Lara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Aku terdiam. Aku sendiri tak tahu pilihan yang kuambil ini benar atau tidak, tapi kurasa… Yah! Semoga saja aku tidak menyesal nantinya.
Tanpa bicara lagi, kubalikkan tubuhku. Dari sudut mataku, bisa kulihat lelaki yang pernah jadi bagian hidupku itu menatapku. Aku tak menoleh, apalagi berbalik. Cukuplah sekian saja episode kisahku dengannya. Aku takkan menghadirkannya lagi menjadi tokoh di episode kehidupanku.

Namaku Lara. Kata orang, nama adalah anugerah, namun mungkin itu tak berlaku untukku. Namaku seperti menjadi kutukan bagiku sekarang. Entah siapa yang memberikan nama itu untukku, mungkin orangtuaku, mungkin orang lain, hanya saja yang kutahu ibu pengurus panti asuhan menemukan seorang bayi merah di ambang pintunya telah mengenakan kalung berliontin nama Lara di samping tubuh mungil si bayi. Ya, akulah dia. Anak yang terbuang. Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya, dan tak ingin tahu karena aku telah menemukan keluarga baru yang menyayangiku. Ibu Yeni, pengurus panti asuhan begitu baik padaku.

Aku tumbuh menjadi anak yang manis dan cerdas, namun entah kenapa tak ada keluarga yang tertarik mengadopsiku padahal banyak teman-temanku yang telah mendapatkan keluarga baru mereka. Mungkin inilah takdirku, saat usiaku beranjak dewasa aku justru dipercaya Ibu Yeni untuk membantu beliau mengurus panti asuhan karena kondisi tubuh beliau yang mulai sakit-sakitan. Tujuh tahun berjuang melawan kanker, akhirnya Ibu Yeni menghadap Yang Maha Kuasa, kala itu tepat saat aku berhasil menyelesaikan pendidikanku.

Kini tak ada lagi sosok orang tua yang menjadi panutanku. Aku berjuang sendiri, bekerja sembari mengurus adik-adik asuhanku. Untunglah ada Mak Suti, tetangga panti asuhan yang mau membantu mengurus makan kami sehari-hari karena dari pagi hingga sore aku bekerja sebagai seorang staf di sebuah redaksi majalah berita yang cukup ternama di kota ini. Awalnya semua berjalan baik, namun aku tak menyangka ini justru menjadi pintu gerbang hempasan hidup yang harus kualami.

“Ayo makan bareng, Ra.” David, seorang wartawan rekan kerjaku, menyapa.
Aku tersenyum menggeleng lalu mengangkat bekal yang kubawa. Aku memang selalu membawa bekal sendiri karena ingin berhemat.
“Aku yang traktir. Sekali-kali makan di luar. Ayolah…” dia berusaha membujuk.
Aku terdiam sejenak sebelum mengiyakan ajakannya. David tersenyum antusias. Aku tak terlalu akrab dengan David karena dia lebih sering berada di luar kantor. Namun aku baru tahu kalau dia termasuk tipe orang yang menyenangkan dan mudah akrab sehingga aku pun bisa menyesuaikan diri dengannya.

Beberapa kali ngobrol dan makan bareng, kami pun mulai dekat dan berlanjut menjalin hubungan. David begitu perhatian padaku. Kadang pun dia sempatkan datang ke panti asuhan, mengingat aku jarang sekali mau diajak keluar olehnya. David mengerti alasanku karena tanggung jawabku untuk mengurus adik-adik asuhanku. Tapi sebaik-baiknya David, bukan berarti dia tak punya sisi lain. Di balik sifat perhatian dan menyenangkan David, dia adalah tipe lelaki yang agresif. Keagresifannya telah membuatku merasakan ciuman pertama hingga tak bisa mengelak setiap kali dia ingin mengulangnya kembali. Hubungan kami semakin intim dan aku seolah tak mengindahkan lagi norma-norma yang semasa dulu sering diajarkan oleh Ibu Yeni. Aku haus akan cinta, dan David mengajariku mereguk kenikmatan cinta bersamanya. Aku tak tahu apakah aku menyesal atau tidak. Aku hanya termenung menatap tubuhku di depan cermin sementara David masih terlelap dengan mimpinya.

Untuk beberapa hari aku tak mau bicara dengan David. Pesan dan panggilannya di ponselku pun tak kuhiraukan. Untung saja beberapa waktu ke depan dia ditugaskan di luar kota sehingga aku tak perlu bertemu dengannya. Aku sendiri tak mengerti apa aku marah padanya atau marah pada diriku sendiri.

Aku menyipitkan mataku saat melihat sosok seseorang berpenampilan rapi duduk di teras panti asuhan. Aku memperlambat langkahku saat kusadari lelaki itu menoleh ke arahku. Dia lalu berdiri dan tersenyum.
“Mas Bima ya?” tanyaku sambil mengingat-ingat karena penampilan lelaki di hadapanku ini tampak lain.
“Masih ingat juga kamu, Ra..”
“Ya ingat dong, Mas. Kan waktu itu Mas Bima yang membantuku menguruskan segalanya selepas kepergian Ibu. Hanya saja… Mas Bima tampak lain, aku jadi pangling.”
Lelaki itu tertawa. “Sudah tiga tahun ya kita tidak ketemu? Aku baru kembali dari luar untuk melanjutkan studi.”
Oh pantas saja dia tak pernah muncul selama ini.

Bima Syailendra. Salah satu personal dari tim pengacara yang ditunjuk oleh yayasan yang membawahi panti asuhan ini. Setelah Ibu Yeni menghadap Sang Pencipta, dialah orang yang membantuku mengurus penunjukanku sebagai pengelola panti asuhan pengganti Ibu Yeni, karena saat itu aku sibuk mencari pekerjaan. Walaupun ada jatah dari yayasan dan donatur, namun aku tak mau berleha-leha. Aku tetap bertekad untuk bekerja, untuk menabung dan mengembangkan pendidikan yang telah kutempuh.

“Hai.. kok bengong?”
Aku tersadar dari lamunanku saat Bima menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku. Aku tersenyum salah tingkah.
“Eh.. oh, ayo kita masuk, Mas…” ajakku mempersilakan.

“Diminum dulu, Mas.” aku menaruh secangkir teh di hadapannya. Bima hanya mengangguk. Sekilas kutangkap ada kegusaran di wajahnya.
“Ngomong-ngomong Mas Bima kemari hanya sekedar mampir atau ada yang lain?”
Bima menatapku sejenak, lalu menghela napas berat. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu, Lara.”
Dugaanku benar. “Menyangkut panti asuhan?” tebakku.
Bima mengangguk.
“Yayasan mengalami perombakan struktural. Pak Efendi yang mengalami pailit di beberapa usahanya menjual sebagian besar saham di yayasan. Efeknya serius. Lewat rapat direksi akhirnya diputuskan mereka akan menutup aset-aset yang dirasa tidak memberi keuntungan…”
Aku tercengang. “Maksud Mas Bima termasuk panti asuhan ini?” potongku.
Bima mengangguk berat.
“Nggak bisa, Mas! Bagaimana nasib anak-anak?!” seruku tak terima.
“Yang aku tahu, mereka akan dipindahkan ke panti asuhan lain. Mungkin beberapa tempat bisa menerima.”
“Beberapa?! Jadi mereka akan terpisah-pisah?!” Aku menggeleng keras. “Nggak bisa! Ini nggak adil!” emosiku mendadak tersulut.
“Kalau bisa, aku juga ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak itu…” desah Bima.
“Kalau begitu lakukanlah sesuatu!” tegasku bangkit dari kursi.
“Lara, duduklah dulu…” Bima menarik tanganku perlahan. Aku menatapnya tanpa bergeming. Bima mengangguk memberiku isyarat agar menurutinya. Aku tak tahu kenapa lelaki ini begitu tenang menghadapiku yang kini tengah dirundung amarah. Perlahan kuhempaskan tubuhku ke kursi. Raut mukaku sudah tak bersahabat lagi.

“Lara, kau tahu statusku hanya pengacara, aku tak punya kewenangan apapun untuk turut campur atas keputusan yayasan.”
Aku sudah hampir membuka mulut ketika tiba-tiba lelaki itu meraih tanganku.
“Dengarkan dulu, jangan dipotong..” lanjutnya.
Aku mencoba menarik tanganku namun Bima menggenggamnya semakin erat.
“Aku pasti akan membantumu sebisaku, Lara.. dengan caraku. Kau mengerti?” tanyanya menatapku.
Aku mengernyitkan dahi.
“Ajukan permohonan ke dinas sosial…”
Bima menjelaskan satu per satu, aku menyimaknya dengan seksama. Tidak kusangka kalau dia memikirkannya sejauh ini.

“Nanti kalau perlu aku minta bantuan temanku dari LBH lain untuk mendampingimu. Sebenarnya aku ingin mendampingimu secara langsung, tapi kau tahu kan aku tak bisa…” sempat tersirat kekecewaan di nada bicaranya.
“…cuma ini yang bisa kuusahakan.” katanya tersenyum hambar.
“Itu sudah lebih dari cukup Mas Bima.. terima kasih.” jawabku membalas senyumannya.

“Tiga tahun tidak melihatmu… kau tampak lebih dewasa.” ujar Bima ketika suasana sudah lebih santai.
“Tentunya aku sudah 25 tahun sekarang. Tapi… seperti yang Mas Bima lihat tadi, kadang aku masih susah mengontrol diriku.”
“Kulihat kau memang punya bara dalam dirimu. Dan aku tak ingin bara itu padam.”
Aku terperangah mendengar ucapannya, sementara Bima tersenyum menunduk.

Lelaki itu menunduk menatapku yang masih tersedu-sedu setelah tadi sempat beradu mulut dengannya.
“Kenapa kau lakukan itu padaku?” gumamku lirih masih sambil terisak.
“Lara, kita saling mencintai… kau menyesal menyerahkan dirimu padaku?”
Aku menepis tangannya yang coba menyentuhku.
“Jangan menangis, kumohon… Aku takkan lari dari tanggung jawab, aku hanya belum siap untuk menikah sekarang. Aku mau fokus dengan pekerjaanku dulu. Itu juga demi masa depan kita.”
Aku makin terisak. Kenapa lelaki ini tak mau memahami posisiku? Aku ketakutan setengah mati setelah kehilangan satu-satunya hal berharga yang seharusnya bisa kujaga. Aku ketakutan setengah mati menyadari aku bukanlah gadis yang utuh lagi.
“Ayolah, Lara.. aku minta maaf..” ujarnya sambil perlahan merengkuhku dalam dekapannya.

Dadaku masih berguncang naik turun bersama sisa-sisa isakanku. Tangan kukuh itu makin erat mendekapku. Tiba-tiba aku merasakan sentuhan di bibirku, tidak lembut seperti biasa, namun penuh nafsu untuk menguasai. Aku meronta mencoba melepaskan diri. Kudorong-dorong tubuhnya sekuat tenaga. Napasku terengah-engah.
“David!!! Apa-apaan sih?!!” seruku marah ketika dia telah melepaskanku.
David tampak gelagapan melihat sorot mataku. Dia lalu menunduk sambil bergumam lirih.
“Maaf, Ra… aku tak tahan…”
Aku menatap kesal dan marah padanya. Entahlah, kurasa perasaan cintanya sudah ternodai oleh nafsu. Mungkin ini salahku juga, begitu mudah terlena dengannya. Dan aku seakan tak kuasa menolaknya.

“Kita tidak usah ketemu dulu.” kataku pelan.
David terkejut. “Maksudmu…?”
“Dav, sadarkah dirimu..? Hubungan kita tak sehat lagi.. Kita harus memikirkan ulang hubungan ini.”
“Tapi, Lara…”
“Sudahlah.. Aku harus pulang sekarang, ini sudah malam. Tidak perlu kau antar.” Aku bangkit lalu bergerak ke arah pintu. Langit sudah gelap. Aku bergegas meninggalkan rumah kontrakan David, menembus malam.

Aku terkejut saat memasuki pekarangan panti asuhan dan melihat sosok yang tengah mondar mandir di teras. Langkahnya terhenti saat melihatku menghampirinya.
“Sudah lama, Mas?” tanyaku tersenyum.
“Kau tak apa-apa? Kok sampai malam begini?”
Kulihat kegusaran di wajahnya. Aku mencoba mencari alasan untuk menjawab.
“Oh, itu tadi aku sekalian menyelesaikan pekerjaan sudah deadline.” aku menghembuskan napas seolah kecapaian.
“Capek ya, Ra?” tanyanya setelah kuhempaskan diriku ke kursi.
Aku hanya tersenyum. Lelaki itu duduk di sebelahku dan menyodorkan secangkir teh.
“Minum dulu..”
“Lho itu kan teh Mas Bima..?”
“Belum aku minum kok. Selagi masih hangat…” Bima kembali menyodorkannya lebih dekat. Bukan hanya itu, dia bahkan tetap memeganginya selagi aku minum. Kulirik sekilas, dia tengah menatapku. Aku kembali menunduk dan menyudahi minumku.

“Mas Bima ada perlu denganku?” tanyaku setelah dia meletakkan cangkir teh itu di meja.
“Hanya mampir saja sebenarnya.. mau bicara sedikit soal panti asuhan juga. Tapi kulihat kau capek sekali. Lain waktu saja kita bicara, kau istirahat dulu.”
Aku langsung bangkit begitu mendengar kata panti asuhan.
“Ada perkembangan apa?” tanyaku antusias dan tanpa sadar mengguncangnya.
Bima menatap tanganku di lengannya. Aku terkejut dan buru-buru menurunkannya. Bima meraih tanganku.
“Lara.. maaf….” ucapnya tertunduk.
Aku tersentak. Maaf? Apa artinya…
“Mas…?” tanyaku mencondongkan wajahku.
Bima menatapku lalu mengangguk. “Kita tidak berhasil mempertahankannya.”
Aku menggeleng keras dengan mata berkaca-kaca. “Tidak! Tidak mungkin, Mas!!! Ini tidak boleh terjadi! Aku takkan melepas panti asuhan ini.. Tidak akan pernah!” seruku histeris.
Bima terkejut dan berusaha menenangkanku. Aku justru menangis tersedu-sedu. Lelaki itu lalu mencengkeram kedua lenganku.
“Jangan berteriak, Lara! Anak-anak itu bisa curiga.. Dengarkan! Aku masih punya rencana terakhir..”
Aku menatapnya. Bima mengangguk meyakinkan. Pelan-pelan isakanku berhenti.
“Aku sudah memikirkan semua ini matang-matang. Aku akan mengundurkan diri…”
Aku terkejut. “Mas..?”
“Tolong jangan dipotong dulu. Aku akan baik-baik saja karena aku sudah mengantongi izin praktek sendiri. Ada hal yang jauh lebih penting, Lara. Setelah kuperhitungkan, uang tabunganku cukup untuk membeli panti asuhan ini…”
Aku tercengang, namun lelaki itu tak memberiku kesempatan bicara.
“Kita akan mengelolanya bersama.. kita takkan membiarkan anak-anak itu terpisah.. dan kau pun bisa selamanya menjaga kenanganmu di sini..” Bima kembali meraih tanganku. “Lara, aku tahu semua ini sangat berarti bagimu. Izinkan aku melakukannya, Lara.. untuk kebaikan anak-anak itu.. dan untukmu…”
Air mataku menetes tanpa terasa. Aku tak tahu kenapa lelaki ini begitu baik.
“Kenapa, Mas Bima? Kenapa Mas Bima harus berkorban sejauh ini?”
“Karena aku tak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai melihat orang yang kusayangi tersiksa..”
Aku tersentak. Bima? Benarkah dugaanku?
Lelaki itu mempererat genggamannya di tanganku.
“Kau mengizinkanku, Lara?”
Aku mengangguk dan semakin terisak. Bima meraih kepalaku dan membenamkan di dadanya. Aku bisa merasakan degup jantungnya yang tak berirama, yang sepertinya tak jauh berbeda dengan yang kurasakan pada jantungku sendiri. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku bisa begitu nyaman berada dalam pelukan lelaki ini? Kenapa aku seolah merasa terlindungi? Kenapa berbeda dengan yang kurasakan saat bersama David? Apa yang terjadi pada hatiku?

“Aku akan melanjutkan hidup dan aku akan baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku akan bahagia atau tidak menjalani pilihan ini.” kataku menerawang jauh ke hamparan langit yang tiada berbatas. Warna biru cerahnya sangat bertolak belakang dengan hatiku.
Aku masih bisa merasakan sosok di sampingku mendesah dengan napas berat. Tak ada kata-kata terucap hingga tiga puluh detik, mungkin. Oh! Aku tak percaya rasanya masih sempat-sempatnya aku menghitung detik yang berlalu di saat seperti ini.
Belum sempat kuhela napas untuk menetralkan hatiku, ketika tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan suasana kami.
“Terima kasih kau sempat menjadi bagian hidupku, mengisi hari-hariku, menjalani saat indah bersamaku… hah!” sebuah helaan berat nampak jelas di suaranya sebelum ia melanjutkan kata-katanya. “Semoga kau bahagia dengan pilihan hidupmu. Satu hal lagi…”
Lelaki itu kembali menghentikan ucapannya. Kali ini dicondongkannya badannya padaku.
“Jangan harap aku akan menerimamu lagi ketika telah ada lelaki lain yang menyentuhmu.”
Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Sungguh aku merasa kata-kata itu terdengar begitu kasar di telingaku. Rasanya semakin tak ingin kupercaya kata-kata itu keluar dari mulut seseorang yang dia bilang mencintaiku. Aku jadi ragu. Apa definisi cinta baginya?
Aku terdiam. Aku sendiri tak tahu pilihan yang kuambil ini benar atau tidak, tapi kurasa… Yah! Semoga saja aku tidak menyesal nantinya.

Tanpa bicara lagi, kubalikkan tubuhku. Dari sudut mataku, bisa kulihat lelaki yang pernah jadi bagian hidupku itu menatapku. Aku tak menoleh, apalagi berbalik. Cukuplah sekian saja episode kisahku dengannya. Aku takkan menghadirkannya lagi menjadi tokoh di episode kehidupanku.

Dan sejak pertemuan itu, aku jarang sekali melihatnya. David mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia sempat berpamitan padaku, mengatakan dia mendapat pekerjaan di sebuah stasiun televisi swasta dan ditugaskan di wilayah timur Indonesia. Aku tahu David menyesali perlakuannya padaku, namun entah kenapa aku merasa tak ingin menahannya pergi. Kami sudah berpisah. Itu keputusanku.

Aku tersenyum memejamkan mata menghirup udara pagi di halaman panti asuhan. Panti asuhan ini telah berpindah tangan. Aku bahagia. Sangat bahagia. Perlahan kubuka mata saat mendengar deru mobil memasuki pekarangan. Aku hapal betul mobil itu.

“Aku bawakan sarapan.” katanya begitu membuka pintu mobil.
Aku menyongsongnya, membantu membawakan makanan dari mobilnya. Adik-adik asuhanku pun langsung berhamburan keluar menyambut Bima. Kami segera masuk dan sarapan bersama.

“Mas Bima sudah dapat lokasi untuk kantornya?” tanyaku saat dia ‘menculikku’ dari panti asuhan usai kami sarapan.
Lelaki itu mengangguk. “Kebetulan tidak terlalu jauh dari panti asuhan. Dan ada dua orang teman kuliahku yang mau gabung.”
“Syukurlah, Mas..” ucapku senang. “Panti asuhan biar aku yang handle. Mas Bima fokus kerja saja, awal-awal begini pasti harus kerja keras menjaring klien.”
“Kau kan juga harus bekerja. Tidak apalah, kita akan mengurusnya berdua. Lagipula aku punya rencana lain…” kulihat Bima melirikku sejenak.
Aku mengernyitkan dahi. Rencana?
Lelaki itu menarik napas panjang, lalu perlahan meraih jemariku.
“Lara.. keberatankah kalau kuperkenalkan kau dengan orangtuaku…”
Aku tercengang. Apa lelaki ini tak salah bicara?
“…sebagai calon istri…” lanjutnya.
Perkataannya sontak membuat jantungku hampir melompat karena terkejut. Dia melamarku?
“Mas Bima kan tahu keadaanku.. aku anak panti asuhan.. jati diriku sebenarnya saja aku tidak tahu…” lirihku.
Bima bangkit lalu berlutut menggenggam tanganku.
“Kau menolak lamaranku?” tanyanya tanpa basa basi.
Aku menggeleng. “Bukan begitu…” jawabku gelisah. Aku tak tahu bagaimana harus berkata di hadapan lelaki ini.
“Jujurlah, Lara.. tak adakah sedikit rasa untukku?” tatapnya penuh harap.
Aku membisu. Sementara dia masih bertahan di posisinya. Entah berapa detik, bahkan menit berlalu. Aku tak menghitungnya kali ini. Perlahan kutarik sudut bibirku ke atas.
“Aku tidak keberatan.” ujarku.
Bima tersentak. Mungkin tadi dia sempat hanyut dalam lamunan. Mendengar kata-kataku, dia langsung bangkit merengkuhku. Tindakannya yang tiba-tiba membuatku tak bisa mengelak.

“Bagaimana jika orangtuamu…”
“Sssh… jangan khawatirkan apapun, Lara. Aku berjanji akan menjagamu..” potongnya sebelum aku selesai bicara.
Aku mengangguk lalu melepas pelukannya.
“Kita pulang yuk, Mas.. tadi bilangnya sama adik-adik kan cuma belanja bulanan. Ini sepertinya sudah terlalu lama.” ajakku.
“Takut diinterogasi adik-adikmu?” goda Bima.
Aku hanya tersenyum. Bima pun segera melajukan mobilnya. Kutatap jalanan dari balik kaca jendela. Lara, bahagiakah kau sekarang? Tanyaku pada diri sendiri. Apakah pantas aku tak bahagia setelah mendapat anugerah ini?

Tamat

Cerpen Karangan: Taniya Naya
Facebook: facebook.com/taniya.naya
Taniya Naya adalah nama penaku

Cerpen Lara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bos! Dia Anak Mu

Oleh:
“Duuhh!! Sial!! Telat dah gue!” Aku menepak jidatku setelah melihat angka di jam yang melingkar manis di pergelangan tanganku. ~23:15~ Aku membetulkan posisi kacamataku. Dan menstarter motor matic merah

Kemarin, Sekarang dan Ke Depan

Oleh:
Aku mengenalmu lebih dari separuh usiaku, seperti Sei mengenal Ai. Hanya saja, aku bukanlah Sei yang masih ingat alur perkenalannya bersama Ai di bawah salju. Dulu kamu kecil, tidak

Everything or Nothing

Oleh:
“Kamu sudah mendengar kabar Fahri?” Deg! kabar Fahri? Kabar apa? Maksudku, apa kabar dengannya? bukankah terakhir aku mendapati kabarnya sedang kuliah di New York. “Hey, malah melamun..” “Eh iya,

Cinta Sebatas Patok tenda

Oleh:
“Pagi, Bel,” sapa Reihan. “Hei.. pagi juga,” jawabku. “Mau ke mana?” tanya Reihan. “Mau ke kantin. Kalau kamu mau ke mana?” tanyaku balik. “Aku juga mau ke kantin. Kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *