Let Me See Your Smile (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2017

Jam istirahat tiba. Kayla melangkahkan kakinnya sendirian menuju perpustakaan. Tadi sih dia udah ngajak Faris. Tapi si Faris ada latihan karate buat kompetisi minggu depan. Hari ini dia akan mencari buku buat referensi makalah kimianya. Kan masih mending daripada mesti beli buku di toko buku. Nambah ribet kan. Sesampainya di perpus, dia langsung masuk. Tak lupa juga dia menyapa ibu penjaga perpus.

“Assalamualaikum, Bu.” Sapanya pada seorang ibu guru yang sedang duduk sambil membaca sebuah majalah.
“Waalaikumsalam, Eh Kayla. Mau minjam novel ya?” Tanya Mrs. Ririn, sang penjaga perpus. Kayla emang selalu ke perpus buat minjem novel pastinya. Daripada beli novel di bookstore mending minjam di perpus. Gratis.
“Kali ini gak kok, Bu. Aku mau nyari referensi buat makalah kimiaku.” Ujar Kayla disambut anggukan dari Mrs. Ririn. Kayla pun segera menuju rak yang dipenuhi buku kimia yang bejibun banget. Saat dia sedang melihat-lihat buku-buku kimia, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dikenalinya sedang berdiri di sudut perpus sambil menunduk dan memegangi dadanya. Itu Raka. Dia pun segera menghampiri Raka. sejenak dia melupakan pengkhiatannya.
Dari dekat dia bisa melihat kondisi Raka yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Raka gemetaran sambil memegangi dadanya. Badannya di penuhi keringat. Ada apa dengannya?

“Raka, lo gak apa-apa? Lo sakit ya? Gue anterin ke UKS ya..” Ujar Kayla khawatir.
“Gak perlu.. Gu..e gak butuh bantuan lo.” Tukas Raka dingin. Raka melangkah ke kursi baca yang ada di dekatnya dan duduk.
“Tapi lo kayaknya demam. Lo sampe gemetaran gitu.” Kata Kayla lagi. Ni anak bawel banget sih.
“Lo gak usah peduliin gue. Gak usah sok care. Gue benci liat lo.” Ujar Raka pedas. Sakit, itulah yang kini dirasakan Kayla. Saat ini dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Masa iya dia harus nangis di perpus. Gak elit banget.

“Raka!!” Tiba-tiba Bianca muncul dan menghampiri Raka. dan Raka pun tersenyum melihatnya.
“Raka kamu sakit ya. Aku khawatir banget tahu gak pas ngebaca line kamu.” Ujar Bianca. Nadanya sangat terdengar khawatir.

Kayla seperti tak dipedulikan di sini. Perlahan Kayla pun memundurkan langkahnya. Meninggalkan mereka. Sejujurnya Kayla gak mau jadi obat nyamuk. Dia pun berbalik, meninggalkan perpustakaan. Dalam pikirannya masih terbayang perkataan Raka. ‘Lo udah berubah, Raka. Lo bukan Raka yang gue kenal. Lo jahat, gak berperasan. Dasar playboy cap tikus got.’ Batin Kayla kesal. Namun, satu hal yang Kayla tak mengerti dari dirinya sendiri adalah sekesal-kesalnya dia pada Raka dia gak bisa sepenuhnya ngebenci Raka. Tanpa Kayla ketahui, dari kejauhan sepasang mata memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Siang yang panas. Kayla berjalan sendirian menuju rumahnya. Capek banget. Apalagi hari ini dia terpaksa harus pulang sekolah terlambat karena bersemedi di perpus ngerjain makalahnya. Sesampainya di rumah, Kayla langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Diliriknya jam dindingnya yang menunjukkan pukul 14.30. ‘Berarti masih ada banyak waktu nih buat tidur sebelum si Paris ngejemput gue.’ Batinnya sambil memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Namun, sepertinya masa-masa tenang Kayla tidak bertahan lama karena tiba-tiba suara adiknya menggelegar di kamarnya.

“Kak Kayla!!” Teriakan kencang dari Aya membuat Kayla harus menutup telinganya dengan bantal. ‘Sumpah, ni anak bikin kesal aja. Gue baru aja pulang sekolah dan baru tidur 15 menit, udah dibangunin.’ Teriak Kayla dalam hati.
“Kak Kayla bangun, Woii!” Aya dari tadi tak patah semangat untuk membangunkan Kayla dari tidurnya.
“Apaan sih, Aya. Gue baru aja tidur 15 menit udah lo bangunin. Ganggu lo!” Gumam Kayla malas.
“Yaelah Kak, kalau teman kakak gak datang gue gak bakalan bangunin kakak tahu gak.” Seru Aya. Teman? Siapa sih? Faris? Astaga, Ni anak ngejemput seenak jidatnya aja. Janjian kan jam 4 kok dia datengnya jam 14.50 sih. Kayla langsung bangkit dari tidurnya dan turun ke bawah, menuju ruang tamu untuk menemui Faris. Sesampainya di sana dilihatnya Faris yang sedang tersenyum pepsodent, pamer gigi.
“Hai, Kayla.” Sapa Faris ramah. Kayla menatap wajahnya malas. Ni anak datangnya awal banget, ganggu tidur orang aja.
“Lo punya jam gak sih di rumah? Ini baru jam 2 lewat, Ris. 14. 50. Lo ganggu tidur gue tahu gak.” Omel Kayla. Sedang Faris hanya masang wajah watadosnya (wajah tanpa dosa).
“Hehe, sorry.. sorry. Gue mesti antar adek gue ke kursusnya ntar sore. So, gue pikir kita mesti ke kedai ice creamnya sekarang aja.” Jelas Faris. Kayla berdecak kesal.
“Besok aja, Ris, kita ke kedainya. Gue capek banget ni, mana gue gak ada uang lagi. Besok aja ya Ris.” Ujar Kayla.
“Kalau besok kita gak dapet bonusnya, Kayla yang pinter. Hari ini pembukaannya, so mereka bakal ngasih bonus ke pelanggan. Please, Kay. Lo tadi kan udah janji. Ntar gue traktir dah 2 ice cream choco cone.” Kata Faris ngejelaskan. Mendengar perkataan Faris, Kayla langsung sumringah.
“Oke dah, gue otw mandi dulu ya.” Ujar Kayla sambil ngacir ke kamarnya. ‘Tumben bener si Paris nraktir gue. Ini mah dinamakan rezeki anak sholeh.’ Batin Kayla.

Kayla dan Faris memasuki kedai ice cream. Saat ini kedai lagi rame banget sama pengunjung. Maklum, lagi promo jadi mereka ngasih banyak bonus gitu ke pelanggan. Faris menyeret Kayla ke meja nomor 4 yang mungkin satu-satunya meja yang kosong di kedai ini. Kayla pun duduk di sana sambil mengamati Faris yang sedang menuliskan pesanan mereka. Huft, bosan mengamati tampang Faris, Kayla mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kedai. Ramai banget di sini. Tanpa sengaja, Kayla menangkap sosok dua orang yang sangat dikenalinya, Raka dan Bianca yang sedang duduk berseberangan dengan mereka. Mana mereka lagi ngobrol dan ketawa bareng lagi. So sweet banget sih. Kayla yang ngeliatnya Cuma bisa ngademin hatinya yang lagi terbakar.

‘Kenapa sih gue mesti ketemu lagi ama tu pasangan pengkhianat. Huft, andai tadi gue kagak ngeiyain ajakannya si Paris ngeselin ini gue pasti gak bertemu dengan mereka.’Batinnya sambil menundukkan pandangannya.
“Kayla, lo kenapa sih ngelamun. Choco cone lo udah ada tuh.” Ujar Faris sambil melahap ice cream miliknya.
“Udah tahu kali.. Oh ya, gue ke toilet dulu ya.” Ujar Kayla sambil ngacir ke toilet. Sesampainya di sana, dia berdiri di depan kaca wastafel. Sebenarnya sih, kalau jujur dari hati yang paling terdalam, Kayla gak ada niat buat ke toilet, itu hanya alasannya saja buat ngademin hatinya yang lagi mendidih melihat dua orang di seberangnya tadi.
“Kalau tahu kejadiannya bakal gini, gue bakalan nolak ajakannya Paris nyebelin itu.” Gumam Kayla kayak orang gila di toilet. Untung lagi sepi, kalau gak dia bakalan dikira orang gila beneran yang lagi ngomong sendiri. Entah kenapa saat ini dia pengen nangis, mengingat betapa serasinya Raka dan Bianca tadi. Dia pun mencuci mukanya, mencoba membuang segala pikirannya tentang dua orang yang menyakiti hatinya itu.

Tiba-tiba tanpa disadarinya, seseorang muncul dan berdiri di samping Kayla dan ikut mencuci mukanya.
“Hai, friend.” Sapa tu orang pada Kayla. Setengah kaget, Kayla pun menoleh ke arah orang itu. Tampak Bianca yang sedang memandanginya sambil memasang tampang sinis.
“Lo nganggep gue sobat? Gue pikir gue gak pernah tuh punya sobat yang nikung sahabatnya sendiri.” Balas Kayla tak kalah sinisnya. Kayaknya debat akan segera dimulai nih.
“Siape juga yang nganggep lo sobat. Gue hanya nyapa mantan teman gue yang gagal move on sama cowok gue.” Tukas Bianca sambil ngadep ke cermin wastafel.
“Ape lo bilang? Gagal move on? Haha.. Buat apa coba gue gagal move on sama cowok playboy gak berperasaan kayak cowok lo. Dan mungkin lo sama aja gak berperasaan. Pengkhianat cap kodok kali, lo berdua.” Mendengar perkataan Kayla, Bianca langsung menghadap ke arahnya dengan pandangan mata tajam.
“Eh, gue bilangin ya ama lo. Jangan pernah lo ngejelekin Raka di depan gue. Lo tahu, kenapa dia milih gue bukannya lo? Karena dia tahu lo itu menyedihkan, cupu, cerewet dan gak tenar.” Ujar Bianca pedas. Kayla langsung berjalan melewatinya sambil memegangi bahu kanannya.
“Menyedihkan? Cupu? Gue bilangin ya, meskipun lo itu popular lo belum tentu lebih baik dari gue. Gue tahu semua kelakuan lo, Bian. Karena kita pernah bersahabat. Ingat itu.” Balas Kayla langsung berjalan keluar toilet meninggalkan Bianca yang sedang mematung, mencerna perkataan Kayla. Dia menghadap wajahnya ke cermin wastafel. Dengan pandangan kosong dia menatap bayangannya yang terpantul di cermin itu.
‘Apa yang udah lo lakukan, Bian’ Batinnya merutuk dirinya sendiri.

Kayla bersegera menuju Faris usai perang adu mulutnya dengan Bianca di toilet tadi. Dijumpainya Faris yang tengah menikmati ice creamnya santai. Dengan perasaan dongkol setengah mati dia menduduki kursinya. Sedetik kemudian dia meraih ice creamnya yang hampir mencair dan memakannya dengan kasar. Ngebuat Faris memandanginya heran.
“Lo kenapa sih? Tampang lo kusut banget.” Tanya Faris. Kayla memandanginya sebentar.
“Gwenchana.” Katanya lalu sibuk dengan icecreamnya. (Gwenchana: Gue baik-baik aja)
“Aelah, sok Korea lo.” Tukas Faris.
“Biarin.” Ujar Kayla singkat. Faris tak membalas ucapan Kayla lagi. Dia hanya bergelut dengan pikirannya sendiri.

Sore menjelang, sepasang makhluk ciptaan Allah keluar dari sebuah kedai icecream. Mereka melangkah perlahan seolah menikmati semilir angin sore. Diantara mereka tak ada percakapan. Mereka hanya berjalan dalam diam. Mungkin sedang berperang dengan logika mereka sendiri.
“Bian, tadi lo berantem ama Kayla di toilet kan?” Tanya Raka pada Bianca. Bianca langsung memelototi Raka.
“Lo nguntit ya?” Tukas Bianca selidik
PLETAKK… Raka langsung menjitak Bianca.
“ADAWWW.. Sakit tau, Raka. itu tangan apa palu sih. Sakit benget.”
“Makanya gak usah nuduh orang sembarangan.” Ujar Raka stay cool sambil melangkah mendahului Bianca yang sedang mengelus-elus kepalanya hasil jitakan Raka.
“Trus dari mana lo tau kalau gue ama Kayla berantem tadi?” Tanya Bianca mensejajari langkah Raka.
“Tadi gue perhatiin tampang Kayla waktu dia habis dari toilet. Kayak kesel banget. Gak-“
“Ecieee.. Lo curi curi pandang ni yee.” Potong Bianca, Raka langsung menatap tajam Bianca. ‘Ni anak hobi banget ya motong pembicaraan orang.’ Batin Raka. mengerti situasi, Bianca langsung membungkam mulutnya. “Maafin ane, Mr. Raka. Lanjutin dah omongan lo.”
“Gak ada senyuman diwajahnya. Dan itu terjadi sesaat setelah lo ke toilet. Gue.. gue gak tega ngeliat dia kayak gitu” Lirihnya. Bianca langsung tertunduk. Dia seolah memahami apa yang sedang dirasakan Raka.
“Raka.. Boleh gue Tanya sesuatu?” Tanya Bianca. Raka menoleh kearahnya. ‘Somplak bener ni anak. Biasanya dia langsung nyerocos tanpa Tanya dulu. kok sekarang malah kebalik.’ Batin Raka.
“Tanya aja.”
“Sampai kapan lo harus pura-pura kayak gini. Gue tahu lo pasti punya alasan tersendiri buat ngelakuin ini. Tapi asal lo tahu, bukan hanya lo yang terluka, Kayla juga.” Tukas Bianca. Raka langsung menghembuskan napas kasar. Dia seolah tak terkejut dengan pertanyaan Bianca.
“Gue ngelakuin ini buat kebaikan dia juga, tahu..” Ujar Raka dingin sambil melangkah gontai di bawah langit sore. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang perkataan Bianca: Bukan hanya lo yang terluka tapi Kayla juga.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Dian Safitri
Facebook: Dhian Safitri
Annyeonghaseo..
Salam kenal. My name is Dian Safitri. And now, gue udah kelas XII bentar lagi mau UN. Lahir 15 Mei 2000. Gomawo.

Cerpen Let Me See Your Smile (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terpendamnya Cinta

Oleh:
Kisah ini berawal dari bangku SMA teman spesial ku yang ku temui di Yogyakarta, namanya Anton. Masa SMA Anton sangat berkesan untuknya, dia bisa dibilang anak berandal tapi baik

Janji Dua Puluh Desember

Oleh:
“Pagi, Dina. Udah siap belum?” sapa seseorang di luar sana. Dina sudah sangat kenal suara itu. Siapa lagi yang selalu melontarkan pertanyaan yang sama setiap paginya kalau bukan Reza,

Sebatas Patok Tenda

Oleh:
“Dengarkanlah suara hati ini Suara hati yang ingin kudendangkan Tak mampu untuk kusampaikan Kan kuungkapkan lewat laguku” Lagu itu perlahan mengalun di music player-ku. Aku menghentikan aktivitas minum kopiku

Lelaki Cengeng Ku

Oleh:
“Suasana kota tengah malam memang paling sempurna. Langit gelap dengan awan hitamnya. Remang-remang cahaya terpancar dari lampu jalanan kota. Merdunya suara kendaraan berlalu lalang. Beberapa orang terlihat mondar-mandir dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *