Librarialova (Cinta dan Perpustakaan) Part 2

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 June 2013

Gina berlari dan terus berlari, menahan rasa sakit di dada… Tangisnya gak kunjung reda. Rasanya, dia ingin menupahkan semua air matanya ke tanah. Loly masih terus dibelakangnya mengikutinya. Loly juga ikut sedih melihat sahabatnya. Buktinya, Loly terus mengejar sahabat karibnya itu sampai ia mendapatkannya.
Ginapun mulai lelah, dan berhenti di tempat duduk di bawah pohon. Dia masih tetap menangis dan mengusap pelupuk matanya dengan perasaan gak percaya. Loly berdiri kaku di depannya, seakan merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya.
“Gue ngerti apa yang lo rasain, Gin. Gue ngerti…”, Katanya sambil menepuk punggung Gina. Matanya berkaca-kaca menahan sedih melihat sahabatnya.
“Huu.. Iya, Ly Gue bener-bener gak percaya Kak Fabian udah punya cewek. Rasanya tuh, dada gue sesak. Sakiiitt… Sakiitt..”, Gina sesenggukan sambil mengusap kedua pelupuk matanya dengan kedua tangannya. Hatinya gak rela menerima kenyataan kalo Fabian udah punya cewek. Padahal, belum sampai 1 bulan dia menyukai cowok manis itu…
“Iya, iya. Gue juga pernah ngerasain itu, Gin. Waktu SMP dulu, gue punya TTM. Waktu itu kami deket banget. Tapi suatu hari, dia bilang kalo dia punya cewek. Hati gue juga bener-bener sakit waktu itu. Gue nangis seharian gara-gara itu…”, Loly tersenyum mengenang masa lalunya dengan orang yang disukainya. Dia tahu betul perasaan Gina yang lagi “hancur” dan patah hati. Dia tahu rasanya.
“Ahh.. Beneran?. Terus gimana?.”, Air mata Gina yang tadinya mengalir deras, sekarang mulai mereda. Walaupun suara dan napasnya masih sesenggukan serta matanya masih merah, dia tetap ingin tahu masa lalu sahabatnya. Penasaran.
“Hehe.. karena tahu dia punya cewek, gue coba menjauhinya, gak gue pikir kalo gue deket sama dia terus, dia akan merasa terganggu. Makanya, gue gak pernah SMS dia lagi semenjak itu. Gue kesel banget sama dia waktu itu. Rasanya setiap ingat dia, mau ninju sesuatu. Ehh.. tapi berbulan-bulan setelah itu SMS-nya malah muncul lagi. Awalnya, kesel, sih, tapi lama kelamaan setelah deket lagi sama dia, sakit hati gue hilang. Menghilang dengan sendirinya. Akhirnya, kami ngelanjutin PDKT lagi, deh. Walaupun sekarang kami jadi jauh…”, kata Lolly sambil tersenyum polos membuat Gina jadi terharu. Gak nyangka, sahabatnya punya kisah yang seseru ini. Gina jadi sadar kalau sebenernya Loly itu orang yang kuat, walaupun LEBAY.
“Kalo gitu, berarti nasib kita sama, Ly!!!”, kata Gina sambil memeluk erat Loly. Air matanya perlahan mengalir lagi, mebasahi pundak Loly. Suara tangisannya terdengar makin keras.
“I..iya..”, Loly juga ikut menangis mendengar tangisan Gina. Dia membalas Gina dengan pelukkan yang lebih erat lagi. Mereka sama-sama berjanji di dalam hati, buat saling membantu satu sama lain. Mereka juga berjanji bakalan menggapai cinta pertama mereka suatu saat nanti. Mereka janji supaya tetap bertahan…

Perlahan, Gina masuk kedalam kelasnya. Dia menyeret kakinya dengan menundukkan kepala, gak seperti biasanya. Dia bukan Gina yang kemarin, yang selalu semangat dan tersenyum. Dia bukan lagi Gina yang biasanya…
“Eh, Gin. Mata lo masih bengkak aja. Lo lanjutin lagi nangisnya?”, Kata Loly heran sekaligus prihatin pada Gina. Sejak kemarin, Gina jadi berubah. Dia gak terlihat berbunga-bunga lagi. Dia terlihat kayak bukan Gina..
“Iya. Hati gue beneran terpukul. BANGET.”, Gina menjawab dengan nada lesu. Hatinya jadi sakit lagi kalo inget kejadian kemarin. Bener-bener kejadian yang SUPER menyesakkan dan bikin Gina gak bisa tidur lelap semalaman. Gina bener-bener gak rela melihat Fabian udah punya cewek.
“Iya, Gin. Gue ngerti kok perasaan lo. Gue tau Gin…”, Loly menepuk pundak Gina. Eittss.. tunggu, tadi itu Loly atau bukan, sih?. Sumpah, Loly jadi beda banget. dia jadi terlihat serius dan dewasa banget. Mungkin gara-gara Gina lagi sedih. Iya, siapa sih, sahabat yang tega tertawa di atas kesedihan sahabatnya.
“Makasih ya, Ly. Tumben lo baik bener!”, Gina bilang makasih sekaligus nyegir ke Loly dengan nada yang agak mengejek. Suasana seakan kembali ceria, semua kesedihan seakan menghilang.
“Ih, Gina. Lo itu lagi sedih masih bisa aja bercanda!. Hahaha…”, Loly tertawa sambil menyenggol pundak Gina. Rasanya bahagia sekaligus lega melihat sahabatnya bisa tersenyum lagi, melupakan kepedihan hatinya sejenak.

Bel pulang berbunyi, Gina memutuskan buat mengajak Loly ke perpustakaan. Walaupun agak kalo ingat pertama kalinya Gina suka sama Fabian, Gina tetap mengajak Loly ke perpustakaan dengan nada yang memaksa.
“Ehhh… tapi bukannya di perpustakaan ada Kak Fabian?.”, Loly nanya dengan nada heran dan kaget setelah di paksa Gina buat ke perpustakaan. Dalam hati dia bertanya, kalau Gina sakit hati, kenapa dia mengajaknya ke perpustakaan.
“Iya, gue tahu. Gue pengen tau aja kalo gue kuat ngadepin dia sama cewek itu atau gak…” Kata Gina, dengan nada agak jengkel. Mukanya semerawut kesal. Mulutnya manyun, menggambarkan dia sedang berapi-api.
“Ya udah, deh. Jangan nangis lagi, ya. Kalo lo nangis gue yang repot, coy!.”, Loly khawatir, takut hatinya Gina gak kuat nantinya. Tapi apa salahnya, sih, mencoba dulu…

Rupanya, bener dugaan Gina, ada Fabian. Tapi tanpa cewek yang kemarin. Fabian kelihatan aneh. Dari tadi, dia hanya diam di saat teman-temannya lagi asyik ngobrol. Gina dan Lolypun mencoba masuk ke perpustakaan. Tampang Loly dan Fabian sama. Sama-sama lesu… sama-sama gak peduli satu sama lain. Mereka saling cuek. Gak ada “tegur-menegur” seperti hari kemarin. Semua keakraban, hilang. Waktu seakan di putar, kembali di saat mereka belum saling kenal.
Gina mengisi buku tamu perpustakaan sendiri tanpa di bantu Fabian, cowok yang selalu membantunya di perpustakaan. Sementara Fabian, dia hanya sibuk dengan handphonenya yang sesekali mengeluarkan nada tanda SMS masuk. Suasana berubah jadi canggung. Loly yang melihatnya jadi bingung sendiri. Dia terus memandangi Gina dan Fabian dengan wajah yang benar-benar heran.
“Ssstt.. Kok Kak Fabian jadi cuek banget gitu, ya?. Sejak kemarin, dia jadi aneh, ya?.”, Bibir Loly mendekat di telinga Gina sambil memandangi Fabian yang duduk membelakangi mereka berdua. Kira-kira, 4m jaraknya.
“Hhh.. Gak tau, ah.. Itu kan urusannya. Mau dia serius atau gak, terserah dia!”, Gina bicara dengan suara yang agak keras. Sengaja, karena dia mau memastikan Fabian suka sama dia atau gak. Sebenernya, sih, Fabian sendiri mendengar apa yang Gina ucapkan tadi. Dia senyum-senyum sendiri mengepal tangannya yang diletakkan di atas bibirnya menahan tawa. Mukanya merah, tanda kalau dia tahu dialah orang yang di sindir Gina.
Lalu, Gina dan Loly melanjutkan membaca buku dengan serius tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tiba-tiba Gina jadi benci sama Fabian sejak kemarin, rasanya ingin marah besar, teriak… dan meninju Fabian, persis seperti yang dirasakan Loly waktu dia tahu orang yang dia suka punya cewek. Nasib mereka sungguh benar-benar SAMA dan SERUPA, ya…

Loly dan Gina pulang bersama lagi. Dengan wajah yang agak aneh, keduanya memandangi pemandangan yang menyesakkan seperti kemarin. Lagi-lagi mereka melihat Fabian yang lagi mesra-mesranya sama cewek yang kemarin. Mereka berdua tampak sedang asyik bercanda. Lagi-lagi, hal itu membuat Gina jengkel bahkan marah. Dia terlihat mencoba memalingkan wajahnya saat lewat di depan mereka berdua. Sementara Loly, responsnya lebih aneh lagi dia hanya bisa bengong dan melongo, gak mampu berkata-kata.
“Gue cemburu Ly, liat Kak Fabian sama cewek itu. Mereka mesra banget, ya…”, Kata Gina lesu, mukanya lemas gak berdaya. Nasibnya sungguh malang, deh. Dia terlihat kasihan banget. Padahal, dia lagi mencoba buat melupakan rasa sukanya sama Fabian, tapi begitu tadi melihat Fabian mesra banget sama cewek itu, dia gak bisa pungkiri kalo dia masih suka sama cowok manis dengan senyuman polos itu.
“Iya, Gin. Gue ngerti, lah. Hehe. SABAR, Gin. Mungkin emang belum waktunya… “Tanemin” dalem hati lo, Gin, kalo lo itu bakalan terus ngejar dia walaupun sakit. Di jamin, deh, lo bakalan kuat ngadepin mereka, Gin. Sabar aja… Kalo gak jodoh, mereka bakalan putus juga kok, nantinya. Walaupun gak sekarang. Tenang aja, laaaahhh…”, Loly menepuk pundak Gina sambil menasihatinya. Akhir-akhir ini Loly jadi sering ngasih nasihat ke Gina, deh.. Cocok banget, nih, jadi penasihat pribadinya Gina!.
“Thanks a lot, Ly… O.K, deh, gue bakalan coba saran lo. Dan gue, akan terus bertahan disini, buat ngedapetin Kak Fabian, walaupun harus menunggu seribu tahun lamanya!.”, Gina mengepal tangannya. Semangatnya berkobar-kobar dalam hati, mirip sama kayak semangatnya pejuang terdahulu untuk berusaha memberantas para koloni. Gina benar-benar serius, serius buat nunggu Fabian walau kayak apapun lamanya. Dia akan coba buat sabar, dan terus bersabar…
“Haha.. Iya, iya.. Keep spirit, Gin!. Semangat!.”, Loly juga ikut-ikutan semangat melihat Gina yang lagi “ber-SEMANGAT 45” tadi. Keduanya mengangkat tangan tinggi-tinggi dan tersenyum lebar. Lalu keduanya tertawa bersama.

Alarm Gina berbunyi. Jam menunjukkan sudah jam delapan pagi. Gina langsung terbangun dari tidurnya yang lelap dengan malas-malasan. Matanya masih agak terpejam. Lalu langsung menyambar handphone-nya. Ternyata, ada SMS dari Loly, Loly mengajaknya buat jalan-jalan ke taman kota, jogging. Seketika, Gina langsung membalas SMS Loly dengan setuju. Gina langsung melesat ke kamar mandi dengan cepat kayak roket.
“Tumben lo mandinya cepet. Mau kemana?.”, Tanggap Vian setelah melihat adik kembarnya buru-buru ke kamar mandi. Tumben-tumbenan Gina mandinya cepet banget, katanya dalam hati.
Seketika Gina langsung memutar bola matanya dan berkata, “Bukan urusan lo!” di tambah dengan “lewe’an” yang super mengejek. Lalu langsung masuk ke kamar mandi.
Tiba-tiba, Dug!, kepala Gina terpentok di tembok gara-gara buru-buru dan saking semangatnya. Auuuwww, Gina langsung teriak keras sambil memegangi kepalnya. Dia meringis kesakitan.
“Nah lo, kualat, kan!. Makanya, jangan pelit lo jadi manusia!. Hahahaha….” Vian gak kuat menahan ketawanya setelah mendengar Gina yang kepentok tembok.
“Semprul, lu Vi!!!”, Gina menyahut dari dalam kamar mandi kesal. Lalu segera melanjutkan mandinya.

10 menit kemudian…
Gina udah rapih. Dia lagi sibuk menyisir rambutnya di depan kaca. Gak lupa menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Kali ini Gina terlihat manis dengan kaos pink yang bertuliskan “Girl are weird” dan celana ungu muda selututnya. Dia langsung menyambar handphone yang yang terletak di kasur dan memasukkannya di dalam tas slempang kecilnya.
“Gin, Mama bilang sarapan dulu, tuh!”, Kata Vian mengajakk Gina sarapan pagi. Gina langsung ke ruang makan. Kebetulan, perutnya laper banget.
Gina pun langsung menyambar piring dan makanan yang tersedia di depannya. Mama yang melihat Gina sudah rapih pagi-pagi, keheranan. Ini bener-bener hal yang LANGKA bagi Mama. Karena Mama tahu, Gina paling males buat bangun pagi di hari Minggu.
“Tumben anak Mama yang satu ini bangun pagi di hari Minggu,” Mama menyindir Gina sambil merapikan piring. Vian yang duduk di sebelah Gina, menatap Gina usil.
“Iya, Ma. Gina mau janjian pergi sama Loly. Mau jogging di taman kota. Gina gak pulang sore-sore kok, Ma,” Jelas Gina panjang lebar.
“Eh, Gue ikut dong. Gue kan udah lama gak ketemu ama Loly. Lu jarang ngajak dia kesini, sih..” Sekali lagi, ini merupakan kejadian LANGKA. Vian mau ikut pergi sama Gina dan Loly. Siapa tahu ada kejadian menarik!, batinnya.
“Iya. Tapi awas lu ya, bikin kacau.”, Gina mengancam dengan gaya super sinis. Matanya melotot, menatap lurus-lurus cewek tomboy yang ada di sampingnya. Seakan pengen ngasih hukuman mati.
“Ih, jangan melotot kayak gitu napa!. Serem tau!. Iya deh, gue gak bikin onar!.” Vian langsung merinding melihat ekspresi Gina yang gitu banget. Jelas, gara-gara ketakutan, dia langsung menuruti Gina sambil membentuk huruf “V” dengan jari tengah dan telunjuknya.
“Eh iya, lo udah mandi belom, sih?.” Tanya Gina iseng. Sebenernya bukan iseng, dia cuma pengen tahu. Dia takut nanti Loly kelamaan nungguin dia cuma gara-gara Vian.
“Udah, dong, emang elo, kalo hari Minggun mandinya siang mulu!.” Vian langsung mengejek Gina dengan ekspresi tanpa dosanya. Gina cemberut sambil mencibir.
“Udah… cepetan sarapannya…” Mama menasihati kedua anak kembarnya. Seketika, kedua anak kembar itupun segera melahap makanannya secepat kilat.

Kedua anak kembar itu sudah sampai di taman kota. Mata kedua anak itu sibuk jelalatan mencari Loly yang berada entah dimana. Gak nampak tanda kalo Loly ada disana. Yang terlihat cuma seorang anak perempuan yang lagi merana di depan sana…
“Duh, dia mana, sih..”, Gina geregetan gara-gara Loly gak ketemu juga.
“Emang dia bilang mo nungguin di mana, sih?.”, Vian juga ikutan kesel. Mukanya cemberut. Matanya masih terus berusaha mencari Loly.
Padahal, sebenernya Loly lagi mengendap-ngendap di belakang mereka. Kakinya jinjit, supaya mereka gak dengar seretan kakinya. Pelan-pelan makin maju daann…
Set.. TERLAMBAT!. Kedua kembar itu sudah mengetahui niat usilnya. Loly menggaruk leher belakangnya yang gak gatal dengan wajah yang melas dan keki.
“Ck!, Lo kemana aja, sih, Ly?!. Kita jalan 500 m buat nyariin lo tau!, Gue kira lo masih di rumah!” Omel Gina pada cewek polos dan LEBAY yang ada di depannya.
“Iya, nih. Dasar!.” Vian juga ikut-ikutan ngomel dan manyun.
“Hehehe.. O.K, ayo kita jalan lagi…” Loly mengalihkan pembicaraan. Ngeles. Pura-pura mengajak duo twins itu jalan-jalan sambil merangkul keduanya. Mereka pun ngelanjutin perjalanan mereka mengelilingi taman kota sambil ngobrol-ngobrol.

“Eh, Gin, Gin. Btw, kok kemaren Kak Fabian itu kayak ngejauhin lo banget, ya?. Gue perhatiin, semenjak dia ama tuh cewek, lo kayak dicuekin. Perasaan, dia itu perhatian banget ama lo.” Loly nyerocos dengan gaya LEBAY-nya. Jelas, perkataannya itu kembali mengingatkan Gina sama Fabian cowok yang disukainya.
“Kak Fabian itu siapa, sih?!.” Vian bertanya dengan lagak tolol. Dia kan gak tahu sama sekali tentang Fabian!. Lagian, mana mau Gina cerita ke dia!.
“As to the ta, to the ga. ASTAGA!. Lo gak tau siapa Kak Fabian. Fabian itu kecengannya kembaran lo ini!”, Lagi-lagi, Loly mengeluarkan ke-LEBAY-annya. Suaranya yang melengking bagai speaker, bikin dua saudara kembar disebelahnya menutup kedua telinga.
“Gila!. Lo makan apa, sih?. Kaleng rombeng?!. Atau speaker?. Suara lo gede banget, gila!.” Vian keberisikan mendengar suara Loly yang bisa bikin pohon tumbang ini.
“Iya. LEBAY, lo!”, Gina mencibir. Loly cuma membalas cibiran mereka berdua dengan cengiran kuda. Muka Loly melas abis.
“Gin, emang Kak Fabian itu cakep, ya?. Kayak siapa?. Mirip sama Jirayu Laongmanee, gak?.” Tuh kan, mulai deh Vian ngudek-ngudek tentang Kak Fabian, orang yang disukai Gina. Vian cocok banget jadi wartawan, kerjanya nanya mulu.
“Iya. Mirip sama Kak Naga. Bukan Jirayu. Dia manis, bibirnya tipis, matanya teduh… Gimana gue gak terpesona sama dia.” Gina jadi meleleh lagi kalo inget senyuman Fabian yang teduh dan bikin melting. Bibirnya yang tipisnya bikin Gina gak bisa melupakannya. Selalu bikin Gina girang sendiri kalo mengingatnya. Tapi sekarang, Fabian udah punya cewek…
“Ooohh.. Sama Damar masih cakepan mana?.” Aduuhh.. Vian… Gak ada berhentinya nanyanya!. Bisa-bisa Gina kecapekan deh, menjawab pertanyaannya yang bejibun!.
“Masih cakepan dia lah, daripada kecengan lo!.” Gina nyerocos, mulai kesel karena dapet ribuan pertanyaan Vian yang gak ada habisnya.
“Ih, lo gak liat apa, Damar kan juga cakep!.” Kali ini malah Vian yang berbunga-bunga gara-gara ngomongin Damar, si cowok Arab kecengannya. Gak nyangka, cewek tomboy itu juga bisa tersipu-sipu malu.
“Yeee… standar kayak gitu lo bilang cakep. Putihan juga Kak Fabian!.” Gina protes gak terima. Dia tetap bersikeras kalo Fabian lebih cakep dari Damar. Dia gak mau kalah sama Vian.
“Eeeehhh.. Udah, udah. Kalian itu gede masih aja berantem. Eh tunggu, kayak gue kenal orang itu!” Kata Loly melerai Vian dan Gina. Tiba-tiba dia melihat cowok yang dikenalnya. “Itu Kak Fabian!. Itu, yang sama cewek!”, Ke-LEBAY-annya kumat lagi. Dia teriak keras di depan telinga kedua temannya yang kembar itu. Bikin budek lagi. Untung, suaranya gak kedengeran sampai ke seluruh taman kota.
Gina terpaku lagi melihat mereka berdua, persis kayak melihat mereka pulang bersama. Kakinya serasa kaku, gak bisa bergerak. Suasana jadi hening. Semuanya diam, memandangi mereka berdua yang terlihat sangat mesra…

[To be continued…]

Makassar, 26 Mei 2013

Cerpen Karangan: Risti Fauziyah Habibie
Blog: http://cutechocolatious.blogspot.com
Namaku Risti Fauziyah Habibie. Panggil saja aku Risty. Umurku 16 tahun. Ini merupakan cerpen kelima yang ku kirim ke cerpenmu.com. Hehehe… Maaf kalo endingnya gak jelas.. :D. Masih ada cerita lanjutannya, kok… :). Buat para pembaca, selamat membaca aja, ya.. Hehe, cerpen selanjutnya ditunggu, ya!!! ^_^

-Risty-

Facebook: Risty Ryumi Chan
E-mail: rfhabibie[-at-]yahoo.com

Cerpen Librarialova (Cinta dan Perpustakaan) Part 2 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dompet dari Shafa

Oleh:
Aku berjalan, lelah sekali. ku duduk di bawah pohon mangga, daun-daun berhamburan, tertiup angin, musim gugur telah tiba. Aku bangkit lagi, berjalan sambil bersenandung ria, aku akan berangkat ke

Misteri Kertas Hilang

Oleh:
Aku, Icha, Anisa, Endhita dan Leony adalah satu regu di ekstra kurikuler sekolahku. Aku dan teman-teman sepakat untuk memberi nama kelompok kita dengan nama “Melati”. Setiap ada kegiatan Pramuka

Nata dan Athan

Oleh:
Sebuah ayunan tua yang kini nampak usang seiring dengan bertambahnya usia. Ayunan tua inilah yang menjadi saksi bisu kisah persahabatan antara dua anak manusia yang berbeda keyakinan yang kini

Stuck

Oleh:
“Huf….” Dengusku pelan. Aku sedikit bosan karena keempat temanku belum datang juga. Tapi ini kesalahanku, aku datang terlalu awal dari jam janjian kita. Kulirik arloji dipergelangan tangan, pukul 2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *