Let Be Self Alone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

“Guys, coba deh liatin majalah ini! Baru terbit guys! Dan, lagu kita kena nominasi untuk menjadi lagu terbaik remaja!,” ajak Bram saat ia memasuki ruangan.
Semua personil berhenti melakukan aktivitasnya dan berjalan ke arah Bram yang memegang majalah itu. Kecuali, Felly. Ia hanya terdiam dan tetap memainkan senar gitarnya dan menatap ke arah partitur musiknya.
“Kenapa ada musisi tunggal di sini?,” tanya Billy kepada Bram dan Riska.
“Dia udah lama ada di majalah-majalah mingguan remaja! Cuma, kita baru tahu sekarang,” jawab Bram. Dan, itu bohong. Padahal, Bram sudah mengetahuinya sejak lama.
“Fel, sini deh! Dia saingan lo, Fel! Dia bisa main gitar sama bazz tahu!,” pinta Riska penuh semangat.
Felly tidak menggubris tentang hal tersebut. Ia tetap memainkan gitarnya. Bahkan, ia tambah serius untuk memainkannya. Tidak mempedulikan apa kata mereka. Bagaimana tidak? Ia sudah tahu siapa musisi itu.
Billy dan Riska pun memberikan kode kepada Bram. Dan, hal tersebut membuat Bram melangkahkan kakinya untuk mendekati Felly. Mengulurkan tangannya.
“Apa?,” tanya Felly denan mendongkakkan kepalanya saat Telapak tangan Bram menutupi partitur musiknya dan menghalangi pengliatannya.
“Ikut gue sebentar!,” jawab Bram dengan senyuman yang ramah dan tatapan mata yang lembut.
“Kemana?”
“Ke suatu tempat yang bakalan lo suka!,” ucap Bram denan penuh semangat.
“Enggak ah, gue masih pengen di sini! Lagian, kerjaan lo belom tuntas, kan?,”
“Emang! Tapi, nggak ada salahnya kan kalau refresing dikit untuk menghilankan penat!”
Felly hanya menatap datar ke arah Bram. Dan, hal tersebut membuat Billy dan Riska beraksi. Billy melepas sabuk yang mengait pundaknya. Begitupun Riska yang menghentikan jarinya untuk memainkan tuts pianonya.

Mereka berjalan ke arah Felly. Mengambil gitar Felly dan menarik tangan Felly untuk menerima tawaran Bram. Terpaksa, Felly mengikuti kemauan teman-temannya. Meskipun, ia mengaum marah seperti singa kelaparan, ia tidak akan bia mengalahkan teman-temannya dikala waktunya mereka mendukung untuk hal kebaikan juga.

“Kita mau kemana, sih?,” tanya Felly tanpa menolh ataupun menatap ke arah Bram.
“Lo bakalan tahu sendiri!, “ jawab Bram dengan menatap Felly tanpa menghilangkan konsentrasinya untuk mengemudi.
“Billy sama Riska nggak ikut?,” tanyanya dengan datar.
“Untuk apa mereka ikut? Mereka punya acara sendiri-sendiri!”
“Oh.”

Roda terus berputar mengitari jalanan kota dengan keramaian kendaraan senja itu. Lamanya perjalanan, mereka hanya diam dalam mobil tanpa ada bicra. Cukup berisi dengan suara musik yang ada di dalam. Hal yang aneh dalam diri Bram. Tidak biasanya dia hanya diam seribu bahasa.

“Bram?,” panggil Felly pelan.
“Hah? Hmmmm???,” jawab Bram terjingkat.
“Lo sakit?”
“Hah? Sakit?”
“Hmmmmm,” jawab Felly dengan menganggukkan kepalanya.
“Enggak, kok Fel. Gue cuma… Ah udahlah, nggak usah di bahas. Oh ya, ntar lagi nyampe! Lo pasti bakalan suka sama tempat itu.”
Felly tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Hingga akhirnya, roda mobil mereka berhenti dan bersiap membawa mobil itu ke parkiran luar dari tempat itu.

“Kenapa lo ngajakin gue ke sini?”
“Kerena, tempat itu adalah tempat favorit lo kan?,” jawab Bram dega menunjuk ke arah dermaga yang mengadap ke arah lautan lepas.
“Dan, di sana adalah tempat lo biasa memainkan gitar lo dengan saksi mentari senja. Seakan, lo bernyanyi untuknya dan mengantarkan senja itu ke dalam tidurnya!,” lanjutnya dengan menunjuk ke arah pohon beringin di samping dermaga.
Felly hanya terdiam mendengar penjelasan Bram. Bagaimana tidak? Itu dalah tempat Felly bersandar. Saat ia menangis, ia selalu berada di situ. Memainkan gitarnya dengan lantunan lirik yang ia ciptakan dengan imaji seseorang yang telah tiada. Ia tidak pernah menangis di hadapan teman-temannya.
Bahkan, ia tidak pernah mengeluh kepada teman-temannya. Ia menanggus beban hidup dan hatinya pada pundaknya. Meskipun, Bram, Billy, dan Riska telah berteman lama dengan Felly. Tidak semudah ia membuka baju saat mereka ingin mengetahui siapa Felly.

Bram pun mengajak Felly untuk berjalan ke arah tempat yang sudah Bram sediakan untuk Felly. Tentunya, dengan bantuan Billy dan Riska. Dan, hal tersebut membutuhkan tenaga yang super kuat untuk mengorek kemauan Felly yang diam dan dingin itu.

“Apa ini, Bram?,” tanya Felly sedikit bingung saat ia melihat meja, kursi dengan lilir temaram dan juga puding coklat serta Ice Cream coklat yang menggoda.
“Mendekatlah!,” pinta Bram dengan mengulurkan tangannya.
Saat Felly menerimanya, Bram menepukkan telapak tangannya dan memperlihatkan kue tart yang telah Bram siapkan bersama yang lain untuk Felly.
“Happy Birth Day Felly!,” ucap Bram lirih dengan senyuman yang melebar.
Felly hanya terdiam dengan tatapan nanar. Mataya terasa panas saat melihat tart itu. Yah… selain ia merasa bahagia akan hari ulang tahunnya yang ia lupakan, ia juga bisa mengingat akan kenangan itu. Sebuah kenangan yang telah membuat dirinya lupa siapa jati dirinya dulu dan merubahnya dengan fakta biologis yang berdasarkan filologis.
Setelah Bram mengucapkan kata itu, terdengar suara lain mengucapkan kata yang sama seperti Bram.
“Riska! Billy!,” panggil Felly sedikit tersentak akan kebohongan Bram selama di perjalanan tadi.
“Yah… Maaf karena udah bohongin, lo! Tapi, untungnya lo nggak marah ke kita.”
Felly hanya tersenyum memandang mereka.
“Makasih atas semua ini guys! Gue nggak tahu harus membalasnya dengan apa?! Gue hanya bia menyakiti kalian dengan siksaan gue saat kita bermain musik.”
“Felly, nih kado buat lo!,” ucap Bram dengan mengulurkan kadonya kepada Felly.
“Buka sekarang, Fel!,” pinta Billy.
Felly pun menurutinya. Dan… ia menemukan sebuah cincin yang begit indah dengan ukiran elegan di sekitarnya. Di tengahnya, terdapat permata kecil yang berkilauan.
“Bram?,” tanya Felly menebak.
“Yah… gue mencintai lo! Gue ingin mengisi hati lo yang kosong itu, Fel! Gue ingin mengukir senyum di sudut bibir lo! Gue ingin jadi orang yang lebih berati untuk lo melebihi sahabat ataupun rekan kerja. Dan…,” katanya terputus saat Felly sengaja memutusnya.
“Gue nggak bisa menjadi apa yang lo harapkan! Dan, hati gue sengaja gue kosongkan! Lo ada hak untuk mencinta gue, tapi tidak untuk menempatinya! Maaf karena gue telah menyakiti lo dan kalian!,” ucap Felly dengan meletakkan kotak cincin itu di meja yang ada di sampingnya.
“Lo nggak hanya menyakiti kita dan Bram. Tapi, lo juga menyakiti diri lo Fel dengan menyembunyikan rahasia yang selama ini ingin kita ketahui.”
Felly tersentak saat mendengar jawaban Billy yang begitu memiliki arti.
“Siapa Arkana Aditya itu?,” tanya Bram serius.
“Dan, kenapa lo selalu menyembunyikan nama itu dari kita semua? Apakah lo merasa jadi Tuhan untuk memikl beban segitu besarnya sendirian?,” hina Riska.
“Darimana kalian..,” ucap Felly terputus.
“Arka adalah sahabat kecil gue, Felly! Gue tahu kalau dia pernah berhubungan dengan lo 5 tahun silam saat gue menemukan foto lo di ruangan rahasianya. Saat gue ingin tahu bazz barunya yangia sembunyikan. Lo juga punya gitar model sama kayak dia kan? Apakah Falk milik lo itu, adalah renkarnasi cinta lo dengan Arka yang selama ini lo tunda? Suara bazz milik Arka, sama dengan Falk yang lo miliki!”
“Falk gitar milik Felly memiliki suara yag sama dengan Falk bazz milik Arka. Berarti, lo merancang suara yang idak dimiliki band lain ataupun musisi lain bersama dengan Arka? Bukankah, Arka adalah kapten basket di sekolahnya?,” tanya Billy saat mengetahui rahasia yang tidak ia ketahui.
“Dia menyembunyikan bakatnya dari gue! Da kalian tahu, nama musisi Arka. W adalah samaran nama Arka. W itu adalah nama belakang Felly. Wiraatmaja. Dia memiliki nama tenar yang sama dengan kita! Dia melakukan itu karena ia ingin mengenang Felly dibalik munafiknya cinta mereka.”
“Kalau begitu jadinya, kenapa lo nggak mau membuka hati lo untuk orang yang lebih mencintai lo dibandingkan dengan Arka, yang telah meninggalkan lo dengan kemunafikan cintanya?,”
“Karena, cinta itu suci. Dan, gue nggak mau mengotori cinta itu.”
“Maksudnya?,” tanya Bram, Billy dan Riska bersamaan.
“Dengan terpaksa, kalian harus tahu. Gue bukan gadis yang baik. Gue nggak segan-segan mengenyahkan orang yang mencintai gue. Contohnya, Arka. Memang, tidak ada darah yang keluar saat perpisahan kita. Tapi, gue meodai cinta kita dengan mempermainkannya bersama laki-laki lain. Bahkan, gue brulang kali kencan bersama yang lain. Gue nggak pernah peduli dengan perasaan Arka meski dia tahu gue kencan ataupun selingkuh. Gue menghancurkan dia dengan mengenaskan hatinya secara perlahan-lahan. Hingga akhirnya, hatinya mati untuk cinta yang tumbuh di dalamnya. Dan, dia meninggalkan gue. Disalah gue gila karena dia. Tanpa kalian sadari, jati diri gue ada di setiap lirik yang kalian pelajari setiap harinya. Jika kalian mau menelitinya, kalian tidak perlu mencarinya dari luar.”
“Jadi ini alasan lo menolak gue? Dan, hati lo terkunci bukan karena Arka? Justru, lo sendiri yang menguncinya?”
Felly menggeleng pelan.
“Karena keduanya. Bram, gue menyayangi lo. Bahkan, gue mencintai lo! Cinta gue ke lo nggak seputih cinta gue ke Arka. Tapi, sehijau dau pohon beringin itu yang siap menyejukkan hati gue yang terasa panas karena beban hidup gue. Serta, sebiru laut itu yang selalu mendamaikan pikiran dan hati gue saat gue memandang cerewetnya mulut lo!,” ucap Felly dengan senyuman.
“Lagi pula, lo menyatakan cinta itu ke arah yang salah Bram. Lo hanya menyamarkan kasihan lo kepada gue dengan pernyataan cinta! Dan, itu adalah hal yang paling gue benci. Karena, dengan cinta berdasar kasihan, lo tidak akan segan-segan untuk mempermainkannya. Dan, lo akan menyesal setelah hati nurani lo menuntut kesalahan yang ingin lo tebus. Tapi, keburu cinta itu pergi. Dan, itulah kisah singkat gue dengan Arka selama ini. Gue harap, lo dan kalian mengerti!,” lanjut Felly menjelaskan.

Cinta. Begitu indah saat kita membayangkan. Begitu manis, saat kita merasakan. Bahkan, kita bisa menggambarkan cinta dengan berbagai warna. Begitu juga dengan alunan musik dan melodi. Banyak definisi cinta dalam setiap individu. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita ketahui tentang cinta.Yaitu, sebuah kesungguhan. Saat kita dicintai, hilangkanlah rasa angkuh dalam diri kita. Karena, hal tersebut akan membuat kita segan dalam menghancurkannya. Begitu juga saat kita mencintai. Jagalah sekuat tenaga untuk menjaga cinta itu. Sebelum, kita akan gila karena kehilangan cinta yang tulus kesungguhan meski berdasarkan belas kasihan dengan berbalas kasihan.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjemput Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Let Be Self Alone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekecil Cerita Cinta

Oleh:
“Hei apakah kau menyukaiku, Veli?” “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” “Umh, hanya memastikan. Dan apa itu benar?” “Sebentar, boleh kutahu kenapa dirimu tiba-tiba bertanya hal seperti itu padaku,

Antara Tugas dan Cinta Polri

Oleh:
Inilah sebuah kisah cinta dari salah seorang anggota POLRI, sebuah kisah cinta dimana harus ia bagi dengan tugasnya dalam mengabdi dalam negeri. Sebut dia Gufron, Muhammad Gufron Firdaus yang

Kepincut Hati Sang Gitaris

Oleh:
The Rhioz adalah band pensi yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang pemuda ganteng

Hingga Akhir Hidupku

Oleh:
Merindukanmu bukan ingin mengulang waktu adalah kalimat yang pantas di tulis di memori otak saya sekarang. Walau terkadang kalimat tersebut bisa menjadi racun pikiran karena nama dia selalu ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *