Lamunan Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 17 May 2019

Termenung. Itu yang aku lakukan ketika sang kekasih sudah tak lagi melontarkan kata ‘sayang’ padaku. Menatap jauh sang langit biru yang sebantar lagi akan terbenam, dan seketika itu langit-langit akan berubah warna menjadi jingga yang indah. Namun harus bagaimana lagi diriku ketika diri yang kesepian ini tak dapat hidup tanpa ‘sang kekasih’. Pastinya aku hanya bisa mendesah bosan sambil memandang laut luas yang ada di hadapanku ini.

“Abdi!” tiba-tiba terdengar seseorang menyerukan namaku.
Kubalikkan badanku guna mencari sumber suara. Oh, ternyata si Radi. Batinku.
Dilambaikannya tangan kepadaku sambil melangkah menuju diriku yang berekspresi sama sekali.

“Kamu ngapain di sini, Di?” tanya Radi sambil terduduk di sampingku. Ia menatap penuh rasa penasaran.
“Ah, nggak ngapa-ngapain, kok. Kamu sendiri lagi ngapain? Tumben aku ketemu kamu di sini,” tanyaku.
“Ah, kamu. Bukannya aku yang ketumbenan, tapi kamu aja yang keseringan ke sini, Di. Aku tahu, kok, kenapa kamu sering banget ke tempat ini,” katanya mencoba menebak-nebak.
“Memangnya apa?”
“Yakin mau aku sebutkan? Nantinya kamu galau lagi,” godanya.
“Nggak juga. Aku ke sini cuma lagi sumpek aja di rumah terus. Makanya mau dong aku ke sini lihat pemandangan indah yang membentang…”
“Kamu masih belum bisa move on, kan, dari mantan kamu itu,” potonng Radi dengan raut wajah seriusnya.
“Apaan? Ng…”
“Harus berapa kali lagi aku bilang sama kamu, Di. Sudah! Move on, dong. Kamu sudah dewasa, lho. Harusnya bisa mikir kalau tindakan kamu selama ini percuma aja dan nggak pernah bisa merubah kenyataan,” tegas Radi seraya menatap tajam kedua mataku.

Aku tahu, Radi adalah sosok teman yang sangat perhatian kepada temannya. Namun sayangnya ia kurang pengertian padaku.
Sesaat setelah itu, aku ingin sekali membantah perkataan Radi. Namun tak peduli seberapa sering aku melakukannya, Radi tidak akan pernah percaya dengan kata-kataku. Hal itu karena memang kenyataan seperti yang Radi katakan bahwa aku tak pernah bisa melupakan ‘Nia’ sang mantan kekasih, yang setahun lalu pergi meninggalkanku bersama seorang pria pilihannya.

“Radi. Bisa nggak, sih, kamu nggak ikut campur sekali aja. Aku paham sama perhatian kamu sebagai sahabat aku, tapi…”
“Nggak, Di. Kamu sama sekali nggak paham. Padahal apa yang selama ini aku bilang ke kamu adalah nasehat buat kamu. Kenapa aku ngelakuin semua itu cuma buat kamu? Itu karena aku dulu pernah ngerasain hal sama seperti yang kamu alami saat ini. Tapi dengan melupakan segalanya, aku sudah terbebas sama perasaan yang namanya teringat-teringat mantan atau apalah,” jelas Radi. Tatap matanya-pun semakin tajam.

Kualihkan pandanganku, berusaha untuk berpaling dari tatap matanya.

“Oke, kamu memang perhatian sama aku, Di. Tapi apa pernah kamu mengerti? Mengerti bukan hanya karena kamu pernah merasakan hal sama seperti yang aku rasakan. Tapi mengerti maksud aku di sini adalah, bagaimana seharusnya kamu melihat aku yang susah payah melawan bayangan-bayangan masa lalu itu.”

Radi terdiam. Ia tak menatap lagi ke arahku. Justru ia malah menoleh ke arah sang mentari yang sejengkal lagi itu akan terbenam.

Oh, senja. Pagi dan malam datang dan pergi begitu juga bulan dan matahari. Memang begitulah seharusnya dunia ini. Selalu saja ada antagonisme di dunia ini. Ada baik, ada juga jahat. Ada malam, ada juga siang.

Ketika mentari senja itu sudah sepenuhnya terbenam, aku bangkit dari posisi dudukku sambil berkata, “Mungkin kamu memang benar, Di. Sebelumnya aku minta karena membantah semua perkataan kamu.”

“Iya, nggak apa-apa.”
“Mulai sekarang aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukan ini. Aku juga nggak mau terus-menerus dihancurkan oleh kenyataan yang kejam. Aku juga mau menciptakan kebehagiaanku sendiri.”

Senja-pun lenyap oleh kegelapan malam. Seperti yang aku katakn bahwa selalu saja ada antagonisme di dunia. Namun bagaimana-pun juga waktu terus berjalan. Waktu tak akan berhenti ketika kamu merasakan rasa sakit dan terpuruk di dalamnya.

Aku harus bangkit dari lamunan senjaku yang berkepanjangan …

TAMAT

By: Momoy

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog / Facebook: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Lamunan Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersamamu

Oleh:
“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil

Mystery Of Love (Part 2)

Oleh:
“Derika?” Tanya Anfa hati-hati. “Sebentar ya.” Aku pun berdiri dari kursiku dan mengahmpiri Sandi. “Sandi.” Panggilku dengan suara serak, orang yang dipanggil pun menoleh dengan kaget. “Derika.” “Sandi mereka

Skenario Tanpa Rencana

Oleh:
Antares keluar dengan wajah masam dari ruang pasien di mana Bella dirawat. Pria berpostur atletis itu mengambil posisi duduk berjarak 2 bangku dari tempat Carina duduk. Suasana sepi ruang

Emosi Cinta

Oleh:
Cinta itu bagi setiap orang tentunya sama saja, hanya bagaimana merasakan cinta itu yang berbeda. Perasaan jatuh cinta itu tidak selamanya harus dirasakan dengan jantung yang berdebar kencang, gugup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *