Lirik Lagu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 November 2015

– Intan
Aku tidak menghitung berapa minggu kami bertahan dengan hubungan jarak jauh ini, mungkin hanya belasan. Yang jelas sejak kita terpisah, semuanya menjadi berbeda. Sulit sekali mendapatkan kesempatan untuk bertemu, ketika dia libur, aku masih ujian, dan ketika aku mau mudik ke rumah, dia sudah berangkat kuliah. Kata orang, yang penting jaga komunikasi, mereka mungkin nggak ngerti kadangkala kalau kita sudah disibukkan oleh sesuatu, kita jadi melupakan beberapa hal, bongkar-pasang urutan prioritas. Dan itulah yang terjadi. Mungkin aku bukan prioritas utamanya lagi, ini wajar saja terjadi. Tak apa, selama keberadaanku masih diakui.

Aku masih di perpus ketika itu. Dia bilang sudah nggak kuat, kenapa nggak kuat? Bukankah perasaan kami masih sama? Aku juga baik-baik saja sejauh ini, lebih tepatnya berusaha untuk kuat. Dia bilang hubungan kami akan sia-sia saja, what? Setelah semua ini tega-teganya dia bilang seperti itu. Dia bilang lebih baik aku mencari pengganti yang lebih baik, why? Bahkan tak pernah sekalipun aku punya pikiran seperti itu. Tapi aku bisa apa? Dia telah mengambil keputusan. Aku juga nggak mungkin memohon-mohon lebih jauh lagi, karena aku juga masih punya sepotong harga diri. Aku terima keputusannya, walau harus jalan kaki terburu-buru dari perpus ke kos, menahan derasnya air mata.

Aku akui, saat itu adalah momentum perubahan diriku dan perubahan pemikiranku tentang perasaan antar laki-laki dan perempuan. Rasa suka, naksir, kesengsem, apapun itu, memang boleh-boleh saja. Masalah dampak baik buruknya, tergantung seberapa kuat kita bisa mengendalikan rasa itu. Aku memang suka dia, aku sadar mengakhiri hubungan bukanlah keputusan yang buruk, karena dengan begini aku bisa lebih membuka mata, memaknai hakikatnya perasaan ini. Namun, apakah dia kira mengenyahkan bayang-bayang dirinya itu mudah? Sekarang aku hanya bisa menempatkan perasaan ini di belahan otak yang jarang terjangkau oleh saraf-sarafku, menelantarkan sisa rasa kagumku padanya. Menyakitkan, bisa jadi, tapi apa ada pilihan lain?

Aku sedikit terhibur oleh kata-kata dosenku. Perempuan itu tidak usah agresif, tapi menciptakan keadaan untuk di-agresif-in. Sayangnya sekarang ini banyak laki-laki yang agresif terlalu dini. Memang sih umur mereka sudah pantas untuk menikah, tapi apa jaminannya? Masih banyak faktor yang bisa membuat hati berubah haluan, bahkan balik kanan. Ketika semua asa terasa sempurna di angan-angan, tapi jatuh berkeping ketika mencoba diwujudkan dalam realita. Aku tak mau menjadi bagian dari fenomena itu, itu prinsipku.

Minggu lalu, gara-gara Kakak kelasku yang bernama Fito berniat melamarku, aku disuruh pulang mendadak, kata Papa ada hal mendesak yang mau dibicarakan, aku sudah tahu pasti tentang lamaran itu. Ya Allah, baru kali ini aku enggan pulang ke rumah. Sudah ku coba berdalih sibuk penelitian dan seabrek aktivitas lainnya, tapi orangtuaku kekeuh memaksaku pulang, barang sehari saja.

“Coba yakinkan Papa bahwa Papa harus menunda bahkan menolak lamaran Fito.” Melihat ekspresinya, aku yakin Papa sudah terpancing emosinya akibat sikapku yang ogah-ogahan.
“Pah, Intan mohon banget, setidaknya urusan seputar perjodohan berikan Intan lebih banyak kesempatan. Lagian Intan belum mau mikirin itu semua Pah, Intan masih ingin fokus kuliah, Intan masih ingin bebas Pah!” Aku menjawab dengan mata berkaca-kaca.
Nampaknya aktingku sukses mencuri sedikit perasaan iba dari Papa. Papa memberi tenggang waktu sampai aku wisuda untuk membicarakan masalah ini lagi. Bagiku itu lebih dari sebuah kemenangan.

Besoknya, aku pergi diantar Iva, teman akrabku sejak SMA. Rencananya aku mau mengunjungi sepupuku di luar kota, itung-itung liburan sejenak.
“Lo serius nggak mau trima lamaran kak Fito?” Tanya Iva yang sedang mengemudikan motornya.
“Apa? Nggak denger!” Suara angin mengganggu pendengaranku.
“Lo serius nggak mau terima lamaran kak Fito?!”
“Nggak, aku belum punya waktu buat mikirin itu.”
“Kalau aku jadi kamu sih, mungkin aku bakal terima.”
“Kenapa gitu?”
“Yaiyalah, Fito kurang apa coba, ganteng, baik, udah kerja, lo lihat sendiri kan. Sekarang yang gue heran adalah kenapa lo seolah males banget mempertimbangkan lamaran dia.”

Aku diam sejenak, mencari jawaban yang tepat agar percakapan ini tak berujung perdebatan.
“Va, menurutku urusan perasaan tidak sesederhana itu. Aku merasa, aku masih punya hak untuk menolak.”
“Jangan-jangan lo masih ngarep si Alvin ya? Jangan bilang itu bener.”
“…….”

Aku nggak fokus mendengar pertanyaan Iva. Baru saja kami melewati jalan depan SMA, dan melihat halte tua itu. Masih jelas dalam ingatanku, setiap pertemuan dengannya, selalu di tempat itu. Ketika kami duduk berdua, nggak ada yang berani mengusik, halte serasa milik kami berdua. Dulu dia selalu menanyakan banyak hal, aku hanya mengikuti kemana dia bicara, seringkali kami sampai lupa waktu. Andaikan sekarang kita ketemu, gantian aku yang ingin menanyakan banyak hal: kenapa, kenapa dan kenapa?

Dug! Ujung depan helm-ku beradu dengan bagian belakang helm Iva, lumayan keras.
“Ntan, udah nyampe terminal nih! lo ngantuk ya?”
“Hehe sorry, iya nih, lagian kamu juga mendadak banget ngeremnya.”
“Udah sana buruan, ntar ketinggalan bus, hati-hati di jalan.”
“Makasih banget Va, dadah.”

Aku setengah berlari masuk terminal, beruntung bus yang mau aku tumpangi belum jalan. Setelah membayar tiket di pintu bus, aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Saat sampai di bagian tengah, langkahku terhenti. Seseorang duduk di kursi dekat jendela, kepalanya menyandar di kaca, sambil bermain dengan gadget-nya. Laki-laki ini tidaklah asing, refleks aku memanggilnya walaupun dengan nada ragu. Astaghfirullah, dia menengok ke arahku, menatap bingung. Beberapa detik waktunya untuk bisa mengingatku.
“Intan?”
Kakiku tiba-tiba lemas. Ya Allah, kenapa harus ketemu dia sekarang.

Dua orang itu mengalami hal yang sama, salah tingkah dan tak bisa menguasai keadaan. Intan, yang kakinya sudah lemas, terpaksa menghempaskan diri di kursi sebelah Alvin.
“Pin, nggak apa-apa kan aku duduk di sini?”
“Eh.. ii.. iya, iya, nggak masalah, nggak ada orang kok.” Alvin masih gugup. Suasana hening sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Masih tidak percaya dengan kebetulan yang mengejutkan ini.

“Kamu mau ke…”
“Kamu sendirian aja eh, apa?”
“Barusan bilang apa?”
“Kamu duluan aja..”
Salah tingkah memang tidak nyaman, mau ngomong saja tabrakan.
“Intan mau ke mana?”
“Oh, mau ke rumah sepupuku. Kamu sendirian aja?”
“Iya, sendirian. Emang biasa gini.”
“Gitu ya…”

Bus mulai menyusuri jalanan kota yang terang oleh lampu bertiang tinggi. Cahayanya melintas teratur menyapu wajah Alvin. Tampak raut muka Alvin sedang menahan gelisah. Pak sopir mulai memutar lagu-lagu favoritnya, volumenya tidak begitu keras.
“Kamu apa kabar pin?” Intan memulai lagi percakapan dengan ramah.
“Baik kok, kamu sendiri gimana? Oh ya udah mau lulus ya?”
“Alhamdulillah, sehat-sehat aja. Hmm, belum sih, masih beberapa bulan lagi kayaknya.”

“Oh gitu? Sama dong.”
“Tumben pulang, lagi libur?”
“Nggak sih, kebetulan kakakku nikah, sekalian libur beberapa hari di sini.”
“Oh iya? Aku malah baru denger. Sama mbak Tari bukan?”
“Iya sama mbak Tari, kok tahu?”
“Ya nebak aja sih, kan emang mereka sudah dari dulu kan.”

Sedikit demi sedikit, suasana mulai cair. Dari sekian penumpang, cuma mereka berdua yang punya kegiatan asyik. Walaupun topik obrolan masih seputar basa-basi, tapi nampaknya itu sudah cukup memuaskan kerinduan masing-masing.
“Pin, kapan ya terakhir kita ketemu?”
“Eh, terakhir ketemu?” Alvin gelisah lagi.
“Tadi aku lewat depan SMA, di halte itu bukan sih?”
“Iya bener, di halte itu ntan, sebelum aku pindahan kalau nggak salah. Kemarin aku juga kebetulan ketemu sama Dodi di situ.” Sebenarnya Alvin ingin bertanya kenapa tiba-tiba Intan nanya itu, tapi urung, lebih berharap berganti topik.

Suasana terdiam lagi. CD player yang diputar Pak Sopir sedang memainkan sebuah lagu dari band lawas terkenal. Karena tak ada aktivitas lain, Alvin iseng mendengarkan lagu itu.
Mengapa satu rasa berlari
Mengejar segala perbedaan
Yang seharusnya tak ada di batas bening jiwa…

Alvin mulai terbawa alunan lirik lagu itu. Memorinya kembali terputar, dia menyadari bahwa apa yang pernah dia lakukan terhadap Intan adalah sebuah kesalahan. Dada Alvin sesak dengan semua penyesalan.
“Pin, boleh nanya sesuatu nggak?” Alvin tersentak, kemudian menoleh, tapi hanya diam, seakan menunggu kata dari Intan selanjutnya. Intan menghela napasnya.
“Sejujurnya ini bukan hal yang penting. Aku menanyakan ini hanya untuk kepuasanku saja. Tapi kalau pun kamu nggak bersedia jawab, aku juga nggak maksa.”
Alvin masih diam. Pikirannya menebak-nebak apa yang bakal ditanyakan Intan.
“Aku masih nggak ngerti kenapa dulu kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Maksudku, apakah kamu nggak mau punya hubungan dengan cewek lagi? Atau gimana?”

Tebakan Alvin benar. Dia menyeka keringat dingin di dahinya. Tatapannya berpindah ke arah kursi di depannya.
“Maaf kalau pertanyaanku nggak sopan, maaf banget.” Intan merasa tidak enak karena Alvin tak kunjung memberi respon, khawatir dia tersinggung atau marah.
“Intan.” Alvin berkata setelah satu tarikan napas yang panjang.
“Iya?”
“Aku boleh cerita jujur nggak?”
“Oh silakan Pin, aku nggak masalah kok.”

Alvin mulai bercerita, mungkin dari paling awal. Intan serius sekali menyimak, hanya sesekali mengernyitkan dahi dan lebih sering manggut-manggut. Entah dari mana Alvin bisa merangkai kalimat-kalimat penjelasan itu. Namun yang pasti, dia mengatakannya dengan jujur. Tentang perjalanan cintanya, tentang kegalauannya, tentang kesumpekannya, tentang resolusinya, permohonan maafnya, semuanya.
“Sorry ceritaku berantakan, loncat-loncat. Aku nggak siap ngasih penjelasan ke kamu.”
“Nggak apa-apa kok Pin, aku bisa nangkep ceritamu, makasih udah jujur, makasih banget.”

“Oh iya Ntan, aku denger ada yang mau ngelamar kamu? Itu beneran? Siapa?”
“Pasti tahu dari Dodi ya? Iya, kak Fito.”
“Terus? Kamu terima?”
“Enggak Pin.” Intan menundukkan kepalanya.
“Loh kenapa?” Alvin penasaran, sekaligus deg-degan menunggu jawaban Intan.
“Aku masih menunggu seseorang yang tepat, mungkin memang dia, tapi bisa jadi bukan.”

Intan menegakkan kepalanya, menatap Alvin sedetik, lalu membuang lagi pandangannya.
“Hmm, aku cuma bisa berdoa dan kasih semangat buat kamu ntan, semoga kamu dapet cowok yang terbaik, aku yakin itu.”
“Iya, makasih Pin. Kamu juga berusaha ya.”
“Hehe, aku mah apa atuh, butiran debu nggak jelas gini.” Alvin tersenyum getir, baru kali ini dia merasa nggak pantas di depan seorang cewek. Alvin memalingkan muka ke luar jendela.

Baru saja Alvin sempat berpikir untuk kembali pada Intan, tapi nampaknya ada tembok besar yang menghalangi pikiran itu, dirinya yang sekarang bukanlah sosok yang memungkinkan bagi Intan. Matanya tiba-tiba berat, kantuk mulai merenggut kesadarannya, sebentar saja dia sudah terlelap. Intan masih terjaga. Sesekali dia melirik Alvin yang nampaknya sudah tertidur. Tampak masih ada yang mengganggu di benak Intan, jangan-jangan ada kata-katanya yang salah diucapkan.

Suara intro piano dari sebuah lagu, mengalihkan perhatian Intan. Masih dari band yang sama, namun lagu yang berbeda. Memasuki verse pertama, Intan terdiam, mencoba memahami. Verse kedua, Intan mulai tenggelam. Segaris senyumnya terlihat ketika reff pertama. Dan saat reff-reff selanjutnya, bibir Intan bergerak mengikuti suara sang vokalis. Sampai akhirnya Intan ikut hanyut tertidur.

“Ntan, bangun udah pagi.” Alvin mencoba mengguncang bahu Intan. Intan masih menggeliat lesu.
“Astaghfirullah, ini udah nyampe mana Pin?!”
“Sebentar lagi kamu turun kan, belum lewat kok.”
Intan merapikan tas bawaannya dengan tergesa-gesa. Dia harus turun lebih dulu daripada Alvin.
“Nah sudah sampai tuh.” Kata Alvin sambil menunjuk gerbang terminal yang terletak di pinggir ibu kota.

Saat mengantar Intan turun dari bus, Alvin tak sengaja mellihat pin bergambar kartun itu terpasang di tas punggung Intan, dan Alvin tak pernah menyangka itu. Mungkin ini bisa menjelaskan semuanya? Mematahkan semua asumsi semalam yang membuatnya lemas dan tertidur?
“Aku duluan ya Pin, makasih banyak.” Intan tersenyum sambil membalikkan badan.
“Eh tunggu dulu!!”
“Kenapa?”
“Ntan, jika aku masih boleh menjadi seseorang itu, pastikan kamu masih punya waktu untuk menunggu.”

Intan mematung beberapa detik, kemudian membalas dengan senyuman, lebih manis dari biasanya. Dia melambaikan tangan dan berbalik melangkah. Ada sisa-sisa lagu semalam yang masih terngiang di telinga Intan.
Cinta kan membawamu, kembali di sini
Menuai rindu, membasuh perih…

Cerpen Karangan: Achor Mohammad

Cerpen Lirik Lagu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Beda Dunia

Oleh:
“rese banget sih jalangkung.. gile bener gue ditinggal. Malah gue lupa bawa dompet lagi.. argh.. sial!” gontok bayu sembari menendang kaleng yang ada didepannya. “adohhh!” itu suara seorang gadis

Dari Impian Menjadi Kenyataan

Oleh:
Hari itu, hari dimana awal aku bertemu denganmu, hari dimana aku mulai mengenalmu, mulai mencintaimu, pertemuan yang tak disengaja, yang menghadirkan cinta di antara kita. Bermula dari kesalahan yang

Gaul (Part 1)

Oleh:
Wajah Aris memerah karena tegang, dan bukan hanya karena cuaca di luar yang sangat terik. Dia rasa penampilannya sudah sesuai, dia tak lagi memakai celana sobeknya saat ini. Dia

Tembok Cinta Nan Megah

Oleh:
Telingaku menangkap hiruk-pikuk yang kemudian memaksa ku untuk membuka mataku lebih lebar lagi. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya. Ragaku belum juga bertenaga. Namun ku paksakan untuk berdiri. Aku berada di

Biarkan Aku Memandang Ke Puncak Menara

Oleh:
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis bernama lengkap Mikaila Anugerah. Dimana hari pengumuman kelulusan telah tiba. Ia sudah begitu yakin akan kelulusannya. Sebab, ia selalu menduduki juara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *