Lirik Lagu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 6 November 2015

– Alvin
“Kita putus Vin!!!”
Entah untuk kesekian kalinya, aku mendengar kata-kata itu dari mulut pacarku sendiri. Dari sekian mulut, aku juga nggak ingat berapa yang sambil menyemburkan beberapa mili air. Ah dasar cewek, tak bisa diajak kompromi. Pas lagi enak aja luluh, pas udah bosen nyolot. Dia bilang aku suka deketin cewek lain. Biasalah efek samping kebanyakan kepo.

“Gimana udah move on?” si Bray nyeletuk di sela-sela kuliah yang membosankan itu.
“Udahlah, ngapain lama-lama galau.” Komentarku agak ketus. Memang sejak putus mukaku sering suram.
“Hahaha, lo emang bener-bener ya, nggak kapok-kapok.”
“Lo juga kan, nggak kapok menjomblo mulu, eh.” Balasku sambil menampakkan senyum sinis, jenis senyum favoritku.

“Gue mah ngikut ikhwan-ikhwan itu bro, menjaga diri, hahaha.”
“Hahaha, alibi lo nggak variatif banget sih,” Kami tertawa. Memang si Bray ini penghibur sejati.
“hati-hati bro, bentar lagi UTS, belajar gih jangan mikirin cewek terus.”
“Tumben lo nasihatin gue Bray? Kapan sih UTS gue pernah jeblok? Hahaha.” Kebiasaan congkakku kumat.
“Iya deh, lo mah dewa, ajarin gue kenapa, kan kita friend. Tolong-menolonglah dalam hal kebaikan kata pak ustadz, ini UTS kita yang terakhir loh.”
“Kebaikan gimana, udah gue bilangin jangan minta ajarin pas di ruang ujian!! Pfftt…”

Begitulah keseharian kuliahku, kalau nggak ngobrolin yang nggak penting, ya pacaran. Semua jenis pacaran pernah aku rasain di kampus, mulai dari pacaran syar’i, pacaran alay, pacaran high cost, pacaran terselubung, sampai pacaran kakak-adik. Tak heran apabila image pacar hunter melekat di wajah ini. Aku nggak ingat siapa yang mengajarkan aku jadi gini, yang jelas dulu selama SMA aku menjalani jenis pacaran kuno -pacaran sok setia. Tapi semua sifatku berubah setelah negara api menyerang, maksudku menyerang dengan api asmara yang selalu menggelorakan jiwa. Belakangan aku sudah nggak bisa lagi bedain mana HP mana gebetan, soalnya ketika lihat yang model baru, selalu terasa lebih menarik.

Putus pacar kali ini terasa aneh, karena enam bulan setelahnya nggak ada gebetan yang hinggap di jendela hatiku. Ah ini pasti gara-gara black campaign teman-teman yang sirik aku gampang dapet pacar. Atau jangan-jangan cewek sudah jenuh dengan model cowok seperti aku? Belum hilang kecurigaanku, aku malah disibukkan dengan kesumpekanku sendiri. Hati nggak pernah tenang, cuma tersisa resah gelisah. Aku menduga ini adalah penyakit baru yang bernama sakau jomblo.

Parahnya lagi, penyakit yang aku derita ini malah kumat di malam menjelang sidang skripsi. Sudah bisa ditebak, sidangku hancur lebur nggak bersisa. Aku harus menerima kenyataan pahit bahwa sidang harus diulang, oh s*it. Aku mulai merasa ada yang nggak beres dengan duniaku. Duniaku sekarang sangat berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, aku berasa punya ‘dua dunia’, dan sekarang aku memasuki ‘dunia lain’. Dunia yang tak bisa menuruti apapun keinginanku.

Sepertinya Tuhan mulai menyapaku, mendadak aku disadarkan pada dosa-dosaku selama ini. Pacaran, nyontek tugas, bolos rapat, nggosip, bohongin ortu, dan sebagainya, dan seterusnya. Aku sempat berkonsultasi dengan temanku yang bakat menjadi motivator. Dia bilang mungkin aku lagi futur. Demi Neptunus! Kefuturan ini aku alami sepanjang aku kuliah dan baru sekarang aku menyadarinya. Aku mulai membeli dan membaca buku-buku motivasi di toko buku terkenal, juga buku yang mengajarkan bagaimana agar sholatku menjadi penyejuk jiwa, tidak cuma sekedar senam kesehatan saja. Dari situ juga, aku memutuskan untuk back on the track, kembali ke jalan yang benar.

“Minggu depan gue mau pulang.” Kataku pada si Bray.
“Serius? Bukannya lo lagi dikejar deadline sidang part two?”
“Udah gue pending, kata dosen gue boleh.”
“Pending berapa minggu?”
“Nggak, bulan depan.” Jawabku datar, diikuti dengan ekspresi kaget si Bray.
“Ebuset, kok bisa?”
“Bisalah, lobby bro. Kakak gue nikahan. Kejiwaan gue juga lagi suram parah. Gue butuh netralisasi. Sekitar seminggulah di kampung.”
“Oke, oke. Gue ngerti hidup lo lagi berantakan belakangan ini. Gue cuma bisa ngasih semangat bro. Lo harus tegar, karena setiap hal terjadi untuk maksud tertentu.”
“Lo habis baca buku apaan bisa ngasih nasihat gitu? Haha.”

Hari pertama di kampung, aku menyempatkan jogging pagi sekalian mampir ke SMA-ku dulu, sekedar lihat-lihat dari luar pagar, kebetulan nggak jauh dari rumah. Aku duduk di sebuah halte di depan SMA beberapa menit, sambil menikmati suasana pagi yang belum terlalu ramai. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ingatanku kembali ketika masih jadi murid di sini. Pulang sekolah, terjebak hujan, memakai sweater andalanku, menikmati terpaan angin yang membawa tetesan air hujan.

Di sampingku ada seorang perempuan, dengan seragam yang sama, rambut diikat satu tergerai sampai setengah punggung, kedua tangan memegang ujung bangku besi, dan kaki yang menggantung dengan sepatu kets dan kaos kaki seperempat betis. Sesekali dia melempar senyum, mulutnya terbuka mengatakan sesuatu, aku nggak ingat apa yang diucapkannya, yang jelas setelah itu aku juga ikut tersenyum, begitu seterusnya. Hey, dimana dia sekarang? Terakhir kali ketemu juga di tempat ini, aku memberikan semacam pin bergambar kartun favoritnya. Setelah itu kami belum pernah ketemu lagi.

Diitt!!! Suara klakson membuyarkan imajinasiku.
“Woooyy! Ngapain lo pagi-pagi ngelamun?”
“Bangke lo!! Ngagetin aja!!”
Dodi, sahabat SMA-ku dulu, memang sebelas-dua belas sama si Bray, sama-sama nyebelin.
“Hahaha, sejak kapan pulang? Tumben nggak ngasih kabar.”
“Dari semalem, besok Kakak gue nikah.”

“Oh gitu. Eh gue jadi inget, kabarnya ada yang mau ngelamar si Intan. Lo ke mana aja sampe kalah start gitu? Buruan gih lulus, kerja! Hahaha.”
“Apaan sih, nggak jelas banget, anterin gue pulang dong!”
“Eits, gue nggak mau ngerusak acara jogging lu, jalan kaki lah. Duluan yak!! Byeee”
Emang kampret itu anak. Benar-benar nggak bertanggung jawab, udah ngerusak suasana melankolis yang sedang aku ciptakan. Tadi sampai mana ya ngelamunnya? Ah udahlah, udah hilang moodnya. Eh, tapi apa bener yang dibilang si Dodi tadi? Kalaupun bener, aku bingung harus ngrespon gimana, ya udahlah, nggak penting juga.

Hari kedua, aku ‘sibuk’ mengurus acara pernikahan kakakku. Rekor baru, selama satu hari penuh dipaksa senyum ramah, menyambut dan menemani ngobrol para tamu. Hebatnya lagi, aku masih bisa tersenyum ketika diberondong pertanyaan, “Kapan kamu nyusul?” walaupun jenis senyumnya adalah senyum getir. Sejujurnya aku heran, Kakakku ini berhasil menikahi cewek yang sudah dipacarinnya selama 5 tahun, itu pacaran apa masa jabatan presiden? Lama amat. Pernah aku nanya, apa rahasianya hubungan awet?

Kakakku menjawab, “Anggap aja lu milih pacar kayak mau beli mobil. Pilih yang paling cocok, nilai jualnya nggak cepet jeblok, dan yang paling penting itu dirawat, sering di-service.” Aku melongo. Aneh sekali perumpamaan Kakakku. Tapi ada benernya juga sih. Kenapa nggak bilang dari dulu kak? Adikmu ini milih pacar kayak mau beli hp, bentar-bentar ganti.

Hari-hari berikutnya aku banyak menghabiskan waktu di rumah, bantu-bantu kerjaan orangtua. Ceritanya edisi insyaf, Birrul Walidain. Banyak juga dapet nasihat orangtua yang bikin jleb. Salah satunya, gimana mau jadi imam keluarga, kalau jadi makmum masjid aja males? Maaakk!! Tepat seminggu, aku rasa liburanku cukup, lebih tepatnya aku sudah tak mampu lagi menahan malu karena menyadari kualitas hidupku yang jauh dari ekspektasi orang-orang di rumah. Aku memutuskan balik ke kampus. Seperti biasa, aku berangkat dari terminal, naik bus langganan yang sopir dan kondekturnya sudah hafal dengan wajahku, wajah anak rantau yang penuh penderitaan.

Waktu itu hari sudah gelap total, menjelang Isya. Di dalam bus hanya ada beberapa penumpang saja. Aku mengusir bosan dengan nge-chat teman-teman kuliahku. Pas lagi asyik-asyiknya, aku mendengar mesin bus dinyalakan, getaran mesinnya terasa kuat di kepalaku yang bersandar di kaca jendela. Beberapa penumpang terakhir sudah naik ke dalam bus, ah kursi banyak yang kosong, bisa sambil tiduran nih. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil namaku. “Pipin?” Dan setahuku cuma keluargaku yang memanggil dengan nama itu. Aku kebingungan di tengah temaram lampu interior bus. Menebak-nebak siapa sosok di depanku itu. Keringat dinginku mulai ke luar.

Bersambung

Cerpen Karangan: Achor Mohammad

Cerpen Lirik Lagu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love N Life

Oleh:
Sapaan itu terdengar masuk pada telinga setelah tiga tahun tidak ku dengar. Aku segera membalikkan tubuhku ke belakang melihat gadis itu yang berjalan mendekati dan tersenyum manis padaku, senyum

Uang Kertas

Oleh:
“Vanya… hari ini kamu jadi kan ketemuan sama sepupu aku yang dari London kan?”. “ya, jadi deh”. Nidya menggandengku menuju kelas. Inilah diriku, aku sudah terlalu sering gagal dalam

Mister M. A

Oleh:
“Tidak selamanya yang berawalkan dengan kata benci berakhir dengan kebencian dan tidak pula yang berawalkan dengan kata cinta berakhir dengan kebahagiaan…” Pagi ini Rere mengawali harinya penuh dengan keceriaan

Aroma Cinta

Oleh:
Aku geram kepada anggotaku, bagaiman mungkin Grup ini bisa ribut dengan Grup sebelah, untung masalah ini tidak sampai ke kakak pembina! Tapi tetap aku harus menindak semuanya. karena impianku

Love in A Matter of Time (Part 2)

Oleh:
Aku mencoba melupakannya, aku akan beranjak pergi. Mungkin kirei benar benar lupa padaku.. “Kurasa, kau tak mengenalku. Maaf aku sudah menganggu waktumu aku pergi” Aku beranjak dari tempat dudukku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Lirik Lagu (Part 1)”

  1. khansa mahendra says:

    Nice story ^_^ ditunggu part selanjutnya yaa

  2. Terima kasih. . . Part selanjutnya sudah ada, silakan dinikmati. . . http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/lirik-lagu-part-2.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *