rei enam belas tahun silam membuatnya seperti menutup diri dari kedekatan dengan laki-laki. Kesendirian dalam jangka waktu yang tak terbilang singkat itu tak membuat dirinya merasa sepi. Rei selalu mengerti apa yang dirasakan mamanya. Rei yang paling mahir menafsirkan pikiran-pikiran mamanya yang bahkan belum muncul ke permukaan sekalipun. Kedekatan Rei dengan Mama ibarat sepasang sepatu, selalu berdampingan. Memiliki perbedaan, namun tiada arti jika salah satunya hilang.

Rei, bisakah kita bertemu?
Cuaca di luar begitu terik. Membuat Rei tak sedikitpun tergugah oleh ajakan Feian untuk bertemu. Antara Rei dan Feian memang begitu dekat. Membuat siapapun mencuatkan opini jika keduanya memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Mereka terlalu sok tahu dalam menilai kepribadian Rei. Tapi, dengan sikap acuh gadis itu, tak satu pun anggapan orang digubrisnya. Walaupun rasa kesal dalam hati terkadang meletup-letup di dadanya. Namun dirinya mampu mengemas apik semuanya sehingga apa yang dirasakan tak bertebaran di peredaran

Rei, aku ke rumah ya?
Dua menit kemudian. Rei, boleh, kan?
Dua menit berikutnya. Rei, tolong balas pesanku!

Rei dan Feian memang sangat dekat. Antara mereka pun mulai terpercik bulir-bulir cinta, Feian khususnya. Awalnya, Rei tak pernah ambil pusing terhadap sikap Feian. Namun, hari demi hari dilewati kedunya dengan hampir tak pernah berpisah. Di sekolah, di tempat latihan -berhubung keduanya sama-sama menyukai olahraga basket- bahkan di setiap kegiatan arisan yang dilakukan oleh mama-mama mereka. Hal itu yang membuat Rei sedikit demi sedikit memberikan secuil ruang hatinya pada pria keturunan Indo-Perancis itu. Tak harus menjadi pacar, sahabat karib pun setidaknya mampu membuat Rei tidak merasa jenuh bila harus menghabiskan waktu di berbagai tempat ketika ia sedang sendiri. Meskipun Rei tidak tergolong sebagai gadis yang lemah, namun sekuat apapun dirinya menghadapi masalah pasti akan ada massa dimana ia mulai roboh dan begitu memerlukan sandaran bagi tubuh dan pijakan kakinya. Tapi, selama dekat dengan Feian, kesedihan yang terpancar dari wajah Rei sangat bisa terhitung olehnya. Lagi-lagi hal tersebut karena kemampuan gadis belia itu dalam menata kegelisahan batinnya dengan sangat menakjubkan. Membuat siapapun yang melihat sangat iri pada kehidupan yang dikira begitu bahagia.

Rei membuka album foto yang ada di meja belajarnya. Melihat berbagai potret wajah mungilnya enam belas tahun yang lalu memancarkan sunggingan senyum kebahagiaan. Seperti mengingat kembali peristiwa itu, Rei pun tersenyum. Pandangannya terhenti pada sebuah foto seorang laki-laki gagah. Mungkin foto itu diambil secara diam-diam. Terbukti karena hasil gambarnya hanya terlihat sisi samping sang pria. Rei mencoba menerka-nerka siapa sosok dibalik wajah pria tampan itu. Inikah Ayah? Jika benar mengapa dia tidak pernah mencoba menemui Rei. Apa Ayah tidak merindukan Rei? Apa Ayah sudah menikah lagi? Ataukah Ayah sudah mati? Hatinya mulai mensubstitusikan semua pertanyaan di kepala. Perlahan air mukanya berubah sayu seperti bunga yang tak tersiram beberapa waktu. Air matanya sudah diambang aliran. Hanya butuh sepersekian detik untuk mendarat mulus di kedua pipinya yang tirus. Rei berniat membuka halaman album berikutnya sebelum akhirnya dering handphone membuyarkan serentetan pertanyaan yang menghuni di dalam benaknya.
Sebuah nomor tanpa identitas yang terdaftar di kontak telepon Rei, memanggil. Siapa? Hati Rei bertanya pada kegamangan. Tanpa pikir panjang, Rei segera menjawab panggilan itu.

“Rei?” suara di seberang memanggil nama Rei.
“Iya, dengan siapa?”
“Aku Feian. Apa kau baik-baik saja?”
“Oh kau. Mengapa begitu banyak nomor telepon? Begitu tak cukupkah satu wanita dalam hidupmu?”
“Bukan begitu, Rei. Aku takut jika kau tidak menjawab telepon dariku begitu mengetahui namaku yang tertera pada layar ponselmu. Ini nomor telepon adikku. Sengaja kupinjam darinya untuk menghubungimu. Asal kau tahu, Rei. Mengenalmu membuatku menutup mata dari memandang gadis lain. Hanya kau.”
Ucapan terakhir dari Feian membuat Rei terperanjat dan spontan matanya melebar. Mencoba memperjelas perkataan Feian dengan sedikit mendekatkan telinga pada ponsel. Rei mencubit pipi kanannya untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang berangan.
“Aw!!” suara gadis di seberang sontak membuat pria bernama Feian itu terkejut.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja, Fei. Maaf.”
Sebenarnya bukan yang demikian itu jawaban yang diminta Rei keluar dari mulut seniornya. Akankah Feian salah tafsir atas pertanyaan Rei? Rei sekadar mengingatkan kepada Feian bahwa akhir-akhir ini dirinya dikabarkan tengah dekat dengan seorang gadis pindahan dari Semarang. Apakah Feian menganggap bahwa Rei cemburu? Segera bayangan Feian yang menggelayut di pikirannya ditepis jauh-jauh. Rei tidak pernah ingin memperlihatkan kesan kagumnya pada pria itu. Beruntung kali ini Feian hanya bercuap lewat telepon. Setidaknya Rei masih dapat menyembunyikan sipuan malunya dari balik pipi yang seketika merona akibat bualan Feian.
“Rei, apa kau masih disana?”
“Iya aku disini. Maaf Fei aku tidak bisa menemuimu hari ini. Masih banyak yang harus aku kerjakan di rumah.”
“Ya aku tahu akan hal itu. Baiklah tak apa. Aku menghubungimu hanya untuk memastikan bahwa keadaanmu baik-baik saja.”
“Terimakasih atas kepedulianmu. Aku baik-baik saja. Sudah dulu ya, aku sibuk.” Tut tut tut. Telepon terputus sebelah pihak. Membuat Feian menggeleng tanda tak mengerti. Tak biasanya Rei bersikap begini.

Entah dorongan apa dan darimana yang membuat Rei begitu tak ingin meninggalkan rumah. Padahal Rei terbilang gadis yang tak bisa diam dan berkutat hanya dalam rumah.
Beberapa saat Rei terdiam. Teringat kembali akan rupa yang terpampang di dalam kumpulan foto yang dipandanginya tadi. Sepintas gambar lelaki itu bersandar di sudut pikiran perempuan pecinta warna cokelat ini. Rei seperti pernah beradu pandang dengan sosok tersebut belakangan ini. Tapi siapa? Hasrat ingin tahu sang gadis pun semakin menggebu. Membuat jantungnya berpacu lebih kencang seiring kuat kerja otaknya untuk mengingat-ingat siapa sajakah yang akhir-akhir ini ditemuinya. Namun, hasilnya nihil. Yang diingat hanya Kayla, sahabat kocaknya di sekolah. Ninda, si biang gosip yang tak hentinya mencari masalah dengan Rei. Kemudian Bi Tuti penjaga kantin sekolah yang kemayunya setengah mati, yang selalu menjadi bahan lelucon bagi anak laki-laki di sekolah. Mengingat hal terakhir itu, membuat Rei tersenyum geli.

Malam itu, suasana rumah bak tersihir oleh kesunyian. Tak satupun orang di dalamnya. Hanya Rei, duduk termangu di atas ranjang tempat tidurnya dengan menghadap ke arah luar dengan perantara jendela. Mama Rei sudah sejak satu jam yang lalu pergi meninggalkan rumah dengan Rei sebagai penjaganya. Rasa bosan mulai bergelantungan dalam diri Rei. Tapi dirinya belum sama sekali ingin meninggalkan kediaman. Rei mencoba mencari suasana baru di kamar mamanya yang sudah beberapa pekan ini tak pernah dikunjunginya walaupun hanya sekedar memandang wajah Mama ketika akan tidur. Kegiatan di sekolah begitu menyita perhatian Rei pada mamanya.

Begitu memasuki ruangan, nuansa serba hijau yang terpancar dari dinding kamar menentramkan penglihatan Rei. Membuat siapapun yang memasuki tak ingin lekas beranjak dari sana. Meja rias di pojok kanan tempat Rei berdiri begitu indah menghiasi ruangan dengan peralatan make-up tersusun rapi di atasnya. Almari yang diletakkan persis di sebelahnya, memberikan kesan senada akan warnanya. Tak begitu kontras pula dengan corak dinding ruangan itu. Perlahan kaki kanan Rei membawa pemilik langkahnya mendekati almari. Dibukanya benda berisi pakaian mama tercinta. Hanya ada beberapa pakaian kerja serta long dress kepunyaan mamanya. Ketika akan menutup almari tersebut, tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah benda kecil di bawah tumpukan baju. Buku tulis bersampul biru. Lebih tepatnya catatan harian, sebab tertulis indah di bagian depan buku bertuliskan ‘diary’. Mama punya buku diary? Rasanya tak mungkin. Rei berdesah heran. Karena baginya, untuk apa Mama menulis sebuah catatan harian. Bukankah tak ada secercah kisah pun dari Mama yang Rei tak ketahui. Bukankah diantara Mama dan Rei tidak pernah ada rahasia. Rei berharap dengan membuka catatan itu, mampu menjawab semua pertanyaan atas dirinya.
“Maaf Ma, Rei lancang,” sambil membuka halaman pertama.

Terimakasih Tuhan, hari ini Kau titipkan padaku seorang malaikat kecil penghuni surga-Mu. Percayakan aku untuk menjaga selalu senyuman manis di bibirnya. Tertanggal 22 Juli 1999.
Dibawah tulisan itu terpajang gambar Rei sewaktu kecil dulu. Sama persis seperti apa yang terdapat di album foto yang dilihatnya siang tadi. Rei begitu antusias membuka halaman berikutnya.
Jika dia mampu tertawa bahagia dengan wanita pilihannya, maka lebih mampukanlah aku dalam kesederhanaan hidupku dengan peri kecilku ini, Tuhan.
Dia? Siapakah yang disebut Mama sebagai dia? Rei bertanya dalam rasa ingin tahunya yang semakin berkecamuk. Halaman demi halaman dibukanya tanpa ada satupun yang terlewat. Sampai pada akhirnya membawa Rei pada bagian yang sekaligus menjawab serentetan hal yang mengganjal di benaknya sejak sepekan ini.
Bila mustahil menemukanmu dalam peredaran, biarlah kucari pembuktian akan cinta yang mampu menjadikannya pulang atas kepergian tanpa pintaan. Tertanggal 12 Oktober 2009.
Tersematkan gambar lelaki gagah mengenakan pakaian rapi dengan ikat pinggang yang melingkar di tubuhnya. Kali ini terlihat jelas seluruh wajahnya. Suara Rei tercekat. Seperti ingin menghasilkan sepatah kata dari mulutnya, namun kerongkongan terikat kuat oleh tekanan keadaan sekitar. Mimpikah ini? Kini hanya suara hatinya yang mampu menggema. Perlahan catatan harian milik Mama terlepas dari sandaran kedua telapak tangan Rei, bersamaan dengan kemunculan sosok wanita berkepala tiga yang tengah menguntit keberadaan Rei tak lama ini sedang berdiri di hadapan lemari kamarnya.
“Rei, apa yang sedang kau lakukan disini?” raut muka Mama terlihat cemas begitu melihat putri semata wayangnya memancarkan aura menyedihkan. Dilihatnya buku diary miliknya terkapar di atas lantai. Dia takut jika hal yang selama bertahun ini ditenggelamkan, pada malam ini meluap membanjiri anaknya.
“Ma, siapa nama Ayah Rei?” kalimat pertama yang dilontarkan Rei sontak membuat sang Mama gelagapan untuk mencari alasan.
“Ma, kenapa diam? Hendra Dinata, kah?” Mama hanya memandang Rei dengan tatapan seolah memaparkan maaf dan sangat ingin memeluk putrinya. Tapi seperti mengetahui maksud hati Mama, Rei cepat-cepat menepis tangan Mama. Karena yang diinginkan saat ini adalah jawaban, bukan dekapan. Wajar saja Rei terkejut melihat potret siapa yang menghiasi halaman terakhir buku harian ibunda tercintanya. Enam tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mengubah total wajah seseorang. Rei begitu yakin dengan dugaannya. Pak Hendra, guru matematikanya. Yang selalu lebih mengistimewakan dirinya dibanding murid yang lain. Bahkan murid teladan sekalipun.
“Rei, hari sudah larut, tidakkah sebaiknya kau beristirahat? Besok Mama akan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Rei meninggalkan mamanya dengan perasaan kecewa. Dengan bulir air mata yang terus membanjiri penglihatan yang semakin tersamar bayang. Betapa Rei begitu kecewa karena menganggap Mama telah membohongi dirinya. Betapa pun rasanya dia tak menyangka jika sang Ayah yang selama ini dirindukan berada diantara orang-orang yang menyita perhatiannya di sekolah. Pantas saja disetiap kegiatan yang Rei lakukan di sekolah, selalu keberadaan Pak Hendra tak pernah tertinggal. Sengajakah ia memata-matai Rei, yang menurut buku harian Mama, Rei adalah darah dagingnya. Begitu berharapnya Rei malam ini waktu berputar lebih cepat dari biasanya. Begitu inginnya dia mengeluarkan segala pertanyaan yang menggumpal di ambang kepalanya. Beberapa menit kemudian Rei tertidur, dengan pening yang ada di kepala.

Tiga hari dilalui Rei dengan hanya menghabiskan waktu di kamar. Tanpa sekolah, tidak latihan, dan membatalkan semua agenda untuk pergi bersama teman-teman. Sejak mengetahui akan sebenarnya yang terjadi, semangat yang biasa menyala-nyala dalam diri Rei semakin hari kian redup. Pupus bersama harapan yang selama ini ia rajut bersama mamanya. Beberapa kali teman-teman Rei mengunjungi-terutama Feian-tapi tak satupun ditemui. Bagi Rei tak ada lagi yang dapat dipercaya. Menumbuhkan kembali bibit impian yang dulu pernah ditanam, begitu sulit akibat badai yang tertutup lama kini meledak menghujam dirinya. Butuh beberapa lama untuk menjadikan semua seperti sediakala.

Minggu pagi, Rei bangun lebih awal. Duduk di atas ranjang tidur sembari mengenakan sepatu olahraga dan celana training beserta kaos oblong kesukaannya. Handuk putih tersampir di pundak gadis bertubuh atletis itu. Rei telah mengagendakan kegiatan Minggu ini untuk mengisi paginya dengan bersepeda keliling komplek.

Suasana hati Rei lebih tertata dibanding tiga hari lalu. Tubuhnya pun menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Keceriaan yang selama tiga hari ini tersembunyi di balik paras anggunnnya, kini nampak muncul kembali ke permukaan. Rei sadar, masalah yang menimpa bukanlah alasan untuk membuat dirinya terkungkung dalam kesedihan jangka panjang. Bukan dengan tidak memberi satu pun orang kesempatan untuk menghibur dan menenangkan, terlebih Mama. Rei mulai mengerti, bukan tanpa alasan mamanya menyembunyikan hal yang begitu penting dari kehidupan keluarga mereka. Bagi Mama, tak ada yang perlu digali atas peristiwa yang telah lama terkubur. Mama takut jika Rei tahu akan hal itu, rasa sayang anak gadisnya akan terbagi pada orang lain. Yang diinginkan Mama hanyalah ada dirinya dan Rei dalam keluarga kecilnya. Menjalani setiap detik dengan keceriaan yang mereka rajut berdua.

Kemarin, sehari sebelum Rei memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan, Mama menyempatkan kalimat keluar dari bibirnya yang sekaligus merupakan alasan baginya mengapa memilih hidup sendiri dalam proses membesarkan Rei. Bagi Mama, kebahagiaan bukan alasan baginya untuk bertahan. Karena bukan tak jarang dia mendapat perlakuan kasar dari laki-laki yang dipilih untuk menjadi imam bagi kehidupan masa depannya, yang dicintainya setiap putaran waktu meski hanya rasa sakit yang menjadi balasan. Tapi, betapa pun peliknya kehidupan yang dijalani, tak membuatnya urung pada niat untuk membesarkan buah cintanya bersama laki-laki itu. Tak peduli ada atau tidaknya kehadiran pasangan yang seharusnya selalu menjadi penopang disaat ia lelah, bahkan jatuh sekalipun. Berada dalam kehidupan yang jauh dari kata sempurna mungkin bukan pilihan, namun sebagai hamba yang ber-Tuhan, dia tahu tak sedikitpun nikmat dalam penciptaan-Nya yang mampu diingkari. Karena baginya, disetiap ribuan hujan yang turun, selalu menghantarkan pelangi usai kedatangannya.

Cerpen Karangan: Tari Rosita
Facebook: Tari Rosita
Penulis bernama Tari Rosita ini lahir di Denpasar, Bali. Lahir pada tanggal 10 Juli 1996. “Ku Temukan Cinta di Pangkuan Mama” merupakan cerpen pertama yang ditulisnya. Menulis adalah salah satu kegiatan yang menurutnya menyenangkan. Dimulai dari memenangkan kejuaraan cipta puisi di Rembang, Jawa tengah adalah salah satu pijakan yang membuat pacuan dalam dirinya semakin menggebu. Jatuh adalah hal biasa baginya. Namun, dorongan dalam dirinya lebih kuat dan dapat mengalahkan rasa pesimis yang menjadi karakter utamanya selama ini.

Cerpen Kutemukan Cinta di Pangkuan Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terakhir Untuk Mami

Oleh:
Setiap manusia terlahir berbeda, tak ada manusia yang terlahir sama. Begitu dengan aku dan anak-anak lainnya. Namaku Shakira, aku kelas 3 SMA, aku dari kecil tinggal bersama mamiku dan

(Tutup) Senja

Oleh:
Kala itu dini hari, ketika fajar belum hadir menyambut pagi terdengar suara lantunan doa dari seorang gadis. Dimintalah kepada Yang Maha Kuasa berkah kehidupan dan kesembuhan dari bundanya. Reza

Sebatas Mimpi

Oleh:
Bermimpi, berkhayal dan berimajinasi merupakan rutinasku setiap hari, dengan berkhayal semua yang ku inginkan terjadi walaupun hanya dalam khayalanku, hahaha. — “Mika, apa kau tahu, hari ini ada siswa

Senyum Terakhir Kalinya Dari Bunda

Oleh:
Hai teman, namaku Ririn Diratna, panggilanku Ririn. Aku adalah anak tunggal. Ayah dan bundaku telah lama cerai. Aku di ambil hak asuh oleh bunda. Bagiku, bunda dan ayah sama-sama

Aku Hanya Boneka Untuknya

Oleh:
“hadduhh pasti dapet ceramahan lagi nih dari Pak Guntur…” seru Livy sambil melirik jam tangannya Livy pun mempercepat langkahnya dan sesekali berlari kecil menuju kelasnya dan GUBRAAKK!! Livy menabrak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *