Lips

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 June 2017

“CINTAAA, MAWARRR, tungguin gue”, terdengar suara keras melengking. Suaranya sudah tak asing lagi. Ya, itu suara Bunga. Suaranya tak ada tandingannya, sangat mudah dihafal. Hanya Bunga yang memiliki suara secemempreng itu. Sontak Cinta dan Mawar memberhentikan langkah mereka dan membalikan badan mencari sumber suara yang memanggil mereka berdua. “Kita pulang bareng, masa gue ditinggal. Emangnya gue ngak dianggap apa?, kan jadi jones”.
“lah lo, ditunggu malah lama banget. Lo ngerenung apa di WC?”, jelas Cinta. “Siapa yang ninggalin lo, gue sama Mawar mau cari makan dulu, perut gue sampe muter lagu keroncongan nungguin lo”. Akhirnya Bunga meminta ma’af, masalah pun selesai.

Mereka bertiga memang dikenal dengan geng gaje, semuanya gak ada yang jelas. Tak tau takdir apa yang menyatukan mereka bertiga sehingga bisa menjadi friendship is forever. Perbedaan sangat mencolok antara mereka bertiga. Cinta yang mempunyai badan langsing, wajah cantik, dan pintar, berbanding terbalik dengan teman-temannya. Bunga adalah teman sekolahnya sejak SD. Suaranya yang cemempreng, selaras dengan tubuhnya yang kurus. Sudah sekurus itu, Bunga masih saja menganggap dirinya kurang kurus. Padahal kalo ada angin saja, badannya bisa melayang entah ke mana. Sedangkan Mawar, baru kenal setelah satu SMP dengannya. Mawar memiliki bobot yang paling spesial di antara geng gaje ini. Katanya sih mau nurunin berat badan, tapi mulutnya nggak bisa puasa. Mungkin one thing inilah yang menjadikan persahabatan mereka tak terpecahkan.

Orangnya tinggi, lumayan tampan, lagaknya tenang. Ada murid baru yang masuk kelas Cinta, namanya Makky. Wajah yang mendukung ditambah dengan wataknya yang pendiam, menambah cool laki-laki ini. Coba saja kalo dia jelek, pasti dikira kuper. Makky pindah sekolah, lantaran ada masalah bisnis orangtuanya yang menyebabkan ia dan keluarganya harus pindah tempat tinggal.

Berita adanya murid baru di kelas XI MIPA 3 (kelasnya Cinta) ini pun sampai ke telinga Mery. Diam-diam, Mery menyukai Makky. Mery memang gampang banget jatuh hati sama orang yang ganteng. Tak heran ia berkali-kali ganti pacar, entah berapa orang yang sudah menjadi bekasnya. Tapi melihat watak Makky yang pendiam, ia tak tau harus mulai dari mana. Sering kali ia pulang lebih dulu agar bisa bertemu dengan Makky dan jika sudah bertemu, “Kita kok sering ketemu ya,”. Kalimat yang biasa dilontarkannya, dan seperti biasa juga, Makky hanya menjawab dengan senyuman.

Dalam pikiran Mery terbesit neting (negatif thingking) kepada Cinta karena selama mereka bersekolah apa-apa yang Mery sukai, selalu saja lebih memilih Cinta. Apa pun itu. Padahal itu berjalan begitu saja tanpa Cinta inginkan. Tapi mau gimana lagi, orang-orang akan lebih senang bersama orang yang easy going, gak berlebiih-lebihan kaya Mery.

Perjalanan pulang ke rumah.
“Hay Cinta!”, sapa Mary. “Makky itu orangnya kaya gimana?, kasih tau gue donk, please”, wajah memelas.
Cinta terus berjalan menyusuri jalan setapak, cuek bebek.
“Kita kan teman baik, masa lo nggak mau kasih tau sama teman sendiri”, nada mulai tinggi.
Cuih, teman baik?, wajah lo aja jahat, gumam Cinta.
“Kok lo diam aja sih?”, Mery mulai kehilangan kesabaran. “Budek lo ya?”
Cinta memberhentikan langkahnya. ”Sudahlah, Jangan sok baik. Lo pulang aja, jangan ngikutin gue”. Rumah Mary memang dekat dengan dengan rumah Cinta, hanya berjarak beberapa meter saja.
“OK. Kalau begitu, jangan sampai lo pacaran sama dia!”, to the point, Mery tak bisa pura-pura akrab lagi.
Cinta diam saja, beberapa meter lagi, ia sampai di rumahnya. Sebenarnya ia sangat geram mendengar perkataan Mery yang sangat menyebalkan, tapi ia tahan. Cinta tidak mau ada perselisihan lagi seperti peristiwa 2 tahun silam. Ia masih ingat, bagaimana Mery dulu melabraknya ketika pulang sekolah. Hanya masalah sepele. Kesalahpahaman. Bukannya ia takut, tapi males aja ngurusin yang gaje.

Jam istirahat datang, banyak hal berbeda yang dilakukan oleh anak sekolah. Ada yang membaca buku, makan bekal dari rumah, bermain, dan mayoritas ke kantin. Cinta adalah tipe orang yang malas membawa bekal makanan. Tadi pagi ia lupa tidak sarapan karena bangun kesiangan. Ia pergi ke kantin bersama geng gajenya tersebut.
Waktu istirahat tinggal sedikit, para siswa bertaburan masuk ke kelas, tak terkecuali Cinta dan teman-temannya. Cinta terkenal sebagai ketua geng tersebut. Ia berjalan di depan, sedangkan 2 temannya berjalan di belakangnya.
Karena terlalu semangat, Cinta tak hati-hati ketika masuk kelas. Gabruk. Cinta dan Makky berbenturan. Cinta jatuh tepat di dada Makky. Dadanya keras, menandakan dia laki-laki yang perkasa. Walaupun ia kurus, tapi berotot. Cinta buru-buru bangkit, begitu juga dengan Makky. Malu. Itulah yang dirasakannya. Semua yang ada di kelas melihatnya.

“MALINDO, MALINDO, MALINDO”, teriakan anak-anak yang ada di kelas. Itu merupakan ledekan yang biasa dilontarkan. Maksudnya, agar Cinta dan Makky menraktir di Malindo Corner.
“Ma’af”, satu kata yang diucapkan Cinta kepada Makky.
“Aku juga”, jawab Makky.

Cinta langsung pergi menuju tempat duduknya. Untung saja guru segera masuk ke kelas, menenangkan suasana.
Pelajaran sekolah dimulai kembali. Papan tulis terlihat penuh oleh tinta, guru meminta petugas piket untuk menghapus papan tulis. Karena merasa sekarang hari piketnya, Cinta maju ke depan untuk menghapus papan tulis. Di samping itu, Makky diperintahkan oleh gurunya maju ke depan untuk memberikan jawaban. Perintah itu, memang sering ditujukan kepada Makky. Mungkin karena ia anak baru.

Letak lantai papan tulis lebih tinggi dari lantai lain, membuat orang yang berdiri di atasnya terlihat lebih tinggi. Tugas menghapus papan tulis sudah selesai, waktunya Cinta untuk kembali ke tempat duduknya. Entah masih ngalamun atau apa, Cinta tak menyadari akan adanya Makky di depannya. Ia membalikan badan seenaknya dan tak sengaja terjadilah sebuah pertemuan dua kelembutan yang menyatu. Lips. Pertemuan yang indah, tapi pada saat yang tidak tepat.
“MALINDO, MALINDO, MALINDO”, teriakan anak-anak terdengar lagi. Anak-anak tak menghiraukan guru yang ada di kelas. Kejadian memalukan yang ke dua lebih parah. Anak-anak tertawa terbahak-bahak melihat kejadian memalukan yang berturut-turut.
Ahh, sial sekali sih hari ini, Cinta memedamnya dalam hati.

Bel berbunyi 4 kali, menandakan waktu pulang sekolah tiba. Cinta masih duduk di tempat sambil menundukan wajahnya di meja. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, memikirkan kejadian memalukan yang baru saja terjadi.
Perlahan-lahan Makky mendekati Cinta. Dan sampailah ia di hadapan Cinta, tapi Cinta tak menyadarinya. Bunga dan Mawar yang melihat Makky ada di depan Cinta tidak memberitahu kepada Cinta. Mereka berdua tak berani mengganggu keduanya.

Tak beberapa lama, Cinta mngangkat wajahnyaa sambil membuka kedua tangannya. “HAH!!!”. Cinta sangat kaget melihat Makky ada di depannya.
“Ma’af soal kejadian tadi”, Makky mengulurkan tangannya, tanda permohonan ma’af.
Hah, gue nggak salah denger?. apa yang dibilang Mery bener ya, gue budek. Tebak Cinta dalam hati. “Bukannya yang salah gue ya?”, walau terpaksa, Cinta mengulurkan tangannya juga. Tak enak Makky sudah ngulurin tangan dari tadi, masa dicuekin.

“Tadi lo ngomong apa aja sama Makky?”, tanya Bunga yang dari tadi penasaran.
“Lo enak banget ya, udah jatuh di dada Makky, ditambah ciuman lagi”, Mawar ikut nyambung.
“Untung aja Cinta yang di atasnya Makky, coba kalo lo. Makky pasti pendeng”, sindir Bunga kepada Mawar.
“Mending gue berisi, lah lo, pantat aja nggak ada isinya”, Mawar nggak mau kalah nyindir Bunga.
“Diamlah, brisik!”, Cinta akhiri pembicaraan. Ia tak mau membahasnya lagi. Mikirin aja sudah bikin pusing, apalagi membahasnya. Tidak mungkin.
Kalau Cinta lagi bad mood, nggak ada yang berani bicara. Semuanya diam. Akhirnya bus yang ditunggu-tungu datang juga. Mereka biasa menaiki bus bersama-sama, tapi turun pada tempat yang berbeda.

Di sekolah
Cinta sebenarnya agak males pergi ke sekolah, kejadian kemarin masih tampak sangat jelas di pikirannya. Masalah datang lagi ketika Mery dan teman dekatnya, Katy datang menghadangnya.
“Cinta!. Emang gosip di sekolah benar, lo ciuman sama Makky?”, Mary langsung melabraknya. Mumpung Cinta nggak bersama gengnya.
“Minggir lo!, gue mau lewat”, nada datar.
“Jawab dulu pertanyaan Mery!, baru lo boleh lewat”, Katy mendorong tubuh Cinta.
Cinta menatap mereka berdua dengan tajam. Ia mencoba untuk tidak membuat masalah lagi di sekolah.
Tak lama kemudian, Bunga dan Mawar datang. Mereka kesal, marah, benci, semuanya campur aduk. “Heh, jangan sok-sok’an lo”, sambil menunjuk-nunjuk dada Katy. “Bagi gue nama lo bukan Katy, tapi kutu. Bikin rambut gue gatel. Pengin gue jambak rambut lo tau?”, kesabaran Mawar mulai hilang sejak melihat temannya didorong begitu saja.
“Lo juga Mer, jangan songong lo jadi cewek!”,tambah Bunga.
Cinta, Bunga, dan Mawar pergi meninggalkan Mery dan Katy. Meninggalkan seberkas cambukan yang pedas. Mereka pasti akan mengingat kejadian ini sampai kapan pun. Sampai tak berani menampakan wajahnya di depan mereka.

Dua kabar ter-up date datang, kabar baik dan juga buruk. Kabar baiknya yaitu, masalah bisnis orangtua Makky telah selesai. Jadi, Makky tidak perlu lagi memikirkan masalah orangtuanya. Sedangkan Kabar buruknya yaitu, Makky akan kembali ke sekolah sebelumnya, karena dia dan keluarganya akan kembali ke rumah asalnya. Tentu banyak anak yang merasa kehilangan. Walaupun ia pendiam, tapi kalo diajak ngobrol asyik juga. Mungkin ini yang terbaik juga buat Makky.

Langit sudah tak menampakkan senyum. Akhir-akhir ini Cinta sering melamun, lantaran ada kenangan yang terselip antara dia dan Makky. Kenangan yang mungkin tak bisa ia lupakan. Bibir. Kenangan termanis yang pernah ia lalui di dunia ini. Ya, kini semuanya tinggal kenangan.

THE END

Cerpen Karangan: Mia
Facebook: mia islamiyah

Cerpen Lips merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nyopet is My Job (Part 1)

Oleh:
“Gue dapat 5 dompet hari ini,” “Wih hebat lo, gue cuma 3 dompet, isinya juga nggak seberapa,” Kata Pian. “Gue mau shopping, makan makanan enak, aaaah serasa di surga

Pacar Idola Ku

Oleh:
Mega merah mulai terbangun dari tidurnya, embun pagi menyirami dedaunan, jam dinding bernyanyi membangunkan perjalanan tidurku, sungguh teramat sulit untuk bangun dari pulau kapuk yang sudah seperti surga dunia,

My Angel

Oleh:
Sudah tiga tahun berlalu… Kejadian yang terjadi ketika David masih duduk di kelas dua SMA, sementara sekarang dia sudah menjadi seorang mahasiswa semester enam perkuliahannya. Hari ini, tepat tanggal

Stasiun Juanda

Oleh:
Hatiku berdebar debar seraya ingin lepas dari tempatnya, kakiku tidak henti-henti nya bergerak kesana kemari menandakan kegugupan yang melanda diriku saat ini. Dengan sebatang coklat coki coki yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *