Life Must Go On

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 April 2017

Hujan masih setia menemaniku, embunnya pun masih setia melekat di kaca jendela. Hujan membuatku masih mengingat tentangnya. Mengingat kisah yang baru berakhir, kisah yang masih menyisakan rasa. Rasa yang tak pernah kusangka, akan hadir begitu saja di kehidupanku. Rasa pedih itu masih tetap ada di dalam sanubariku dan tak pernah menyisakan sedikit waktu saja agar aku tak merasakannya.

2 orang yang masih memiliki rasa dan tujuan yang sama tapi berhenti begitu saja karena adanya perbedaan. Kata orang-orang ‘PERBEDAAN’ yang akan menjadi penyatu bagi 2 insan manusia, tapi tuhan berkehendak lain. Dia memisahkan 2 orang tersebut. Sungguh naif rasanya berpisah karena adanya perbedaan, iya perbedaan status. Setelah sekian lama merajuk asmara, tapi pada akhirnya berpisah juga. Dan itu membuatku terpuruk dan takut menghadapi dunia kembali.

Ku mengulang kebodohanku kembali, aku mengakhiri kisah yang telah 2 tahun lebih lamanya kurajut bersama dengannya. Dia tak selingkuh, dia tak memperlakukanku dengan kasar, dia selalu mengalah demi aku dan rasanya hanya untukku. Tapi aku yang begitu bodoh karena meninggalkan lelaki yang sebaik dirinya. Aku terjebak dalam perkataan mereka yang setajam silet dan aku pun tak tahan lagi mendengarnya, hingga akhirnya aku pun mengambil keputusan untuk mengakhiri kisah itu agar aku hidup dengan tenang, tanpa mendengar cacian mereka lagi. Mundur, menjauh, melangkah pergi adalah sikap yang harus kutempuh dengan kepala tegak, walau dengan hati tersedak. bukan tak ada lagi perasaan tapi memang ada hal yang tak bisa dipaksakan.

“Jangan tinggalkan aku, Yuu! Aku tak bisa tanpa kamu” pinta Chris
“Aku tak meninggalkanmu. Bukan karena aku sudah tak ada rasa, Chris!! Tapi perbedaan yang membuat kita harus saling meninggalkan. Tanpa aku pun, kamu harus gapai mimpi-mimpi kamu. Kamu bisa tanpa aku, Chris!!” Jelasku padanya, ku berusaha membuat diriku tegar dengan menahan air mata ini agar tak jatuh di depannya.
“Perbedaan? Hanya karena perbedaan, kamu dengan teganya mengakhiri kisah yang telah lama dibangun dengan susah payah?” Tanyanya yang tak rela dengan perkataanku. Dan sentengah ragu ku menjawab
“Iya, kita berbeda, Chris!”
“Kamu lupa dengan janji-janji kita? ‘AYRIS tak akan saling meninggalkan’. Tapi sekarang? Kamu yang berani berjalan ke arah yang berbeda tanpa aku. Kamu tau kan? Tanpa kamu, aku tak bisa melanjutkan hidup. Kamu penyemangatku, Yuu!!” ujarnya sambil memandangku dengan tajam, seolah aku yang sedang disidang dan divonis karena kesalahanku. Aku harus kuat dan tak boleh goyah dengan perkataannya.
“Iya, aku tahu itu. Aku yang ingkari janji itu! Aku yang awalnya membuat jalan kita jadi searah! Tapi bisakah jalan yang searah itu menjadi arah yang berbeda? Kita tak tahu bagaimana kedepannya, mungkin saja kita dipertemukan kembali tanpa pasangan atau dengan pasangan masing-masing. Kamu harus mengerti aku, Chris!! Aku capek dituntut ama mereka tentang pasanganku yang harus sesuai dengan kriteria mereka tanpa mempedulikan perasaanku. Aku capek dengerin mereka yang ngejelekin kamu, yang tak suka ama kamu.” Nafasku mulai tak beraturan. Tanpa berfikir panjang, dia pun memelukku.
“Aku tak peduli mereka mau ngomong apa tentang aku, yang aku peduli’in itu kamu, tentang kita. Tanpa mereka, kita bisa jalanin ini dengan bahagia sama seperti saat mereka belum mengetahui hubungan kita” Katanya yang masih memelukku. Tanpa fikir panjang, aku pun melepaskan diri dari pelukannya. Aku tak menyangka dia bisa berfikir seperti itu.
“Kamu peduli? Kamu tak peduli! Kamu egois, Chris! Tanpa restu dari mereka, kita tak akan bahagia. Kamu tahu itu kan? Aku sedang ada di posisi yang rumit, Chris!!” Setetes air keluar dari mataku, meluncur bebas ke pipiku yang pucat. Butiran air mata tersebut disusul oleh butiran-butiran lain yang tak bisa kutahan.
“Jangan nangis, Yuu!! Aku ngerti kok, aku mengerti bagaimana kamu dihadapkan dengan perasaan yang rumit. Aku yang egois, karena ku ingin kamu tetap berada di sampingku. Aku rela, kisah kita berakhir. Tapi ingat aku masih di sini, nunggu-in kamu datang kembali kepadaku karena kamu tahu, rasa ini akan tetap untuk kamu, tak akan pernah padam” Kata-katanya semakin membuat butiran air mata itu terus jatuh. Dia memelukku lagi, mungkin dia bermaksud ingin menenangkanku dengan pelukannya tapi tangisku tetap tak mau berhenti. Aku menggigit bibir bawah, berusaha menahan isakan-isakan kecil yang keluar dari mulutku. Sekali lagi, aku menangis di pelukannya. Yang aku pikir saat itu, bukan karena perkataanya yang menyakitiku, tapi aku takut, mungkin aku akan menyesali keputusanku.

Semakin malam, semakin kuat ingatan akan kenangan dengannya. Aku terlalu lelah dengan suasana ini, suasana yang mem-blok pikiranku sehingga jadi beku. ‘Saatnya membuka lembaran baru!!!’ batinku. Ku mulai kembali mengerjakan aktivitas-aktivitasku yang sempat tertunda karena kesedihanku yang tak berujung. Ku login facebookku, dan beberapa orang asing mengirimiku pesan. Semuanya memulai percakapan dengan kata ‘Hy’. Aku pun iseng-iseng membalasnya dan obrolan pun berlanjut.

Beberapa hari kemudian, tak kusangka beberapa dari orang asing yang kutemani chattingan ini akhirnya berujung dengan menyatakan perasaannya kepadaku. Konyol memang, baru beberapa hari sudah berani mengambil langkah tersebut. Alasan mereka menyukaiku beragam, ada yang suka karena nyaman nggobrol denganku, karena sama-sama masih jomblo, yang lebih parahnya lagi hanya karena jatuh hati pandangan pertama pada Profile Imageku, bahkan ada yang menyukaiku tanpa alasan. Aku pun menanggapinya dengan santai, karena bagaimana pun mereka hanya kenalan via sosial media, tak lebih.

Namanya juga sosial media, seiring berjalannya waktu ada yang pergi karena berbagai macam alasan, salah satunya mencari target yang baru ketika target sebelumnya mengacuhkannya. Tapi ada yang masih tetap berjuang demi mendapatkan pujaan hatinya. Layaknya 2 cowok yang menyatakan perasaannya kepadaku di hari yang sama, di jam yang sama tapi berbeda menit. Aku pusing membaca chat mereka yang ujung-ujungnya jika mereka menyukaiku.

“Bagaimana nih, Ri? Pusing mau jawab apa” Rengekku kepada sepupu sekaligus sahabatku. Risa Adriani, yang kerap kusapa Risa. Dia yang kerap menjadi pendengar setiaku di kala aku lagi galau. Dia juga yang selalu memberi aku kata-kata penyemangat layaknya sang Mario Teguh “Aduhh, kak Ayu, jangan dipusingin dong. Pilih aja yang sesuai kemauan kamu” ujarnya
“Tapi kamu kan tau, mereka nembaknya pada waktu yang sama, meskipun beda menit sih. Aduh susah milihnya” ujarku kepadanya. Melihat tingkahku yang sedang uring uringan di tempat tidur. Dia pun melemparku dengan bantal, dan sialnya bantal itu pas mengenai wajahku. Aku pun menggerutu tak jelas, sedangkan dia hanya tertawa dan merebahkan badannya didekatku.
Dia pun berkata “Hhmm, kita kan gak tau mereka itu siapa. Bisa jadi kan, mereka itu palsu atau bagaimana kalau mereka pembunuh yang awalnya modus. Yang seperti di berita-berita itu kak. Jangan deh Yuu!” Kata nunu yang mulai mendekatkan dirinya kepadaku.
“iiihh, kamu parno deh!! Risa ku tersayang, aku ingin move-on, siapa tahu aja, diantara mereka ada yang ngebuat aku jadi move-on dari Chris”
“Bisa jadi sih (dia diam sejenak). Bagaimana kalau kamu jangan jawab dulu perasaan mereka. Yah digantungin gitu, Yuu. Kita lihat deh, yang mana di antara 2 cowok itu yang tetap ngejar-ngejar kamu. Bagaimana?” sarannya ‘Ide dia, cukup brilian. Boleh juga’ batinku
“Oke, kita coba ide kamu” jawabku setuju

Setelah mendapatkan ide dari sahabat segilaku ini, ku langsung bangun dan duduk berhadapan dengan layar monitor komputer. Ku log-in kembali facebookku dan ku menulis sesuatu di sana dan mengirimnya ke facebook 2 cowok itu. ‘Permainan dimulai!’ batinku berteriak.

Setelah beberapa saat, mereka membalasnya dengan jawaban yang sama. Aku pun bingung dibuatnya. Kuputuskan untuk meng-stalking kronologi mereka berdua. Mulanya kustalking cowok yang pertama ‘keren’ batinku. Kemudian kulanjutkan dengan mengstalking kronologi cowok yang kedua ‘keren juga’ batinku. Kutelusuri semua gambar-gambar di kronologinya dan kuberhenti di satu gambar. Setelah sekian lama, kuterpaku dengan gambar yang menunjukkan 2 orang lelaki yang sedang duduk sambil tersenyum. Ku memandang gambar itu penuh dengan seksama, detik demi detik berlalu, kukucek mataku dan melihat gambar itu kembali. Pikiranku mulai kacau dan tanda tanya pun menyeruak ke dalam pikiranku
‘Mungkinkah?’

Cerpen Karangan: Ayu Anugrah
Facebook: facebook.com/Ayuanugrah28

Cerpen Life Must Go On merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Randa Tapak (Dandelion)

Oleh:
Seperti dandelion, wanita itu rapuh. Seperti dandelion, wanita ingin diperhatikan. Seperti dandelion, wanita ingin dilindungi. Seperti dandelion yang tertiup angin, terombang ambing tak tentu arah. Fina. Gadis jelita penyuka

Restu (Part 1)

Oleh:
“Ibu dak bisa bantu apo-apo, Ibulah ngecek samo mak datuak Mantari tapi tetap dak bisa kato baliau. Kini sabalum talambek saliang manjauhlah kalian.” Kata-kata itu membuat air mata tidak

Gaptek?

Oleh:
Rian. Cowok pintar dan keren dari kelas XI IPA 1 itu lah yang selalu mengganggu pikiran ku. Aku dan Rian sekelas pas kelas X, tapi sekarang tidak lagi. Rian

Cahya

Oleh:
Bahagia itu ketika orang yang kita cintai mencitai kita juga, dan itu pernah aku rasakan namun hanya sebentar. Namaku ebta, cahya firmansyah adalah nama kekasih yang sangat aku cintai,

Cinta Nggak Bisu

Oleh:
“kita putus!!!“ “ya sudah. Aku akan cari yang lain!” “hah?” Pinkan adalah gadis super cuek dan dia pun paling gensi jika menangis di depan cowok. Bagi dia cewek yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *