Laras

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 September 2017

Laras memberikanku keseimbangan. Kamu tahu setiap malamku selalu gelap gulita, namun setelah bersama denganmu aku tidak pernah merasakannya lagi. Kamu bagiakan bintang yang selalu menemani malamku. Aku selalu bertanya, kenapa langit malam begitu pekat seakan Sang Pelukis sengaja menumpahkan tinta hitam ke dalam kanvas ciptaannya. Tapi meski malam hitam buta, Sang Pelukis selalu memberikan keseimbangan. Lampu-lampu yang Ia gantungkan di langit-langit malam adalah cahaya yang menyeimbangkan gelapnya malam. Aku sendiri adalah malam yang tidak hanya hitam legam namun juga dingin menusuk tulang, juga sepi. Sejak aku mengenalmu, siapapun juga pasti tahu bahwa “laras” adalah nama yang berasal dari kota jogja yang berarti keseimbangan. Laras adalah kota yang istimewa, begitulah kata orang-orang yang memandang parasmu.
.
Apa yang membuat gadis sepertimu jatuh cinta pada malam yang kelam?
Hingga kamu sanggup mengiris sebilah hatimu lalu memberikan pada laki-laki yang selalu menatap malam dengan pandangan kosong. Lalu kamu memberikan sebilah lagi ke kota jogja dan membuatku selalu merasakan keberadaanmu setiap harinya. Kamu bagaikan kunang-kunang di malam hari, menyeimbangkan hatiku yang tidak hanya hitam legam namun juga dingin menusuk tulang, juga sepi. Kita menjalani kisah bersama, begitu indah setiap halaman dari kisah yang kita tulis bersama.

Sampai suatu ketika, kamu memutuskan untuk meninggalkan jogja, meninggalkanku. Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu pikirkan, namun bukankah kamu hanya dapat menikmati kopi yang paling nikmat di kota ini?
Mungkin terlalu sombong untuk mengatakan bahwa kopi yang paling nikmat hanya terdapat di kota ini. Tapi setidaknya aku yakin bahwa kopi yang paling sederhana hanya akan kamu dapatkan di kota ini. Meski pada akhirnya kamu memilih untuk meninggalkan kopi itu, jogja, juga aku. Seorang bangsawan memang tidak seharusnya hidup di kota yang penuh dengan kesederhanaan dan kamu memilih untuk pergi ke kota lain yang penuh dengan gemerlap kehidupan seorang bangsawan. Kala kamu meninggalkan jogja, aku sangat tahu kamu tidak akan kembali lagi. Terkadang seseorang mengucapkan “sampai jumpa lagi” namun tidak pernah benar-benar berjumpa kembali.

Apa yang dikatakan oleh pujangga adalah kebohongan belaka. Mereka selalu mengatakan bahwa sesuatu yang kamu tulis adalah abadi, meski kamu menulisnya di atas pasir yang akan tersapu oleh deru angin sekalipun.
Lalu di mana aku mendapati keabadian kisah cinta yang kita tulis bersama?

Lembaran kisah cinta yang telah kita ukir bersama setiap hari, minggu, bulan, dan tahun sudah tidak berarti lagi untukmu juga untukku. Kamu telah menemukan laki-laki bangsawan dari kota itu, menuliskan kisah cinta bersama dengan tinta emas seolah tidak akan ada yang menghapusnya. Aku hanya memilih menghabiskan malam di kota ini, jogja. Di sinilah tempatku bisa menghabiskan ribuan cangkir kopi hitam sendirian, menikmati pahitnya kisah cinta. Itu bukan masalah bagiku, karena kisah cinta kita sudah tidak berarti lagi. Apapun yang terjadi di masa lalu, juga apapun yang akan kulakukan denganmu di masa kini, tidak pernah membuat kita bisa bersama lagi. Aku yakin kamu juga berpikir demikian.

Kau tahu semenjak kita bertemu, kamu memberikanku keseimbangan. Lebih tepatnya kamulah keseimbangan itu. Setiap kisah cinta yang indah selalu ada kesedihan perih di baliknya, itulah keseimbangan yang aku pikirkan hingga hari ini. Kamu telah memiliki kisah cinta yang indah, dan aku menyeimbangkannya dengan kesedihan yang semakin dalam dan semakin dalam.

“permisi mas, mau pesan apa?”
“kopi hitam satu, kataku”
“ada yang lain?”
“enggak itu aja, kataku”
Lalu aku mengeluarkan sebongkah novel setebal kurang lebih 500 halaman dan melanjutkan membacanya.

Malam itu, di kedai, di kota jogja, hujan turun sangat deras. Hujan sendiri hanyalah sebutan yang diberikan oleh orang-orang untuk ribuan tetes air yang jatuh dari langit. Walaupun aku sendiri tahu bahwa itu tidak sepenuhnya benar, karena menurutku hujan adalah sesuatu yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemani kesedihan seseorang sepertiku, seakan hujan mengatakan bahwa “bukan hatimu saja yang menangis”.

Sesaat aku memandangi hujan itu lalu aku kembali beralih ke halaman novelku dan benar saja, aku memang tidak sendirian. Aku sangat kenal dengan aroma ini. Aku sangat yakin ini adalah aroma secangkir kopi hitam yang masih sangat panas, seakan ia mengatakan “bukan hatimu saja yang memiliki rasa pahit”.
Semua akan baik-baik saja, katamu.

Setelah perpisahan, kita tetap bisa menjalani kisah masing-masing dengan bahagia. Meskipun kita pernah saling menggenggam tangan bersama, bukan berarti kita telah kehilangan tangan masing-masing setelah berpisah. Kita masih bisa menggunakan tangan masing-masing untuk menulis kembali kisah cinta yang lebih baik. Perpisahan sendiri adalah kuncup untuk bunga yang akan mekar menyebarkan aroma harum menyembuhkan hati yang hancur. Hanya saja, setelah semua perpisahan itu aku ingin sendiri.

Setiap orang memiliki alasan kenapa ia jatuh cinta, juga alasan untuk tidak jatuh cinta. Alasan yang tidak aku ingin orang lain mengetahuinya. Alasan itu telah lama sekali mengendap di dasar hati, seperti endapan kopi hitam yang juga tidak pernah diteguk.

Cerpen Karangan: Herma Fuyuki
Facebook: Herma Fuyuki

Cerpen Laras merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Serabi Layla

Oleh:
Seperti kaca cermin, air laut itu memantulkan sekawanan awan putih di antara gelombang-gelombang birunya yang menderu menuju bibir pantai. Sedangkan birunya langit di waktu sore itu seakan tak mau

5 meter

Oleh:
Sak.. kau mulai lagi menatapku, masih menatap dengan tatapan yang sama. Tatapan yang terus menyakitiku. Sekian lama aku mencoba melupakan tatapan itu, kini kau hadir kembali masih dengan tatapan

Petualangan dan Cinta (Part 2)

Oleh:
Setibanya di tenda lau kawar kami bergegas kembali melaksnakan sholat berjamaah yang dipimpin oleh fahmi. Setelah makan malam selesai kami mulai agenda berikutnya yaitu membuat lingkaran dan membakar kayu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *