l Had To Choose Who

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Akhir-akhir ini si ganteng bersaudara, tak lain Justin Bieber dan adeknya Luke hemmings yang famous banget di Heatman University tempat aku menuntut ilmu sekaligus jalan untuk menyongsong masa depan #apabanget sering menggangguku. Entah itu pagi, saat aku baru sampe di kampus ataupun siang saat aku akan pulang dari kampus. Entah atas dasar apa si ganteng bersaudara ini selalu menggangguku, aku pun tak mengerti. Kalo enggak adeknya ya kakaknya. Hmmmm

“Abigail Alexandria” Aku yang lagi asyik-asyiknya jalan di koridor kampus pun langsung menghentikan langkah dan melihat ke arah sumber suara. Tuh kan, baru aja diomongin.

Oke. Kali ini Luke Hemmings.

Mata biru, rambut pirang, dinple di pipi serta tak lupa lipring yang tampak exotic itu, membuat siapa saja yang berasa di depannya pasti langsung kejer-kejer saking gemesnya melihat adik dari kakak senior semester 5 yang terkenal ganteng, tak lain Justin Bieber.

“Iya Luke?” Tanyaku sok cool dan tetep sassy pastinya
Sok iyeee, padahal mah pengen kejer-kejer

“Engga sih pengen aja manggil nama cewek cantik” Ucapnya sambil tersenyum dan terlihatlah dimple di pipi sebelah kanannya.

Luke Robert Hemmings.

Kadang-kadang ucapan dia tuh perlu diyasinin, yakali pagi-pagi udah bikin baper anak orang. Untung ganteng Ngh

“Ah Luke bisa aja” Senyumku merekah tak dapat disembunyikan lagi. Ya iyalah! Disapa sama cogan coy…

“Mau ke kelas bareng By? Kebetulan hari ini kita satu kelas yayy!!” Ajak Luke girang.

Ngh double Ngh

Siapapun kalian, jangan bangunin aku di mimpi indah ini. Lalalala

“O-oke Luke” Lah tiba-tiba jadi gugup gini asdgevshksj
“Santai aja kali By, gak usah gugup gitu” Luke pun menggenggam tanganku dan menuntunku jalan menuju kelas kami.

Aku? Jangan ditanya, sok pasti kayak ikan kurang air, kayak manusia kurang napas huhh super sekali lahhhh

Tangan

Aku

Dipegang

Luke

Nah? Siapa yang enggak nge-fly coba? Adudududu laflaf deh bang luek.

Kita pun jalan sejajar, dan Luke berada di sebelah kiri aku di sebelah kanan. Kita pun sesekali tertawa karena melihat orang yang memandangi kita dengan tatapan aneh.

“Akhirnya selesai juga” Ucapku sembari membereskan buku-buku tebal dan beberapa alat tulisku.
“Mau pulang bareng?” Tanya seseorang di ambang pintu kelas. Aku yang sedang sibuk beres-beres pun mendongkakkan kepala dan melihat si—

Kak Justin.

Pliss iler jangan sampai tumpah-tumpah

Pliss napas jangan kayak orang Asma.

YaLord

“Kak Justin ngomong sama aku?” Tanyaku ragu dan sedikit gugup. Iya sedikit.
“Emang ada orang lagi selain kamu disini tuh?” Tanya Kak Justin balik sambil tersenyum sedikit.
Ya emang kak Justin itu tipe cowok yang dingin banget.

“Hehe enggak ada kak” Jawabku cengengesan. “Dah ayo pulang bareng kakak aja” Tawar Kak Justin dan dibalas anggukan olehku.
Alih-alih kak Justin akan jalan mendahuluiku, dia malah mengenggam tanganku dan berjalan sejajar denganku.

Pagi dipegang sama adeknya, siang dipegang kakaknya. Mmpphh

Tuk.. Tuk .. Tuk..

Bukan!! Itu bukan suara sepatu kuda, itu suara langkah kaki kami. Seperti yang aku bilang tadi, kak Justin itu dingin, kalo ngomong ya seperlunya aja beda banget sama adeknya yang bawel dan suka banget bikin aku ketawa dengan leluconnya yang terkadang agak garing gitu hehe.

Langkah kami terhenti setelah melihat apa yang sedang berdiri di hadapan kami. Iya, dia kak Selena yang katanya sejak dulu ngejar-ngejar kak Justin dan juniornya Arzaylea yang katanya naksir berat sama Luke sedang menatapku sinis.
“Jadi yang kayak gini selera kamu Just?” Tanya kak Selena sinis. “Gak berkelas banget” Sambung Arzaylea sambil cekikikan “Minggir” Ucap kak Justin dingin bangetzz

Rasain tuh haha

Kak Justin pun pergi menerobos antara badan Selena dan Arzaylea yang kebetulan sejajar tepat di hadapan kami. Sementara itu kak Selena dan Arzaylea hanya mendecak sebal dan mulutnya berkomat kamit gak jelas.

Hmmn

“Bang?”
Aku dan kak Justin yang akan masuk ke dalam mobil ferrari hitam milik kak Justinpun langsung mengurungkan niat kami karena ada seseorang memanggil kak Justin. Suaranya tak asing di telingaku sepertinya dia…

Luke.

Matanya memandang ke arahku menatap penuh arti menerobos ke dalam hati. Mata biru laut itu memandangku seperti memberi arti akan suasana hati yang di alami si pemilik mata pada saat ini. Ada rasa kecewa, cemburu dan kekesalan bercampur disana.

Kontak mata terjadi antara aku dan Luke, tapi kak Justin langsung saja menyudahi adegan dramatis ini.

“Apa?” Tanya kak Justin dingin.
“Abby pulangnya sama aku kak” Ucap Luke yang membuat kak Justin menatap sinis ke arah Luke.

Aku? Hanya terdiam bingung atas sikap adik kakak ini.

“Abby, she’s mine” Ucap kak Justin sambil mendekat ke arahku dan merangkul tubuhku.

Mataku membulat sempurna, rahangku mengeras tak percaya atas apa yang di ucapkan kan kak Justin.
Begitu pun Luke, nafasnya berderu matanya menatap kak Justin tajam. Tanpa aba-aba Luke pun meninju bagian wajah kak Justin dan menyisakan darah di sudut bibir sebelah kiri kak Justin.

Aku pun tak terima atas perlakuan Luke kepada kak Justin, terlebih dia adalah kakaknya sendiri.

Langsung saja kuantar kak Justin pulang dengan posisi aku yang menyetir mobil kak Justin.

“Udah kak, kakak istirahat dulu aja ya” Ucapku sambil membereskan kotak P3K.
“Makasih ya By” Ucap kak Justin dan di balas dengan senyuman olehku. “Kakak pengen kamu jadi pacar kakak” Sambung kak Justin yang membuatku hampir kehabisan napas. “Aku pulang dulu ya kak hehe” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan karena terlalu gugup dan takutnya mati di tempat kalo membahas masalah ini.
“Oh ya udah anterin pulang sama Mike aja ya?” Ucap kak Justin eambil melihat ke arah Kak Michael yang sedang main X-Box di meja belajar. “Kuy By” Ajak kak Michael. “Eh gausah kak, aku pulang sendiri aja hehe bye kak, cepet sembuh ya kak Justin” Pamitku dan dibalas dengan tatapan kesal dari kak Justin. “Ya udah tiati By” Ucap kak Michael.

Aku pun keluar dari kamar kak Justin dan berniat untuk pulang. Namun niatku tertunda karena aku melihat pintu kamar Luke yang terbuka dan aku masuk ke dalam kamarnya.
Terlihatlah Luke sedang menutup wajahnya dengan bantal dan ada Calum -sahabatnya- sedang mencoba menenangkannya.

Ragu-ragu aku memanggil dia.
“L-luke” Panggilku.
Kemudian Luke membuka bantal itu dan melihat ke arahku. Dia langsung beranjak dari kasur dan mendekatiku.
Sekarang jarak kami hanya beberapa inci, dilihatnya mata Luke yang sayu membuatku merasa bersalah.
“Maaf L-Luke” Ucapku terbata-bata.
“Enggak. Ini semua salahku By, maafin aku” Tukas Luke.

Entah dorongan dari mana aku memeluk tubuh Luke. Luke sepertinya kaget namun kemudian dia membalas pelukanku.
“Aku pengen banget kamu tuh jadi pacarku By, aku sayang sama kamu” Luke mengusap punggungku lembut.

Alih-alih menjawab, aku pun melepas pelukan dan memandang ke arah Luke.
“Aku harus pulang. Permisi” Pamitku tanpa banyak bicara.

Segera aku keluar dari kamar Luke dan segera juga aku meninggalkan kediaman laki-laki yang membuatku bingung, Justin dan Luke.

Aku berjalan gontai di trotoar kota seatle yang indah ini. Hari sudah mulai gelap dan begitu juga hatiku yang mulai gelap, hati yang sudah dibaluti rasa bingung. Bingung harus memilih salah satu di antara laki-laki yang sudah membuatku sempurna.

Memori otakku berputar ke masa dimana Luke dan kak Justin selalu menggangguku hingga membuatku nyaman. Cara mereka jelas berbeda. kak Justin yang super dingin pasti dia mengekspresikan semuanya dengan perbuatan tanpa ada ucapan-ucapan manis. Berbeda dengan Luke, dia selalu mengerti suasana hatiku dan dia selalu ingin membuatku tersenyum tak peduli dengan keadaan hatinya. But, that’s why l Love you. Justin and Luke.

Seperti mengerti suasana hatiku, tiba-tiba hujan pun turun yang sedetik kemudian membasahi tubuhku.
Dibawah hujan yang deras ini aku menangis, menangis karena aku bingung. Bingung harus memilih siapa.

I had to choose who?

Kuangkat wajahku menghadap langit. Aku menutup mata membiarkan wajah ini merasakan sensasi air hujan yang dingin sampai menusuk ke dalam hati. Tiba-tiba air hujan itu tidak ku rasakan lagi, dan dengan refleks aku membuka mata. Ternyata

Payung.

Kulihat si pemilik payung itu. Dan oh~ dia Calum.

“Awas nanti sakit” Calum tersenyum ke arahku.
“Ini juga udah sakit Lum hehe” Akupun menyingkirkan payung yang Calum pegang dan membiarkan hujan membasahi aku dan Calum.

“Luke atau Justin?” Tanya Calum mantap.
“Aku gak bisa pilih satu dari mereka Calum” Jawabku jujur.

“Labil” Cibir Calum sambil menjitak kepalaku.

Dan yaa…. Under the rain with Calum Hood dan atas ucapan Calum yang singkat tapi penuh arti bagiku, sekarang aku sadar. Kenapa Luke dan kak Justin selalu menggangguku, selalu membuatku merasa nyaman semata-mata mereka menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Dan aku juga sadar kenapa aku tidak bisa memilih satu diantara mereka, karena aku mencintai mereka, Justin Drew Bieber dan Luke Robert Hemmings. Saudara kandung yang sukses membuatku merasakan falling in love.

“Kalo kamu gak bisa pilih satu dari mereka, yaudah sama aku aja” Calum menatap penuh arti kepadaku.

Persetan dengan ucapanmu Mr. Hood!!!!

END

Cerpen Karangan: Vina Ayuni
Facebook: Vina Ayuni
Vina Ayuni yang pengen banget bikin novel about 5 Second Of Summers:)

Cerpen l Had To Choose Who merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Midnight in Jakarta (Part 1)

Oleh:
Bruk! Akhirnya berhasil juga aku menapakki Ibu Kota setelah 3 jam berada di Bus dari Ciwidey, Bandung. Menempuh perjalanan bus malam membuatku merasa sedikit lelah. Tapi setibanya di Jakarta,

Love or Friends

Oleh:
Hoaaaammm.. Aku terbangun seiring dengan bunyi alarm. Aku bangun dengan langkah sempoyongan dan bergegas berjalan ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah ke jenjang berikutnya, SMA,

Love With Ranika

Oleh:
Aku ian, tinggal sederhana dengan sekolah berbasic pertanian di kota ternama di indonesia. Aku baru saja dipindah sekolahkan karena alasan keuangan yang tidak memungkinkan. Pada hari pertama ini menjadi

Cinta Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Cinta. Baca cinta dengan titik. Cinta itu sebenarnya tidak bermakna, cinta itu berarti. Betul bukan? Cinta itu sungguh berarti. Sebelumnya aku berpikir bahwa cinta itu hanya fantasi. Setelah menulis

Tentang Kisahku dan Dia

Oleh:
Malam itu aku duduk termenung di meja belajarku saat terdengar dering sms di handphoneku. Tertera nama mantanku di sana. “Huhh ngapain sih dia masih sms lagi kan gue juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *