Langit Kosong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 14 April 2018

“Sinarnya tak mampu menerangi dunia layaknya mentari. Tapi bagi langit, bulanlah yang selalu menghangatkan malamnya yang dingin.”

Ini sudah larut malam ketika Langit membereskan meja kerjanya. Kantor sudah lengang hanya menyisakan beberapa orang saja yang masih berkutat di depan komputer. Fyuh. Ia menghembuskan napas lelah. Hari yang sangat melelahkan. Entah ada apa dengan atasannya hingga dengan sadisnya memberikan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Untunglah ia sudah selesai sebelum esok datang.

Langit menatap keluar dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. Ia tersenyum. Tak sabar untuk sampai di rumah dan bergelung di balik selimutnya yang hangat. Lantas dengan segera ia membereskan berkas-berkas yang dikerjakannya lalu mengambil tasnya dan melangkah keluar setelah pamit terlebih dulu pada teman-temannya yang dibalas seadanya.

Keluar dari gedung tempat ia bekerja, angin malam yang dingin menyambutnya. Ia mengambil jaket hijau tua yang tersampir di bahu kanannya lalu segera memakainya.
Jalanan masih ramai meski ini sudah sangat malam. Lampu-lampu toko pinggir jalan pun masih menyala terang. Kota bagai berpesta di tengah malam. Sambil menunggu bus datang, Langit menatap sekelilingnya untuk menghilangkan bosan sekaligus kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tiga menit kemudian, entah karena suara jangkrik yang merdu atau sepoian angin malam yang membuainya, Langit tertidur bahkan sampai bus berhenti di depannya kemudian melaju kembali meninggalkan sendiri terantuk-antuk.

Tapi malam tak membiarkannya, Langit tersentak kala mendengar sesuatu terjatuh. Ia yang baru bangun masih tak memahami keadaan sampai lima detik kemudian ia tersadar lantas menoleh dan mendapati seorang wanita berpakaian formal terduduk di trotoar sambil memegangi kakinya.

“Anda tidak apa-apa, Nona?”
Wanita itu berhenti mengusap-usap kakinya ketika mendengar suara Langit, lalu mendongak manatap Langit.

Langit menegang. Bahkan tanpa sadar ia menahan napasnya. Waktu seakan berhenti pada detik itu juga. Semuanya mengabur hingga yang terlihat di matanya hanyalah seorang wanita di depannya. Ia tak menyangka kalau akan secepat ini. Lebih tepatnya, ia tak menyangka dipertemukan kembali dengan Wulan, wanita yang terjatuh.

“Tu-tuan, sepertinya kau yang sakit di sini.”

Waktu berjalan kembali dan semuanya seperti semula. Langit kembali melihat keramaian kota di tengah malam. Suara kendaraan meraung-raung kembali tertangkap telinganya. Ia juga sudah tak menahan napasnya lagi.

Kemudian dengan kikuk, ia tersenyum dan menggeleng. “Mari kubantu.”
Wulan menerima uluran Langit. “Terima kasih.” Ucapnya sambil tersenyum.

Langit ikut tersenyum lebar. Kelewat lebar hingga Wulan bergidik melihatnya. Tapi Langit tak bisa menahannya lebih lama. Selama dua tahun ia menanti dengan sabar, hanya mengandalkan sang Maha Kuasa. Menunggu tanpa bisa melakukan apapun sangat menyakitkan. Langit bisa saja ke kota asalnya untuk bertemu dengan Wulan. Tapi ia tak bisa. Seolah dinding transparan yang menghalangi keduanya.

Tiba-tiba kejadian dua tahun yang lalu berputar di kepalanya. Sekejap, senyum di bibirnya lenyap. Binar di matanya hilang. Rindu yang meletup-letup itu padam bagai api yang tersiram air es. Luka itu menganga lagi, lebih lebar dan berdarah-darah.

Wulan yang melihat perubahan Langit mengernyit. Ia menatap Langit bingung. Lalu ketika ia baru membuka mulutnya hendak bertanya, sebuah bus berhent di depan mereka. Pintunya terbuka menunggu mereka masuk.

Tapi keduanya hanya diam. Bahkan Wulan baru sadar setelah mendengar bunyi klakson. Ia buru-buru mengambil tasnya yang tergeletak di trotoar lalu bergegas masuk ke dalam bus. Tepat setelah itu, bus kembali berjalan meninggalkan Langit yang masih berdiam diri sambil memandang tepat di manik coklat milik Wulan yang masih memandangnya bingung.

Asap bus masih mengepul. Baunya bahkan menusuk hidung. Langit menatap sekali lagi bus yang ditumpangi Wulan.

Lalu saat angin dingin menerpanya lagi, Langit menangkapnya. Bisikan angin. Semuanya tak lagi seperti dulu. Ia beralih menatap langit malam yang hitam polos tanpa ada bulan atau bintang meneranginya. Dan lagi, angin membisikkan kalau bulan tak bersinar seterang dulu. Bahkan mungkin keberadaannya tak lagi ada untuk menyinari langit malam.

“Lang.”
“Langit!”
“LANGIT WOY!”
Langit tersentak hingga tak sengaja menjatuhkan tumpukan kertas di sampingnya. Buru-buru ia merapikan kertas-kertas tersebut dibantu oleh Dion, orang yang memanggilnya tadi.

“Kenapa sih? Ada masalah ya?” tanya Dion tanpa melihat Langit, sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.

Langit menggeleng, malas menjawab. Bahkan ia tak peduli jika Dion tak melihat gelengannya.

“Ada apa manggil–manggil?”
Dion terkekeh, tahu kalau Langit tak ingin membahas masalahnya lebih jauh.
“Habis dari tadi kamu diam saja. Aku kan taut kau kenapa-napa. Apalagi kesambet setan penunggu kantor. Kan merepostkan sekali,”
Langit menatap Dion tajam. Yang ditatap malah cengengesan tidak jelas. Langit mendesah. Ia berpikir bagaimana bisa ia berteman dengan orang semenyebalkan ini. Oh! Dan secerewet ini. Berusaha untuk mengabaikan Dion yang mulai berceloteh persis seperti anak kecil yang baru bisa bicara. Langit fokus dengan kertas-kertas di tangannya. Toh, Dion akan berhenti jika Langit tak merewesnya. Jadi, anggap saja selama Dion berceloteh yang terdengar hanyalah lantunan piano Yiruma.

Dan Langit berhasil, selama sepuluh menit ke depan ia hanya diam. Dan Akhirnya Dion menyerah. Setelah semuanya beres, Dion pamit pulang lebih dulu. Langit mengangguk.

Pantas saja Dion berpikir yang tidak-tidak, ternyata malam sudah menyelimuti kota. Seberapa lama ia melamun hingga malam pun tak terasa tibanya.

“Aku sudah membuang banyak waktuku dengan sia-sia hari ini.” Langit menggeleng-geleng.
Lalu dengan kedua tangan mengepal dan senyuman yang dipaksakan, ia berkata “Semangat Langit!”

Langit menertawakan dirinya sendiri. “Apanya yang semangat?” katanya sambil terkekeh
Ia lalu melihat sekelilingnya lalu kembali tertawa miris. Sama sekali tak ada pikiran kalau dirinya akan berada di tempat yang sangat dihindarinya ini. tangannya terangkat memperlihatkan botol minuman di tangannya.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. Ia juga sama sekali tak menyangka kalau minuman yang ada di tangannya ini masuk ke dalam tubuhnya dan sedang memberikan efek pada tubuhnya.

“Jadi… begini rasanya.”
Tangannya terangkat menuangkan isi dari botol berwarna hijau gelap itu ke dalam gelas lantas meminumnya dalam sekali tegukan. Ini baru gelas ketiganya dan ia langsung merasa sangat pusing.

“Dasar pemula!” makinya pada dirinya sendiri.
Lalu dengan kesal ia meletakkan botol tersebut secara kasar sehingga menimbulkan bunyi debuman yang keras tetapi tetap tak mampu mengalahkan suara dentuman musik klub. Langit bangkit dan berjalan keluar dengan sempoyongan setelah membayar minumannya.

“Hei Wulan! Sedang apa kau di sana, huh?” sambil menunjuk bulan di langit.
Langit tertawa sinis. “Kau itu sombong sekali sih?!”
“Kau tahu siapa aku, Wulan? Kau tahu tidak, hah?!” teriaknya sambil memukul-mukul dadanya.
“Aku ini kekasihmu tahu!” wajahnya cemberut.
“Aish..” Langit menunduk, mengelus leher belakangnya yang pegal karena mendongak terlalu lama.
“Kau ini tinggi sekali sih. Aku kan jadi tidak bisa menyentuhmu.” Gerutunya pelan sambil tetap menunduk.
Tiba-tiba wajahnya menjadi muram. “Wulan… aku rindu.”

Ia sedang berjalan santai sambil melihat pemandangan di sekelilingnya. Seperti biasa kota tetap ramai meski langit hitam sudah menyelimuti. Ia mendesah dalam hati. Lalu menunduk menatap sepatu pantofel hitam yang dipakainya bekerja hari ini.

Angin dingin berembus pelan. Entah mengapa itu tak membuatnya merasa dingin. Justru sebaliknya. Ia merasa hangat. Tangannya terangkat menyentuh dadanya.

“Apa… ini?”
Hatinya menghangat. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Jiwanya yang selama ini kosong entah mengapa seperti baru saja terisi meskipun hanya satu titik. Rasanya ia sangat ingin melakukan sesuatu yang entah apa. Ia seakan harus melakukan hal itu. namun ia tak tahu. Rasanya ia sangat menginginkan seseorang.

Belum menemukan apa jawabannya, ia dikagetkan dengan pipinya yang tiba-tiba basah. Lantas mengernyit kala tahu kalau ia baru saja menangis.

“Aku… menangis?”

“Hei Wulan! Sedang apa kau di sana, huh?”

Ia masih bingung dengan keadaannya ketika sebuah suara menariknya kembali ke dunia. Ia mendongak, mencari asal suara tersebut. Bahkan ia tak sadar kalau kakinya sudah melangkah.

Kamudian ia berhenti di depan sebuah klub malam. Di sana, seorang pria mabuk berdiri sambil menatap bulan. Berbicara sendiri dan tertawa sendiri.

“Dasar pemabuk!”

Ia sudah bersiap pergi ketika pendengarannya menangkap kalimat yang keluar dari pria tersebut. Ia diam. lebih tepatnya terkejut. Lalu dengan perlahan, ia membalikkan tubuhnya dan kembali terkejut karena melihat pria mabuk itu jatuh tersungkur di trotoar.
Dan lagi-lagi, tubuhnya seakan bukan miliknya. Karena beberapa detik kemudian, ia sudah ada di temapt pria itu jatuh.

“Tuan, kau tidak apa-apa?”

Untuk alasan yang tidak diketahuinya, ia merasa cemas begitu melihat pria tersebut. Namun ia menyingkirkan kebingungannya itu terlebih dahulu. Saat ini di pangkuannya ada seorang pria yang tak sadarkan diri dan ia tak mungkin membiarkannya seperti ini.

Ia sedang memikirkan cara untuk membawa pria ini ke rumah sakit ketika mendengar suara parau dari si pria.

“Wulan…” ucapnya pelan dengan wajah terkejut.

Dengan ragu dan diliputi rasa heran karena si pria mengetahui namanya, ia menjawab. “Iya, aku Wulan.”
Sebenarnya ia ingin melanjutkan,
“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” namun diurungkannya mengingat pria ini bisa saja kembali pingsan. Jadilah yang keluar dari mulutnya adalah..
“Apa kau bisa berdiri tuan? Aku harus membawamu ke suatu tempat. Di mana rumahmu?”
“Wulan…” Lalu tanpa diduga, pria itu menangis dan memanggil namanya terus-menerus.
Wulan kebingungan meihatnya. Ia mencoba menenangkan pria itu. “Tuan, kau kenapa? Kenapa memanggilku terus? Apa kau kenal denganku?”

Mungkin terlihat dirinya yang gede rasa hingga mengeluarkan pertanyaan macam itu. Bisa saja bukan, yang disebut pria itu adalah Wulan yang lain. Apalagi pria ini sedang mabuk, pasti ia tak sadar dengan yang diucapkannya. Wulan juga tak menyangka kalu ia sampai mengeluarkan pertanyaan itu.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba, pria yang ada dipangkuannya itu bangkit dan duduk di hadapannya. Jari telunjuknya diangkat. Lalu dengan lantang, ia berkata “Hei Wulan, lihat itu!”

Wulan menurut, ia mendongak melihat langit malam yang bersih. Tak ada satu pun bintang, hanya ada bulan di sana. Dan itu membuat bulan nampak lebih indah dan lebih bersinar. Lalu, hal itu kembali terjadi. Kehangatan menyelimuti hatinya, mengisi satu titik lagi.

“Indah bukan?”

Wulan berpaling. Dilihatnya, pria itu sedang menatapnya. Wulan balas menatapnya. Mereka masih bertahan hingga Wulan memecah keheningan itu, “Aku ingin tahu namamu.”
Pria itu tersenyum. Tapi Wulan melihat kesedihan di matanya. “Langit.”

Wulan diam. Tadi, ketika Langit menyebut namanya, sebagian dari dirinya merasa tak karuan. Hatinya menggebu-gebu seakan tak mampu lagi menampung sesuatu yang ditahannya selama ini. Dunia seakan makin menyempiit, menekannya pada perasaan yang membelenggu. Ia kesulitan bernafas. Tapi, Wulan masih tak mampu menyimpulkan perasaan ini.

“Aku rindu, Wulan.”

Selanjutnya, Wulan memekik kaget ketika Langit jatuh dan kembali pingsan.

Cahaya matahari masuk melalui ventilasi ruangan. Menerangi sebuah kamar gelap dengan seseorang yang masih terlelap di kasurnya. Tak lama kemudian, orang itu bangun hanya untuk memandang bingung kamarnya dan berseru pelan ketika menyadari sekelilingnya adalah tempat yang tak asing baginya.

Ia kemudian bangkit sambil memegang kepalanya. tiba-tiba sesuatu terasa bergejolak di dalam perutnya. Rasa mual langsung menyerangnya. Ia pun malangkah terbirit-birit menuju kamar mandi yang ada di kamarnya dan memuntahkan semua isi perutnya.

“Sial! Aku benar-benar meminumnya.”

Dengan langkah lemas ia keluar dari kamar lantas menyiapkan sarapan. Syukurlah, hari ini libur sehingga ia tak perlu menjalani hari buruk lagi.
Selesai sarapan dan memastikan anjingnya makan, Langit membawa anjingnya jalan-jalan di taman dekat dengan apartemennya.

“Hah.. selamat pagi dunia.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kemudian ia memulai joggingnya setelah pemanasan dengan berlari kecil diikuti anjingnya.

Satu jam kemudian, ia selesai lantas beristirahat di sebuah bangku taman sambil meminum air dingin yang sempat dibelinya.

“Ternyata hanya mimpi.” Gumamnya pelan.

Guk guk

“Hei, hei ada apa?” ucapnya seraya mengelus anjing putih di sampingnya itu.

Namun, anjing itu tetap menggonggong hingga membuat beberapa orang melihat ke arah mereka. Langit panik. Ia hendak bangkit bersiap pulang karena beranggapan kalau anjingnya ini sedang tak ingin bermain di taman. Namun ia dikejutkan oleh anjingnya yang tiba-tiba saja berlari.

“Hei anjing!” teriaknya.

Detik kemudian ia tersadar dari apa yang diucapkannya. Langit memasang tatapan bersalah pada ibu-ibu yang menatapnya tajam sambil menutup telinga anaknya. Langit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia jadi serba salah kalau ingin memanggil anjingnya. Karena sebenarnya anjing itu tak punya nama. Bukan tak punya, tapi belum. Langit masih menunggu Wulan yang janji akan memberikan nama pada anjing itu.

“Hah.. apa yang kau lakukan sih?!” ucapnya jengkel ketika ia berhasil mengejar anjingnya.

Anjing putih itu hanya diam dan terus menggonggong pada seseorang yang baru disadari keberadaannya oleh Langit. perlahan ia mendongak untuk melihat wajah orang tersebut dan terkejut mengetahui kalau orang itu adalah Wulan.

“Wu..lan.”

“Err.. kau kenal denganku?”

Seketika Langit dihimpit rasa bersalah. Inilah Wulan, kekasihnya sampai sekarang. Meski ia ragu Wulan masih menggapnya kekasih semenjak kejadian naas itu. awal mula dari segala masalah yang menimpanya kini. Namanya Wulan dan ia pengidap amnesia akut. Kesulitan mengingat permanen. Dan semuanya terjadi karenanya.

Waktu itu sedang turun hujan ketika Langit membawa motornya dengan Wulan di belakangnya yang memeluk pinggangnya dengan erat. Lalu semuanya terjadi begituu cepat. Sebuah truk tiba-tiba saja datang dari arah berlawanan ketika motor hitam Langit sedang berbelok. Dan selanjutnya ia menemukan dirinya di sebuah rumah sakit dengan beberapa luka di tubuhnya. Namun Wulan tidak, ia divonis mengalami kehilangan mengingat permanen.

“Maafkan anjingku.”

Kemudian, ia pergi dengan langkah berat dan hati sesak menahan rindu.

Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu. Mereka tak lagi bertemu. Dan selama itu, Wulan merasa gelisah. Perasaan itu kembali muncul. Perasaan rumit yang hingga kini tak mampu ia ketahui namanya.

Lalu, ketika senja menghilang dan langit malam menyelimuti, Wulan makin gelisah. Setiap kali angin dingin menerpanya. Setiap kali ia melewati klub malam. Setiap kali ia menunggu bus di halte. Bahkan setiap kali ia mndengar gonggongan anjing. Entah kenapa ia sangat menginginkan sesuatu. Tapi entah apa itu.

Dan kini, ketika angin malam menerpanya, ia kembali merasakan hal itu. wulan menghela napas lelah. “Ada apa denganku?”

Bruk!

“Ah sial.”

“Kau tidak apa-apa?”

Laki-laki itu mendongak dan semuanya seperti semula mereka bertemu di halte itu. waktu terasa berhenti. Keramaian di sekitar mereka lenyap terbawa angin. Dan keduanya berada dalam euforia bernama kenangan.

“Wulan..”

Angin malam berhembus dan seperti biasa, ia tak membawa kedinginan melainkan kehangatan yang nayman. Kehangatan sebuah kenangan manis. Kemudian, ia mengerti rasa yang selama tiga hari ini menghantuinya.

Wulan mendongak menatap manik hitam di depannya.

“Aku rindu…
…Langit.”

Cerpen Karangan: Farahdila Zulva Maulana
Facebook: Farahdila Zulva Maulana
FARAHDILA ZULVA MAULANA adalah seorang remaja kelahiran 2001 di kota kecil bernama Brebes yang terkenal dengan telur asin dan bawang merahnya. Saat ini, duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Suka menulis di waktu senggang ditemani lantunan piano Yiruma.

Cerpen Langit Kosong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emosi Cinta

Oleh:
Cinta itu bagi setiap orang tentunya sama saja, hanya bagaimana merasakan cinta itu yang berbeda. Perasaan jatuh cinta itu tidak selamanya harus dirasakan dengan jantung yang berdebar kencang, gugup

Introvert

Oleh:
Dosenku baru membagi tugas kelompok untuk makalah tentang Permasalahan seputar Lingkungan Sosial. Aku cukup terkejut dengan siapa aku harus bekerjasama, yaitu dengan cewek paling pendiam di kelas. Aku sama

Tentang Kita

Oleh:
Telah banyak yang tertulis di atasku. Kata orang aku surat cinta, aku sulaman kata-kata yang bila di baca membuat banyak pipi merona. Tapi sudahlah, biarkan mereka menyebutku apa, bukankah

Gue dan Mereka

Oleh:
Selama gue break gue punya banyak banget cerita yang sebenernya keren-keren buat gue ceritain. Tapi mungkin buat ngedetail ceritanya gue agak kesulitan nulisnya, jadi gue tulis dulu yang paling

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Langit Kosong”

  1. Tutori says:

    wah, masih SMA sudah kaya dengan diksi..
    ada keindahan tersendiri ketika membaca paragraf demi paragrafnya.
    tinggal di rapihin aja kaedah2 kepenulisannya.
    sudah bagus sekali~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *